Menemukan Kembali Jejak Pendidikan dari Sebuah Buku Tua

Pagi ini, 1 Agustus 2026, saya pulang ke Ganjaran untuk menjenguk Nyik, panggilan kami untuk ibu. Di sepanjang jalan menuju rumah, hampir semua tetangga sudah memasang bendera Merah Putih dengan rapi di depan rumah masing-masing. Saya kemudian teringat bahwa di rumah juga belum ada bendera yang terpasang. Saya pun masuk ke kamar depan dan membuka almari tua, berharap bendera itu masih tersimpan di sana seperti tahun-tahun sebelumnya.
Bendera yang saya cari ternyata tidak saya temukan. Akan tetapi, di balik tumpukan buku-buku lama, tangan saya justru menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada bendera itu sendiri. Sebuah buku pelajaran berjudul Bahasaku. Seketika saya mengenali buku itu. Buku inilah yang dahulu saya gunakan ketika belajar di kelas V Madrasah Ibtidaiyah Raudlatul Ulum Ganjaran. Sampulnya sudah menguning, beberapa halamannya robek, dan bekas lipatan tampak di sana-sini. Namun, usia yang melekat pada buku itu justru menjadi penanda bahwa ia pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.
Ketika saya membuka lembar demi lembar halamannya, tampak beberapa gambar yang pernah saya warnai dengan pensil warna. Melihat gambar-gambar itu, saya tiba-tiba teringat kembali kepada Guru Munadi yang mengajarkan buku ini. Cara beliau menjelaskan pelajaran, suasana kelas yang sederhana, bahkan beberapa teman sekelas yang sudah puluhan tahun tidak pernah saya jumpai, mendadak muncul kembali di permukaan ingatan. Entah mengapa, saya merasakan kebahagiaan masa lalu itu seperti datang kembali. Seolah-olah saya kembali menjadi anak kecil yang sedang duduk di bangku kelas V, belajar membaca, menjawab pertanyaan, dan mewarnai gambar tanpa pernah membayangkan ke mana perjalanan hidup akan membawa saya.
Namun, saya segera mengalihkan ingatan itu. Saya tahu semuanya sudah berlalu. Masa lalu memang indah untuk dikenang, tetapi tidak untuk ditinggali. Saya memilih berpikir lebih realistis sambil mempelajari kembali bentukan kepakaran saya pada masa-masa awal belajar di Madrasah Ibtidaiyah Raudlatul Ulum Ganjaran. Sebuah madrasah kecil, waktu itu, jauh dari kata gemerlap dan profesional. Ruang belajarnya sederhana, fasilitasnya terbatas, dan para gurunya mengajar dengan segala keterbatasan yang mereka miliki. Akan tetapi, justru dari madrasah yang didirikan oleh para kiai itulah saya dibentuk. Di sanalah saya belajar membaca, menulis, berpikir, mengenal kehidupan, menghormati guru, dan mencintai ilmu. Madrasah kecil itu telah menghasilkan saya, sekaligus membentuk seluruh kepribadian dan kepakaran dasar yang hingga hari ini masih melekat dalam diri saya.
Karena itulah, saya kemudian memandang buku Bahasaku bukan sekadar sebagai buku pelajaran Bahasa Indonesia yang pernah saya gunakan lebih dari lima puluh tahun yang lalu. Buku ini adalah artefak pendidikan yang menyimpan jejak bagaimana sebuah generasi dibentuk. Ia merekam cara berpikir para penyusun kurikulum, filosofi pendidikan yang berkembang pada zamannya, sekaligus nilai-nilai yang ingin diwariskan kepada anak-anak Indonesia. Membaca kembali buku ini bukan hanya menghadirkan nostalgia, tetapi juga membuka ruang refleksi akademik mengenai bagaimana pendidikan dasar sesungguhnya membangun fondasi keilmuan, karakter, dan cara pandang seseorang terhadap kehidupan.

Membaca Kembali Pendidikan Indonesia Tahun 1970-an melalui Buku Bahasaku: Analisis Historis, Pedagogis, dan Nilai-Nilai Kehidupan

Buku pelajaran merupakan salah satu sumber penting dalam merekonstruksi sejarah pendidikan suatu bangsa. Melalui buku pelajaran, dapat ditelusuri bagaimana kurikulum dirancang, bagaimana guru diarahkan mengajar, serta nilai-nilai apa yang hendak ditanamkan kepada peserta didik. Salah satu buku yang memberikan gambaran tersebut adalah Bahasaku karya B. M. Nur dan W. J. S. Poerwadarminta yang diterbitkan oleh PT Sumbangsih dan digunakan di Sekolah Dasar sekitar tahun 1971–1972. Sebagai buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk murid kelas V Sekolah Dasar, buku ini tidak hanya berfungsi sebagai media pembelajaran bahasa, tetapi juga menjadi cerminan filosofi pendidikan Indonesia pada awal dekade 1970-an. Hal itu tampak jelas dari keterangan pada sampul yang menyebutkan bahwa buku ini merupakan “Kitab Peladjaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar yang Berorientasikan Kemasyarakatan (S.O.M.)”. Frasa tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa diarahkan untuk membentuk peserta didik yang mampu hidup, berpikir, dan berinteraksi secara baik dalam kehidupan bermasyarakat.

Analisis terhadap beberapa halaman buku menunjukkan bahwa penyusunan materi dilakukan secara sistematis dengan mengintegrasikan berbagai kompetensi dalam satu kegiatan belajar. Bahasa tidak diajarkan sebagai kumpulan aturan tata bahasa yang harus dihafalkan, melainkan sebagai alat berpikir, berkomunikasi, dan memahami realitas kehidupan. Hampir seluruh bacaan yang disajikan berangkat dari pengalaman sehari-hari anak, seperti kehidupan keluarga, aktivitas di pasar, perjalanan ke sekolah, pekerjaan masyarakat, hingga kebiasaan merawat barang. Dengan demikian, siswa diajak memahami bahasa melalui pengalaman yang nyata dan dekat dengan kehidupan mereka. Pendekatan seperti ini sejalan dengan konsep pembelajaran kontekstual (contextual learning) yang dalam pendidikan modern dipandang sebagai salah satu pendekatan efektif untuk meningkatkan pemahaman peserta didik, meskipun pada masa itu istilah tersebut belum dikenal secara luas.

Salah satu bacaan yang menarik dalam buku ini adalah kisah Amir yang ingin membeli sepeda untuk berangkat ke sekolah. Cerita tersebut pada dasarnya merupakan bacaan sederhana yang melatih kemampuan membaca dan memahami isi teks, tetapi di dalamnya tersimpan pembelajaran ekonomi yang sangat kuat. Ayah Amir menjelaskan perbedaan antara membeli sepeda secara tunai dan secara angsuran. Amir kemudian diminta menghitung sendiri selisih biaya yang harus dikeluarkan apabila memilih salah satu cara pembayaran tersebut. Melalui cerita ini siswa tidak hanya belajar membaca dialog, tetapi juga belajar melakukan perhitungan sederhana, memahami konsep harga tunai dan angsuran, serta mengenali pentingnya mengambil keputusan ekonomi secara rasional. Jika dilihat dari perspektif pendidikan kontemporer, materi tersebut dapat dipandang sebagai bentuk awal literasi keuangan (financial literacy) yang telah diintegrasikan ke dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Yang menarik, konsep ekonomi tersebut tidak diajarkan melalui definisi atau teori, melainkan melalui pengalaman tokoh cerita yang mudah dipahami oleh anak-anak.

Selain mengajarkan kecakapan berpikir, cerita tersebut juga mengandung pendidikan karakter yang sangat kuat. Setelah sepeda berhasil dibeli, Amir digambarkan membersihkan dan merawat sepedanya dengan baik serta berlatih mengendarainya setiap sore hingga menjadi semakin mahir. Narasi sederhana ini menanamkan berbagai nilai seperti hidup hemat, menghargai jerih payah orang tua, bertanggung jawab terhadap barang yang dimiliki, disiplin berlatih, dan membiasakan diri menjaga milik sendiri. Nilai-nilai tersebut tidak disampaikan dalam bentuk nasihat yang panjang, tetapi melalui tindakan tokoh cerita sehingga peserta didik belajar melalui keteladanan. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembelajaran bahasa jauh sebelum istilah character education menjadi perhatian utama dalam kebijakan pendidikan Indonesia.

Pada halaman berikutnya, saya membaca bahwa buku ini menghadirkan latihan berbicara melalui sebuah ilustrasi yang menggambarkan seorang anak bersepeda yang hampir bertabrakan dengan pedagang pikul. Siswa diminta mengamati gambar tersebut kemudian menjelaskan apa yang hampir terjadi dan apa penyebabnya. Latihan ini menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa diarahkan untuk mengembangkan kemampuan mengamati, berpikir logis, menyusun hubungan sebab-akibat, serta mengungkapkan hasil pengamatan secara lisan. Gambar berfungsi sebagai media untuk merangsang daya pikir siswa sebelum mereka menyusun cerita. Dalam perspektif pedagogi modern, latihan seperti ini telah melatih kemampuan observasi, komunikasi, penalaran kritis, dan kemampuan menyampaikan gagasan secara runtut. Dengan kata lain, pembelajaran aktif yang kini sering disebut sebagai active learning sebenarnya telah dipraktikkan dalam bentuk yang sederhana sejak awal tahun 1970-an.

Saya membuka lembar berikutnya. Materinya memperlihatkan latihan pembentukan kata menggunakan awalan pe-, seperti pembeli, pemalas, pengarang, dan pemeluk. Yang menarik, siswa tidak hanya diminta membentuk kata, tetapi juga memahami makna setiap bentuk kata tersebut dalam konteks penggunaannya. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran morfologi dilakukan secara aplikatif sehingga peserta didik memahami fungsi bahasa melalui penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Setelah itu siswa dilatih membalik susunan kalimat untuk memahami hubungan antara subjek, predikat, objek, dan keterangan. Penyusunan materi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa dibangun secara bertahap, dimulai dari penguasaan kosakata, pemahaman makna, pembentukan kata, penyusunan kalimat, keterampilan berbicara, hingga kemampuan memahami bacaan. Urutan ini mencerminkan adanya rancangan pedagogis yang matang dan sistematis.

Saya pikir, keunggulan lain buku Bahasaku terletak pada pendekatan integratif yang diterapkannya. Dalam satu bacaan sederhana, siswa secara bersamaan belajar membaca, berbicara, memperkaya kosakata, memahami tata bahasa, berhitung, berpikir logis, memahami nilai ekonomi keluarga, membangun karakter, serta mengenali norma kehidupan sosial. Tidak ada pemisahan yang kaku antara satu kompetensi dengan kompetensi lainnya. Bahasa menjadi wahana untuk mempelajari berbagai aspek kehidupan. Pendekatan seperti ini pada masa kini dikenal sebagai integrated learning atau pembelajaran terpadu, yaitu suatu pendekatan yang menghubungkan berbagai bidang pengetahuan dalam satu pengalaman belajar yang utuh. Menariknya, buku ini telah menerapkan prinsip tersebut puluhan tahun sebelum konsep pembelajaran terpadu berkembang dalam teori pendidikan modern.

Orientasi kemasyarakatan yang tercantum pada sampul buku yang masih tersimpan di lemariku benar-benar tercermin dalam seluruh isi pembelajaran. Hampir semua contoh yang digunakan berasal dari aktivitas masyarakat, seperti berbelanja, bekerja, bertetangga, menggunakan jalan raya, membantu orang tua, dan menjaga barang milik sendiri. Bahasa dipelajari bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat untuk hidup bersama dalam masyarakat. Dengan demikian, tujuan pendidikan tidak hanya menghasilkan anak yang mampu membaca dan menulis, tetapi juga membentuk warga masyarakat yang memiliki tanggung jawab sosial, mampu mengambil keputusan secara bijaksana, dan memahami nilai-nilai kehidupan sehari-hari.

Apabila dibandingkan dengan perkembangan pendidikan saat ini, saya membaca isi buku Bahasaku justru menunjukkan bahwa banyak gagasan yang kini dianggap inovatif sebenarnya telah hadir dalam bentuk yang sederhana sejak lebih dari lima puluh tahun yang lalu. Konsep pembelajaran kontekstual, pendidikan karakter, literasi keuangan, pembelajaran aktif, pembelajaran berbasis pengalaman, hingga pembelajaran terpadu telah menjadi bagian dari penyusunan materi buku ini, meskipun belum menggunakan istilah-istilah akademik sebagaimana dikenal sekarang. Perbedaannya hanya terletak pada bahasa dan kemasan penyajiannya yang lebih sederhana serta sangat dekat dengan kehidupan masyarakat pada masa itu.

Oleh karena itu, Bahasaku layak dipandang bukan sekadar sebagai buku pelajaran Bahasa Indonesia, melainkan sebagai dokumen sejarah pendidikan nasional yang memperlihatkan paradigma pendidikan Indonesia pada awal dekade 1970-an. Buku ini menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa telah dirancang sebagai sarana membentuk manusia yang utuh, yaitu manusia yang mampu berkomunikasi dengan baik, berpikir logis, memahami kehidupan ekonomi, memiliki karakter yang kuat, serta mampu hidup secara bertanggung jawab dalam masyarakat. Dari perspektif sejarah pendidikan, buku ini mengingatkan bahwa pembaruan pendidikan tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru, melainkan sering kali merupakan upaya menghidupkan kembali nilai-nilai pedagogis yang telah lama menjadi bagian dari tradisi pendidikan Indonesia.

Saya sadar bahwa inilah yang memberikan kontribusi besar bagi pembentukan karakter akademikku saat ini. Terima kasih para guruku. Alfatihah…

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *