Untuk KH. Raihan Firdaus, yang telah kembali ke pangkuan Allah Swt.
Anakku, Raihan Firdaus…
Aku tidak pernah menyangka bahwa kedatanganmu ke rumahku, White House, Ketawang, Gondanglegi, Malang, waktu itu ternyata menjadi pamitanmu untuk yang terakhir kalinya. Tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa pertemuan sederhana kita di pagi yang cerah itu kelak akan menjadi kenangan yang begitu dalam, yang akan kusimpan dengan air mata dan kerinduan.
Kau datang dengan senyummu. Kita duduk berdampingan di teras rumah, mengenakan pakaian putih. Di belakang kita terbentang hamparan sawah hijau, pepohonan, dan suasana perkampungan yang tenang. Semuanya tampak biasa saja. Tidak ada firasat bahwa pagi itu sedang menyimpan sebuah perpisahan yang tak akan pernah terulang.
Kau bilang bahwa foto itu untuk kenang-kenangan, agar kelak bisa dikenang. Aku pun menjawab dengan penuh keyakinan bahwa kau sehat dan, insya Allah, masih memiliki perjalanan panjang untuk mewujudkan cita-citamu.
Kini, setelah kau pergi, barulah aku memahami betapa dalam makna kata-katamu waktu itu. Kau meminta kenang-kenangan, sementara aku tidak menyadari bahwa kenangan itulah yang kelak akan menjadi salah satu penghubungku denganmu ketika ragamu sudah tidak lagi berada di hadapanku.
Anakku, mengapa kau tidak memberitahuku bahwa itu adalah pertemuan terakhir kita?
Dua hari sebelum kabar kepergianmu sampai kepadaku, aku mendengar bahwa kau masuk rumah sakit di Blega dan direkomendasikan untuk dibawa ke rumah sakit di Bangkalan. Kabar yang kuterima menyebutkan bahwa kondisimu cukup parah. Namun, di tengah harapan agar kau segera pulih, aku masih berharap akan ada kesempatan untuk bertemu dan berbincang lagi denganmu.
Sampai akhirnya, setelah pukul tujuh malam, Ummi-mu mengabarkan bahwa kau telah kembali ke raḥmatullāh.
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Subḥānallāh…
Aku terdiam. Rasanya sulit menerima kenyataan bahwa anak yang beberapa waktu lalu duduk di sampingku, tersenyum dan berbicara tentang kenang-kenangan, kini telah meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Ada sesuatu yang terasa begitu menyayat hati ketika sebuah pertemuan yang kita anggap biasa ternyata menjadi pertemuan terakhir. Kita berpisah tanpa menyadari bahwa tidak akan ada lagi kesempatan untuk mengulang percakapan yang sama, mendengar suaramu, atau sekadar duduk bersamamu.
Namun, di balik kesedihan ini, ada sesuatu tentang dirimu yang membuatku berusaha menerima kepergianmu dengan lebih lapang.
Aku mengenal kebiasaanmu. Kau berusaha menjaga ibadahmu dengan berpuasa, melaksanakan salat hajat dan salat duha, menjaga wudu sepanjang hari, serta mengisi waktumu dengan zikir dan selawat. Aku tidak tahu seluruh rahasia hubunganmu dengan Allah Swt., tetapi aku percaya bahwa amalan-amalan yang kau jaga itu adalah bagian dari bekal yang terus kau persiapkan untuk perjalanan panjang menuju-Nya.
Aku tidak berani memastikan bagaimana kedudukanmu di sisi Allah, sebab hanya Dia yang mengetahui rahasia hati dan menerima seluruh amal hamba-Nya. Namun, aku berdoa semoga segala ibadahmu diterima, segala kekuranganmu diampuni, dan segala kesabaranmu selama hidup menjadi jalan bagi rahmat-Nya.
Anakku, ada satu hal tentang dirimu yang selalu membuatku terharu.
Kau tampaknya lebih memilih hidup dalam keterbatasan daripada harus kehilangan kesempatan untuk berzikir kepada Allah. Kau tidak menjadikan kemiskinan sebagai alasan untuk meninggalkan ibadah. Kau juga tidak selalu mengejar keramaian dunia jika waktu dan perhatianmu justru lebih ingin kau gunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan berselawat kepada Rasulullah saw.
Bagi sebagian orang, kebahagiaan mungkin terletak pada banyaknya harta, luasnya rumah, tingginya kedudukan, atau banyaknya orang yang mengenal namanya. Tetapi, dari kebiasaan hidupmu, aku melihat bahwa kau sedang mengejar sesuatu yang berbeda. Kau ingin menjaga hubungan dengan Tuhanmu dan memperbanyak selawat kepada kekasih-Nya.
Mungkin tidak semua orang memahami pilihan hidupmu. Mungkin ada yang melihat keterbatasanmu tanpa memahami kekayaan batin yang berusaha kau pelihara. Tetapi bagiku, ada pelajaran yang sangat berharga dari kehidupanmu: bahwa manusia tidak selalu harus memiliki banyak hal untuk dapat mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan sungguh-sungguh.
Dan kini, setelah kau pergi, aku semakin memahami mengapa selawat begitu penting dalam hidupmu.
Anakku, Raihan…
Pesanmu kepada istrimu, Laila, sungguh membekas di hatiku. Kau tidak berpesan tentang harta yang harus dijaga, rumah yang harus diwariskan, atau kekayaan dunia yang harus diperjuangkan. Pesanmu justru sederhana, tetapi begitu dalam: jangan tinggalkan salat dan jangan tinggalkan selawat.
Ya Allah…
Betapa besar cinta yang tersimpan dalam pesan itu. Di saat banyak orang sibuk memikirkan apa yang akan mereka tinggalkan untuk keluarganya, kau justru mengingatkan istrimu tentang sesuatu yang menurutmu jauh lebih penting untuk terus dijaga: hubungan dengan-Mu dan kecintaan kepada Rasul-Mu.
Kau tidak meninggalkan pesan tentang bagaimana Laila harus menjadi kaya. Kau tidak menyuruhnya mengejar kemegahan dunia. Kau mengingatkannya agar tetap salat dan berselawat.
Seakan-akan kau ingin mengatakan bahwa apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini, jangan sampai kehilangan Allah dan Rasulullah saw. Jangan sampai kesulitan hidup membuat ibadah ditinggalkan. Jangan sampai kesedihan memutus selawat. Jangan sampai dunia yang begitu luas mengambil tempat yang seharusnya diisi oleh kecintaan kepada Nabi Muhammad saw.
Kini, Laila harus melanjutkan hidup tanpa kehadiranmu. Aku tahu, kehilangan seorang suami bukanlah perkara ringan. Karena itu, ya Allah, kuatkanlah hati Laila. Peliharalah dirinya dalam kesabaran. Jadikanlah pesan terakhir suaminya sebagai cahaya yang menuntun langkahnya, bukan sebagai beban yang menambah kesedihannya. Limpahkanlah kepadanya pertolongan, kasih sayang, dan orang-orang baik yang akan mendampinginya dalam menjalani hari-hari mendatang.
Dan untukmu, anakku, aku hanya dapat berdoa.
Ya Allah, Tuhan yang menciptakan Raihan, yang mengetahui seluruh perjalanan hidupnya, yang memahami kesulitan-kesulitannya, dan yang menyaksikan setiap zikir serta selawat yang pernah diucapkannya…
Ampunilah dosa-dosanya. Terimalah amal ibadahnya. Terimalah puasa, salat, zikir, dan selawatnya. Lapangkanlah tempat peristirahatannya. Terangilah alam kuburnya dengan rahmat-Mu. Jadikanlah kuburnya taman dari taman-taman surga. Jauhkanlah dia dari azab dan segala kesulitan di alam barzakh.
Ya Allah, dia sangat mencintai Rasulullah saw. Dia berusaha memenuhi hari-harinya dengan selawat kepada kekasih-Mu. Maka, dengan rahmat dan kemurahan-Mu, karuniakanlah kepadanya kedudukan yang mulia di sisi-Mu. Kumpulkanlah dia bersama orang-orang saleh, para pecinta Rasulullah, dan hamba-hamba-Mu yang Engkau ridhai.
Ya Allah, aku tidak memiliki kuasa untuk mengubah takdir yang telah Engkau tetapkan. Aku tidak dapat memanggilnya kembali agar duduk sekali lagi di sampingku. Aku tidak dapat mengulang pagi itu, ketika kami masih bisa tersenyum bersama di teras rumahku.
Yang tersisa kini hanyalah foto, kenangan, doa, dan rasa kehilangan yang harus kupelajari untuk menerimanya.
Namun, aku percaya bahwa kasih sayang tidak harus berakhir ketika perjumpaan di dunia berakhir. Selama aku masih hidup, aku akan menyebut namamu dalam doa-doaku. Aku akan mengenang kebaikanmu. Aku akan mengingat pesanmu tentang salat dan selawat. Dan semoga setiap kali aku membaca selawat kepada Rasulullah saw., ingatanku kepadamu menjadi pengingat agar aku pun memperbaiki bekalku sendiri untuk kembali kepada Allah.
Anakku, Raihan Firdaus…
Selamat jalan.
Terima kasih telah datang ke rumahku. Terima kasih telah meninggalkan kenangan yang tidak pernah kusangka akan menjadi begitu berharga. Terima kasih telah mengajarkan kepadaku, melalui pilihan hidupmu, bahwa ada manusia yang lebih mengutamakan bekal akhirat daripada kemewahan dunia.
Maafkan aku jika selama hidupmu ada kata-kataku yang kurang berkenan, ada perhatian yang belum sempat kuberikan, atau ada kebaikan yang belum sempat kulakukan untukmu.
Kini, aku hanya bisa mengantarmu dengan doa.
Beristirahatlah dalam rahmat Allah, anakku. Semoga Allah mempertemukanmu dengan kekasih yang sangat kau cintai, Nabi Muhammad saw., dan menganugerahkan kepadamu kebahagiaan yang tidak lagi disertai rasa sakit, kesulitan, atau kesedihan.
Dan, anakku…
Jika Allah masih memberiku umur untuk menuntaskan perjalanan hidupku di dunia ini, aku pun suatu saat akan menyusulmu kembali ke pangkuan-Nya. Aku tidak tahu kapan waktuku tiba. Aku tidak tahu bagaimana akhir perjalanan hidupku kelak. Karena itu, aku ingin menjadikan kepergianmu sebagai pengingat bagi diriku sendiri untuk memperbaiki ibadah, memperbanyak zikir dan selawat, serta menyiapkan bekal sebelum tiba saatnya aku dipanggil.
Aku tidak akan meminta Allah mempercepat perjumpaan kita. Biarlah Allah menentukan waktunya menurut kehendak dan kasih sayang-Nya.
Tetapi, dalam doa yang lirih ini, aku berharap: semoga Allah mempertemukan kita kembali di surga-Nya, dalam keadaan yang diridhai-Nya, tanpa ada lagi perpisahan.
Tunggulah aku dalam doa-doa yang kupanjatkan, anakku, bukan karena aku ingin segera meninggalkan dunia, melainkan karena aku berharap suatu hari kelak, apabila Allah telah menetapkan waktuku, kita dapat kembali berjumpa dalam kebahagiaan yang abadi.
Selamat jalan, anakku, KH. Raihan Firdaus.
Foto kita di White House akan tetap kusimpan. Di sana, kau masih duduk di sampingku, mengenakan pakaian putih, dengan suasana pagi yang damai. Waktu dalam foto itu seolah berhenti, sementara hidupku harus terus berjalan tanpamu.
Dahulu, aku mengira kau datang untuk membuat sebuah kenang-kenangan.
Kini aku mengerti, kenangan itulah yang kau tinggalkan untukku.
Semoga Allah merahmatimu, mengampunimu, menerima seluruh amal baikmu, dan mempertemukanmu dengan Rasulullah saw. yang begitu kau cintai.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.