Abah tidak hanya istiqamah di pondok dan madrasah. Pada masanya, Abah KH. Kholili Nawawi bahkan bisa dikatakan satu-satunya kyai yang benar-benar mau turun langsung ke masyarakat. Hampir di semua kampung di Desa Ganjaran—bahkan sampai Mboro, Panggungrejo—Abah memiliki kumpulan rutin. Ada yang dilaksanakan sore hari, ada pula yang dilaksanakan malam hari setelah shalat isya’.
Saya merasa sangat bersyukur, karena saya termasuk orang yang sering diajak mengantarkan Beliau melaksanakan tugas-tugas dakwah itu. Dari perjalanan-perjalanan itulah saya menyaksikan sendiri bagaimana dakwah Abah bukan sekadar ceramah, melainkan kehadiran: hadir secara fisik, hadir secara batin, dan hadir secara istiqamah.
Ada satu kejadian yang hingga kini selalu saya kenang sambil tersenyum. Suatu hari Abah meminta saya mengantar ke Batu Gudik, wilayah Ganjaran Utara. Seperti biasa, setiap mau naik sepeda motor, Abah selalu memegang pundak saya. Karena saya merasakan tangan Abah sudah memegang pundak, saya menyangka Beliau sudah duduk di belakang.
Sepeda motor Yamaha warna biru itu saya jalankan pelan-pelan, agar Abah merasa nyaman. Biasanya, di tengah jalan Beliau selalu bercerita. Tapi kali ini kok aneh, dari tadi tidak ada cerita apa-apa. Setelah sampai di Lapangan Ganjaran, saya pancing dengan bertanya,
“E delemmah paserah samangken, Abah?”
Tidak ada jawaban. Saya ulangi sampai tiga kali, tetap tidak ada respon. Lalu saya menoleh ke belakang—dan ternyata Abah benar-benar tidak ada di belakang saya. Hehehe.
Saya langsung putar balik sepeda motor dan pulang dengan kecepatan tiga kali lipat dari saat berangkat. Sampai di halaman rumah, saya melihat Abah masih ada di sana.
“Gik demmah?” tanya Beliau santai.
Saya pun menyampaikan bahwa tadi saya sudah berangkat dan kembali lagi. Ternyata, setelah memegang pundak saya, Abah langsung turun karena ada Habib yang datang ke rumah. Sebuah kejadian lucu, tetapi juga menunjukkan betapa sudah menyatunya kebiasaan saya bersama Beliau.
Kisah lain tentang Abah juga diceritakan oleh Abdul Hadi Maulana. Ia bercerita, sekitar tahun 2004—kalau tidak salah—ada undangan dari warga kampung untuk Yai Kholili. Namun saat itu Beliau sedang kurang sehat sehingga tidak bisa hadir. Acaranya dilaksanakan setelah maghrib. Lalu diutuslah salah satu santri untuk menggantikan Beliau.
Seperti kebiasaan masyarakat, meskipun mbah yai tidak datang, yang punya acara tetap menitipkan berkat untuk mbah yai. Sayangnya, berkat itu tidak sampai ke dalem, tapi justru singgah di kamar santri yang menggantikan mbah yai, lalu dinikmati bersama teman-temannya.
Entah bagaimana caranya, rupanya hal itu “terdeteksi” oleh Abah. Keesokan malamnya—kalau tidak salah setelah shalat maghrib—setelah wiridan, Abah celetukan. Entah itu karena kesal atau sekadar bercanda. Tapi husnudzon kami, itu bercanda khas Abah. Dengan suara beliau yang khas, kira-kira begini dawuhnya:
“Mun berkattah ontok kiyâenah, cek kakân tibi’ teraki ke delem.”
Sontak para santri dan jama’ah bereaksi macam-macam. Ada yang terdiam, ada yang ketawa tapi ditahan, ada yang saling pandang sambil bertanya-tanya siapa santri itu. Dan ada pula yang terlihat tersudut—terduga pelaku—dengan diam seolah tak terjadi apa-apa. 😂
Saya sendiri, yang termasuk santri suka bercanda dan agak nakal, lalu memberi saran agar kejadian semacam itu tidak terulang. Saran saya begini:
“Mun bedeh onjengan pole pas yai tak bisa deteng, jek entar ketibik tapeh keduweh. Mele olleh berkat duwe’. Sittung ding yai, sittungah kakan ekamar.” 😂
Dan benar saja, ketika ada undangan lagi dari orang kampung dan kebetulan Abah kembali tidak bisa hadir, strategi itu dipakai. Hasilnya: dapat berkat dua—satu diantar ke dalem, satu dimakan bersama-sama di kamar. Berkatnya juga banyak. 😂😂
Sejak strategi itu dipakai, Abah tidak pernah lagi celetukan setelah shalat berjama’ah di mushalla. 😂😂
Di balik kisah-kisah yang penuh canda itu, saya melihat satu hal yang sangat dalam: Abah hadir dalam dakwah masyarakat dengan sepenuh hati. Bahkan ketika raga tidak memungkinkan hadir, perhatian Beliau tetap menyertai. Dakwah Abah bukan dakwah berjarak, melainkan dakwah yang hidup, menyatu dengan denyut masyarakat dan keseharian santri.
Allahumma yârham Abah KH. Kholili Nawawi.
Al-Fatihah.








