Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
“Ulama Tidak Pernah Bermusuhan: Khasyah, Bani, dan Konflik yang Diciptakan”

“Ulama Tidak Pernah Bermusuhan: Khasyah, Bani, dan Konflik yang Diciptakan”

Zenrif Oleh Zenrif
4 Apr 2026
dalam Gerakan Sosial, Karya, Pemikiran, Sejarah Tokoh
0
Bagikan ke FacebookBagikan ke Whatsapp

“Kalau Kyai musuhnya ya Kyai.” Bahasa yang sudah umum disampaikan dan didengarkan di hampir setiap pojok pertemuan masyarakat awam itu bagi saya bukan sekedar menyesakkan, tetapi juga menyesatkan. Dalam hubungan kekeluargaan dan perjuangan, salah satu hal yang paling membuat saya prihatin adalah kenyataan bahwa konflik seringkali justru tampak terjadi di antara para pejuang. Bukan karena mereka menghendakinya, tetapi karena dinamika sosial yang berkembang di sekitar mereka. Tulisan ini saya tulis untuk tujuan sebagai kesaksian,  bahwa di balik narasi konflik yang beredar, ada kebaikan para ulama yang seringkali tertutup oleh kebisingan para pendukungnya sendiri. Seperti konflik antara Man Tuan KH. Mujtaba bin Bukhari bin Isma’il dan Kak Tuan KH. Abdurrasyid bin Fudlali bin Bukhari bin Isma’il.

Saya adalah saksi bahwa Man Tuan KH. Mujtaba bin Bukhari bin Isma’il dan Kak Tuan KH. Abdur Rasyid Fudloli sejatinya tidak pernah menginginkan adanya konflik. Bahkan, keduanya sama-sama menyampaikan pada saya keinginan untuk bertemu, untuk bersama-sama melanjutkan perjuangan Rasulullah saw. Dalam pengamatan batin saya, tidak ada kebencian di antara keduanya, juga tidak ada permusuhan. Yang ada justru keinginan untuk bersatu dalam kebaikan. Namun realitas sosial seringkali bergerak dengan logikanya sendiri yang berbeda dengan apa yang Beliau berdua inginkan.

Baca lainnya

Ngantir: Ketika Cahaya Itu Kembali

Ngantir: Ketika Cahaya Itu Kembali

9 Jul 2026
Perencanaan sebagai Kewajiban dan Jalan Hidup: Teladan Rasulullah serta Ketetapan Sunnatullah

Perencanaan sebagai Kewajiban dan Jalan Hidup: Teladan Rasulullah serta Ketetapan Sunnatullah

9 Jul 2026

Dalam perspektif sosiologi, sebagaimana dijelaskan oleh Émile Durkheim, agama sejatinya berfungsi sebagai perekat sosial yang melahirkan solidaritas. Ulama dalam hal ini adalah penjaga moral kolektif, bukan produsen konflik. Akan tetapi, sebagaimana dipahami dalam teori konflik Lewis A. Coser, ketegangan sosial tidak selalu lahir dari aktor utama, tetapi justru sering diproduksi oleh aktor-aktor sekunder yang memiliki kepentingan tertentu. Dalam pengalaman yang saya saksikan, para pendukung, baik dari kalangan masyarakat, alumni, bahkan keluarga dekat, kadang menjadi pihak yang memperpanjang bahkan menciptakan konflik.

Fenomena ini dalam psikologi sosial dapat dijelaskan melalui konsep groupthink dari Irving Janis, di mana sebuah kelompok dapat membangun keyakinan bersama yang tidak sepenuhnya berangkat dari kebenaran objektif, tetapi dari pengulangan dan legitimasi internal. Seseorang bisa memperoleh posisi, kedekatan, dan kepercayaan dari seorang kyai dengan cara menunjukkan loyalitas yang berlebihan, bahkan dengan membangun narasi bahwa ada “lawan” yang harus dihadapi. Dalam situasi seperti itu, kebenaran seringkali tidak lagi diukur dari kedalaman ilmu, tetapi dari kedekatan emosional dan kepentingan sosial.

Padahal dalam antropologi dakwah, sebagaimana dipahami  Clifford Geertz, agama hidup dalam praktik budaya, bukan sekadar dalam wacana. Dakwah tidak hanya berlangsung di mimbar, tetapi juga dalam tradisi seperti sowan, silaturahim, dan musyawarah. Ulama berperan sebagai cultural broker, yang menjembatani nilai-nilai normatif Islam dengan realitas sosial masyarakat. Dalam posisi ini, tugas utama ulama bukan memperuncing perbedaan, tetapi merawat keseimbangan dan harmoni.

Di titik inilah saya semakin memahami makna terdalam dari Al-Qur’an tentang ulama. Allah SWT berfirman dalam QS. Fathir ayat 28: yang menegaskan bahwa sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama. Khasyah, rasa takut yang lahir dari kedalaman ilmu, adalah ciri utama keulamaan. Dan dari khasyah itu lahir sikap kehati-hatian, keinginan untuk mendamaikan, serta ketidakmauan untuk memelihara konflik. Karena itu, ketika saya menyaksikan keinginan kuat dari kedua beliau untuk bertemu dan bersatu, saya melihatnya sebagai manifestasi nyata dari khasyah tersebut.

Allah SWT juga menegaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 10: bahwa orang-orang beriman itu bersaudara. Maka, dakwah yang sejati selalu bergerak ke arah islah, memperbaiki hubungan, bukan memperlebar jurang perbedaan.

Saya bersyukur, di akhir masa kehidupan kedua beliau, Allah SWT memperlihatkan kepada saya sebuah jalan pertemuan yang sangat indah. Dalam kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan, Man Tuan KH. Mujtaba masih memiliki kebiasaan merokok. Keluarga, terutama istri beliau, tentu menghendaki agar kebiasaan itu dihentikan. Dalam situasi itu, saya mencoba memberikan ruang kecil kebahagiaan dengan mempersilakan beliau datang ke rumah saya setiap selesai shalat Dhuhur, menikmati kopi dan merokok dengan lebih tenang. Saya merasakan sendiri kebahagiaan beliau, dan dalam hati saya hanya berharap dengan cara sederhana itu beliau bisa tetap merasa hidup dan bahagia.

Namun ketika hal itu diketahui oleh istri beliau, muncul keberatan yang tentu sangat wajar. Dari situlah, tanpa saya rencanakan, Allah swt membuka jalan yang jauh lebih besar. Dalam suasana santai, saya sampaikan kepada beliau bahwa ada tempat yang “paling aman”, yang saya sebut secara bergurau sebagai “Uni Sovyet”, yakni rumah Kak Tuan KH. Abdur Rasyid. Awalnya beliau ragu, tetapi akhirnya setuju setelah saya yakinkan.

Saya pun sowan kepada Kak Tuan KH. Abdur Rasyid dan menyampaikan keinginan  Man Tuan Mujtaba bisa sering datang untuk bersilaturahim. Jawaban beliau sederhana namun sangat tulus: “beliau senang”.  Sejak saat itu, sesuatu yang lama tertahan akhirnya mengalir. Kedua beliau mulai sering bertemu, berbincang, minum kopi, dan dengan cara yang sangat sederhana melalui rokok. Saya menyaksikan sendiri bagaimana hubungan itu kembali hangat, sekat-sekat mencair, dan fitnah mulai mereda.

Dalam perspektif sufistik, ini adalah jalan mahabbah sebagaimana diajarkan dalam konsep tasawuf, bahwa cinta memiliki caranya sendiri untuk menemukan jalan, bahkan melalui hal-hal yang terkadang tampak sepele. Ketika Man Tuan KH. Mujtaba wafat, saya menyaksikan sendiri bagaimana kebaikan beliau disaksikan oleh Kak Tuan KH. Abdur Rasyid di masjid. Sebuah penutup yang tidak hanya indah secara sosial, tetapi juga menenangkan secara batin.

Dari semua itu, saya memahami bahwa para ulama sejati tidak pernah bermusuhan. Yang terjadi seringkali hanyalah jarak yang diciptakan oleh persepsi, kepentingan, dan narasi dari orang-orang di sekitarnya. Karena itu, jika Bani ingin menjadi fondasi harmoni, maka ia harus dibangun di atas kejujuran, kasih sayang, dan kesadaran spiritual. Bani mestinya menjadi ruang untuk memperkuat cinta, bukan menabur benci, menjadi jalan persaudaraan, bukan arena persetruan. Saya bersyukur, Allah SWT memperkenankan saya menjadi saksi bahwa di balik semua kerumitan itu, kebaikan tetap menemukan jalannya, bahkan melalui sesuatu yang sederhana, yang mungkin tidak pernah kita duga sebelumnya, ‘ROKOK’.

Untuk kedua Beliau, al-Fatihah…

Zenrif

Zenrif

M. Fauzan Zenrif adalah Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Malang bidang perekonomian (2021 - 2026), founder KPKNU (Komunitas Pengusaha Kecil NU).

Terkait

Ngantir: Ketika Cahaya Itu Kembali

Ngantir: Ketika Cahaya Itu Kembali

Oleh Zenrif
9 Jul 2026
0

Jalan menuju Ngantir, Pacitan, berliku mengikuti lekuk perbukitan karst. Di kiri dan kanan, pepohonan berdiri tenang seolah menyimpan kisah-kisah panjang...

Perencanaan sebagai Kewajiban dan Jalan Hidup: Teladan Rasulullah serta Ketetapan Sunnatullah

Perencanaan sebagai Kewajiban dan Jalan Hidup: Teladan Rasulullah serta Ketetapan Sunnatullah

Oleh Zenrif
9 Jul 2026
0

Setiap langkah kehidupan, baik urusan duniawi maupun ukhrawi, memerlukan landasan yang jelas dan arah yang pasti. Islam menempatkan perencanaan bukan...

Mengapa Ulama Sejati Tidak Mencari Panggung? Refleksi atas Spiritualitas Mbah Zayyadiy

Cuaca yang Membawaku Pulang

Oleh Zenrif
6 Jul 2026
0

Pagi ini, Senin, 6 Juli 2026. Jarum jam menunjukkan pukul 08.11 WIB. Di hadapan saya terbentang lembar-lembar hasil FGD dan...

Dari Ta’āwun Menuju Tamkīn: Ketika Kolaborasi Menjadi Jalan Ibadah Membangun Peradaban Desa

Dari Ta’āwun Menuju Tamkīn: Ketika Kolaborasi Menjadi Jalan Ibadah Membangun Peradaban Desa

Oleh Zenrif
5 Jul 2026
0

Segitiga Emas Pengembangan Ekonomi Desa berangkat dari keyakinan teologis bahwa Allah Swt. tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka...

Postingan Berikut
Menjaga Amanah Wakaf dalam Perspektif Sosio-Religius: Studi Reflektif atas Konflik dan Upaya Sertifikasi Pamanda KH. Abdul Hanan As’ad Isma’il

Menjaga Amanah Wakaf dalam Perspektif Sosio-Religius: Studi Reflektif atas Konflik dan Upaya Sertifikasi Pamanda KH. Abdul Hanan As'ad Isma'il

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS