Pertanyaan “Apa?”
Manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan rasa keingintahuan (curiosity).[1] Akan tetapi, keingintahuan tidak hanya dimiliki manusia. Hewan juga memiliki rasa keingintahuan tersebut.[2] Beberapa alat inderawi yang diberikan Allah swt kepada semua makhluk memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Manusia dengan kemampuan nalar yang diberikan padanya memberikan titik pembeda antara manusia dan hewan.[3] Namun peringkat tertinggi dari pembeda kemampuan manusia dengan hewan, bukan pada budaya yang diciptakannya,[4] melainkan pada tatanan moralitas yang dibangun berdasarkan atas kekayaan pengetahuannya.[5]
Dalam filsafat ilmu, pertanyaan “apa?” merupakan pertanyaan pertama yang muncul dalam pikiran manusia, disebut ontologi. Keingintahuan manusia, berbeda dengan keingintahuan hewan, tidak hanya bersifat konkrit dan tampak, namun juga yang abstrak dan tidak tampak. Keingintahuan tentang yang konkrit menghasilkan Filsafat Empirik-Materialistik, lalu sain dan teknologi. Sedangkan keingintahunan yang abstrak dan tidak tampak menghasilkan filsafat metafisik-idealistik, kemudian pengetahuan normatif.
Al-Qur’an menggambarkan rasa keingintahuan Ibrahim dalam QS. al-An‘am (6): 75 – 79 berikut:
وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ (75) فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ (76) فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ (77) فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَاقَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (78) إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ)79 (
(75) Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim kerajaan (kekuasaan dan tanda-tanda kebesaran) langit dan bumi, agar ia termasuk orang-orang yang meyakini (dengan penuh keyakinan).
(76) Maka ketika malam telah menjadi gelap atasnya, ia melihat sebuah bintang, lalu ia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bintang itu terbenam, ia berkata, “Aku tidak menyukai yang terbenam.”
(77) Kemudian ketika ia melihat bulan terbit, ia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam, ia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk kaum yang sesat.”
(78) Kemudian ketika ia melihat matahari terbit, ia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Maka ketika matahari itu terbenam, ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).”
(79) Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dia yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus (hanif), dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”
Al-Qur’an juga menggambarkan rasa keingintahuan Nabi Ibrahim tentang proses penciptaan dari yang sudah ada dalam QS, al-Baqarah (2):260:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَى كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Dan ketika Ibrahim berkata, ‘Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati,’ Dia berkata, ‘Tidakkah engkau percaya?’ Ibrahim menjawab, ‘Ya, tentu saja, tetapi agar hatiku tenang.’ Dia berkata, ‘Tangkaplah empat ekor burung. Kemudian potong-potonglah mereka, dan letakkan sebagian dari mereka di setiap gunung, lalu panggil mereka; mereka akan datang kepadamu dengan cepat. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.
Pengertian Surat al-Fatihah
Sebelum menjelaskan tentang isi dari Surat al-Fatihah, terlebih dahulu saya ingin menjelaskan tentang pengertian surat. Surat dalam kaitannya dengan al-Qur’an dapat diberikan pengertian secara etimologis (lughawiy) dan terminologis (ishthilahiy). Dalam pengertian etimologis surat terambil dari سورالمدينة. Penamaan nama surat dengan سور المدينة karena kesamaannya dalam لإحاطتها بآياتها dan perkumpulannya seperti kumpulan rumah-rumah dengan بالسور . Kata surat juga bisa terambil dari kata al-Tasawwur (التسوّر), berarti meningkat (التصاعد) dan tersusun (التركيب). Penyamaan istilah ini digunakan karena kesamaan dalam hal ketinggian derajat dari surat dan derajat orang yang membacanya. Berangkat dari sini, kata surat juga digunakan untuk menyebutkan tempat yang tinggi. Al-Nabighah mengatakan: “ألم تر أن الله أعطاك سورة ترى كل ملك حولها يتذبذب” (tidakkah kamu memahami bahwa Allah swt. telah memberikan padamu سورة (tempat yang tinggi) yang dari sana kamu dapat melihat setiap kerajaan yang ada di sekitarnya يتذبذب (berosilasi, bervibrasi atau bergetar).[6]
Secara terminologis, surat berarti kumpulan ayat-ayat al-Qur’an sebagai petanda memulai dan mengakhiri pembacaan al-Qur’an (طائفة من الآيات القرآنية لها بدء ونهاية).[7] Lebih detail lagi, sebagaimana disampaikan ‘Adil bin Muhammad Abu al-‘Ala’, surat adalah bagian dari al-Qur’an yang ditentukan dengan permulaan dan akhiran yang tidak berubah, diberikan nama secara khusus, berisikan minimal 3 (tiga) ayat atau lebih, dengan tujuan yang sempurna, yang darinya menjadi mudah dipahami makna dari ayat-ayat yang terdapat di dalamnya, berangkat dari sebab turun atau tema-tema dari ayat-ayat yang memiliki makna yang berhubungan. [8]
Dari beberapa definisi yang disampaikan para ulama’, Abdullah bin Yusuf bin ‘Isa bin Ya’qub al-Ya’qub menyimpulkan ada tiga pandangan tentang alasan mengapa surat dalam al-Qur’an diberi nama surat.
- Surat disebut dengan nama surat karena posisinya sebagai bangunan. Surat al-Qur’an diberi nama surat karena kedudukannya menunjukkan pada posisi kedudukan setelahnya, menjadi pemisah dari lainnya, atau menunjukkan pada posisi dari lainnya.
- Surat dalam al-Qur’an disebut dengan surat karena kemulyaan dan kedudukannya, sebagaimana yang disampaikan al-Nabighah di atas. Oleh sebab itu, surat dalam al-Qur’an disebut dengan surat disebabkan kemulyaan dan kedudukannya.
- Kata surat berasal dari kata سؤرة (su’ratun), yakni sebagian dari sesuatu. Hamzah pada kata سؤرة dibuang untuk mempermudah cara membaca dan dikarenakan banyaknya penyebutan dalam bahasa sehari-hari dan juga dalam al-Qur’an. Berangkat dari sini, kata السّورة dalam al-Qur’an artinya bagian dari al-Qur’an.[9]
والسورة: الطائفة المترجمة توقيفاً، المترجمة توقيفاً، المترجمة توقيفاً، الطائفة من القرآن، سورة طائفة، قطعة من القرآن قد تطول فتعادل واحد على اثني عشر من القرآن، وقد تقصر فتكون في سطرين، هي طائفة مترجمة يعني لها عنوان ترجمة، الترجمة يراد بها العنوان، سورة الفاتحة، سورة البقرة، سورة آل عمران وهكذا، مترجمة بجزء منها، أو بشيء أو بلفظ ذكر فيها، بلفظ ذكر فيها، سورة البقرة ترجمت بالبقرة التي ذكرت قصتها فيها.
“Surah adalah suatu kelompok ayat Al-Qur’an yang penamaannya bersifat tauqīfī (ditetapkan berdasarkan ketentuan wahyu). Ia merupakan satu kesatuan bagian dari Al-Qur’an. Surah adalah suatu bagian atau potongan dari Al-Qur’an; terkadang panjang sehingga dapat mencapai sekitar seperdua belas dari keseluruhan Al-Qur’an, dan terkadang pendek hingga hanya terdiri dari dua baris saja.
Ia disebut ‘diterjemahkan’ (mempunyai tarjamah) dalam arti memiliki judul atau nama. Yang dimaksud dengan ‘tarjamah’ di sini adalah judul atau penamaan. Misalnya Surah al-Fātiḥah, Surah al-Baqarah, Surah Āli ‘Imrān, dan seterusnya. Penamaan itu diambil dari sebagian kandungannya, atau dari suatu hal, atau dari suatu lafaz yang disebutkan di dalamnya.
Sebagai contoh, Surah al-Baqarah dinamai demikian karena adanya kisah tentang sapi betina yang disebutkan di dalamnya.”
ينكر بعضهم إضافة السورة إلى الترجمة مباشرة؛ لأنه يوحي بالحصر وإنه ليس فيها إلا ما ذكر في الترجمة؛ لأن الترجمة في الأصل كالعنوان للشيء، وكم تشكل كلمة البقرة أو قصة البقرة من سورة البقرة؟ شيء يسير جداً، إذاً العنوان لا تتم مطابقته لما عنون له، إذاً يقال: وقد قال به بعضهم: السورة التي تذكر فيها البقرة، السورة التي يذكر فيها آل عمران، السورة التي يذكر فيها الكهف وهكذا، لكن النصوص الشرعية الصحيحة عن النبي -عليه الصلاة والسلام- جاءت من غير القيد المذكور، واستدل الإمام البخاري -رحمه الله تعالى- على جواز ذلك بقول ابن مسعود -رضي الله عنه-: “ها هنا وقف الذي أنزلت عليه سورة البقرة”، وجاء في النصوص من لفظه -عليه الصلاة والسلام- سورة كذا، سورة كذا.
“Sebagian ulama tidak menyetujui penyandaran (penyebutan) surah secara langsung kepada judulnya, karena hal itu dapat memberi kesan pembatasan, seakan-akan isi surah tersebut hanya terbatas pada apa yang disebut dalam judulnya. Padahal, pada asalnya ‘tarjamah’ (judul) itu hanyalah seperti penamaan atau tanda pengenal bagi sesuatu.
Seberapa besar sebenarnya porsi kata al-Baqarah atau kisah sapi betina dalam Surah al-Baqarah? Sangat sedikit sekali. Dengan demikian, judul tidak sepenuhnya mencerminkan seluruh isi yang diberi judul tersebut.
Karena itu, sebagian mereka berpendapat sebaiknya dikatakan: ‘surah yang di dalamnya disebut kisah sapi’, ‘surah yang di dalamnya disebut keluarga ‘Imran (Āli ‘Imrān)’, ‘surah yang di dalamnya disebut kisah al-Kahf’, dan seterusnya.
Akan tetapi, nash-nash syar‘i yang sahih dari Nabi saw datang tanpa batasan seperti yang disebutkan tersebut. Imam al-Bukhari rahimahullah berdalil atas bolehnya penyebutan langsung itu dengan perkataan Ibn Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu: ‘Di sinilah berdiri orang yang kepadanya diturunkan Surah al-Baqarah.’
Demikian pula dalam berbagai nash terdapat ungkapan langsung dari Nabi saw seperti: ‘Surah ini’, ‘Surah itu’, dan seterusnya.”
فلا اعتبار بهذا القول، توقيفاً يعني وليس اجتهاداً، توقيفاً، فالتسمية، أسماء السور توقيفية، النبي -عليه الصلاة والسلام- إذا أنزل إليه الآية أو الآيات قال: اكتبوها في سورة كذا، اكتبوها في سورة كذا، أنزلت علي سورة كذا، فالأسماء توقيفية، لكن يرد عليه أن بعض الأسماء لم يرد فيها دليل صحيح مرفوع، وإن تداوله أهل العلم بدءً من السلف إلى يومنا هذا، فينظر إلى محتوى السورة ويعبر بجزء منها، فالتوبة على سبيل المثال سماها السلف الفاضحة؛ لأن فيها فضح للمنافقين، المقصود أن قوله: توقيفاً يقصد بذلك الأسماء التي جاءت بها الأخبار، وهي المثبتة في المصحف، واتفق الناس على كتابتها في أوائل السور، هذا التوقيف، أما الأسماء الأخرى التي يتداولها العلماء في كتبهم وفي تفاسيرهم وتسمى سورة كذا، ويطلق عليها كذا وكذا، فيها التوقيف، وفيها الاجتهاد لما تتضمنه هذه السورة، نعم.
Pendapat tersebut tidak dapat dijadikan pegangan. Yang dimaksud dengan tauqīfī adalah bahwa penetapan itu bersifat berdasarkan ketentuan wahyu, bukan hasil ijtihad. Jadi, penamaan surah-surah itu bersifat tauqīfī.
Apabila suatu ayat atau beberapa ayat diturunkan kepada Nabi saw, beliau bersabda: ‘Tuliskan ayat-ayat ini dalam surah ini,’ atau ‘Tuliskan dalam surah itu,’ dan beliau juga bersabda, ‘Telah diturunkan kepadaku surah ini.’ Dengan demikian, nama-nama surah adalah bersifat tauqīfī.
Namun demikian, dapat dikemukakan keberatan bahwa sebagian nama surah tidak terdapat dalil sahih yang marfū‘ (bersambung langsung kepada Nabi saw), meskipun nama-nama tersebut telah digunakan oleh para ulama sejak generasi salaf hingga hari ini. Dalam hal ini, nama surah terkadang diambil dari kandungannya dan diungkapkan berdasarkan sebagian isinya.
Sebagai contoh, Surah at-Taubah oleh para ulama salaf juga disebut al-Fāḍiḥah (yang membuka aib), karena di dalamnya terdapat penyingkapan kemunafikan orang-orang munafik.
Intinya, yang dimaksud dengan ‘tauqīfī’ adalah nama-nama yang ditetapkan berdasarkan riwayat-riwayat yang sahih dan yang tercantum dalam mushaf, serta telah disepakati penulisannya di awal setiap surah. Itulah yang bersifat tauqīfī.
Adapun nama-nama lain yang digunakan para ulama dalam kitab-kitab dan tafsir mereka—yang menyebut surah ini dengan nama tertentu atau julukan tertentu—maka sebagian di antaranya bersifat tauqīfī dan sebagian lainnya merupakan hasil ijtihad berdasarkan kandungan surah tersebut.[10]
Surat terpanjang dalam Mushahaf Utsmany adalah al-Baqarah dan surat terpendek adalah surat al-Kautsar.[11] Ayat terpanjang dalam al-Qur’an adalah ayat 282 surat al-Baqarah, ayat tentang hutang piutang, sedangkan ayat terpendek ialah ayat “والضحى” و”الفجر”. Lafadh yang terpanjang tulisan dan lafadhnya, ialah فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ .[12]
[1] Dalam Webster diartikan dengan inquisitive interest in others’ concerns (minat ingin tahu dalam perhatian orang lain),interest leading to inquiry (minat yang mengarah kepenyelidikan), dan one that arouses interest especially for uncommon or exotic characteristics (salah satu yang membangkitkan minat, terutama untuk karakteristik yang tidak biasa atau eksotis). Diakses dari https://www.merriam-webster.com/dictionary/curiosity#h1.
[2] Diskusi panjang mengenai sejarah perkembangan psikologi dan keingintahuan hewan, sebagai salah satu bagian dari perhatian dan keingintahuan manusia terhadap hewan, bisa ditemukan dalam misalnya, Wojciech Pisula, Curiosity and Information Seeking in Animal and Human Behavior (USA: BrownWalker Press, 2009).
[3]Baca dalam فريدريك كابلن وجورج شابوتييه, الإنسان والحيوان والآلة: إعادة تعريف مستمرة للطبيعة الإنسانية (القاهرة: مؤسسة هنداوي للتعليم والثقافة, 2015); terjemahan Bahasa Arab dari karya Frédéric Kaplan and Georges Chapouthier dengan judul Man Animal and Machine: A Continuous Redefinition of Human Nature.
[4]Manusia memang makhluk yang berbudaya, tetapi hewan juga memiliki budayanya sendiri. Ilmu yang membahas tentang ini antara lain animal anthropology. Baca misalnya dalam Molly Mullin, Animals and Anthropology (Leiden: Koninklijke Brill NV, 2002)
[5] السيد محمد المنتظرالسعبيري, محكمة بين الانسان والحيوان (شارك الكتاب مع الآخرين, 2015)
[6]محمد بكر إسماعيل, دراسات في علوم القرآن (Cet. II; دار المنار, 1999 M./1419 H.), 56.
[7]محمد بكر إسماعيل, “دراسات,” 56.
[8]عادل بن محمد أبو العلاء, مصابيح الدرر في تناسب آيات القرآن الكريم والسور(Cet. 129; الجامعة الإسلامية بالمدينة المنورة, 1425 H.), 24.
[9]عبد الله بن يوسف بن عيسى بن يعقوب اليعقوب الجديع العنزي, المقدمات الأساسية في علوم القرآن (Cet I; مركز البحوث الإسلامية ليدز – بريطانيا, 2001 M./1422 H.), 13.
[10]عبد الرحمن بن أبي بكر، جلال الدين السيوطي, diberikan syarah عبد الكريم بن عبد الله بن عبد الرحمن بن حمد الخضير, شرح مقدمة التفسير (النقاية) للسيوطي (دروس مفرغة من موقع الشيخ الخضير), 8.
[11]خالد بن عبد الرحمن بن علي الجريسي, معلم التجويد, 217.
[12]فهد بن عبد الرحمن بن سليمان الرومي, دراسات في علوم القرآن الكريم (حقوق الطبع محفوظة للمؤلف, 2003 M/1424 H.), 121.








