Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
MISI PROFETIK PTKI SEBAGAI INSTITUSI PENDIDIKAN ISLAM

MISI PROFETIK PTKI SEBAGAI INSTITUSI PENDIDIKAN ISLAM

Menelisik Reformasi Pendidikan Islam melalui Tujuh Ayat al-Mudatstsir (Bagian 1)

Zenrif Oleh Zenrif
11 Jul 2025
dalam Pemikiran
0
Bagikan ke FacebookBagikan ke Whatsapp

يَاأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (4) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (5) وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ (6) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ (7).

Alhamdulillah tadi malam saya sudah presentasi. Proses kedua untuk menentukan kepemimpinan baru di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sudah saya ikuti, sebagai tanggung jawab moral dosen yang memiliki hak mendaftarkan diri sebagai calon pemimpinan pasca kepemimpinan Prof. Zainuddin. Setelah saya mengikuti dan menikmati proses itu, saya segera mengirimkan pesan pada Prof Imam, sebagai orang yang masih terus menjadi buah bibir pengembangan perguruan tinggi agama Islam, terutama sebagai sosok yang telah memberikan kepada saya kesempatan untuk belajar tentang Lembaga Pendidikan Tinggi. Segera setelah saya mengikuti proses itu, saya kabari Beliau: “Alhamdulillah.. Ndalem sampun selesai Komsel, Prof. Satu hal yg selalu disebut” oleh para Penguji hubungannya dg UIN dan PTKIN adalah nama Prof imam. Pasca Prof Imam dianggap tenggelam dan menenggelamkan nama UIN Malang.” Tentu itu bahasa saya yang memaknai teks dan sesuai dengan konteksnya.. hehehe

Baca lainnya

Legitimasi Meritokrasi dalam Birokrasi Lokal: Menimbang Relasi Kekerabatan dalam Perspektif Hukum Administrasi dan Sejarah Politik Islam

Legitimasi Meritokrasi dalam Birokrasi Lokal: Menimbang Relasi Kekerabatan dalam Perspektif Hukum Administrasi dan Sejarah Politik Islam

19 Apr 2026
Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

18 Apr 2026

Seperti yang saya duga, bahwa pemikiran Prof. Imam, terutama belakangan ini, selalu bersumber dari al-Qur’an, Beliau merespon: “Masya Allah, semoga pemimpin kampus ke depan berhasil membangkitkan kembali. Sebagai bekalnya perlu membaca dan menangkap pesan surat al Muddassir.”

Bukan karena kepedean, tapi semata-mata karena kegemaran saya memang banyak fokus pada proses bagaimana al-Qur’an bisa landing dalam semua lini kehidupan Masyarakat Indonesia, saya segera membuka al-Qur’an Surat 74 itu, yakni al-Mudatstsir. Sejenak saya mengingat Kembali bahwa ayat ini sering kali dijadikan bahan pidato Prof Imam dalam beberapa kesempatan saat Beliau memimpin UIN Maliki Malang hingga kemudian bisa menjadi buah bibir, untuk tidak mengatakan contoh, khawatir dikiran kepedean juga … hehehe.

Pengembangan UIN Maliki Malang dengan ketokohan dan kebesaran nama Prof. Imam, saya kira tentu memiliki kelemahan sebagaimana memiliki kelebihan. Misalnya, pengembangan kelembagaan tidak berbasis pada sistem manajemen yang sistemik. Sebab, setiap pendekatan pengembangan kelembagaan pendidikan berbasis tokoh (personalistik) berpotensi melahirkan tantangan atau kelemahan dalam jangka panjang. Misalnya, ketergantungan personal dan Kemandegan Visi Kelembagaan. Ketergantungan Institusi pada Tokoh Tertentu (Personalisasi Visi) UIN Maliki Malang tumbuh pesat di bawah kepemimpinan Prof. Imam Suprayogo, dengan ciri khas yang mirip dengan Gerakan islamisasi keilmuan, pesantrenisasi kampus, dan visi Ulul Albab. Namun, ketika visi dan arah pengembangan institusi terlalu melekat pada pribadi seorang tokoh, maka keberlanjutan visi tersebut menjadi lemah pasca kepemimpinannya. Hal ini menyebabkan terjadinya kebingungan arah dan “krisis legitimasi” ketika pemimpin baru tidak memiliki kapasitas atau otoritas moral yang sama.

Kelemahan lainnya misalnya terjadi krisis kelembagaan pascaketokohan Prof. Imam tidak lagi menjabat, terjadi ketegangan dalam mempertahankan semangat integrasi ilmu, pengelolaan pesantren kampus, dan semangat spiritualitas akademik. Banyak sistem yang semula berjalan dengan karisma tokoh, menjadi kehilangan “roh” karena tidak terinstitusionalisasi secara sistemik dan kuat. Bahkan, integrasi ilmu di UIN Maliki menjadi “terhenti pada simbol dan jargon” karena lemahnya pengarusutamaan di Fakultas dan Jurusan. Ini artinya bahwa ada kelemahan Reproduksi Gagasan (Kurangnya Regenerasi Intelektual) sehinnga visi besar Prof. Imam belum sepenuhnya menjadi budaya akademik di kalangan dosen dan mahasiswa. Hal ini bisa merupakan salah satu konsekwensi dari banyak inisiatif berjalan berdasarkan semangat individual, bukan sebagai hasil sistem yang mapan. Akibatnya, setelah beliau tidak aktif, upaya reproduksi gagasan seperti ulul albab, integrasi ilmu, atau model pesantren kampus menjadi stagnan atau sekadar formalitas.

Yang ingin saya katakana, ketokohan Prof Imam waktu itu menghambat “reformasi struktural”, karena karisma Prof. Imam seringkali membuat segala hal bersandar pada legitimasi Beliau. Walaupun itu berdampak positif secara jangka pendek (kecepatan pengambilan keputusan), tetapi dalam jangka panjang memperlemah tradisi kolektif, budaya musyawarah kelembagaan, dan resistensi terhadap kontrol eksternal.

Jadi, ketokohan Prof. Imam Suprayogo adalah aset besar bagi UIN Maliki Malang dan telah membawa kemajuan signifikan. Namun, saya melihat bahwa dalam perspektif kelembagaan dan keberlanjutan institusi, terlalu mengandalkan figur tertentu dapat menciptakan personalisasi visi, ketergantungan struktural, dan kemandegan pasca kepemimpinan, apalagi tidak diimbangi dengan pelembagaan visi, regenerasi intelektual, dan sistem yang transformatif. Pemimpin setelah Beliau, karena ketokohan itu, dinilai tidak sebesar Beliau jika tidak memiliki konsep yang dapat mengakar dan berangkat dari akar. Pada sisi kelemahan itulah, pemimpinan setelahnya, sejak masa kepemimpinan Prof Mudjia Raharjo, Prof. Haris, dan Prof Zainuddin, telah membuat dan meletakkan puzzle manajerial sistem kelembagaan sehingga pemimpin setelah ini bisa lebih mudah dan melanjutkan.

Baiklah, saya ingin kembali membaca secara seksama QS 74 tersebut, saya melihat ruh-ruh kebangkitan kembali pendidikan tinggi, jika saja pemimpin kampus ini menjadikan QS 74 sebagai salah dasar dalam pengembangnnya. Kesempatan ini saya akan fokus pada 7 ayat pertama, yang saya tulis di atas, dari 56 ayatnya. Namun sebelum itu, saya ingin melihat korelasi QS 74 ini dengan ayat 20 QS 73. Dalam perspektif ʻUlūm al-Qur’ān, proses memahami korelasi ayat sebelum dan ayat setelahnya disebut dengan ʻIlmu al-Munāsabah, yakni cabang penting dalam ʻUlūm al-Qur’ān yang membahas keterkaitan antara satu ayat dengan ayat lainnya, atau antara satu surah dengan surah lain, baik dari sisi makna, tema, maupun susunan kalimat.

Ilmu ini oleh Imam al-Zarkasyī dilihat sebagai ilmu yang sangat dalam dan halus (‘ilm laṭīf) yang dengannya dapat diketahui rahasia kebalaghahan dan keindahan susunan al-Qur’an.[1] Bahkan, Imam al-Suyūṭī melihat sebagai cabang pengetahuan penting dalam memahami keserasian antara ayat dan surah. Beliau bahkan menukil dari Fakhr al-Dīn al-Rāzī bahwa banyak orang lalai terhadap ilmu ini padahal di dalamnya terdapat rahasia-rahasia yang sangat tinggi dan agung dari wahyu Allah.[2] Fakhr al-Dīn al-Rāzī sendiri dalam Tafsīr al-Kabīr menyebut bahwa menemukan hubungan antara ayat-ayat adalah pendekatan yang sangat mendalam untuk menyingkap maksud Al-Qur’an secara lebih utuh.[3]

Puncak perhatian terhadap ilmu munāsabah terlihat dalam karya al-Biqā‘ī yang berjudul Naẓm al-Durar fī Tanāsub al-Āyāt wa al-Suwar. Dalam tafsirnya, al-Biqā‘ī meyakini bahwa setiap surah dan ayat dalam Al-Qur’an tersusun secara sistematis dan memiliki hubungan logis, tematik, maupun spiritual, yang menunjukkan kesatuan struktur wahyu.[4] Saya melihat bahwa secara praktis, ilmu munāsabah ini sangat penting dalam pengembangan tafsir kontemporer, seperti tafsir tematik (mawḍū‘ī), tafsir sistemik, dan pendekatan pendidikan Islam yang integratif, karena membimbing para mufassir dan pendidik untuk memahami Al-Qur’an secara kontekstual, koheren, dan menyeluruh.

Nah, sekarang saya ingin melihat korelasi QS 74 ini dengan ayat 20 QS 73  yang berbunyi:

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَى مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَى وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Saya membaca bahwa ayat ini (QS. Al-Muzzammil: 20) mengandung pesan yang sangat dalam tentang keseimbangan antara pengabdian spiritual, tugas duniawi, dan realitas kehidupan manusia, yang sangat relevan dalam konteks pendidikan. Allah menyatakan bahwa Dia mengetahui bahwa Nabi Muhammad saw dan sebagian pengikutnya berdiri untuk salat malam dalam waktu yang lama—mendekati dua pertiga malam, setengahnya, atau sepertiganya. Namun kemudian Allah menunjukkan kasih sayang-Nya dengan meringankan beban itu karena Dia tahu bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam menghitung dan mengatur waktu malam dan siang. Dalam kelonggaran tersebut, Allah memerintahkan agar manusia tetap membaca Al-Qur’an sebisanya, karena di antara mereka ada yang sakit, ada yang bepergian untuk mencari rezeki (bekerja), dan ada pula yang berjihad di jalan Allah.

Dalam konteks pendidikan, ayat ini mencerminkan pemahaman ilahiah terhadap realitas keberagaman kondisi peserta didik dan pendidik, serta pentingnya fleksibilitas dalam proses belajar mengajar. Pendidikan harus mempertimbangkan perbedaan kemampuan, beban hidup, dan kondisi fisik maupun psikologis peserta didik. Seperti halnya Allah tidak membebani manusia di luar batas kemampuannya dalam ibadah, sistem pendidikan juga seharusnya mengembangkan pendekatan yang berbelas kasih, manusiawi, dan adaptif. Pembelajaran Al-Qur’an secara bertahap dan sesuai kemampuan menunjukkan prinsip penting dalam pendidikan Islam: bertahap (tadarruj), proporsional, dan berorientasi pada keberlanjutan.

Ayat ini juga menekankan pentingnya keseimbangan antara tugas-tugas spiritual dan tanggung jawab duniawi, antara ibadah, kerja, dan perjuangan, yang merupakan nilai dasar dalam pendidikan integratif yang menyatukan aspek ruhani, sosial, dan profesional. Pada akhirnya, Allah menjanjikan bahwa segala bentuk kebaikan yang dilakukan manusia akan kembali kepadanya dengan balasan yang lebih baik, dan menutup ayat ini dengan seruan untuk memohon ampun, sebagai pengingat bahwa pendidikan sejati tidak hanya mencerdaskan akal, tapi juga membersihkan hati.

Mari beralih pada tujuh ayat pertama Surah Al-Muddatsir dimana Allah swt memerintah langsung kepada Nabi untuk bangkit dan menjalankan misi dakwah secara aktif di masyarakat. Dari kondisi “berselimut” (yang menunjukkan fase kontemplatif dan penguatan diri), Nabi diperintah: “Bangunlah dan berilah peringatan” (قُمْ فَأَنْذِرْ). Seruan ini bukan hanya perintah keluar dari zona nyaman, tetapi juga titik tolak bagi peran sosial-transformasional. Seorang pemimpin dan pendidik hendaknya mengajak kepada keagungan Allah, menjaga kebersihan (lahir dan batin), menjauhi dosa, tidak mengharap balasan duniawi, dan bersabar dalam menjalankan amanah.

Jadi, korelasi antara keduanya sangat jelas. Surah Al-Muzzammil memberikan fondasi spiritual dan kesiapan batin, sedangkan Surah Al-Muddatsir adalah dorongan untuk bergerak dan bertindak secara aktif di ranah sosial dan dakwah. Dalam pendidikan Islam, ini merepresentasikan bahwa penguatan spiritual (tazkiyah) adalah prasyarat bagi efektivitas pengabdian sosial dan penyampaian ilmu (tabligh dan ta’līm). Pendidikan yang hanya menekankan pada aspek kognitif tanpa pembinaan ruhani akan kehilangan arah, sementara spiritualitas yang tidak dilanjutkan dengan aksi akan stagnan.

Dengan demikian, keduanya bersama-sama menegaskan bahwa pendidik ideal dan sistem pendidikan Islam yang paripurna harus dimulai dengan pembinaan pribadi (melalui al-Qur’an, salat, dan kesadaran akan keterbatasan manusia), lalu dilanjutkan dengan gerakan sosial yang terstruktur, misi dakwah yang berani, dan peran kepemimpinan yang bertanggung jawab. Ini adalah kerangka integral antara pendidikan jiwa dan pencerahan umat, yang sejalan dengan visi PTKAI dan institusi keislaman dalam mencetak pemimpin umat masa depan.

[1] Badr al-Dīn al-Zarkasyī, Al-Burhān fī ʻUlūm al-Qur’ān, Muḥammad Abū al-Faḍl Ibrāhīm ed. (Kairo: Dār al-Iḥyā’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, 1957), Jilid 1, 36.

[2] Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī, Al-Itqān fī ʻUlūm al-Qur’ān, Muḥammad Abū al-Faḍl Ibrāhīm ed. (Beirut: Dār al-Fikr, 2000), Jilid 2, 308.

[3] Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Tafsīr al-Kabīr: Mafātīḥ al-Ghayb (Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī, 1999), Jilid 1, 6.

[4] Ibrāhīm ibn ʻUmar al-Biqā‘ī, Naẓm al-Durar fī Tanāsub al-Āyāt wa al-Suwar (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995), Jilid 1, 5.

Tags: al-Mudatstsiral-MuzammilIlmu MunasabahImam SuprayogoMisi ProfetikPTKI
Zenrif

Zenrif

M. Fauzan Zenrif adalah Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Malang bidang perekonomian (2021 - 2026), founder KPKNU (Komunitas Pengusaha Kecil NU).

Terkait

Legitimasi Meritokrasi dalam Birokrasi Lokal: Menimbang Relasi Kekerabatan dalam Perspektif Hukum Administrasi dan Sejarah Politik Islam

Legitimasi Meritokrasi dalam Birokrasi Lokal: Menimbang Relasi Kekerabatan dalam Perspektif Hukum Administrasi dan Sejarah Politik Islam

Oleh Zenrif
19 Apr 2026
0

Fenomena pelantikan anak kandung oleh Kepala Daerah ke dalam jabatan strategis birokrasi, seringkali dipersepsikan secara simplistik sebagai bentuk nepotisme, tanpa...

Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

Oleh Zenrif
18 Apr 2026
0

Mencari tempat kos di Malang dan sekitarnya, terutama untuk anak perempuan, yang sesuai dengan kaidah ajaran Islam pada saat ini...

Prioritas Program Pemerintah: Menimbang Koperasi Merah Putih, MBG, Pendidikan, Infrastruktur, Perumahan, dan Alutsista dengan Maqāṣid

Prioritas Program Pemerintah: Menimbang Koperasi Merah Putih, MBG, Pendidikan, Infrastruktur, Perumahan, dan Alutsista dengan Maqāṣid

Oleh Zenrif
18 Apr 2026
0

Dalam menimbang dan menlai skla prioritas program Pemerintah, kaidah ushul fiqh “الواجب لا يُترك لسُنّة، بل يُترك لواجبٍ” bisa memberikan...

Epistemologi Konvergensi dalam Studi Islam: Menyatukan Teks, Akal, dan Metode Ilmiah

Epistemologi Konvergensi dalam Studi Islam: Menyatukan Teks, Akal, dan Metode Ilmiah

Oleh Zenrif
13 Apr 2026
0

Setelah saya diminta memimpin Prodi Studi Islam di Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, saya terus melakukan kajian. Ada beberapa...

Postingan Berikut
MISI PROFETIK PTKI SEBAGAI INSTITUSI PENDIDIKAN ISLAM

MISI PROFETIK PTKI SEBAGAI INSTITUSI PENDIDIKAN ISLAM

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS