Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Kak Tuan Syamsuddin: “Musuh” yang Kudengar, Saudara yang Kukenal

Kak Tuan Syamsuddin: “Musuh” yang Kudengar, Saudara yang Kukenal

Zenrif Oleh Zenrif
12 Jun 2026
dalam Cerita Pendek, KYAI DAN PESANTREN, Sejarah Tokoh
0
Bagikan ke FacebookBagikan ke Whatsapp

Saya adalah anak turun Bani Isma’il. Secara genealogis, saya berasal dari leluhur dan daerah yang sama dengan Kak Tuan Syamsuddin bin Abdul Aziz. Namun, sejak kecil saya sangat jarang datang ke wilayah Ombul, tanah yang menjadi bagian penting dari sejarah keluarga besar kami.

Kenangan pertama yang masih tersimpan dalam ingatan saya terjadi ketika menghadiri sebuah acara pernikahan di rumah Bek Tuan Abdul Aziz, ayahanda Kak Tuan Syamsuddin. Saya sudah tidak ingat pernikahan siapa yang sedang berlangsung saat itu. Akan tetapi, ada satu peristiwa yang begitu membekas.

Baca lainnya

KYAI, PESANTREN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS (2)

KYAI, PESANTREN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS (2)

1 Jun 2026
KYAI, PESANTREN  DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS (1)

KYAI, PESANTREN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS (1)

1 Jun 2026

Bek Tuan Abdul Aziz sedang marah-marah di dapur. Saya lupa apa penyebabnya, tetapi suasana ketika itu sangat menegangkan. Orang-orang yang berada di dapur tampak khawatir dan takut. Barangkali ada sesuatu yang dianggap kurang baik dalam pelayanan kepada para tamu. Namun ketika saya datang bersama Mbah Suryati, suasana berubah seketika. Bek Tuan Abdul Aziz langsung berhenti marah. Bahkan beliau sempat mendapat teguran dari Mbah Suryati. Yang menarik bagi saya, beliau tidak membantah sedikit pun. Beliau langsung diam dan menemui Mbah Suryati dengan sikap yang jauh lebih tenang.

Peristiwa kedua yang saya ingat adalah ketika berkunjung ke rumah Ummi Sa’idah, yang lokasinya dekat dengan makam Mbah Syamsuddin, tempat yang kini juga menjadi peristirahatan terakhir Kak Tuan Syamsuddin. Saya tidak banyak mengingat detail kunjungan itu, kecuali suasana mushalla yang ramai ketika Abah menjadi imam shalat Maghrib. Saya datang ke sana karena Abah Ahmad Zayyadi berada di rumah tersebut.

Pada masa itu, saya belum mengenal Kak Tuan Syamsuddin.

Nama Kak Syam baru saya dengar setelah Abah berpisah dengan Ummi Sa’idah, yang tidak lain adalah kakak perempuan beliau. Namun, nama yang saya dengar ketika itu sama sekali bukan nama yang menghadirkan kesan baik. Yang sampai kepada saya adalah cerita bahwa Kak Syam pernah mengejar Abah dengan keris sehingga membuat Abah tidak berani pulang ke wilayah tersebut.

Sebagai anak kecil, saya tentu tidak memiliki kemampuan untuk memverifikasi cerita. Yang saya dengar itulah yang saya percaya.

Setelah itu, Ombul seolah hilang dari kehidupan saya. Saya tidak lagi mendengar kabar tentang daerah itu maupun tentang Kak Syam. Yang saya kenal hanyalah keluarga Bani Isma’il yang berada di Malang. Dengan keluarga di Malang, hubungan saya bukan sekadar hubungan kekerabatan, tetapi juga hubungan keilmuan dan keguruan.

Pertemuan saya kembali dengan Ombul yang sesungguhnya dimulai ketika saya mengenal Kak Ahmad, atau yang akrab kami panggil Kak Mat. Beliaulah yang kemudian banyak memperkenalkan saya kembali kepada keluarga besar di Ombul. Melalui Kak Mat pula saya mulai mengenal Kak Syam.

Kedekatan kami semakin intens ketika saya memutuskan untuk melakukan penelitian tentang Bani Isma’il. Sebagai seorang akademisi, saya merasa tidak cukup hanya mengenal sejarah keluarga dari satu sisi saja. Saya membutuhkan informasi yang lebih luas dan lebih utuh. Karena itulah saya mulai sering datang ke Ombul.

Apalagi setelah Kak Muhammad kembali menetap di wilayah itu.

Setiap kali saya datang, Kak Mat selalu bercerita tentang Kak Syam. Cerita-cerita itu membuat saya merasa perlu berkenalan lebih dekat. Saya pun beberapa kali menginap di sana, bahkan sampai berhari-hari.

