Dalam konteks kemasyarakatan, Kyai melalui pesantren sering melakukan berbagai kegiatan pelatihan berbasis komunitas bagi masyarakat umum. Dalam konteks pendidikan modern, pelatihan berbasis komunitas kian diakui kebutuhannya, terutama dalam meningkatkan keterampilan wali santri dan guru untuk memahami teknologi pendidikan.[1] Sebab, kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan pesantren, termasuk wali santri dan guru, memiliki berperan krusial dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan siswa.[2]
Ketika wali santri mengambil peran aktif dalam proses pendidikan, mereka memiliki kapasitas untuk memberikan dukungan yang lebih substansial kepada anak-anak mereka, yang pada gilirannya berkontribusi pada peningkatan hasil belajar.[3] Keterlibatan ini tidak hanya memperkuat hasil akademis santri, tetapi juga memperdalam rasa kepemilikan wali santri terhadap proses pendidikan. Wali santri yang merasa terintegrasi dalam komunitas pendidikan cenderung lebih proaktif dalam berpartisipasi dan mendukung inisiatif yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.[4]
Namun, di balik berbagai manfaat yang ditawarkan, pendekatan berbasis komunitas juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu isu utama yang perlu menjadi perhatian adalah keterbatasan sumber daya, yang sering kali menjadi penghambat dalam implementasi program-program pelatihan efektif.[5] Banyak komunitas yang tidak memiliki akses memadai terhadap dana atau fasilitas yang diperlukan untuk menyelenggarakan pelatihan, sehingga dapat mengakibatkan ketidakberhasilan program dan mengurangi dampak positif yang diharapkan. Dengan demikian, meskipun pelatihan berbasis komunitas memiliki potensi signifikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, keberhasilan implementasinya sangat bergantung pada pemenuhan kebutuhan sumber daya yang memadai.
Selain dari kebutuhan sumber daya yang memadai, dalam penerapan pendekatan berbasis komunitas ada resistensi terhadap perubahan yang acap kali menjadi kendala signifikan.[6] Banyak wali santri dan guru yang merasa lebih nyaman dengan metode pengajaran tradisional, sehingga enggan mengadopsi pendekatan baru yang diperkenalkan melalui program pelatihan. Ketidakpastian mengenai efektivitas metode baru tersebut sering kali menjadi alasan utama untuk menolak perubahan, yang pada gilirannya menghambat pengembangan potensi mereka.
Di sisi lain, pentingnya pengembangan keterampilan di bidang teknologi dan ilmu pengetahuan tidak dapat diabaikan, sebagaimana penggunaan AlphaFold2 untuk berbagai penelitian bioinformatika yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pengetahuan struktur proteom manusia.[7] Pelatihan yang ditujukan kepada wali santri dan guru harus mencakup aspek-aspek ilmiah dan teknologi terkini, sehingga mereka dapat memahami dan mengajarkan konsep-konsep tersebut kepada santri dengan lebih efektif. Ini bukan sekadar upaya untuk meningkatkan pengetahuan, tetapi juga untuk membekali mereka dengan keterampilan yang relevan di era digital saat ini. Dengan demikian, keberhasilan penerapan pendekatan berbasis komunitas sangat tergantung pada keterbukaan dan kesiapan para pendidik untuk beradaptasi dengan perubahan yang diperlukan.
Dalam kajian mengenai pengembangan wali santri dan guru, kesehatan fisik dan mental menjadi aspek yang krusial dan perlu menjadi perhatian. Oleh sebab itu, program berbasis komunitas yang mengintegrasikan kegiatan fisik tidak hanya berpotensi meningkatkan kesejahteraan wali santri dan guru, tetapi juga berdampak positif pada lingkungan belajar santri.[8] Dengan mengadopsi pendekatan yang holistik ini, diharapkan para wali santri dan guru dapat memberikan dukungan yang lebih efektif dalam perkembangan anak-anak mereka.
Selain itu, pengetahuan kesehatan menjadi sangat penting, terutama dalam konteks pendidikan. Dalam situasi krisis kesehatan seperti yang terjadi pada masa Pandemi COVID-19, wali santri dan guru perlu dilengkapi dengan informasi dan keterampilan yang memadai untuk menjaga kesehatan diri sendiri dan santri.[9] Program edukasi berbasis komunitas yang fokus pada kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran tentang isu-isu kesehatan yang relevan.
Keterlibatan komunitas juga berperan dalam meningkatkan akses terhadap sumber daya pendidikan. Penggunaan teknologi dapat mempermudah pengelolaan sumber daya dan informasi, memungkinkan wali santri dan guru untuk mengakses materi pelajaran, pelatihan, dan informasi penting lainnya dengan lebih mudah.[10] Hal ini pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas pendidikan yang diberikan kepada santri. Namun, tantangan dalam implementasi teknologi harus diakui tidak mudah, karena keterbatasan pelatihan dapat menghambat wali santri dan guru dalam mengadopsi metode pembelajaran yang baru secara efektif. Oleh karena itu, penyediaan pelatihan yang komprehensif dan berkelanjutan sangat penting agar mereka dapat memanfaatkan teknologi secara optimal dalam proses belajar mengajar.
Dalam konteks keberlanjutan, inovasi teknologi memiliki potensi untuk memperkuat respons terhadap tantangan pendidikan di masa depan. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas harus bersifat adaptif dan responsif terhadap perubahan sosial dan teknologi yang terus berlangsung.[11] Dengan demikian, keberhasilan pengembangan wali santri dan guru bergantung pada integrasi berbagai elemen ini dalam suatu kerangka kerja yang komprehensif.
Pentingnya memahami kondisi sosial dan ekonomi komunitas dalam merancang program pelatihan tidak dapat diabaikan.[12] Pengabaian terhadap konteks lokal berisiko gagal atau bahkan menimbulkan ketidakpuasan di kalangan wali santri dan guru. Oleh karena itu, melibatkan komunitas dalam perencanaan dan pelaksanaan program menjadi langkah yang esensial untuk memastikan keberhasilan dan relevansi program tersebut.
[1]Alzubaidi, L. (2021). Review of deep learning: concepts, CNN architectures, challenges, applications, future directions. Journal of Big Data, 8(1). https://doi.org/10.1186/s40537-021-00444-8
[2] Sachs, J.D. (2019). Six Transformations to achieve the Sustainable Development Goals. Nature Sustainability, 2(9), 805-814. https://doi.org/10.1038/s41893-019-0352-9
[3]Sachs, J.D. (2019). Six Transformations to achieve the Sustainable Development Goals. Nature Sustainability, 2(9), 805-814. https://doi.org/10.1038/s41893-019-0352-9
[4]Revkin, M.R. (2020). Perspectives on the rebel social contract: Exit, voice, and loyalty in the Islamic State in Iraq and Syria. World
[5]Flanagan, B.E. (2020). A Social Vulnerability Index for Disaster Management. Journal of Homeland Security and Emergency Management, 8(1). https://doi.org/10.2202/1547-7355.1792
[6]Alcock, B.P. (2020). CARD 2020: Antibiotic resistome surveillance with the comprehensive antibiotic resistance database. Nucleic Acids Research, 48. https://doi.org/10.1093/nar/gkz935
[7]Tunyasuvunakool, K. (2021). Highly accurate protein structure prediction for the human proteome. Nature, 596(7873), 590-596. https://doi.org/10.1038/s41586-021-03828-1
[8]Guthold, R. (2020). Global trends in insufficient physical activity among adolescents: a pooled analysis of 298 population-based surveys with 1·6 million participants. The Lancet Child and Adolescent Health, 4(1), 23-35. https://doi.org/10.1016/S2352-4642(19)30323-2
[9]Zhang, Y. (2021). Safety, tolerability, and immunogenicity of an inactivated SARS-CoV-2 vaccine in healthy adults aged 18–59 years: a randomised, double-blind, placebo-controlled, phase 1/2 clinical trial. The Lancet Infectious Diseases, 21(2), 181-192. https://doi.org/10.1016/S1473-3099(20)30843-4
[10]Saberi, S. (2019). Blockchain technology and its relationships to sustainable supply chain management. International Journal of Production Research, 57(7), 2117-2135. https://doi.org/10.1080/00207543.2018.1533261
[11]Wang, L. (2020). COVID-Net: a tailored deep convolutional neural network design for detection of COVID-19 cases from chest X-ray images. Scientific Reports, 10(1). https://doi.org/10.1038/s41598-020-76550-z
[12]Flanagan, B.E. (2020). A Social Vulnerability Index for Disaster Management. Journal of Homeland Security and Emergency Management, 8(1). https://doi.org/10.2202/1547-7355.1792







