IBuku bernama Hanifah, putri dari Bapak Arsin, H. As’ad, seorang yang oleh banyak orang lain dipanggil Kyai Haji As’ad. Namun ibuku sendiri tak pernah menjadi siapa-siapa selain dirinya, seorang perempuan biasa. Justru di situlah keagungannya bersemayam.
Aku masih mengingat masa itu dengan ingatan yang tak akan pernah sepenuhnya pudar. Saat sebelum Beliau pergi ke tanah suci, lalu menetap di sana bertahun-tahun, sekitar tiga belas tahun lamanya, rumah kami tidak pernah menjadi sepi. Ibukulah yang mengurus sawah karena sawah menuntut diurus, sedangkan kakek tak pernah lagi ke sawah. Padi tetap menunggu ditanam, dirawat, dan dipanen. Dan orang yang paling sering diminta Mbah As’ad untuk turun ke sawah bukanlah para lelaki, karena semua anak laki-lakinya masih di pesantren. Buku. Ya ibuku yang bernama Hanifah itu.
IBuku pergi menemani Mak Nikmah dan para petani lainnya. Ia menunggu petani yang menanam padi. Ia juga merawat tanaman dengan kesabaran yang sama seperti saat ia merawat luka-luka kecil di lutut kami. Dan ketika panen tiba, ibuku pula yang membagi hasilnya, adil, tanpa suara tinggi, tanpa merasa lebih tinggi. Ia menyisihkan zakat dari hasil panen itu dengan ketelitian yang nyaris seperti Beliau sedang tertidur. Seolah-olah dia tahu, keberkahan bukan soal banyaknya padi, tetapi tentang kejujuran pada hak orang lain.
Aku masih bisa membayangkan aku menaiki cikar, kendaraan besar seperti truk, ditarik dua ekor sapi, di atas tumpukan padi dari sawah menuju rumah. Panas. Debut. Peluh. Namun tak pernah kulihat ibuku menunduk karena malu. Wajahnya justru cerah. Ada kebanggaan yang tenang, kebahagiaan yang tidak memerlukan penonton.
iBuku tidak pernah mengatakan bahwa ia kuat. Tapi aku tahu, dia memilih menderita daripada melihat orang lain sengsara, terutama untuk anak-anaknya. Ia menyimpan lapar di balik senyum, menyimpan lelah di balik gerak yang terus bekerja. Jika ada kebahagiaan yang bisa dibagikan, ibuku akan membaginya terlebih dahulu, lalu bertanya apakah masih ada sisa untuk dirinya sendiri.
iBuku tidak pandai menjaga jarak. Ia terlalu percaya pada kebaikan manusia. Karena itulah ia sering ditipu. Sering disakiti. Sering dikecewakan oleh mereka yang justru paling sering ia bantu. Namun tak pernah kudengar ia menyesali perbuatannya. Bahkan di dalam batinku, Ia tidak belajar dari pengkhianatan untuk menjadi keras. Justru Ia belajar darinya untuk tetap lembut. Kadang-kadang aku bertanya dalam diam, dari mana aku memperoleh kekuatan seperti itu? Barangkali dari masa lalu yang mengajarinya. Dari padi yang mengajarinya merunduk. Dari iman yang tidak banyak bicara, tetapi bekerja tanpa henti.
iBuku memang bukan perempuan besar dalam buku sejarah. Namanya tak tercatat di papan kehormatan. Namun jika dunia ini masih bisa berjalan tanpa runtuh, barangkali karena perempuan-perempuan seperti ibu, yang memikul kehidupan tanpa mengeluh, yang memberi tanpa perhitungan, yang disakiti tetapi tetap memilih menjadi baik.
iBuku bernama Hanifah. Bagiku itulah nama lain dari kesalehan yang hidup. Sudah lama senyumnya tak kulihat seindah malam ini bersama kedua cucunya, Fira dan Fika. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah Engkau telah menghadirkan ak dari rahim seorang yang shalihah dan berada dilingkungan pesantren sehingga ku tetap berusaha menjadi santri hingga hari ini dan semoga kelak hingga aku mati. Terima kasih ibu atas senyumanmu malam ini.
Halal Bihalal Tradisi NU: Dari Ritual Lebaran ke Etika Rekonsiliasi Bangsa
Di tengah dinamika sosial yang kerap diwarnai polarisasi, masyarakat Indonesia memiliki satu mekanisme kultural yang relatif efektif dalam merawat harmoni,...








