Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
The Living Qur’an dalam Perusahaan Sosial

The Living Qur’an dalam Perusahaan Sosial

Bekerja Tanpa Syarat Ijazah dan Pengalaman Kerja

Zenrif Oleh Zenrif
21 Mar 2026
dalam Berita, Gerakan Sosial, Karya, Pemikiran, Quranic Comminty Development, Sejarah Tokoh
0
Bagikan ke FacebookBagikan ke Whatsapp

Di tengah lanskap ekonomi yang semakin kompetitif, syarat kerja kian hari kian tinggi: ijazah minimal, pengalaman bertahun-tahun, keterampilan spesifik, hingga standar administratif yang sering kali justru menutup pintu bagi mereka yang paling membutuhkan pekerjaan. Dunia kerja berubah menjadi arena seleksi yang tidak selalu adil. Dalam situasi seperti ini, kehadiran model alternatif bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Model itu hadir dalam praktik yang dijalankan oleh Nur Khozin bin Masduki, atau Pak Nung—seorang guru agama yang membangun apa yang layak disebut sebagai perusahaan sosial.

Perusahaan yang ia bangun tidak berorientasi semata-mata pada pencapaian keuntungan (cuan), melainkan pada distribusi manfaat. Ia memulai dari sesuatu yang sederhana: keterampilan membuat kambangan dari hobi memancing. Namun dari titik kecil ini, lahir sebuah sistem ekonomi berbasis komunitas yang mampu membuka lapangan kerja bagi puluhan orang di sekitarnya. Yang lebih penting, sistem ini dibangun di atas nilai kepercayaan, keterbukaan, dan keberpihakan pada mereka yang sering tersingkir dari pasar kerja formal.

Baca lainnya

Legitimasi Meritokrasi dalam Birokrasi Lokal: Menimbang Relasi Kekerabatan dalam Perspektif Hukum Administrasi dan Sejarah Politik Islam

Legitimasi Meritokrasi dalam Birokrasi Lokal: Menimbang Relasi Kekerabatan dalam Perspektif Hukum Administrasi dan Sejarah Politik Islam

19 Apr 2026
Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

18 Apr 2026

Dalam manajemennya, tidak ada rahasia. Semua orang yang ingin belajar diberikan informasi secara utuh—mulai dari proses produksi hingga struktur keuntungan. Bahkan kepada para reseller, Pak Nung menjelaskan secara terbuka berapa potensi laba yang bisa mereka peroleh. Tidak jarang, keuntungan reseller justru lebih besar dibanding keuntungan perusahaan itu sendiri. Dalam logika bisnis konvensional, ini tampak tidak rasional. Namun dalam kerangka perusahaan sosial, ini adalah bentuk distribusi nilai yang adil. Praktik ini sesungguhnya memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam. Al-Qur’an menegaskan:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ (المائدة: ٢)

Ayat ini tidak hanya berbicara tentang relasi moral, tetapi juga membuka ruang bagi kerja sama ekonomi yang berorientasi pada kebaikan bersama. Apa yang dilakukan Pak Nung adalah bentuk konkret dari ta’awun dalam bidang ekonomi—di mana usaha tidak menjadi alat eksploitasi, tetapi sarana saling menguatkan. Lebih jauh, Rasulullah saw juga bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ (رواه أحمد)

Hadits ini menjadi fondasi etika bagi perusahaan sosial. Keberhasilan tidak diukur dari seberapa besar akumulasi keuntungan, tetapi dari seberapa luas manfaat yang dihasilkan. Dalam konteks ini, keputusan Pak Nung untuk membuka akses pengetahuan, memperbesar ruang keuntungan bagi reseller, dan memprioritaskan kebermanfaatan sosial adalah manifestasi langsung dari ajaran tersebut.

Hal yang paling mencolok dari perusahaan ini adalah sistem rekrutmennya. Tidak ada syarat ijazah. Tidak ada tuntutan pengalaman kerja. Bahkan dokumen administratif seperti sertifikat atau riwayat kerja tidak pernah menjadi pertimbangan. Yang menjadi ukuran hanyalah kejujuran dan kemauan untuk bekerja.

Sebagian pekerja direkrut justru karena alasan sosial. Mereka adalah orang-orang yang dalam sistem kerja formal sering kali tidak mendapatkan tempat. Salah satu kisah yang paling menggambarkan orientasi ini adalah tentang seorang remaja yang pernah menjadi korban penipuan. Sepeda motor yang ia beli dengan susah payah melalui kredit, justru dibawa kabur oleh pelanggan di tempat kerjanya sebelumnya. Dalam kondisi terpuruk, ia kehilangan bukan hanya aset, tetapi juga kepercayaan diri. Ketika informasi itu sampai kepada Pak Nung, ia tidak menanyakan keterampilan, tidak meminta pengalaman, tetapi langsung memberinya pekerjaan. Dari titik itu, anak muda tersebut perlahan bangkit—memiliki penghasilan, mendapatkan kembali rasa percaya diri, dan kembali menjadi bagian produktif dari masyarakat.

Relasi kerja di perusahaan ini juga jauh dari pola korporasi pada umumnya. Tidak ada sekat antara pemilik dan pekerja. Pak Nung memperlakukan mereka sebagai teman. Tidak ada SOP yang kaku, tidak ada absensi yang mengekang, tidak ada ijazah yang ditahan. Sistem berjalan bukan karena kontrol, tetapi karena kepercayaan. Ini mengingatkan pada prinsip yang ditegaskan Rasulullah saw:

أَعْطُوا الْأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ (رواه ابن ماجه)

Hadits ini tidak hanya berbicara tentang pembayaran upah, tetapi juga tentang penghormatan terhadap pekerja sebagai manusia. Dalam praktik Pak Nung, penghormatan itu hadir dalam bentuk relasi yang setara dan manusiawi.

Menariknya, perusahaan ini justru menunjukkan tanda-tanda keberhasilan yang nyata. Produk kambangan yang dihasilkan tidak hanya beredar di tingkat lokal, tetapi telah menjangkau pasar yang lebih luas melalui jaringan reseller yang terus berkembang. Produksi berjalan stabil, tenaga kerja bertambah, dan kepercayaan pasar meningkat. Yang lebih penting, keberhasilan ini tidak dibangun di atas eksploitasi tenaga kerja, melainkan pada distribusi manfaat yang adil. Dalam istilah ekonomi, ini adalah contoh keberhasilan model bisnis berkelanjutan berbasis kepercayaan sosial. Keberhasilan ini sekaligus membantah asumsi bahwa perusahaan tanpa orientasi profit maksimal tidak akan bertahan. Justru sebaliknya, dengan membangun loyalitas, keterbukaan, dan rasa memiliki di antara para pelaku di dalamnya, perusahaan ini memiliki daya tahan yang kuat. Ia tidak bergantung pada modal besar, tetapi pada modal sosial yang terus tumbuh. Dalam perspektif al-Qur’an, prinsip ini sejalan dengan firman Allah:

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ (البقرة: ٢٧٦)

Ayat ini menegaskan bahwa Allah “menghapus” praktik ekonomi yang eksploitatif dan justru “menumbuhkan” praktik yang berbasis pada kedermawanan dan kebermanfaatan. Dalam konteks ini, model perusahaan sosial seperti yang dijalankan Pak Nung menemukan relevansinya: ketika orientasi tidak semata pada akumulasi keuntungan, tetapi pada distribusi manfaat dan kepercayaan, justru di situlah letak keberlanjutan dan kekuatannya.

Apa yang dilakukan Pak Nung pada akhirnya adalah kritik praksis terhadap sistem ekonomi yang terlalu formalistik dan eksklusif. Ia menunjukkan bahwa bekerja tanpa syarat ijazah dan pengalaman kerja bukan berarti menurunkan standar, tetapi menggeser standar—dari administratif ke etis, dari formal ke substansial.

Di tengah krisis akses kerja dan ketimpangan ekonomi, model seperti ini bukan hanya relevan, tetapi mendesak untuk diperbanyak. Karena pada akhirnya, ekonomi bukan hanya soal pertumbuhan, tetapi tentang bagaimana manusia dimuliakan melalui kerja.

Zenrif

Zenrif

M. Fauzan Zenrif adalah Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Malang bidang perekonomian (2021 - 2026), founder KPKNU (Komunitas Pengusaha Kecil NU).

Terkait

Legitimasi Meritokrasi dalam Birokrasi Lokal: Menimbang Relasi Kekerabatan dalam Perspektif Hukum Administrasi dan Sejarah Politik Islam

Legitimasi Meritokrasi dalam Birokrasi Lokal: Menimbang Relasi Kekerabatan dalam Perspektif Hukum Administrasi dan Sejarah Politik Islam

Oleh Zenrif
19 Apr 2026
0

Fenomena pelantikan anak kandung oleh Kepala Daerah ke dalam jabatan strategis birokrasi, seringkali dipersepsikan secara simplistik sebagai bentuk nepotisme, tanpa...

Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

Oleh Zenrif
18 Apr 2026
0

Mencari tempat kos di Malang dan sekitarnya, terutama untuk anak perempuan, yang sesuai dengan kaidah ajaran Islam pada saat ini...

Prioritas Program Pemerintah: Menimbang Koperasi Merah Putih, MBG, Pendidikan, Infrastruktur, Perumahan, dan Alutsista dengan Maqāṣid

Prioritas Program Pemerintah: Menimbang Koperasi Merah Putih, MBG, Pendidikan, Infrastruktur, Perumahan, dan Alutsista dengan Maqāṣid

Oleh Zenrif
18 Apr 2026
0

Dalam menimbang dan menlai skla prioritas program Pemerintah, kaidah ushul fiqh “الواجب لا يُترك لسُنّة، بل يُترك لواجبٍ” bisa memberikan...

Epistemologi Konvergensi dalam Studi Islam: Menyatukan Teks, Akal, dan Metode Ilmiah

Epistemologi Konvergensi dalam Studi Islam: Menyatukan Teks, Akal, dan Metode Ilmiah

Oleh Zenrif
13 Apr 2026
0

Setelah saya diminta memimpin Prodi Studi Islam di Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, saya terus melakukan kajian. Ada beberapa...

Postingan Berikut
Idul Fitri: Antara Kecemasan Spiritual dan Harapan Eksistensial

Idul Fitri: Antara Kecemasan Spiritual dan Harapan Eksistensial

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS