Selamat Jalan Menuju Kerinduan-Mu, Sang Kiai

Yai Ahmad Hariri tidak aku kenal sejak kecil. Aku mengenal nama beliau sebagai seorang alim yang tinggal di Makkah. Nama beliau kemudian semakin dekat di hatiku karena setiap kali aku mengirim surat kepada Nyik ketika beliau sedang berada bersama beliau di Makkah, surat itu selalu dialamatkan ke tempat tinggal beliau.

Aku baru benar-benar mengenal beliau setelah beliau pulang ke Indonesia, meskipun bukan kembali ke Ganjaran, melainkan ke Sukosari. Sejak beliau pulang ke Sukosari, aku semakin sering berkomunikasi dan berinteraksi dengan beliau, terutama setelah kami bersama-sama menangani Yayasan Raudlatul Ulum.

Sebagai anak asli Ganjaran, aku sering diminta membantu menyelesaikan berbagai persoalan yayasan, mulai dari urusan bangunan, guru, hingga kurikulum pendidikan. Namun, yang paling membuatku mengenal beliau secara dekat adalah dua persoalan besar yang berkaitan dengan Yayasan Raudlatul Ulum dan Yayasan Al-Qolam.

Setiap sowan atau bertemu beliau, rasanya tidak ada pembicaraan lain yang lebih penting selain pendidikan, pendidikan, dan pendidikan. Pendidikan adalah dunia yang memenuhi pikiran dan pengabdian beliau. Di situlah aku melihat bahwa bagi beliau, pendidikan bukan sekadar pekerjaan kelembagaan, tetapi bagian dari jalan pengabdian kepada Allah.

Keyakinanku bahwa beliau adalah orang saleh pula yang membuatku, ketika mendapatkan kesempatan berangkat haji sebagai undangan Rabithah, keluar dari rombongan dan memilih mengikuti jamaah beliau.

Kebersamaan kami di Arafah dan di hotel membuatku semakin mengenal beliau. Aku melihat sendiri seorang kiai yang sangat mencintai ibadah, seorang hamba yang selalu merindukan Allah SWT. Doa-doanya, tangisnya, dan kesungguhannya dalam beribadah membuatku memahami bahwa kerinduan kepada Allah bukan sekadar ungkapan yang beliau ucapkan, tetapi sesuatu yang beliau jalani.

Dalam kesempatan itu pula aku akhirnya dapat menjawab pertanyaan sebagian orang tentang KBIH yang kadang dicurigai sebagai “bisnis spiritual”. Setelah mengikuti dan menyaksikan sendiri perjalanan beliau, aku tahu bahwa tuduhan seperti itu tidak tepat untuk beliau.

Beliau sama sekali tidak menjadikan KBIH sebagai bisnis spiritual.

Bahkan, aku menyaksikan sendiri bahwa beliau sering kali berada dalam posisi merugi. Beliau ingin menjadi pelayan bagi orang-orang yang sebenarnya sudah ingin berangkat menunaikan ibadah, tetapi belum memiliki kemampuan modal yang cukup. Bagi beliau, kesempatan seseorang untuk memenuhi panggilan Allah jauh lebih penting daripada keuntungan yang bisa diperoleh.

Bahkan orang-orang tua yang mungkin sulit diterima oleh KBIH lain, beliau tangani bersama istri tercinta dengan penuh kesabaran, perhatian, dan kegembiraan. Beliau tahu bahwa tanggung jawab itu memiliki risiko yang besar dan tidak ringan. Tetapi kecintaan kepada pelayanan ibadah membuat beliau tetap menjalaninya.

Di situlah aku semakin memahami siapa Yai Ahmad Hariri.

Beliau bukan hanya seorang alim yang pernah tinggal di Makkah. Beliau bukan hanya seorang pengelola lembaga pendidikan. Beliau bukan hanya seorang pembimbing jamaah haji.

Beliau adalah seorang kiai yang berusaha menjadikan hidupnya sebagai pelayanan: melayani ilmu, melayani pendidikan, melayani umat, dan terutama melayani orang-orang yang ingin memenuhi panggilan Allah.

Aku bersyukur kepada Allah SWT karena pernah diberi kesempatan berhaji di bawah bimbingan beliau. Bahkan, beliau memberikan namaku dalam sertifikat haji:

H. Achmad Zayyadiy bin Ahmad Zayyadiy bin Zayyadiy.

Nama itu akan menjadi salah satu kenangan yang tidak akan pernah hilang dari perjalanan hidupku.

Terima kasih, ya Allah.

Terima kasih telah mempertemukanku dengan beliau. Terima kasih telah memberikan kesempatan kepadaku untuk mengenal beliau lebih dekat, bekerja bersama beliau, mendampingi beliau dalam urusan pendidikan, dan bahkan mengikuti bimbingan beliau dalam perjalanan menuju Baitullah.

Kini beliau telah menyelesaikan perjalanan duniawinya.

Selamat jalan menuju kerinduan-Mu, Sang Kiai.

Berbahagialah di sana.

Jenengan telah dipanggil oleh Dzat Yang Maha Agung, Dzat yang selalu jenengan rindukan. Dzat yang nama-Nya selalu jenengan sebut dalam doa. Dzat yang membuat air mata jenengan jatuh ketika mendoakan kami semua.

Mungkin selama ini jenengan yang selalu merindukan-Nya.

Kini, jenengan benar-benar bertemu dengan Dzat yang selalu jenengan rindukan itu.

Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah jenengan, mengampuni segala kekhilafan jenengan, menerima pengabdian jenengan kepada ilmu dan pendidikan, menerima pelayanan jenengan kepada para tamu Allah, dan menempatkan jenengan di tempat terbaik di sisi-Nya.

Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa‘fu ‘anhu.

Ya Allah, muliakan perjalanan beliau menuju-Mu.

Dan kepada kami yang masih tinggal, tinggalkanlah dari beliau sebuah pelajaran:

bahwa hidup tidak harus dihabiskan untuk mencari apa yang kita dapatkan dari orang lain, tetapi untuk mencari apa yang dapat kita berikan kepada Allah dan kepada sesama.

Selamat jalan, Yai Ahmad Hariri.

Menuju Dzat Yang selama ini paling jenengan rindukan.

Al-Fatihah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *