Jogjakarta selalu kutemui dalam keadaan tak pernah usai. Ia seperti kalimat yang sengaja dipatahkan di tengah baris, kemudian memaksaku kembali ingin kembali di setiap kali ingin menuntaskan maknanya. Malam ini aku datang bersama istriku dan doa anak kami. Malam minggu, ketika kota-kota lain menampilkan cahaya, Jogja masih memilih berjalan pelan-pelan, seolah tak ingin menyambut siapa pun yang hendak datang.
Alasan kami kali ini sederhana, tapi cukup berat, mengantarkan anakku memulai hidup barunya. Ia akan melanjutkan studi S2 di Universitas Gadjah Mada. Ya sederhana karena saya pikir hanya pindah kota dan tak akan lama; tapi dalam menyebutnya terasa berat karena siapa pun orang tua akan selalu tahu, bahwa setiap kepergian anak adalah latihan paling sunyi dalam belajar merelakan.
Kami berniat menginap semalam. Namun Jogja sedang penuh sesak, bukan oleh wisatawan semata, melainkan oleh kerinduan yang mungkin tak tertampung. Empat hotel kudatangi, semuanya menutup pintu, meskipun dengan senyum yang sama, tapi tetap saja terasa pahit di dada. untunglah akhirnya kami menemukan Hotel Tembok Batu . Namanya terasa tepat, tampak kukuh, meskipun tetap terlihat sederhana dan bersahaja, dan tidak berusaha mengesankan apa pun. Kami masuk seperti orang-orang yang tak ingin menuntut lebih dari sekedar tempat untuk berhenti sejenak.
Alasan lain perlu menginap karena anak lanangku ingin ke Malioboro. Aku tetap harus mengangguk. Malioboro memang selalu menjadi alasan yang tak perlu dijelaskan. Sejak sore kami berjalan melewati malam. Malioboro kini lebih rapi, lebih bersih, lebih tenang. Trotoarnya lapang, orang-orang berjalan tanpa saling menyikut, dan udara terasa jernih, tanpa asap rokok yang dulu akrab dengan jalan ini. Untuk sesaat, aku merasa kota ini sedang belajar mencintai dirinya sendiri.
Namun setiap kota, seperti manusia, menyimpan kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Saat kami hendak memarkir kendaraan, seseorang mendekat. Suaranya rendah, seolah menawarkan rahasia. Dua puluh ribu, katanya. Sampai jam delapan. Yang lain menyebut tiga puluh ribu, dengan nada yang lebih yakin. Tak ada papan, tak ada penjelasan. Hanya malam dan angka-angka yang digantung di setiap tiang lampu Malioboro.
Aku memutar kendaraan dua kali. Seperti pembaca yang sedang menolak menerima makna pertama dan ingin membaca ulang. Akhirnya kulihat tulisan kecil yang terasa tenang, Parkir Wisata Malioboro, setelah ditanya harganya Rp15.000 . Angka yang saya kira paling jujur, dan orangnya tampak selalu memberi rasa aman. Kami meninggalkan kendaraan dan berjalan, membiarkan kaki kami berbincang kembali dengan kota Keraton ini.
Kami makan sederhana. Minum kopi pahit panas pastinya. Membeli batik yang kelak akan mengingatkan kami pada malam ini. Membawa pulang kue khas Jogja, sekedar oleh-oleh yang selalu terasa seperti permintaan maaf karena harus pergi. Di sebuah warung, saya berbincang dengan penjualnya. Dari percakapan yang tak direncanakan itu, sebuah ironi pelan-pelan muncul. Ada parkir resmi lain, katanya. Tarifnya lima ribu. Dihitung per jam. Kalau sampai sepuluh jam malam, paling sepuluh ribu.
Aku membayangkannya. Bukan karena selisih uang. Melainkan karena rasa yang tak bisa dihitung. Kota yang kupelajari sebagai kota budaya, kota unggah-ungguh, ternyata masih menyisakan sudut-sudut kecil yang gelap, bukan karena kurang cahaya, tetapi karena terlalu lama dibiarkan tukang parkir menguasai jalan.
Kami pulang malam dari Malioboro tanpa ribut. Anak-anakku tertawa kecil, istriku berjalan di sampingku. Aku menoleh ke Malioboro untuk terakhir kalinya malam ini. Kota ini tetap cantik. Tetap memikat. Tetapi seperti kisah lama, ia juga masih menyisakan luka kecil yang tak pernah benar-benar sembuh. Aku tahu, mungkin aku akan kembali. Saya akan kembali karena banyak alasan di sini. Tetapi setiap kali, aku berharap Jogja bukan hanya rapi di mata, melainkan juga jujur di rasa. Sebab kota hidup dari kepercayaan kecil yang tak boleh dikhianti.