Dari situlah saya mulai mengenal Kak Syam yang sebenarnya.

Saya mengenal wataknya, semangat hidupnya, dan prinsip-prinsip perjuangannya.

Kak Syam adalah sosok yang sangat idealis. Beliau memegang teguh ajaran dan prinsip yang diwariskan oleh para leluhurnya. Beliau tidak mudah dipengaruhi oleh pandangan siapa pun. Mungkin karena konsistensi itulah banyak orang mengenalnya sebagai pribadi yang keras.

Akan tetapi, kesan keras itu tidak pernah saya rasakan secara langsung.

Sebaliknya, saya merasa nyaman berada di dekat beliau. Ada banyak pandangan yang kami sepakati bersama, meskipun tidak sedikit pula yang berbeda. Beliau sering meminta saya membantu beberapa hal, terutama yang berkaitan dengan dakwah dan perjuangan Islam. Saya masih ingat bagaimana beliau pernah meminta saya memperbanyak CD tentang perjuangan Islam dan bahaya kristenisasi untuk disebarkan ke berbagai tempat.

Semangat keislaman beliau sangat besar.

Jika ada yang menjadi perbedaan antara kami, perbedaan itu lebih terletak pada metode, bukan pada tujuan.

Menariknya, selama saya mengenal beliau, hampir tidak pernah saya mendengar Kak Syam berbicara tentang urusan dunia. Tidak tentang harta, tidak tentang bisnis, dan tidak tentang kepentingan pribadi.

Bahkan ketika beliau menginap di rumah saya, yang beliau ceritakan hanyalah agama, ilmu, tradisi para kiai, akhlak, dan kecintaan kepada Rasulullah saw.

Suatu ketika saya pernah mengusulkan agar beliau menghidupkan kembali pesantrennya dan mengembangkannya menjadi pesantren pertanian. Menurut saya, penguatan ekonomi umat bisa menjadi salah satu cara menjaga keberlangsungan dakwah.

Beliau tertawa terbahak-bahak mendengar usulan saya.

Dalam pandangan beliau, gagasan saya masih terlalu duniawi.

Ketika saya mencoba menjelaskan bahwa dunia juga dapat menjadi sarana menjaga agama, beliau menjawab dengan keyakinan yang sangat kuat:

“Agama dijaga oleh iman dan takwa, bukan oleh harta dan dunia.”

Kalimat itu hingga hari ini masih terngiang dalam ingatan saya.

Beberapa tahun terakhir, saya memang mulai mengambil jarak dari aktivitas keluarga besar Bani Isma’il. Saya memandang bahwa banyak perkumpulan keluarga pada akhirnya hanya menjadi tempat berkumpulnya orang-orang, bukan tempat menyatukan hati, visi, dan langkah perjuangan.

Saya sering merasa bahwa silaturahim keluarga tidak selalu menghasilkan perubahan yang nyata. Bahkan terkadang justru menjadi ruang munculnya fitnah dan konflik.

Namun dalam hal ini, Kak Syam memiliki pandangan yang berbeda.

Beliaulah yang terus mengingatkan saya bahwa perkumpulan keluarga tetap memiliki nilai dan fungsi yang penting. Menurut beliau, silaturahim memiliki kekuatan yang kadang tidak terlihat dan tidak selalu dapat diukur secara langsung.

Karena itu, beliau tidak pernah berhenti mengajak saya untuk tetap dekat dengan keluarga besar Bani Isma’il.

Beliau sering mengirim pesan, video, maupun pesan suara melalui WhatsApp pribadi. Kadang saya merespons, kadang saya abaikan. Namun beliau tidak pernah berhenti mengingatkan.

Hingga tibalah malam itu.

Menurut istri saya, malam itu terasa dingin. Namun anehnya saya justru merasa sangat panas. Saya berpindah-pindah tempat tidur, keluar rumah, mencoba memejamkan mata, membaca shalawat, tetapi tetap tidak bisa tidur.

Hingga sekitar pukul setengah dua dini hari, saya akhirnya tertidur.

Dalam tidur singkat itu, Kak Syam hadir dalam mimpi saya.

“Jhek ajelenan, Cong. Sengkok yak la e jemput.”

(Jangan berjalan-jalan lagi, Nak. Saya sudah dijemput.)

Saya melihat dua orang yang menurut beliau datang menjemput.

“Serah kayyeh, Kak?” tanya saya.

“Leh kakeh tak taoh. Ajiyah Mbah Syamsuddin sittungah Aba.”

(Saya tidak tahu pasti. Katanya Mbah Syamsuddin dan Aba.)

Mimpi itu sangat singkat.

Saya langsung terbangun.

Jantung saya berdebar. Saya mencoba tidur kembali, tetapi tidak bisa. Ketika melihat jam, waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Saya lalu berwudhu dan melaksanakan shalat hingga menjelang Subuh.

Pagi hari setelah Subuh, seperti biasa saya membuka telepon genggam. Kadang ada mahasiswa yang mengirim pesan atau meminta konsultasi pada malam hari.

Namun pagi itu saya menemukan sesuatu yang membuat dunia seakan berhenti berputar.

Di grup WhatsApp Bani Isma’il terdapat kabar bahwa Kak Tuan Syamsuddin wafat sekitar pukul dua dini hari.

Saya terkejut.

Saya menjerit spontan:

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”

Tangis saya pecah.

Istri saya kaget. Bahkan seorang petugas keamanan yang kebetulan melintas di depan rumah sempat berhenti karena mendengar suara tangisan dari dalam rumah.

Saya berusaha memastikan kabar itu dengan menelepon beberapa orang.

Dan kabar itu benar.

Kak Syam telah wafat.

Tangis saya semakin tidak terbendung.

Saya segera bersiap untuk berangkat melayat. Namun istri saya tidak dapat ikut karena sedang memiliki tanggung jawab pekerjaan. Anak saya juga sedang menjalankan tugas pengawasan ujian. Adik saya sedang sakit.

Saya memaksakan diri untuk berangkat sendirian.

Namun di tengah persiapan, kepala saya terasa sangat berat. Saya khawatir kondisi itu justru membahayakan perjalanan. Dengan perasaan yang sangat berat, saya akhirnya memutuskan kembali ke rumah.

Ya Allah…

Kak Syam yang pernah saya dengar dahulu ternyata sangat berbeda dengan Kak Syam yang kemudian saya kenal.

Dulu saya mengenalnya melalui cerita tentang kemarahan dan konflik.

Tetapi ketika saya mengenalnya secara langsung, saya menemukan seorang manusia yang hidupnya dipenuhi agama, ilmu, perjuangan, dan kecintaan kepada Rasulullah saw.

Beliau bukan hanya orang baik.

Beliau adalah orang yang tidak pernah lelah mengajak orang lain menuju kebaikan.

Mungkin inilah pelajaran terbesar yang beliau tinggalkan kepada saya: bahwa manusia tidak boleh dinilai hanya dari cerita yang kita dengar tentangnya. Sebab sering kali “musuh” yang kita dengar hanyalah hasil dari jarak, sementara saudara yang kita kenal adalah kenyataan yang sesungguhnya.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal baik beliau, mengampuni segala kekhilafannya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya bersama orang-orang saleh yang beliau cintai.

Dan jika benar dua orang yang datang dalam mimpi itu adalah para leluhur yang saleh, semoga mereka benar-benar menjadi penjemput beliau menuju rahmat Allah yang luas.

Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Zenrif

Zenrif

M. Fauzan Zenrif adalah Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Malang bidang perekonomian (2021 - 2026), founder KPKNU (Komunitas Pengusaha Kecil NU).

Terkait

KYAI, PESANTREN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS (2)

KYAI, PESANTREN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS (2)

Oleh Zenrif
1 Jun 2026
0

Dalam konteks kemasyarakatan, Kyai melalui pesantren sering melakukan berbagai kegiatan pelatihan berbasis komunitas bagi masyarakat umum. Dalam konteks pendidikan modern,...

KYAI, PESANTREN  DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS (1)

KYAI, PESANTREN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS KOMUNITAS (1)

Oleh Zenrif
1 Jun 2026
0

Pondok pesantren, dengan metode yang khas dan peran kyai sebagai teladan, telah lama menjadi pusat pendidikan dan pengembangan karakter bagi...

Halal Bihalal Tradisi NU: Dari Ritual Lebaran ke Etika Rekonsiliasi Bangsa

Halal Bihalal Tradisi NU: Dari Ritual Lebaran ke Etika Rekonsiliasi Bangsa

Oleh Zenrif
12 Apr 2026
0

Di tengah dinamika sosial yang kerap diwarnai polarisasi, masyarakat Indonesia memiliki satu mekanisme kultural yang relatif efektif dalam merawat harmoni,...

Menjaga Amanah Wakaf dalam Perspektif Sosio-Religius: Studi Reflektif atas Konflik dan Upaya Sertifikasi Pamanda KH. Abdul Hanan As’ad Isma’il

Menjaga Amanah Wakaf dalam Perspektif Sosio-Religius: Studi Reflektif atas Konflik dan Upaya Sertifikasi Pamanda KH. Abdul Hanan As’ad Isma’il

Oleh Zenrif
4 Apr 2026
0

Namanya KH. Abdul Hannan bin KH. As’ad bin KH. Isma’il, di lingkungan kami akrab dikenal berasal dari Bujek en. Seperti...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS