Isu-isu Kontemporer Studi al-Qur’an di Scopus
Dalam beberapa jurnal internasional terindeks Scopus, kajian al-Qur’an memiliki varian objek, metode-pendekatan, dan teori. Penelitian Masnizah memperkenalkan sebuah sistem Optical Character Recognition (OCR) al-Qur’an berbasis deep learning yang mengombinasikan Convolutional Neural Network (CNN) dan Recurrent Neural Network (RNN). Sistem ini dikembangkan untuk mengenali teks Al-Qur’an dari citra mushaf, termasuk tanda baca atau diakritik yang sangat penting dalam pelafalan dan pemaknaan ayat. Dalam penelitian ini dibangun enam model pembelajaran mendalam untuk mengkaji pengaruh berbagai bentuk representasi input dan output terhadap akurasi serta kinerja sistem, sekaligus membandingkan dua arsitektur RNN, yaitu Long Short-Term Memory (LSTM) dan Gated Recurrent Unit (GRU).
Selain itu, dikembangkan pula sebuah dataset OCR al-Qur’an baru yang bersumber dari Mushaf al-Madinah, mushaf cetak yang paling banyak digunakan, yang terdiri atas citra halaman dan baris teks beserta labelnya. Dataset ini dirancang khusus agar memuat rasm Utsmani dan tanda baca lengkap, serta dipublikasikan sebagai basis data terbuka untuk mendukung penelitian lebih lanjut di bidang pengenalan teks Arab. Kontribusi utama penelitian ini adalah menghasilkan model OCR al-Qur’an yang mampu mengenali teks berharakat dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem yang diusulkan mencapai akurasi validasi sebesar 98%, dengan tingkat pengenalan kata (Word Recognition Rate) sebesar 95% dan tingkat pengenalan karakter (Character Recognition Rate) sebesar 99%, sehingga membuktikan efektivitas pendekatan CNN dan RNN dalam pengenalan teks Arab al-Qur’an secara komprehensif.[1]
Dalam bidang Kesehatan, penelitian Mehmood menjelaskan bahwa Coronavirus disease (COVID-19) merupakan penyakit infeksi pada sistem pernapasan yang disebabkan oleh virus RNA untai tunggal bernama SARS-CoV-2, yang telah menjadi masalah kesehatan serius sekaligus penyebab utama kematian di seluruh dunia. Tumbuhan merupakan sumber utama berbagai fitokimia yang berperan penting dalam pengembangan obat-obatan baru untuk berbagai penyakit. Dalam perspektif Islam, agama dipahami sebagai sistem kehidupan yang komprehensif dan ajarannya bersifat universal untuk kemaslahatan umat manusia. Islam meyakini bahwa setiap penyakit berasal dari Allah dan setiap penyakit pasti memiliki obatnya, serta memberikan pedoman tentang upaya pencegahan dan pengobatan penyakit menular, seperti karantina dan penggunaan pengobatan yang sesuai.
Berdasarkan pandangan tersebut, penelitian Mehmood ini bertujuan menghimpun pengetahuan tentang tanaman obat yang disebutkan dalam al-Qur’an atau digunakan serta dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk pengobatan berbagai penyakit, peningkatan imunitas, dan penguatan daya tahan tubuh. Para ilmuwan telah menemukan bahwa tanaman-tanaman ini memiliki manfaat luas dan potensi antivirus. Dalam penelitian ini dipilih enam spesies tanaman, yaitu Olea europaea (zaitun), Nigella sativa (jintan hitam), Allium sativum (bawang putih), Allium cepa (bawang merah), Zingiber officinale (jahe), dan Cassia senna (senna), yang mengandung berbagai senyawa aktif seperti calcium elenolate, thymoquinone, S-allylcysteine, dipropyl disulfide, sesquiterpene, monoterpene, pelargonidin 3-galactoside ion, dan kaempferol. Hasil kajian menunjukkan bahwa monoterpene dari jahe memiliki interaksi paling kuat dengan protein target virus, yaitu RdRP, 3CLPro, dan ACE2, sementara calcium elenolate dari zaitun berikatan dengan 3CLPro dan ACE2, serta kaempferol dan pelargonidin dari senna berikatan dengan RdRP dan ACE2. Interaksi senyawa-senyawa tersebut terjadi melalui ikatan hidrogen dan interaksi alkil yang khas, sehingga menunjukkan potensi kuat sebagai agen antivirus. Oleh karena itu, tanaman-tanaman obat ini dinilai dapat segera dimanfaatkan sebagai terapi pendukung COVID-19 karena tingkat keamanannya telah teruji, serta berpotensi meningkatkan proses penyembuhan apabila dikombinasikan dengan pengobatan medis lainnya.[2]
Penelitian Baidowi menjelaskan bahwa sistem asrama yang diterapkan di pesantren dengan jumlah santri yang besar sering dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebaran COVID-19, terutama karena dinilai sulit menerapkan protokol kesehatan dan langkah-langkah pencegahan penularan secara ketat. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat, karena pada kenyataannya pesantren memiliki cara khas dalam menghadapi pandemi. Penelitian ini bertujuan menjelaskan teologi kesehatan yang dianut oleh pesantren al-Qur’an dalam merespons COVID-19. Data penelitian diperoleh melalui observasi di tiga pesantren al-Qur’an di Yogyakarta, wawancara dengan pengasuh, satgas COVID-19 pesantren, para santri, serta dokumentasi terkait penanganan pandemi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren sebagai sebuah subkultur memiliki strategi unik dalam menghadapi pandemi dengan memadukan protokol kesehatan yang disesuaikan dengan kondisi pesantren dan praktik spiritual keislaman, seperti membaca ayat-ayat al-Qur’an, salawat, doa, dan hizib. Pendekatan ini dilandasi keyakinan bahwa COVID-19 adalah makhluk ciptaan Tuhan yang bekerja atas kehendak-Nya dan akan berhenti jika Tuhan menghendakinya. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan penanganan COVID-19 yang tidak hanya menekankan aspek medis dan protokol kesehatan semata, tetapi juga mempertimbangkan kearifan lokal dan nilai-nilai religius yang hidup di tengah masyarakat pesantren. Kontribusi utama artikel ini terletak pada tawaran strategi penanganan pandemi yang integratif, yaitu mengombinasikan pendekatan kesehatan modern dengan praktik keagamaan dan kearifan lokal yang telah lama dijalankan di pesantren-pesantren di Indonesia.[3]
Samhani menjelaskan bahwa suara memiliki ritme yang dapat berinteraksi dengan ritme otak manusia, dan interaksi tersebut berpotensi meningkatkan kemampuan kognitif melalui proses sinkronisasi neuronal. Namun, penelitian mengenai efek sinkronisasi aktivitas otak akibat mendengarkan bacaan al-Qur’an masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengkaji potensi efek sinkronisasi mendengarkan al-Qur’an, khususnya Surah al-Fatihah, pada frekuensi beta menggunakan data osilasi elektroensefalografi (EEG). Subjek penelitian diminta mendengarkan bacaan Surah Al-Fatihah, berita berbahasa Arab, dan kondisi istirahat secara acak. Data yang diperoleh diproses terlebih dahulu, kemudian dianalisis menggunakan perangkat neuroimaging BESA Research 6.1, serta diuji dengan metode Repeated Measures ANOVA dan algoritma Agglomerative Hierarchical Clustering (AHC) untuk mengidentifikasi perbedaan signifikan pada saluran elektroda EEG dibandingkan kondisi istirahat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinkronisasi gelombang beta saat mendengarkan Surah al-Fatihah berkaitan dengan aktivasi tinggi pada fungsi kognitif seperti kelancaran verbal, prestasi akademik, interaksi sosial, fungsi inhibisi, perencanaan gerakan, motivasi diri, pengelolaan diri, dan reaktivasi memori sensorik, yang tergolong dalam klaster aktivasi tinggi. Selain itu, ditemukan pula klaster aktivasi sedang yang berkaitan dengan memori kerja, pemrosesan bahasa, dan pengambilan keputusan, serta klaster aktivasi rendah yang terkait dengan pengenalan nada dan imajinasi visual mental. Temuan ini menunjukkan bahwa mendengarkan bacaan al-Qur’an, khususnya Surah al-Fatihah, memiliki potensi signifikan dalam meningkatkan aktivitas kognitif dan fungsi otak melalui mekanisme sinkronisasi neural.[4]
Hasil penelitian Samhani ini diperkuat hasil penelitian Ismail yang membahas peran terapi penyembuhan spiritual dan terapi suara al-Qur’an yang telah lama dikenal dalam tradisi manusia, di mana lantunan bacaan al-Qur’an dipersepsikan memiliki ritme internal yang mampu menimbulkan efek psikospiritual meskipun tidak selalu dilagukan dengan intonasi melodi tertentu. Ritme internal tersebut diyakini dapat mengaktifkan dan menyelaraskan gelombang otak pendengarnya sehingga memodulasi aktivitas otak dan menghasilkan dampak psikospiritual yang positif. Namun, kajian ilmiah yang menjelaskan secara rinci sumber ritme linguistik al-Qur’an dan kontribusinya terhadap aktivasi neural masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengevaluasi karakteristik linguistik al-Qur’an yang berkontribusi pada tingkat ritmisitas dan energi tinggi dalam mengaktifkan jaringan saraf pendengar. Penelitian ini menggunakan analisis spektrogram dengan perangkat lunak Praat serta perekaman elektroensefalografi (EEG) 128 kanal terhadap 28 responden normal yang terbiasa mendengarkan al-Qur’an setiap hari, dengan membandingkan respons otak saat mendengarkan Surah al-Fatihah dan berita berbahasa Arab. Data EEG dianalisis menggunakan Fast Fourier Transform (FFT), diikuti analisis multivariat, analisis diskriminan, dan regresi linear berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bacaan Surah Al-Fatihah memiliki ritme yang lebih kuat dan energi yang lebih tinggi dibandingkan berita Arab, serta memunculkan korelasi spektral antar elektroda EEG yang menggambarkan aliran komunikasi neural jangka pendek, jangka panjang, dan hubungan terbalik antar wilayah otak. Aktivasi dan integrasi jaringan saraf yang lebih luas pada area frontal, temporal, parietal, oksipital, dan motorik teramati saat mendengarkan bacaan al-Qur’an, yang menunjukkan tingkat sinkronisasi dan integrasi komunikasi neural yang lebih tinggi dibandingkan kondisi mendengarkan berita. Temuan ini mengindikasikan bahwa suara al-Qur’an mampu memicu aktivasi dan reorganisasi jaringan otak secara global, yang berkontribusi terhadap kestabilan emosi, kesehatan mental, dan fungsi kognitif, sehingga menghasilkan efek psikospiritual yang mendalam.[5]
Menfokuskan pada kajian bahasa, Beirade menjelaskan bahwa pemrosesan bahasa alami (natural language processing/NLP) mengalami perkembangan pesat dari segi teknik, metode, dan ragam aplikasinya. Dalam konteks bahasa Arab yang memiliki karakteristik khusus dan kompleks, al-Qur’an dipilih sebagai objek kajian karena menghadirkan tantangan besar bagi kecerdasan buatan. Tujuan utama penelitian ini adalah merancang sebuah mesin pencari semantik untuk teks al-Qur’an dengan memanfaatkan ontologi Qur’ani. Ontologi ini dikembangkan untuk menentukan medan makna kata-kata dalam al-Qur’an dengan merepresentasikan makna setiap kata serta hubungan antar konsepnya, sehingga memungkinkan pemahaman semantik yang lebih mendalam dibandingkan pencarian berbasis kata kunci biasa. Metode ini diterapkan pada setiap konsep untuk memperkaya proses pencarian dan memperluas makna kueri, sehingga hasil pencarian menjadi lebih relevan dan kontekstual. Dengan pendekatan ini, sistem yang dikembangkan diharapkan mampu memahami makna ayat al-Qur’an secara lebih komprehensif dan meningkatkan kualitas pencarian informasi berbasis semantik.[6]
Pada ranah lain, pencarian semantik merupakan proses menemukan informasi yang relevan dari kumpulan teks yang besar berdasarkan makna dan konteks kueri, bukan sekadar kecocokan kata kunci. Tulisan Alqarni bertujuan mengeksplorasi pemanfaatan model bahasa besar (Large Language Models/LLM) untuk melakukan pencarian semantik pada teks al-Qur’an, yang sebagai kitab suci umat Islam memiliki kekayaan linguistik dan kompleksitas makna yang tinggi sehingga menimbulkan tantangan bagi metode pencarian tradisional berbasis kata kunci. Penelitian ini mengkaji pendekatan pencarian semantik dengan memanfaatkan embedding dari LLM dan menilai kinerjanya dengan membandingkannya terhadap metode pencarian berbasis embedding standar menggunakan serangkaian kueri yang mewakili berbagai tingkat kompleksitas semantik.
Selain itu, penelitian ini juga membahas keterbatasan serta implikasi penggunaan LLM dalam pencarian semantik teks al-Qur’an, sekaligus mengemukakan arah penelitian lanjutan di masa depan. Hasil penting dari studi ini menunjukkan bahwa embedding berbasis LLM secara konsisten efektif pada berbagai tingkat kompleksitas makna, yang mengindikasikan kemampuannya dalam menangkap hubungan semantik yang mendalam. Namun, temuan lain menunjukkan bahwa model transformer mutakhir AraT5 justru lebih unggul dalam pencarian semantik tingkat rendah, sehingga membuka peluang untuk pengembangan dan penyempurnaan lebih lanjut LLM melalui pelatihan khusus pada korpus teks Arab.[7]
Karya Al-Janabi (2024) membahas secara kritis pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan, khususnya ChatGPT, dalam bidang tafsir Al-Qur’an dengan pendekatan analitis dan evaluatif. Penulis mengkaji sejauh mana ChatGPT mampu membantu proses penafsiran Al-Qur’an, baik dalam penyajian makna ayat, penjelasan konteks, maupun penggalian kandungan tematiknya, sekaligus menyoroti keterbatasan epistemologis dan metodologis teknologi tersebut. Artikel ini menegaskan bahwa meskipun ChatGPT memiliki kemampuan luar biasa dalam memproses bahasa, merangkum informasi, dan menyajikan penjelasan yang sistematis, ia tetap tidak dapat menggantikan peran mufasir manusia karena keterbatasannya dalam memahami dimensi spiritual, historis, teologis, dan kontekstual wahyu secara mendalam.
Penelitian ini juga mengungkap potensi risiko penggunaan AI dalam tafsir, seperti kemungkinan terjadinya penyederhanaan makna, kekeliruan interpretasi, dan ketergantungan berlebihan pada teknologi. Oleh karena itu, Al-Janabi menekankan pentingnya menempatkan ChatGPT sebagai alat bantu ilmiah yang bersifat instrumental, bukan sebagai otoritas keagamaan, sehingga penggunaannya harus tetap berada dalam kerangka metodologi tafsir yang mapan, kritis, dan bertanggung jawab.[8]
Karya Arkok menjelaskan bahwa dalam dunia nyata, dataset yang digunakan dalam pemrosesan data umumnya bersifat tidak seimbang (imbalanced), yaitu jumlah data pada setiap kelas tidak sama, sehingga proses klasifikasi cenderung lebih memerhatikan kelas dengan jumlah data besar dan mengabaikan kelas dengan jumlah data lebih sedikit. Dataset al-Qur’an juga termasuk dalam kategori tidak seimbang karena jumlah ayat pada setiap topik tidak sama. Meskipun telah banyak penelitian yang mengklasifikasikan teks al-Qur’an menggunakan berbagai metode klasifikasi, hanya sedikit yang secara khusus membahas permasalahan ketidakseimbangan data dengan pendekatan Imbalanced Learning (IL).
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengklasifikasikan teks al-Qur’an menggunakan metode ensemble, yaitu Boosting dan Bagging, dengan memanfaatkan beberapa algoritma dasar seperti LibSVM, Naïve Bayes, KNN, dan J48. Tiga pendekatan diterapkan dalam penelitian ini, yakni penggunaan algoritma dasar secara langsung, penggunaan algoritma tersebut dengan metode Boosting, dan penggunaan algoritma dengan metode Bagging. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode ensemble secara signifikan meningkatkan kinerja klasifikasi ayat-ayat al-Qur’an yang bersifat tidak seimbang dibandingkan penggunaan algoritma standar tanpa teknik ensemble, sehingga pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam menangani kompleksitas dan ketimpangan data pada klasifikasi topik al-Qur’an.[9]
Acim mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an tentang lingkungan hidup serta pemahaman hukum Islam terkait lingkungan (fiqh al-bī’ah) menurut pandangan para ulama di Lombok dengan pendekatan kajian pustaka dan penelitian lapangan. Penelitian ini memanfaatkan sumber-sumber kepustakaan berupa kitab-kitab tafsir dan literatur yang relevan, serta data lapangan yang diperoleh melalui wawancara dengan para ulama di Lombok. Hasil kajian menunjukkan bahwa ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan fiqh al-bī’ah dapat diklasifikasikan ke dalam tujuh tema utama, yaitu unsur-unsur lingkungan, keragaman ekosistem, gambaran lingkungan ideal dan tidak ideal, penciptaan alam semesta, tujuan penciptaan alam, penyebab kerusakan lingkungan, serta peran manusia sebagai khalifah di bumi.
Selain itu, pemaknaan para ulama Lombok terhadap ayat-ayat tersebut juga dapat dikelompokkan ke dalam tujuh tema, yakni tata cara manusia berinteraksi dengan lingkungan, dampak kerusakan lingkungan, kelestarian alam sebagai rahmat dan anugerah Allah, kerusakan lingkungan sebagai akibat dari kemaksiatan manusia, keseimbangan lingkungan dan larangan merusaknya, tanggung jawab pemimpin dalam menjaga kelestarian alam, serta urgensi penerapan fiqh al-bī’ah dalam kehidupan. Dengan demikian, artikel ini menegaskan pentingnya integrasi nilai-nilai al-Qur’an dan pemahaman fiqh lingkungan dalam membangun kesadaran ekologis dan tanggung jawab kolektif terhadap pelestarian lingkungan hidup.[10]
Penelitian Alrumiah menjelaskan bahwa bahasa Arab digunakan oleh lebih dari 422 juta orang di dunia, dan bahasa Arab klasik merupakan bahasa al-Qur’an yang wajib dibaca oleh sekitar 1,9 miliar umat Muslim, namun pengembangan teknologi pengenalan suara bahasa Arab masih tergolong terbatas. Dalam bahasa Arab klasik, tanda baca atau diakritik memiliki peran sangat penting karena dapat memengaruhi pelafalan dan mengubah makna kata, tetapi sebagian besar sistem pengenalan suara bahasa Arab mengabaikan aspek diakritik tersebut. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem pengenalan suara bahasa Arab klasik yang mempertimbangkan diakritik dengan cara mengonversi sinyal audio menjadi teks berharakat menggunakan model berbasis Deep Neural Network (DNN). Tiga model dikembangkan, yaitu Time Delay Neural Network–Connectionist Temporal Classification (TDNN-CTC), Recurrent Neural Network–CTC (RNN-CTC), dan transformer, dengan memanfaatkan dataset rekaman al-Qur’an berdurasi 100 jam.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model RNN-CTC mencapai kinerja terbaik dengan tingkat kesalahan kata (word error rate) sebesar 19,43% dan tingkat kesalahan karakter (character error rate) sebesar 3,51%, serta lebih andal karena mengenali karakter satu per satu dibandingkan model transformer yang mengenali kalimat secara utuh. Model ini juga terbukti efektif dalam mengenali suara di luar dataset pelatihan, terutama pada rekaman yang jelas, tidak tertekan, dan berdurasi pendek. Temuan ini merekomendasikan pengembangan lanjutan sistem pengenalan suara bahasa Arab berbasis diakritik dengan menggunakan data audio yang berkualitas tinggi dan pendekatan pra-pelatihan model skala besar, sehingga dapat meningkatkan akurasi dan mendukung pengembangan sistem pengenalan suara bahasa Arab klasik yang lebih komprehensif.[11]
Pada ranah keilmuan lain, Bahgat menjelaskan bahwa hubungan antara komposit bimetal besi dan tembaga memiliki banyak tantangan, terutama terkait proses difusi dan pengaruhnya terhadap sifat-sifat daerah antarmuka kedua logam tersebut. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh parameter pengecoran terhadap karakteristik daerah antarmuka komposit bimetal besi–tembaga, serta membandingkannya dengan konsep komposit logam yang disebutkan dalam al-Qur’an, khususnya pada kisah pembangunan bendungan Dzulqarnain (dinding Ya’juj dan Ma’juj). Dalam eksperimen, sejumlah batang baja dengan variasi satu, dua, dan tiga batang ditempatkan di dalam cetakan baja paduan, kemudian dipanaskan pada suhu berbeda, yaitu 350, 450, 550, dan 650 derajat Celsius. Setelah itu, tembaga cair dituangkan ke dalam cetakan dengan variasi laju pendinginan cepat, sedang, dan lambat. Selanjutnya, sifat-sifat daerah antarmuka seperti struktur mikro, kekerasan mikro, dan kekuatan ikatan dianalisis, sementara pemodelan elemen hingga digunakan untuk mengetahui distribusi suhu dalam spesimen.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa suhu pemanasan awal yang tinggi dan laju pendinginan yang cepat menghasilkan nilai kekerasan mikro antarmuka yang tinggi akibat terbentuknya oksida besi dan butiran mikro yang halus. Selain itu, kekuatan ikatan tertinggi antara baja dan tembaga dicapai ketika suhu antarmuka mencapai fase austenit dan dipertahankan cukup lama sehingga memungkinkan terjadinya mekanisme difusi substitusional yang efektif. Data eksperimental mengenai kekuatan ikatan ini kemudian digunakan untuk memprediksi kekuatan tarik komposit bimetal secara numerik, sehingga memberikan gambaran menyeluruh tentang pengaruh parameter pengecoran terhadap kualitas dan kekuatan komposit besi–tembaga.[12]
Ahmad membahas hubungan kompleks antara inovasi ilmiah dan etika keagamaan dengan menyoroti secara khusus implikasi etis dari teknologi rahim buatan atau Artificial Womb Technology (AWT) dalam perspektif ajaran al-Qur’an tentang hakikat kehidupan. Tujuan utama kajian ini adalah mengintegrasikan perkembangan pesat dalam bidang teknologi reproduksi dengan prinsip-prinsip dasar teologi Islam melalui telaah terhadap kaidah fikih, wacana bioetika kontemporer, serta inovasi teknologi reproduksi. Selain menelaah kesesuaian AWT dengan ajaran Islam tentang kesucian hidup, penelitian ini juga menekankan pentingnya konsep keibuan dan pelestarian struktur keluarga sebagai fondasi utama dalam masyarakat Islam.
Kajian ini melakukan penelusuran mendalam terhadap penafsiran ajaran Islam, baik klasik maupun modern, yang kemudian dirumuskan menjadi sebuah kerangka etika komprehensif. Kerangka ini bertujuan menyelaraskan doktrin keagamaan dengan kebutuhan dan tuntutan sains reproduksi melalui perumusan pedoman normatif bagi penerapan AWT dan teknologi sejenis secara etis dan bertanggung jawab. Dengan demikian, artikel ini memberikan kontribusi signifikan terhadap wacana akademik tentang hubungan sains dan agama dengan menghadirkan pendekatan integratif antara kemajuan teknologi kesehatan reproduksi dan nilai-nilai moral yang melekat dalam ajaran Islam.[13]
Gonzalez membahas secara mendalam hubungan antara manusia dan Tuhan dalam Islam dengan menyoroti jarak ontoteologis yang paling besar di antara tiga agama monoteistik Abrahamik. Islam menegaskan bahwa Tuhan sepenuhnya transenden dan menolak segala bentuk perwujudan atau perantara material, sehingga satu-satunya cara Tuhan menyatakan diri kepada manusia adalah melalui wahyu berupa suara, yang terhimpun dalam al-Qur’an sebagai jembatan verbal non-material antara Sang Pencipta dan makhluk-Nya. Pandangan ini kerap melahirkan anggapan bahwa relasi manusia dengan Tuhan dalam Islam semata-mata bertumpu pada keimanan kognitif dan tradisi diskursif, sebagaimana dikemukakan oleh Talal Asad yang memaknai Islam sebagai sebuah “tradisi diskursif” yang berfokus pada aspek mental dan linguistik dalam perolehan pengetahuan keagamaan.
Namun, artikel ini mengkritisi pandangan tersebut dengan menegaskan bahwa karakterisasi kognitivistik-verbalistik itu hanya mencerminkan sebagian kebenaran, karena mengabaikan peran pengalaman non-linguistik yang melibatkan dimensi afektif dan sensorial dalam pencarian pengetahuan ilahi. Melalui pendekatan fenomenologis yang memadukan konsep-konsep filsafat dan sastra, artikel ini menguraikan bagaimana al-Qur’an tidak hanya dipahami secara intelektual, tetapi juga dialami secara emosional dan inderawi, sekaligus menawarkan perspektif baru dalam mengatasi persoalan hermeneutika yang selama ini dihadapi dalam studi Al-Qur’an.[14]
Dalam bidang studi gender, penelitian Nugroho menjelaskan bahwa penafsiran peran perempuan dalam tafsir al-Qur’an institusional di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti konflik ideologis, kerangka sosial dan budaya, serta campur tangan otoritas politik yang mengawasi proses penafsiran tersebut, sehingga sering kali menghasilkan pemahaman yang bersifat subjektif daripada objektif terhadap teks keagamaan. Oleh karena itu, penelitian ini menekankan pentingnya mengkaji kekuatan ideologis yang membentuk penafsiran tersebut. Dengan menggunakan metode deskriptif-analitis dan kerangka teori relasi kuasa Michel Foucault, studi ini menganalisis landasan ideologis tafsir al-Qur’an, khususnya dalam Tafsir Tematik yang diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, terkait isu kepemimpinan perempuan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran dipengaruhi oleh persepsi tentang peran gender, keyakinan sosial mengenai kapasitas perempuan, budaya patriarkal, serta motivasi politik. Secara signifikan, tafsir tersebut disusun dalam konteks Pemilihan Presiden tahun 2009, di mana kandidat laki-laki dan perempuan bersaing, sehingga muatan politik turut membentuk arah interpretasi. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa tafsir al-Qur’an mengenai isu gender sangat terkait dengan konteks sosial dan ideologi politik yang melingkupinya, dan kontribusi utama penelitian ini terletak pada analisis kritis terhadap struktur ideologis dan sosial yang memengaruhi penafsiran al-Qur’an berfokus gender di Indonesia.[15]
Analisis Teoritis dan Metodologis terhadap Isu-isu SQ Kontemporer
Secara umum, keseluruhan artikel, yang seluruhnya disajikan dalam jurnal terindeks Scopus tersebut, menampilkan spektrum kajian multidisipliner yang luas dengan menjadikan al-Qur’an sebagai pusat objek kajian, baik dalam dimensi tekstual, teknologi, sosial, kesehatan, psikologi, hingga etika sains. Objek kajiannya dapat dipetakan ke dalam beberapa klaster utama, yakni al-Qur’an sebagai teks linguistik dan semantik, al-Qur’an sebagai sumber nilai etika dan hukum, al-Qur’an sebagai medium spiritual dan terapeutik, serta al-Qur’an sebagai inspirasi teknologi dan inovasi ilmiah. Kajian mengenai OCR al-Qur’an, semantic search, speech recognition berharakat, dan klasifikasi ayat berbasis machine learning menempatkan al-Qur’an sebagai objek komputasi linguistik, sementara penelitian mengenai pesantren, fiqh lingkungan, kepemimpinan perempuan, teknologi rahim buatan, dan spiritual healing menempatkan al-Qur’an sebagai rujukan normatif, etik, dan fenomenologis dalam merespons problem kontemporer. Dengan demikian, al-Qur’an tampil bukan sekadar sebagai teks keagamaan, tetapi sebagai sumber epistemologis lintas disiplin yang terus dikontekstualisasikan dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Dari sisi kerangka teori, kajian-kajian tersebut menunjukkan kecenderungan integratif antara teori keislaman klasik dan teori modern kontemporer. Dalam ranah teknologi, digunakan teori deep learning, neural network, transformer models, serta semantic embedding untuk memproses teks dan suara al-Qur’an, yang dipadukan dengan teori linguistik Arab klasik dan ilmu tajwid. Dalam kajian sosial-keagamaan dan etika, digunakan pendekatan fiqh al-bī’ah, bioetika Islam, teologi kesehatan, serta hermeneutika fenomenologis, termasuk teori relasi kuasa Michel Foucault untuk membongkar dimensi ideologis dalam tafsir institusional. Pendekatan fenomenologi Qur’ani menyoroti dimensi afektif dan sensorik dalam pengalaman religius, melampaui paradigma kognitivisme tekstual yang dominan dalam studi al-Qur’an modern. Integrasi teori sains, teknologi, dan humaniora ini menunjukkan lahirnya paradigma baru dalam studi al-Qur’an, tepatnya saya sebut dengan Qur’anic interdisciplinary studies, menjembatani wahyu, sains, dan realitas sosial secara simultan.
Adapun dari aspek metodologi, seluruh penelitian memperlihatkan penggunaan metode yang sangat beragam, mulai dari eksperimen laboratorium, pemodelan komputasi, analisis big data, neuroimaging EEG, hingga penelitian kualitatif lapangan dan studi pustaka mendalam. Penelitian teknologi menggunakan metode deep learning training, finite element modeling, signal processing, dan statistical machine learning evaluation, sementara kajian sosial-keagamaan menggunakan wawancara mendalam, observasi partisipatif, analisis wacana kritis, serta hermeneutika tematik. Kajian spiritual healing dan neurosains Qur’ani menggabungkan eksperimen EEG, FFT, clustering algoritmik, dan analisis statistik multivariat, menandai integrasi unik antara ilmu saraf dan kajian keislaman. Secara metodologis, keseluruhan artikel yang dianalisis mencerminkan pergeseran penting dalam studi Islam kontemporer, dari pendekatan normatif-doktrinal menuju pendekatan empiris, eksperimental, dan interdisipliner, tanpa meninggalkan fondasi epistemologi wahyu.
Dengan demikian, peta analisis ini menunjukkan bahwa kajian al-Qur’an saat ini berkembang dalam tiga poros utama, yaitu digitalisasi teks wahyu, kontekstualisasi sosial-keagamaan, dan eksplorasi neuro-psikospiritual, yang keseluruhannya berkontribusi pada pembentukan epistemologi Islam kontemporer yang integratif, transdisipliner, dan responsif terhadap tantangan zaman. Integrasi ini tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan Islam, tetapi juga memperluas posisi al-Qur’an sebagai sumber inspirasi utama dalam pengembangan teknologi, etika, dan peradaban manusia.
Berdasarkan keseluruhan artikel yang dianalisis, dapat disimpulkan bahwa peta keilmuan Qur’anic Studies kontemporer bergerak dalam empat poros epistemologis utama, yaitu:
- Qur’anic Artificial Intelligence and Computational Linguistics,
- Qur’anic Neuroscience and Spiritual Therapy,
- Qur’anic Ethics and Socio-Religious Transformation, dan
- Qur’anic Science and Material Innovation.
Keempat poros ini membentuk kerangka epistemologi integratif Al-Qur’an modern, yang memosisikan wahyu sebagai sumber inspirasi transdisipliner, bukan sekadar objek tafsir normatif.
RESEARCH GAP-NOVELTY MAP: Model Epistemologi Qur’anic Interdisciplinary Studies
- Research Gap (Kesenjangan Penelitian)
Secara umum, kajian-kajian mutakhir tentang al-Qur’an menunjukkan perkembangan signifikan dalam integrasi disiplin ilmu, terutama pada bidang teknologi informasi, neurosains, kesehatan, etika, dan sosial-humaniora. Namun, meskipun telah muncul berbagai penelitian yang memanfaatkan al-Qur’an dalam konteks kecerdasan buatan, terapi neurospiritual, bioetika, dan sains material, kajian-kajian tersebut masih bergerak secara sektoral, parsial, dan fragmentaris, tanpa kerangka epistemologis terpadu yang menyatukan seluruh pendekatan tersebut dalam satu bangunan keilmuan yang koheren. Dengan kata lain, riset-riset yang ada lebih menekankan aspek aplikatif dan teknis, tetapi belum merumuskan model epistemologi Qur’ani integratif yang mampu menjelaskan relasi sistemik antara wahyu, rasionalitas ilmiah, dan pengalaman empiris.
Di sisi lain, kajian tafsir dan ulumul Qur’an kontemporer masih dominan bergerak dalam paradigma normatif-linguistik dan historis-filologis, sehingga belum sepenuhnya merespons tantangan epistemologis yang muncul dari perkembangan ilmu pengetahuan modern, seperti artificial intelligence, neurosciences, big data, dan bioengineering. Akibatnya, terjadi kesenjangan paradigmatik antara studi al-Qur’an klasik dan realitas ilmiah kontemporer. al-Qur’an sering diposisikan hanya sebagai objek legitimasi normatif, bukan sebagai sumber epistemik aktif yang dapat membentuk struktur keilmuan baru.
Lebih jauh, meskipun terdapat kajian tentang etika Islam dalam sains modern (bioetika, teknologi reproduksi, lingkungan, kesehatan), pendekatan yang digunakan masih bersifat reaktif-normatif, yaitu menilai halal-haram atau boleh-tidak boleh, tanpa merumuskan kerangka epistemologis produktif yang mampu memandu inovasi saintifik sejak tahap konseptual. Dengan demikian, relasi al-Qur’an dan sains masih bersifat justifikatif, bukan generatif. Ketiadaan kerangka epistemologi Qur’anic Interdisciplinary Studies inilah yang menjadi research gap utama dalam kajian-kajian Studi al-Qur’an terdahulu.
Selain itu, kajian neurosains Qur’ani dan terapi spiritual berbasis EEG telah membuktikan dampak bacaan al-Qur’an terhadap aktivitas otak, tetapi belum diintegrasikan ke dalam bangunan epistemologi Qur’ani yang menjelaskan mekanisme relasi antara wahyu, kesadaran, dan kognisi manusia secara komprehensif. Demikian pula, riset-riset AI Qur’ani masih terfokus pada optimalisasi performa algoritmik, tanpa membangun landasan epistemologis dan filosofis tentang bagaimana wahyu dapat diposisikan sebagai sumber data semantik dan struktur makna universal.
Dengan demikian, terdapat kekosongan konseptual, saya kira tepat jika disebut dengan conceptual vacuum, berupa belum adanya model epistemologi Qur’anic Interdisciplinary Studies yang mampu Menyatukan pendekatan tafsir, sains, teknologi, dan humaniora; Menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber epistemik produktif; dan Merumuskan relasi metodologis antara wahyu, rasio, empirisme, dan pengalaman spiritual.
- Novelty Map (Peta Kebaruan Penelitian): Tawaran untuk Studi al-Qur’an UIN
Berdasarkan research gap di atas, novelty penelitian Studi al-Qur’an ke depan terletak pada perumusan model epistemologi Qur’anic Interdisciplinary Studies, yakni sebuah kerangka keilmuan integratif yang memposisikan al-Qur’an sebagai sumber utama konstruksi ilmu, bukan sekadar objek tafsir normatif atau legitimasi etis. Model ini mengintegrasikan empat domain epistemik utama, wahyu, rasio, empirisme ilmiah, dan pengalaman spiritual, ke dalam satu bangunan epistemologi holistik.
Pergeraknnya saya kira bisa dimulai dari novelty pertama yang terletak pada rekonstruksi epistemologi tafsir dari paradigma tekstual-linguistik menuju epistemologi transdisipliner Qur’ani, yang memungkinkan ayat-ayat al-Qur’an berfungsi sebagai generative framework bagi inovasi ilmiah, bukan sekadar objek interpretasi pasif. Dalam model ini, al-Qur’an dipahami sebagai meta-paradigm, yang mengarahkan pengembangan sains, teknologi, etika, dan sosial-humaniora secara simultan.
Novelty kedua adalah integrasi AI Qur’ani, neurosains Qur’ani, dan etika Qur’ani dalam satu model epistemologi terpadu. Integrasi ini menghasilkan konstruksi baru bahwa al-Qur’an tidak saja membentuk dimensi kognitif (melalui makna dan tafsir), tetapi juga dimensi neurologis (melalui suara dan ritme), serta dimensi etik-sosial (melalui nilai dan norma). Dengan demikian, wahyu diposisikan sebagai sumber integratif antara makna, kesadaran, dan peradaban.
Novelty ketiga terletak pada pengembangan model relasi metodologis baru antara tafsir tematik, deep learning, neuroimaging, dan analisis sosial-kritis. Model ini melahirkan pendekatan Qur’anic epistemic convergence, yaitu pertemuan metodologis antara ilmu keislaman, sains eksperimental, dan teknologi digital, yang menghasilkan cara baru memahami wahyu dalam konteks kompleksitas zaman.
Novelty keempat adalah formulasi epistemologi Qur’anic techno-humanism, yakni paradigma baru yang mengintegrasikan kemajuan teknologi dengan nilai transendental wahyu, sehingga perkembangan AI, bioteknologi, dan neurosains tidak terlepas dari orientasi etis, spiritual, dan kemanusiaan. Paradigma ini dapat menawarkan alternatif terhadap dominasi epistemologi Barat yang bersifat sekular-positivistik.
- Posisi Kebaruan (Novelty Positioning)
Penelitian ke depan harus mampu memosisikan bukan sekadar sebagai kajian tafsir, bukan pula riset sains murni, tetapi sebagai rekonstruksi epistemologi al-Qur’an kontemporer, yang menghasilkan Model Epistemologi Qur’anic Interdisciplinary Studies berbasis integrasi Wahyu–Akal–Empiri–Spiritual Experience. Model ini pada tahapannya diharapkan menjadi Paradigma baru studi al-Qur’an, kerangka filosofis pengembangan sains Islami, dan landasan konseptual integrasi AI–Neurosains–Bioetika–Humaniora berbasis wahyu.
al-tafsir al-Tsaqafiy: Framework Model Epistemologi Qur’anic Interdisciplinary Studies
Framework Model Epistemologi Qur’anic Interdisciplinary Studies dibangun atas kesadaran bahwa al-Qur’an merupakan sumber pengetahuan transendental yang memiliki dimensi normatif, etis, ontologis, epistemologis, sekaligus empiris. Kerangka ini memposisikan al-Qur’an tidak hanya sebagai teks suci yang dipahami melalui pendekatan filologis dan teologis semata, melainkan sebagai pusat integrasi keilmuan yang mampu berdialog secara kritis dan kreatif dengan berbagai disiplin ilmu modern. Oleh karena itu, model epistemologi ini menempatkan wahyu sebagai fondasi ontologis, akal sebagai instrumen rasional, dan pengalaman empiris sebagai sarana verifikasi ilmiah, sehingga membentuk relasi dialektis antara teks, konteks, dan realitas.
Pada level ontologis, model ini menegaskan bahwa realitas tidak semata-mata bersifat material-empiris, tetapi juga mencakup dimensi metafisik dan spiritual. Realitas dipahami sebagai kesatuan hierarkis antara alam fisik, psikis, sosial, dan transenden, sebagaimana tergambar dalam struktur kosmologi Qur’ani. Oleh karena itu, objek kajian dalam Qur’anic Interdisciplinary Studies tidak dibatasi pada fenomena empiris belaka, tetapi mencakup pula makna, nilai, dan tujuan keberadaan manusia. Pendekatan ini memungkinkan pengembangan kajian lintas disiplin yang menyatukan sains, humaniora, ilmu sosial, dan studi keislaman dalam satu horizon makna yang integral.
Pada dimensi epistemologis, framework ini mengintegrasikan tiga sumber pengetahuan utama, yakni wahyu (naql), rasio (‘aql), dan pengalaman empiris (tajribah). Wahyu berfungsi sebagai kerangka normatif dan etis yang membimbing arah pengembangan ilmu, rasio berperan dalam proses analisis, sintesis, dan konstruksi teoritis, sementara pengalaman empiris berfungsi sebagai sarana observasi, pengujian, dan validasi ilmiah. Ketiga sumber ini tidak diposisikan secara hierarkis-dikotomis, melainkan dialogis-integratif, sehingga melahirkan pola epistemologi yang bersifat transdisipliner, reflektif, dan kontekstual.
Dalam kerangka metodologis, Qur’anic Interdisciplinary Studies memadukan pendekatan tafsir tematik, hermeneutika filosofis, kajian linguistik, analisis wacana kritis, serta metode empiris kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan tafsir tematik digunakan untuk memetakan konsep-konsep kunci al-Qur’an yang relevan dengan isu kontemporer, seperti teknologi reproduksi, neuroteologi, relasi gender, etika sains, dan kesehatan mental. Hermeneutika filosofis berfungsi untuk menafsirkan makna teks dalam dialog dengan konteks sosial, budaya, dan historis, sementara metode empiris digunakan untuk menguji implikasi praktis dan dampak sosial dari nilai-nilai Qur’ani dalam kehidupan nyata.
Secara konseptual, framework ini membentuk sebuah diagram integratif berbasis tiga poros utama, yaitu poros teks (al-Qur’an dan Sunnah), poros konteks (realitas sosial, budaya, politik, dan teknologi), serta poros metodologi ilmiah (pendekatan interdisipliner). Ketiga poros ini berinteraksi secara dinamis dan melahirkan produk keilmuan berupa teori, model, dan praktik sosial yang berakar pada nilai-nilai Qur’ani sekaligus relevan dengan tantangan zaman. Dengan demikian, epistemologi Qur’anic Interdisciplinary Studies tidak hanya bersifat deskriptif dan normatif, tetapi juga transformatif dan solutif.
Framework ini sekaligus menegaskan bahwa kajian al-Qur’an di era modern harus melampaui batas-batas disipliner yang kaku dan membuka ruang kolaborasi keilmuan yang luas. Integrasi antara teologi, sains, teknologi, dan humaniora diharapkan mampu melahirkan paradigma baru dalam studi Islam, yakni paradigma integratif-transformatif yang menempatkan wahyu sebagai pusat orientasi peradaban. Melalui model epistemologi ini, al-Qur’an tidak hanya dipahami sebagai sumber hukum dan moralitas, tetapi juga sebagai inspirasi utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan rekayasa sosial yang berkeadilan, humanis, dan berkelanjutan. Dalam kerangka kerja Studi al-Qur’an inilah, saya menawarkan sebuah Pendekatan Studi Tafsir yang saya sebut dengan al-Tafsir al-Taqafiy atau Tafsir al-Tsaqafi.
Wallahu A’lam
[1] Masnizah Mohd, Faizan Qamar, and Idris Al-sheikh, “Quranic Optical Text Recognition Using Deep Learning Models,” IEEE Access 9, no. Mart (2021), https://doi.org/10.1109/ACCESS.2021.3064019.
[2] Azhar Mehmood et al., “In Silico Analysis of Quranic and Prophetic Medicinals Plants for the Treatment of Infectious Viral Diseases Including Corona Virus,” Saudi Journal of Biological Sciences 28, no. 5 (2021): 3137–51, https://doi.org/10.1016/j.sjbs.2021.02.058.
[3] Ahmad Baidowi et al., “Erratum : Theology of Health of Quranic Pesantren in the Time of COVID-19 Theology of Health of Quranic Pesantren in the Time of COVID-19,” HTS Teologiese Studies 78, no. 1 (2022): 1–11, https://doi.org/https://doi.org/10.4102/hts.v77i4.6452.
[4] Ismail Samhani, Mohammed Faruque, and Mohd Hanifah, “Rhythms Synchronization Effects on Cognition during Listening to Quranic Recitation,” Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences 18 (2022): 603–17, https://doi.org/, https://doi.org/10.11113/mjfas.v18n5.2671.
[5] Samhani Ismail, Mohammed Faruque, and Mohd Hanifah, “Psychospiritual Healing from Al-Quran : Internal Aesthetic Factor of Quranic Sound and Its Effects in Activating Greater Brain Regions,” Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences 19 (2023): 583–606, https://doi.org/https://doi.org/10.11113/mjfas.v19n4.2969.
[6] Faiza Beirade, Hamid Azzoune, and D Eddine Zegour, “Semantic Query for Quranic Ontology,” Journal of King Saud University – Computer and Information Sciences 33, no. 6 (2021): 753–60, https://doi.org/10.1016/j.jksuci.2019.04.005.
[7] Mohammed Alqarni, “Embedding Search for Quranic Texts Based on Large Language Models,” The International Arab Journal of Information Technology 21, no. 2 (2024): 243–56.
[8] M.K.A Al-Janabi, “Artificial Intelligence in Quranic Exegesis: A Critical Analytical Study of ChatGPT Technology,” Quranica 2, no. 5 (2024), https://www.scopus.com/inward/record.uri?partnerID=HzOxMe3b&scp=85217026451&origin=inward.
[9] Bassam Arkok and Akram M. Zeki, “Classification of Quranic Topics Using Ensemble Learning,” Proceedings of the 8th International Conference on Computer and Communication Engineering, ICCCE 2021, 2021, 244–48, https://doi.org/10.1109/ICCCE50029.2021.9467178.
[10] Subhan Abdullah Acim and Suharti, “THE CONCEPT OF FIQH AL-BĪ’AH IN THE QUR’AN: A Study of the Quranic Verses on Environment in the Ulamas’ Views of Lombok,” Ulumuna, 2023, https://doi.org/10.20414/ujis.v27i1.694.
[11] Sarah S Alrumiah and Amal A Al-shargabi, “A Deep Diacritics-Based Recognition Model for Arabic Speech : Quranic Verses as Case Study,” IEEE Access 11, no. June (2023): 81348–60, https://doi.org/10.1109/ACCESS.2023.3300972.
[12] A Bahgat, Hossam El-din M Sallam, and Mahmoud Atta, “EFFECT OF MOLD CASTING PARAMETERS IN INTERFACE PROPERTIES OF IRON / COPPER BIMETALLIC COMPOSITES BASED UPON AN ANCIENT QURANIC METAL MATRIX COMPOSITE ( QMMC ),” International Journal of Metalcasting 18, no. 1 (2024): 821–34, https://doi.org/10.1007/s40962-023-01066-x.
[13] Muhammad Ahmad and Ibrahim Aljahsh, “Heliyon Science and Islamic Ethics : Navigating Artificial Womb Technology through Quranic Principles,” Heliyon 10, no. 17 (2024): e36793, https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2024.e36793.
[14] Valerie Gonzalez, “Phenomenology of Quranic Corporeality and Affect : A Concrete Sense of Being Muslim in the World,” Religions 14, no. 837 (2023), https://doi.org/https://doi.org/ 10.3390/rel14070827 Academic.
[15] Bambang Husni Nugroho, Ahmad Mustaniruddin, and Ahmad Taufik, “Ideological Contestation on the Production of Gender Exegesis within Institutional Quranic Interpretation in Indonesia,” Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an Dan Hadis 25, no. 2 (2024): 5–7, https://doi.org/10.14421/qh.v25i2.5388.








