Pagi ini, Senin, 6 Juli 2026. Jarum jam menunjukkan pukul 08.11 WIB. Di hadapan saya terbentang lembar-lembar hasil FGD dan angket dari para Kepala Desa, Ketua KDMP, dan Fatayat. Satu demi satu data saya baca, saya kelompokkan, lalu saya analisis untuk mencari jalan bagi terwujudnya pembangunan ekonomi desa yang mandiri dan berkelanjutan. Di balik angka, tabel, dan catatan lapangan itu, tiba-tiba ada sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh logika penelitian. Cuaca pagi ini seperti membuka sebuah pintu yang telah lama tertutup, mengantarkan saya pulang ke masa kecil.
Saya kembali berada di Blega. Saya melihat rumah kayu jati kami di Jalan Kebun Anyar. Saya duduk di beranda rumah itu, memandang halaman yang sederhana, menikmati angin pagi yang membawa aroma tanah dan pepohonan. Di sana, Abah masih ada. Wajahnya begitu teduh. Senyumnya begitu hangat. Suaranya begitu dekat, seolah waktu tidak pernah mengambilnya dari kehidupan kami.
Saat itu saya belum memahami betapa berharganya momen-momen sederhana itu. Saya hanya merasakan indahnya menjadi seorang anak yang hidup bersama Abah, bersama saudara-saudara, dalam kebersamaan yang mungkin tidak berlimpah harta, tetapi begitu kaya dengan kasih sayang. Rumah itu mungkin tidak megah, namun di sanalah saya belajar tentang arti keluarga, kerja keras, dan kejujuran.
Abah, pagi ini Engkau terasa begitu dekat. Memang Engkau sudah tidak lagi duduk di samping saya untuk berbincang tentang masa depan. Engkau sudah tidak lagi menepuk bahu saya sambil tersenyum. Namun entah mengapa, cuaca pagi ini menghadirkan kembali semua itu. Seolah-olah Engkau sedang duduk di beranda rumah itu, memanggil saya untuk mendekat.
Saya masih ingat, Abah pernah berkata bahwa suatu hari nanti saya akan hidup bersama istri dan anak-anak dalam keadaan yang berbeda dengan kehidupan kita dahulu. Waktu itu saya tidak memahami maksudnya. Saya hanya mengangguk sebagai seorang anak yang percaya kepada ayahnya. Kini, ketika kehidupan membawa saya pada perjalanan yang panjang, saya baru mengerti bahwa yang Abah wariskan bukanlah harta, melainkan keyakinan, harapan, dan doa yang tidak pernah berhenti mengiringi langkah anak-anaknya.
Ada satu kalimat yang pagi ini terdengar begitu jelas di dalam hati saya. Kalimat yang dulu mungkin hanya lewat di telinga seorang anak kecil.
“Kamu tidak boleh kalah dengan nafsumu, karena nafsu bisa saja mengantarkanmu pada kesengsaraan.”
Dulu saya belum memahami kedalaman makna pesan itu. Kini saya melihatnya dalam begitu banyak peristiwa kehidupan. Saya menyaksikan bagaimana nafsu terhadap kekuasaan, harta, jabatan, dan pujian mampu menjatuhkan manusia. Sebaliknya, saya juga melihat bahwa orang yang mampu mengendalikan dirinya akan menemukan kemerdekaan yang sesungguhnya. Benarlah, Abah. Waktu telah menjadi guru yang menjelaskan setiap nasihat yang dahulu belum sanggup saya pahami.
Hari ini, ketika saya menelaah data demi data untuk memikirkan masa depan desa-desa agar menjadi lebih mandiri dan lebih sejahtera, saya sadar bahwa semua itu sesungguhnya berakar dari pelajaran sederhana yang Engkau tanamkan sejak saya kecil. Membangun desa, membangun masyarakat, bahkan membangun bangsa, pada akhirnya selalu dimulai dari membangun manusia yang mampu mengalahkan hawa nafsunya.
Terima kasih, ya Allah. Engkau telah menghadirkan seorang Abah yang mungkin hidup dengan segala keterbatasan, tetapi tidak pernah miskin kasih sayang. Engkau telah memberinya waktu untuk bercanda bersama anak-anaknya, mendidik mereka dengan kesederhanaan, dan meninggalkan petuah yang nilainya semakin besar seiring bertambahnya usia.
Abah, semoga Engkau berbahagia bersama Mbah dan orang-orang yang Engkau cintai di alam sana. Semoga Allah melapangkan kuburmu, menerangi tempat istirahatmu dengan cahaya iman, menerima seluruh amal baikmu, mengampuni segala khilafmu, dan mempertemukan kita kembali di surga-Nya kelak.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.








