Banyak ahli berdebat tentang pendidikan berkarakter. Tidak sedikit teori dan pendekatan dijadikan kajian dan penelitian. Sudah ribuan lembar kertas dan milyaran rupiah dana digelontorkan oleh Pemerintah, Institusi, dan Donatur untuk kepentingan itu. Dan… Hasilnya cukup membahagiakan bagi mereka dan keluarga yang memperoleh funding.
Di antara kajiannya ada yang menggunakan pendekatan psikologi, sosiologi, antropologi, dan tentu agama. Bahkan, menggunakan pendekatan muti disiplin.
Saat ada di pesantren yang bertetanggaan dengan rumah, waktu kecil, saya tidak pernah diajari definisi ruhani, aqliy, qalbiy, dan semacamnya. Tapi kami para santri sering mendapatkan cerita nasihat tentang kebaikan dan keburukan. Dampak baik bagi mereka yang melakukan kebaikan. Dampak buruk bagi mereka yang melakukan keburukan. Salah satu cerita yg menarik berikut:
Ada tiga orang pencari emas di sebuah pulau, tidak terlalu jauh dari Pulau Jawa. Berkat kemauan kuat dan berbekal kegigihannya, akhirnya ketiga orang tersebut dapat menemukan beberapa peti emas yang disimpan para raja waktu itu.
Karena ada rasa saling ingin menguasai terhadap emas yang ditemukan itu, masing-masing mempunyai rencana buruk untuk menguasai sendiri. Masing-masing tidak ingin berbagi.
Si A dan si C berencana membunuh si B dengan cara meminta belanja keperluan makan dengan cara melobangi perahunya.
Sebagai tukang masak makanan, si B juga berencana membunuh si A dan C dengan cara memberikan racun pada makanan pagi yang sudah dimasaknya.
Malam itu masing-maisng sudah membuat desain pembunuhan. Si B sudah memberikan racun pada makanan pagi. Sedangkan si A dan C juga merusak perahu yang akan digunakan si B belanja.
Di pagi yang cerah, ketika si B akan berangkat belanja memenuhi keperluan makan, si A dan si C tersenyum gembira. Begitu juga si B sangat bahagia menjelang keberangkatannya. Arti kebahagiaan yang tidak diketahui oleh yang lain.
Mereka saling berpelukan sebelum berpisah.
Akhir cerita, si B mati tenggelam karena perahu rusak, si A dan C mati terkena racun makanan…Hehehe
“Begitu bahaya dan bengisnya rasa tamak dan tidak mau berbagi itu…” Kata Ustadz Rofiqul Anam mengakhiri ceritanya waktu itu..
Cerita seperti itu yang membuat karakter para santri ingin selalu mengalah, sekalipun mungkin dia rugi.. Taoi akan lebih rugi jika semua tidak ada yang memperoleh.. Seorang santri akan merasa bahagia dalam penderitaannya ketika sudah mampu memberikan kebahagiaan pada orang lain
Cerita itu bukan pengetahuan definitif tentang ruhiologi, psikologi, soiologi, atau logi logi yang lain.. Tapi pendidikan pesantren memang tahu cara mengantarkan para santri menjadi generasi baik dan ingin berbuat baik.
Jika tidak begitu.. Pasti dia belum menjadi satri, apalagi ustadz, apalagi kyai. Namun sekarang panggilan Ustadz menjadi rusak. Panggilan kyai juga menjadi terkontaminasi, karena banyak orang yang hanya bisa mengajar agama meminta dipanggil ustadz, bahkan terkadang dipanggil kyai, meskipun perilakunya santri saja belum.
Di kalangan santri juga diajarkan dengan lengkap. Santri tidak hanya diajarkan pentingnga mengaji, mengkaji, mengajar, dan juga menulis. Dorongan menulis dalam rangka menyebarkan ajaran Islam menduduki tingkat mulya setelah kenabian.
قال ابن المبارك رحمه الله:
لا أعلم بعد النبوة درجة أفضل من بث العلم.
تهذيب الكمال (٢٠/١٦)
Namun lebih dari itu, santri juga dituntut untuk tidak hanya belajar, mengajar, dan menyebarkan ilmu melainkan juga mengamalkan pengetahuan dan mengamalkan berdasarkan pengetahuan.
ذِهَابُ الإِسْلاَمِ مِنْ أَرْبَعَةٍ لاَ يَعْملُوْنَ بِمَا يَعْلَمُوْنَ، وَيَعْمَلُوْنَ بِمَا لاَ يَعْلَمُوْنَ، ولا يتعلمون مالا يَعلَمُوْنَ، وَيَمنَعُوْنَ النَّاسَ مِنَ العِلْمِ
(سير أعلام النبلاء 14/525)
Di atas dari segalanya, dalam pendidikan pesantren menjadi orang berkarakter itu jauh lebih penting, yakni berkahlak mulya. Sehingga, setinggi apapun pangkat mu.. Setinggi apa pun jabatan mu.. Setinggi apa pun kedudukan mu.. Tetaplah menjadi santri yang mau bersimpuh dan meletakkan badan mu lebih rendah, bahkan di bawah kaki Sang Kyai..
Akhlak adalah segalanya bagi santri. Maka larangan seperti: “Jangan pernah duduk sama tinggi di depan Sang Kyai.. Itu bukan santri” merupakan doktrin penting. Ini bukan veodalisme. Ini bukan menjadikan santri sebagai budak. Ini adalah akhlak.








