Permasalahannya sekarang adalah apakah kita selalu bisa berkata-kata atas benda? Apakah lafal-lafal dalam al-Qur’an selalu menunjukkan kepada benda sehingga kita selalu bisa berkata-kata atas benda? Saya ingin menjawab pertanyaan seperti ini dengan terlebih dahulu menjelaskan apa yang dimaksudkan dengan benda menurut informasi al-Qur’an berikut:
قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Dalam beberapa pembahasan ayat ini banyak yang menfokuskan pada “كَلِمَةٍ سَوَاءٍ”. Dalam hal ini menjelaskan ajakan Nabi Muhammad saw pada orang-orang Yahudi dan Nasrani untuk kembali pada satu kalimat yang sama, yakni kesatuan Tuhan, kesatuan pengabdian hanya pada satu Tuhan اللَّهَ , karena hanya Dia saja yang pantas untuk dijadikan Tuhan dan karenanya pantas disembah. Satu seruan yang sama dengan ajaran para Nabi terdahulu, kepercayaan yang murni, ketauhidan sejati. Saya ingin menfokuskan pada لَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا yang secara teologis bisa dipahami bahwa al-Qur’an menjelaskan Allah bukan benda. Hal ini bisa dipahami dari rangkaian: لَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا. Persembahan hanya pada dan untuk اللَّهَ. Selain dari اللَّهَ bukan Tuhan, tapi شَيْئًا yakni sesuatu atau tegasnya benda. Dengan demikian, berdasarkan ayat ini saya memandang benda adalah segala sesuatu yang bisa diketahui manusia. Benda adalah selain اللَّهَ. Lebih tegasnya lagi, اللَّهَ bukan benda dan oleh sebab itu tidak bisa disamakan dengan benda.
Dalam beberapa penjelasan yang dapat diperoleh dari al-Qur’an, اللَّهَ yang bukan benda itu, diperkenalkan kepada manusia dengan menggunakan beberapa sifat dan ahwal اللَّهَ, agar dapat diterima oleh akal manusia. Sebab akal manusia terbatas dari sesuatu yang Maha Abstrak. Ada 1567 kali اللَّهُ disebutkan dalam beberapa ayat dan konteks yang berbeda. Terdapat 32 ayat yang sebagiannya menjelaskan tentang sifat dan ahwal, dengan menggunakan اللَّهُ الَّذِي secara bersamaan, antara lain:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ[1]
إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ (196)[2]
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلَّا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (3)[3]
Tiga ayat yang menggunakan ungkapan اللَّهُ الَّذِي menjelaskan tentang keagungan, kebesaran, dan kekuasaan اللَّهُ, satu-satunya Tuhan yang layak disembah. Ketiga ayat tersebut اللَّهُ diperkenalkan kepada manusia yang terbatas akalnya dengan menjelaskan sifat-sifat ketuhananNya yang nyata. Dengan memberikan penjelasan إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ memberikan penegasan bahwa alam raya tidak tercipta dengan sendirinya, tidak berevolusi atau berevolusi dengan sendirinya, tetapi ada yang menciptakan, yaitu اللَّهُ. Dengan kalimat فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ (dalam enam hari) al-Qur’an ingin menegaskan adanya perputara waktu yang disebut dengan hari, oleh karenanya اللَّهُ juga yang mengatur pergantian malam dan siang itu dengan ketetapan yang sempurna. Di sini lain, اللَّهُ juga yang menjaga dan menjadi Penolong bagi orang-orang baik dengan menurunkan kitab sebagai petunjuk pada kebaikan itu, إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ . Ini merupakan konsep dari tauhid uluhiyyah dan rububiyyah yang diajarkan al-Qur’an dan kemudian menjadi dasar ketauhidan ahlus sunnah wal jama’ah.
Selain dari itu, al-Qur’an juga menjarkan ketauhidan sempurna itu dengan menggunakan frase لِلَّهِ , disebutkan sebanyak 113 kali. Frase لِلَّهِ menunjukkan pada kepemilikan, misalnya الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ,[4] dan لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ .[5] Saat melakukan pelacakan pada frase لِلَّهِ , saya menemukan hal yang menarik dimana kata لِلَّهِ dihubungkan secara langsungوَالرَّسُولِ dalam dua ayat, dalam ayatالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ [6] dan ayat يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَنْفَالِ قُلِ الْأَنْفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ .[7]
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَنْفَالِ قُلِ الْأَنْفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (1) إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (2)
Ayat ini merupakan pembukaan dari Surah Al-Anfal yang diturunkan setelah terjadinya Perang Badar, sebuah peristiwa penting dalam sejarah Islam. Para sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad saw tentang al-anfāl, yaitu harta rampasan perang yang diperoleh dalam pertempuran. Maka Allah menegaskan bahwa al-anfāl itu milik Allah dan Rasul-Nya. Artinya, pengaturannya bukan berdasarkan keinginan individu, tetapi berdasarkan wahyu dan kebijaksanaan kenabian. Karena itu, kaum Muslimin diingatkan untuk bertakwa kepada Allah, menjaga hubungan di antara mereka agar tidak timbul perselisihan, dan senantiasa menaati Allah dan Rasul-Nya jika mereka benar-benar orang-orang yang beriman. Kemudian, Allah menjelaskan ciri khas orang-orang beriman sejati, yaitu mereka yang ketika nama Allah disebut, hati mereka bergetar karena takut dan hormat kepada-Nya. Ketika ayat-ayat Allah dibacakan kepada mereka, keimanan mereka bertambah, dan mereka bertawakal hanya kepada Allah. Ayat ini menanamkan pemahaman bahwa keimanan bukan sekadar ucapan, tetapi tercermin dalam sikap hati, respon terhadap wahyu, dan kebergantungan total kepada Tuhan.
Selain dari hak kepemilikan mutlak, al-Qur’an juga menjelaskan tentang hak mutlak pengabdian dan tujuan hidup dan mati, sebagaimana dalam ayat قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam).[8] Pemberian hak mutlak hanya pada Allah dalam segala hal merupakan wujud dari keberimanan bahwa Allah swt adalah Tuhan dari semua dan oleh karenanya hanya Allah swt sajalah yang berhak disembah dan satu-satunya tujuan ibadah. Namun demikian, di dalam melaksanakan pengabdian padaNya قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ [9](Sungguh Kami telah melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang telah diberi Kitab (Taurat dan Injil) benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan).
Ayat ini dilanjutkan dengan penjelasan tentang kiblat: وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ [10] (Dan sungguh jika kamu membawa kepada orang-orang yang telah diberi Kitab segala macam ayat (tanda/mukjizat), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu. Dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka. Dan sebagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Dan sungguh, jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) datang kepadamu, maka sungguh kamu termasuk orang-orang yang zalim). Dilihat dari teksnya, ayat ini memang menegaskan arah kiblat dalam melaksanakan ritual. Sebelum kiblat beribadah menghadap ke Masjidil Haram di Makkah, cara beribadah menghadap ke Baitul Maqdis di Palestina.
Itu sebabnya, Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha tidak bisa dan tidak boleh diyakini sebagai tempat Allah swt. Sebab jika kiblat diyakini sebagai tempat Allah swt, maka setidaknya melalui ayat ini ada dua tempat Allah swt, yakni di Masjidil Aqsha dan kemudia pindah ke Masjidil Haram. Ini tentu tidak benar, sebab Allah swt tidak berubah dan tidak boleh ada keyakinan berbubah. Tuhan kok berubah-rubah tempat itu tidak masuk akal sehat orang beriman. Itu juga ditegaskan pada hakikatnya pengabdian ritual itu sama sekali tidak dibatasi oleh tempat, kemana saja menghadap maka pasti di sana akan bisa menghadap padaNya, وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (Dan milik Allah-lah timur dan barat. Maka ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Maha Luas (rahmat-Nya), Maha Mengetahui).[11]
Ayat terakhir ini menjadi perspektif ahli hukum bahwa kondisi dimana tidak mengetahui posisi الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ diperkenankan dan dibenarkan menghadap kemana saja. Sebab Allah swt pemilik arah mata angin, Timur dan Barat. Allah swt berada dimana-dimana. Tegasnya, Allah swt tidak membutuhkan tempat khusus karena Allah swt adalah Tuhan.
Hal ini menunjukkan bahwa Allah bukan benda dan oleh karenanya Dia tidak membutuhkan ruang dan waktu, sebab Dia yang menciptakan ruang dan waktu itu. Dalam logika umum, yang mencipta pasti tidak sama yang dicipta. Allah menciptakan alam raya dan seluruh isinya, maka Allah pasti tidak sama dan tidak boleh dipikirkan sama dengan alam raya dan seluruh isinya. Mengikuti konsep tanzih dalam nalar al-Qur’an: فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (“Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan untuk kalian dari jenis kalian pasangan-pasangan, dan dari hewan ternak juga pasangan-pasangan. Dengan cara itu Dia memperbanyak kalian. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”).[12]
Dengan demikian, Allah swt tidak bisa dan tidak boleh dibendakan atau disamakan dengan benda atau dicarikan pembedaannya. Artinya, Allah swt tidak perlu dinyatakan dalam kata berbenda. Sekalipun “berkata atas bend itu akan sangat membantu dalam pembelajaran, namun untuk ketuhanan Allah swt, “tidak boleh berkata atas benda.” Sebab, Allah bukan benda dan tidak bisa diindikasikan dengan kebendaan. Lakukan saja sebagaimana diajarkan al-Qur’an, jelaskan Allah swt melalui sifat dan ahwal agar orang awam dapat memahami ke-Tuhan-an Allah swt dengan benar.
Saya mohon maaf, ternyata untuk menjelaskan kalimat sederhana dan sedikit “jangan berkata atas kata, tapi berkatalah atas benda” ini memerlukan banyak halaman dan banyak penjelasan sehingga terkesan berkata atas kata juga akhirnya… Bagaimana dengan al-Qur’an yang jumlah katanya banyak… Pasti membutuhkan berlembar-lembar bahkan berjilid-jilid..!!!
Wallahu A’lam (selesai)
[1] QS. Al-A’raf (7): 54.
[2] QS. Al-A’raf (7): 196.
[3] QS. Yunus (10): 3.
[4] QS. Al-Fatihah (1): 2.
[5] QS. Al-Baqarah (2): 284.
[6] QS. Alu ‘Imran (3): 172
[7] QS. Al-Anfal (8): 1.
[8] QS. Al-An’am (6): 162.
[9] Al-Baqarah (2): 144
[10] Al-Baqarah (2): 145.
[11] QS. Al-Baqarah (2): 115.
[12] QS.al-Syura (42): 11.








