Sebagaimana dijelaskan bahwa penerima pesan “jangan berkata atas kata, tetapi berkatalah atas benda” disampaikan Prof Imam pada kalangan dosen dan para cendekia. Dilihat dari penerima pesan bisa dikatakan bahwa Prof Imam mengajak pada para pendidik untuk mendidik dan mengajarkan pengetahuan dengan menggunakan metode yang dapat ditemukan atau diindera. Dalam konteks tafsir, kalimat “berkatalah atas benda” bermaksud mengajak para penjelas al-Qur’an untuk memberikan penjelasan terhadap ayat al-Qur’an dengan materi yang mudah dipahami pembacanya. Hal ini tentu dimaksudkan agar ayat al-Qur’an dapat diamalkan, dikerjakan dan fungsi al-Qur’an sebagai petunjuk bisa direalisasikan. Hal ini tentu sejalan dengan semangat “membumikan al-Qur’an.”
“Berkatalah atas benda” sebenarnya juga merupakan petunjuk dari al-Qur’an dalam proses pembelajaran atau pendidikan. Kita masih ingat bahwa dalam proses Nabi Adam as dijadikan sebagai khalifah di muka bumi dalam firmanNya “إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً”,[1] maka nabi Adam as. diajari pengetahuan memahami berbagai indikator tentang semua yang ada di bumi (وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا),[2] untuk memberikan kompetensi pengelolaannya. Al-Qur’an juga menjelaskan dan mengajarkan tentang indikator ketuhanan Allah swt melaluiالْأَسْمَاءَ [3] itu. Dengan indikator itu pula Rasulullah saw diminta untuk mengenal Tuhannya dalam Firman Allah swt:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
- Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,
- Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
- Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,
- Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (pena),
- Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Perhatikan susunan kalimat اقْرَأْ بِاسْمِ (bacalah dengan menyebut nama), bukan اقْرَأْ بِالله (Bacalah dengan menyebut Allah). Perhatikan juga juga اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ (bacalah dengan menyebut nama Tuhan mu) bukan اقْرَأْبسم الله (bacalah dengan menyebut nama Allah). Berkata atas benda dalam proses pengenalan tahap awal seperti sangat ditekankan dalam ayat-ayat ini. Mari kita lanjutkan pembacaannya pada ayat الَّذِي خَلَقَ (Tuhan yang menciptakan). Dalam proses pembelajaran terhadap indikator Pencipta, Allah swt mengajarkan Rasulullah saw melalui diri yang terdekat, yaitu dirinya sendiri, yaitu manusia dengan Firmannya خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah). Dalam Tafsir Imam al-Thabary menjelaskan sebagai berikut:
يعني جل ثناؤه بقوله: (اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ) محمدا صلى الله عليه وسلم يقول: اقرأ يا محمد بذكر ربك (الَّذِي خَلَقَ) ثم بين الذي خلق فقال: (خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ) يعني: من الدم، وقال: من علق؛ والمراد به من علقة، لأنه ذهب إلى الجمع، كما يقال: شجرة وشجر، وقصَبة وَقصَب، وكذلك علقة وعَلَق. وإنما قال: من علق والإنسان في لفظ واحد، لأنه في معنى جمع، وإن كان في لفظ واحد، فلذلك قيل: من عَلَق.
Allah Yang Maha Agung maksudkan dalam firman-Nya: “Iqra’ bismi Rabbika” (Bacalah dengan nama Tuhanmu), adalah seruan kepada Muhammad ﷺ, yakni: “Bacalah, wahai Muhammad, dengan menyebut (mengingat) Tuhanmu.”
Kemudian Allah menjelaskan siapa yang mencipta, yaitu firman-Nya: “Alladzî khalaq” (yang menciptakan), lalu memperjelas siapa yang diciptakan dengan firman-Nya:
“Khalaq al-insân min ‘alaq” (Dia menciptakan manusia dari segumpal darah).
Maksud dari ‘alaq adalah darah, dan bentuk jamak dari ‘alaqah (segumpal darah).
Penggunaan kata ‘alaq merujuk pada bentuk jamak, sebagaimana dalam bahasa Arab kata syajarah menjadi syajar (pohon-pohon), dan qashabah menjadi qashab (batang-batang). Maka, ‘alaqah menjadi ‘alaq (segumpal-segumpal darah).
Meskipun kata “al-insân” (manusia) dalam bentuk tunggal, namun secara makna mencakup jenis manusia secara umum (kolektif), maka digunakanlah bentuk jamak ‘alaq. Sebab itu, dikatakan: “min ‘alaq” (dari segumpal-segumpal darah), karena yang dimaksud adalah seluruh jenis manusia, bukan hanya satu individu.
Dilihat dari cara Imam al-Thabariy memberikan penjelasan, pada dasarnya dapat kita lihat bahwa Imam al-Thabari melakukan penjelasan terhadap ayat al-Qur’an dengan dua metode, yang “berkata atas kata,” dan “berkata atas benda.” Metode analisis “berkata atas kata” Imam al-Thabariy dapat ditemukan dalam “والمراد به من علقة، لأنه ذهب إلى الجمع، كما يقال: شجرة وشجر، وقصَبة وَقصَب، وكذلك علقة وعَلَق. وإنما قال: من علق والإنسان في لفظ واحد، لأنه في معنى جمع، وإن كان في لفظ واحد، فلذلك قيل: من عَلَق,” sedangkan berkata atas benda “يعني جل ثناؤه بقوله: (اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ) محمدا صلى الله عليه وسلم يقول: اقرأ يا محمد بذكر ربك (الَّذِي خَلَقَ) ثم بين الذي خلق فقال: (خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ) يعني: من الدم”. Dari sini dapat dikatakan bahwa pada dasarnya metode tafsir “berkata atas kata” dan “berkata atas benda” bisa dilakukan secara bersamaan untuk menguatkan sebuah narasi dan logika tentang apa yang hendak dijelaskan. Karena pengetahuan memang terkadang tidak cukup dengan menggunakan penjelasan sederhana, tetapi perlu menggunakan penjelasan yang kompleks, sebagai mana dalam penjelasan berikutnya: اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5) .
Proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan “berkata atas benda” juga dapat ditemukan dalam ayat-ayat berikut:
الرَّحْمَنُ (1) عَلَّمَ الْقُرْآنَ (2) خَلَقَ الْإِنْسَانَ (3) عَلَّمَهُ الْبَيَانَ (4) الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ (5) وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ (6) وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ (7) أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ (8) وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ (9) وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ (10) فِيهَا فَاكِهَةٌ وَالنَّخْلُ ذَاتُ الْأَكْمَامِ (11) وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ (12)
Yang Maha Pengasih (1) Dia telah mengajarkan Al-Qur’an (2) Dia menciptakan manusia (3) Dia mengajarkannya pandai berbicara (4) Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan (5) Dan bintang-bintang serta pepohonan bersujud (6) Dan langit telah Dia tinggikan, dan Dia letakkan neraca (keadilan) (7) Supaya kamu tidak melampaui batas dalam menegakkan keadilan (8) Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca (9) Dan bumi telah Dia hamparkan untuk makhluk-Nya (10) Di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang memiliki kelopak (11) Dan biji-bijian yang berkulit serta tanaman yang harum baunya (12)
Ayat di atas memberikan penjelasan yang riil tentang proses pembelajaran dengan metode “berkata atas benda” tersebut sesuai dengan kapasitas pengetahuan dan ketahuan masyarakat Arab yang menerima saat itu agar mudah diterima, dipaham, dan kemudian menghasilakn pengetahuan yang menhadirkan keyakinan akan kebesaran dan kebenaran Allah swt. Hingga di sini saya bisa memahami mengapa Prof Imam mengajak “berkatalah atas benda.”
[1] QS. Al-Baqarah (2): 30.
[2] QS. Al-Baqarah (2): 31.
[3] QS. Al-A’raf (7): 180; al-Isra’ (17): 110; Thaha (20: 8; al-Hasyr (59): 24.








