Setelha saya renungkan, Abah itu memang pribadi yang sulit ditiru, terutama dari sisi istiqamahnya. Salah satu kebiasaan Abah yang sangat membekas dalam ingatan saya, dan jujur saja, sulit dilakukan secara berkelanjutan oleh siapa pun, adalah tradisi menyalakan petromax setiap hari, pada waktu yang sama, tanpa pernah absen.
Dulu, pada masa awal saya pindah ke Malang dari Madura, belum ada listrik sebagaimana sekarang. Saat itu, listrik hanya dimiliki oleh masjid dengan menggunakan mesin diesel, itupun menyala terbatas: mulai sekitar pukul 17.30 WIB sampai setelah isya’, lalu kembali dinyalakan menjelang subuh hingga selesai shalat subuh. Di luar masjid, tidak ada listrik sama sekali sebagai penerangan.
Dalam kondisi seperti itulah Abah KH. Kholili Nawawi mengambil peran penting. Beliaulah yang biasa menyiapkan penyinaran lampu untuk menerangi mushalla dan sekitarnya. Abah selalu membawa dua petromax: satu diletakkan di depan mushalla, dan satu lagi di dalam mushalla. Rutinitas ini dilakukan secara konsisten sebelum maghrib dan sebelum subuh.
Menjelang subuh, Abah biasanya meletakkan petromax di depan mushalla agak ke arah timur. Saya menduga maksudnya agar cahaya itu tidak hanya menerangi mushalla, tetapi juga kamar mandi yang saat itu masih berupa blumbang besar. Lokasinya berada di Gedung C, Bilik 1 sampai 3, yang sekarang menjadi Pondok Putra. Detail-detail kecil ini menunjukkan bahwa istiqamah Abah bukan hanya soal ibadah personal, tetapi juga kepedulian konkret terhadap kenyamanan dan kebutuhan santri.
Setelah meletakkan petromax, Abah tidak langsung beristirahat. Beliau melanjutkan dengan shalat hajat, kemudian berdzikir, dan setelah itu membangunkan santri di semua kamar. Saat itu jumlah kamar memang belum banyak, hanya sekitar 8 bilik, dua bilik gandeng dengan mushalla, dan enam bilik lainnya yang sekarang menjadi kompleks Gedung B. Namun meski secara jumlah terbatas, rutinitas membangunkan santri itu dilakukan setiap hari, pada jam yang sama, tanpa pernah alpa. Jika dipikir-pikir, melakukan hal seperti itu secara rutin saja sudah berat, apalagi melakukannya dengan penuh kesabaran.
Terlebih, santri zaman dulu, kalau boleh jujur, “nakalnya” kadang tidak ketulungan. Hehehe. Pernah suatu kali Abah terkejut saat membangunkan santri di bilik yang sekarang dikenal sebagai B 5. Ada santri yang iseng mengagetkan Beliau dengan teriakan keras, “DOOOORRRR…!” Tentu saja Abah kaget. Tetapi yang luar biasa, Beliau tidak marah, dan keesokan harinya tetap melakukan rutinitas yang sama.
Pernah juga ada santri yang sengaja ngentut saat dibangunkan untuk shalat subuh. Hehehe. Bahkan, setelah listrik mulai masuk, pernah suatu kali Abah kesetrum karena pegangan pintu dialiri listrik oleh santri yang sengaja ingin membuat Beliau kapok, supaya tidak lagi membangunkan mereka keesokan harinya.
Namun semua usaha “kenakalan” para santri itu tidak pernah membuat Abah berhenti. Tidak sekalipun menjadikan Beliau mundur atau menyerah. Abah tetap istiqamah melakukan pendampingan itu, hari demi hari, tahun demi tahun. Subhanallah.
Kini, ketika semua itu dikenang, saya hanya bisa berdoa, semoga kebiasaan Abah yang dahulu memberikan penerangan di tengah gelap, kini dibalas Allah swt dengan cahaya yang jauh lebih terang di sisi-Nya. Cahaya yang tak pernah padam, sebagaimana istiqamah Abah yang tak pernah surut. Untuk Abah, dan untuk semua pengasuh pesantren yang telah lebih dahulu mendahului kita semua: Al-Fatihah.








