Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Indonesia di Bawah Bayangan Algoritma: Dari BlackRock hingga Scopus

Indonesia di Bawah Bayangan Algoritma: Dari BlackRock hingga Scopus

Zenrif Oleh Zenrif
26 Jan 2026
dalam Karya, Pemikiran
0
Bagikan ke FacebookBagikan ke Whatsapp

Dua  minggu terakhir saya sedang menulis Proposal Penelitian tentang Konsep al-Qur’an dan Koperasi. Sebuah tema yang mungkin tidak menarik bagi kebanyakan orang tetapi sangat menarik perhatian saya karena ada banyak fakta yang secara akademik perlu dicari penjelasannya. Di sini saya tidak akanmenceritakan tentang isi Proposal itu, tetapi perubahan arah saya pada sebuah informasi tentang Alladdin. Nama yang dulu saat kecilpernah saya kenal sebagai tokoh sakti.Tapi ini bukan Aladdin itu, Alladin yang lebih sakti dan lebih kaya.

Aladdin (Asset, Liability, Debt and Derivative Investment Network) ini milik BlackRock. Sebuah perusahaan dahsyat yang bergerak dalam salah satu infrastruktur digital paling berpengaruh dalam sistem keuangan global. Platform ini tidak sekadar alat bantu investasi, melainkan mesin “epistemik” yang memproduksi, memproses, dan memvalidasi pengetahuan keuangan dunia. Melalui Aladdin, risiko sebuah negara, obligasi publik, mata uang, dan stabilitas fiskal dianalisis secara real time dan menjadi rujukan utama bagi bank sentral, dana pensiun, dan pemerintah di banyak negara. Dalam konteks ini, Aladdin berfungsi sebagai “arsitek rasionalitas ekonomi global” yang menentukan apa yang dianggap aman, berisiko, atau layak dibiayai. Aladdin memiliki kesaktian mempengaruhi banyak kebijakan di seluruh dunia.

Baca lainnya

KYAI, PESANTREN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS (2)

KYAI, PESANTREN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS (2)

1 Jun 2026
KYAI, PESANTREN  DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS (1)

KYAI, PESANTREN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS (1)

1 Jun 2026

nah sekarang saya ingin pindah ke BlackRock, sebagai pemilik Aladdin menempati posisi unik. Ia bukan negara, tetapi memiliki kapasitas pengaruh yang sering kali melampaui otoritas negara. Ketika keputusan investasi berbasis Aladdin memengaruhi aliran modal global, maka kebijakan fiskal, moneter, dan pembangunan negara-negara berkembang secara tidak langsung dikondisikan oleh logika algoritmik yang dirancang di pusat kapital global. Negara yang tidak “ramah” terhadap metrik risiko versi Aladdin akan menghadapi biaya pinjaman lebih mahal, dan katanya akan mengalami tekanan pasar yang sistemik.

Di sisi lain, saya menjadi teringat pada Scopus, sebagai basis data akademik global milik Elsevier. Ia memainkan peran serupa dalam ranah pengetahuan dan pendidikan tinggi. Scopus tidak hanya mengindeks ilmu, tetapi menetapkan standar tentang apa yang disebut “ilmu bermutu”, “penelitian bereputasi”, dan “akademisi unggul”. Negara dan universitas yang ingin diakui secara global dipaksa menyesuaikan orientasi riset, bahasa ilmiah, dan agenda pengetahuan mereka agar kompatibel dengan logika Scopus. Scopus sakti, sesakti Aladdin.

Jika Aladdin mengontrol arus modal, maka Scopus mengontrol arus legitimasi intelektual. Keduanya bekerja di domain berbeda, tetapi memiliki kesamaan struktural, Keduanya adalah sistem privat yang beroperasi secara global dan menjadi rujukan wajib bagi institusi publik. Negara-negara Global South sering kali tidak memiliki kapasitas untuk menolak standar ini, karena keluar dari sistem berarti terpinggirkan dari pasar global atau ekosistem akademik internasional.

Dalam perspektif kekuasaan, hubungan Aladdin dan Scopus dapat dipahami sebagai bentuk soft control atau penguasaan non-teritorial. Tidak ada pendudukan militer, tetapi ada penyeragaman rasionalitas. Kebijakan ekonomi harus sesuai dengan model risiko global, dan kebijakan pendidikan harus selaras dengan metrik sitasi internasional. Dengan demikian, kedaulatan negara direduksi menjadi kemampuan menyesuaikan diri terhadap sistem yang tidak mereka rancang.

Lebih jauh, saya pikir Aladdin dan Scopus yang sama-sama beroperasi melalui klaim objektivitas teknologi. Algoritma risiko Aladdin dan metrik sitasi Scopus dipresentasikan sebagai netral dan ilmiah, padahal keduanya memuat asumsi ideologis tertentu, yaitu efisiensi pasar, bahasa Inggris sebagai lingua franca ilmu, dan dominasi institusi Barat sebagai pusat validasi. Di sinilah kekuasaan bekerja secara halus, melalui data, skor, dan peringkat, bukan melalui perintah langsung, sebagaimana atasan pada bawahan.

Implikasinya bagi negara berkembang sangat serius. Ketergantungan pada Aladdin dapat membuat kebijakan ekonomi nasional kehilangan ruang eksperimentasi, sementara ketergantungan pada Scopus dapat mematikan pengetahuan lokal, riset kontekstual, dan epistemologi non-Barat. Negara akhirnya mengejar “peringkat” dan “kepercayaan pasar” alih-alih kebutuhan rakyat dan problem struktural domestik.

Saya mengira dalam konteks ini, Aladdin dan Scopus memang bukanlah aktor yang berkolusi secara bisnis, tetapi beroperasi dalam ekosistem kekuasaan global yang saling menguatkan. Yang satu mengontrol apa yang layak dibiayai, yang lain mengontrol apa yang layak diketahui dan diakui. Keduanya menopang tatanan global di mana otoritas tidak lagi sepenuhnya berada di tangan negara, melainkan pada infrastruktur data privat berskala global.

Oleh karena itu, tantangan bagi negara seperti Indonesia bukan sekadar “mengejar ketertinggalan” dalam sistem Aladdin atau Scopus, melainkan membangun kedaulatan epistemik dan ekonomi secara bersamaan. Ini mencakup penguatan sistem penilaian riset nasional, pengembangan model ekonomi yang berakar pada kebutuhan lokal, serta keberanian politik untuk tidak sepenuhnya tunduk pada metrik global yang menyamar sebagai keniscayaan teknokratis. Tanpa itu, negara berisiko menjadi sekadar pengguna sistem, bukan penentu arah sejarahnya sendiri. Di sini lah PR besar Prabowo-Gibran jika ingin memerdekakan Indonesia seutuhnya.

Zenrif

Zenrif

M. Fauzan Zenrif adalah Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Malang bidang perekonomian (2021 - 2026), founder KPKNU (Komunitas Pengusaha Kecil NU).

Terkait

KYAI, PESANTREN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS (2)

KYAI, PESANTREN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS (2)

Oleh Zenrif
1 Jun 2026
0

Dalam konteks kemasyarakatan, Kyai melalui pesantren sering melakukan berbagai kegiatan pelatihan berbasis komunitas bagi masyarakat umum. Dalam konteks pendidikan modern,...

KYAI, PESANTREN  DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS (1)

KYAI, PESANTREN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS (1)

Oleh Zenrif
1 Jun 2026
0

Pondok pesantren, dengan metode yang khas dan peran kyai sebagai teladan, telah lama menjadi pusat pendidikan dan pengembangan karakter bagi...

Legitimasi Meritokrasi dalam Birokrasi Lokal: Menimbang Relasi Kekerabatan dalam Perspektif Hukum Administrasi dan Sejarah Politik Islam

Legitimasi Meritokrasi dalam Birokrasi Lokal: Menimbang Relasi Kekerabatan dalam Perspektif Hukum Administrasi dan Sejarah Politik Islam

Oleh Zenrif
19 Apr 2026
0

Fenomena pelantikan anak kandung oleh Kepala Daerah ke dalam jabatan strategis birokrasi, seringkali dipersepsikan secara simplistik sebagai bentuk nepotisme, tanpa...

Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

Oleh Zenrif
18 Apr 2026
0

Mencari tempat kos di Malang dan sekitarnya, terutama untuk anak perempuan, yang sesuai dengan kaidah ajaran Islam pada saat ini...

Postingan Berikut
“Melawan Inferioritas Global: Pancasila sebagai Filsafat Pendidikan Alternatif terhadap Hegemoni Liberty-Liberal

“Melawan Inferioritas Global: Pancasila sebagai Filsafat Pendidikan Alternatif terhadap Hegemoni Liberty-Liberal

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS