Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
“Melawan Inferioritas Global: Pancasila sebagai Filsafat Pendidikan Alternatif terhadap Hegemoni Liberty-Liberal

“Melawan Inferioritas Global: Pancasila sebagai Filsafat Pendidikan Alternatif terhadap Hegemoni Liberty-Liberal

Zenrif Oleh Zenrif
27 Jan 2026
dalam Karya, Pemikiran
0
Bagikan ke FacebookBagikan ke Whatsapp

Saya berterima kasih pada beberapa kolega yang sudah memberikan respon terhadap dua kali tulisan saya tentang Pendidikan Indonesia. Terus terang, memang benar saya bagian dari mereka yang melihat pendidikan Indonesia secara positif. Terlihat ada kekurangan dan lobang yang mungkin dalam sepanjang perjalan sejarah pendidikan Indonesia, saya juga mengakui itu. Tapi, titik tolak pemikiran saya tentang pendidikan Indonesia adalah kesesuaian antara filsafat hidup bangsa ini dengan perjalanan sejarah pendidikannya.

Saya percaya bahwa pendidikan Indonesia pada dasarnya telah memiliki fondasi filosofis yang kokoh dan sejalan dengan filsafat hidup bangsa, yakni Pancasila. Dalam konteks ini, pendidikan tidak berdiri sebagai sekadar instrumen teknokratis untuk memenuhi kebutuhan pasar global, melainkan sebagai wahana pembentukan manusia Indonesia seutuhnya. Mungkin aradigma pendidikan Pancasila dapat dipahami sebagai paradigma solidaritas, tetapi jelas berbeda dengan solidaritas dalam paradigma pendidikan di Perancis, karena berakar pada nilai egalité, fraternité, dan libérté. Paradima solidaritas pendidikan Indonesia dimaknai secara khas dalam konteks sejarah, budaya, dan religiositas bangsa Indonesia.

Baca lainnya

Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

18 Apr 2026
Prioritas Program Pemerintah: Menimbang Koperasi Merah Putih, MBG, Pendidikan, Infrastruktur, Perumahan, dan Alutsista dengan Maqāṣid

Prioritas Program Pemerintah: Menimbang Koperasi Merah Putih, MBG, Pendidikan, Infrastruktur, Perumahan, dan Alutsista dengan Maqāṣid

18 Apr 2026

Solidaritas dalam pendidikan Pancasila tidak identik dengan individualisme liberal. Egalité dimaknai sebagai kesetaraan martabat manusia di hadapan Tuhan dan hukum; fraternité sebagai persaudaraan kebangsaan yang melampaui sekat etnis, agama, dan kelas sosial; sementara libérté dipahami sebagai kebebasan yang bertanggung jawab secara moral dan sosial. Dengan kerangka ini, pendidikan Indonesia sejak awal diarahkan untuk melahirkan manusia yang berkeadilan, berkeadaban, dan berkepribadian, bukan semata manusia yang kompetitif secara ekonomi.

Amerika Serikat, sebagai perbandingan, mengedepankan kebebasan individu sebagai nilai utama pendidikan, sejalan dengan filsafat liberty yang menjadi ruh konstitusionalnya. Pendidikan diarahkan untuk menjamin kebebasan berpikir, inovasi, dan mobilitas sosial. Namun, filsafat liberty tersebut lahir dari konteks sejarah dan sosial Amerika yang berbeda secara mendasar dengan Indonesia. Karena itu, adopsi model pendidikan berbasis kebebasan liberal tanpa refleksi filosofis berpotensi menggeser tujuan pendidikan nasional dari pembentukan manusia berkarakter menjadi sekadar pencetak tenaga kerja global.

Saya memandang bahwa Indonesia, melalui Pancasila, memiliki basis filosofis pendidikan yang jauh lebih komprehensif. Ketuhanan Yang Maha Esa menegaskan bahwa pendidikan tidak bebas nilai, melainkan berakar pada transendensi dan etika ilahiah. Kemanusiaan yang adil dan beradab menuntut pendidikan yang memuliakan manusia, bukan menjadi masyarakat Indonesia sebagai “robot-robot” pembangunan ekonomi semata. Persatuan Indonesia mengarahkan pendidikan sebagai perekat kebangsaan, sementara Kerakyatan dan Keadilan Sosial memastikan bahwa pendidikan berorientasi pada kemaslahatan bersama, bukan kepentingan segelintir elite.

Dari Sila Pertama hingga Sila Kelima, Pancasila dengan jelas memuat filsafat pendidikan yang utuh: pandangan tentang hakikat manusia, tujuan hidup, relasi sosial, dan tanggung jawab kebangsaan. Dalam kerangka ini, pendidikan Indonesia semestinya bergerak pada pembentukan insan beriman, berilmu, berakhlak, demokratis, dan berkeadilan sosial. Pendidikan tidak berhenti pada capaian kognitif, tetapi menumbuhkan kesadaran etis dan tanggung jawab sosial.

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan semestinya seluruh UIN di Indonesia, memiliki posisi strategis karena secara ontologis dan epistemologis berdiri di persimpangan agama, ilmu, dan kebangsaan. Filsafat pendidikan UIN sejatinya telah sejalan dengan Pancasila, karena mengintegrasikan Ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan sosial dalam satu bangunan keilmuan. Dalam pandangan ini, maka integrasi ilmu dan agama bukan lah, dan tent jangan dipandang, penyimpangan dari modernitas, melainkan manifestasi autentik dari filsafat pendidikan nasional.

Dalam konteks ini, visi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di bawah kepemimpinan Rektor Prof. Dr. Ilfi Nurdiana sudah sejalan dengan harapan tersebut. Peneguhan kampus sebagai pusat integrasi ilmu dan agama, penguatan moderasi beragama, serta orientasi pada kemaslahatan umat dan bangsa menunjukkan keberlanjutan filosofi pendidikan Pancasila dalam praksis kelembagaan. Arah kepemimpinan ini menegaskan bahwa keunggulan akademik tidak harus dicapai dengan mengorbankan nilai-nilai religius dan kebangsaan.

Meski demikian, tarik-ulur keinginan untuk menjadi setara dengan negara-negara yang disebut maju tetap menghadirkan tantangan. Standar internasional, peringkat global, dan logika kompetisi akademik kerap dijadikan tujuan utama, sementara filsafat Pancasila direduksi menjadi jargon normatif. Dalam situasi ini, pendidikan berisiko kehilangan ruhnya sebagai proses pemanusiaan dan pembudayaan, berubah menjadi mesin produksi kapital manusia yang terlepas dari akar nilai.

Karena itu, tantangan utama pendidikan Indonesia, terutama di lingkungan UIN, bukanlah sekadar mengejar pengakuan global, melainkan meneguhkan kembali Pancasila sebagai panduan filosofis pendidikan. Dengan menjadikan agama sebagai pemandu utama kecerdasan manusia Indonesia seutuhnya, serta Pancasila sebagai kerangka nilai, pendidikan Indonesia dapat tampil sebagai model alternatif, berdaulat secara filosofis, berakar pada identitas bangsa, dan relevan bagi peradaban dunia.

Semoga Allah mudahkan semuanya.. Amin..

Zenrif

Zenrif

M. Fauzan Zenrif adalah Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Malang bidang perekonomian (2021 - 2026), founder KPKNU (Komunitas Pengusaha Kecil NU).

Terkait

Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

Oleh Zenrif
18 Apr 2026
0

Mencari tempat kos di Malang dan sekitarnya, terutama untuk anak perempuan, yang sesuai dengan kaidah ajaran Islam pada saat ini...

Prioritas Program Pemerintah: Menimbang Koperasi Merah Putih, MBG, Pendidikan, Infrastruktur, Perumahan, dan Alutsista dengan Maqāṣid

Prioritas Program Pemerintah: Menimbang Koperasi Merah Putih, MBG, Pendidikan, Infrastruktur, Perumahan, dan Alutsista dengan Maqāṣid

Oleh Zenrif
18 Apr 2026
0

Dalam menimbang dan menlai skla prioritas program Pemerintah, kaidah ushul fiqh “الواجب لا يُترك لسُنّة، بل يُترك لواجبٍ” bisa memberikan...

Epistemologi Konvergensi dalam Studi Islam: Menyatukan Teks, Akal, dan Metode Ilmiah

Epistemologi Konvergensi dalam Studi Islam: Menyatukan Teks, Akal, dan Metode Ilmiah

Oleh Zenrif
13 Apr 2026
0

Setelah saya diminta memimpin Prodi Studi Islam di Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, saya terus melakukan kajian. Ada beberapa...

Halal Bihalal Tradisi NU: Dari Ritual Lebaran ke Etika Rekonsiliasi Bangsa

Halal Bihalal Tradisi NU: Dari Ritual Lebaran ke Etika Rekonsiliasi Bangsa

Oleh Zenrif
12 Apr 2026
0

Di tengah dinamika sosial yang kerap diwarnai polarisasi, masyarakat Indonesia memiliki satu mekanisme kultural yang relatif efektif dalam merawat harmoni,...

Postingan Berikut
Mencapai Indonesia Emas 2045 Tanpa Menggadaikan Jati Diri: Posisi STrategis Pesantren dan UIN dalam Grand Design Pendidikan Nasional

Mencapai Indonesia Emas 2045 Tanpa Menggadaikan Jati Diri: Posisi STrategis Pesantren dan UIN dalam Grand Design Pendidikan Nasional

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS