Menjadi Arus Besar Kebaikan NU: Dari Kekisruhan Muktamar Menuju Masa Depan Khidmah

Ada sebuah pengalaman batin yang membuat saya merenung cukup dalam. Seusai melaksanakan shalat hajat dan tahajjud, saya tiba-tiba teringat dua sosok yang saat ini berada dalam ruang penting kepemimpinan Nahdlatul Ulama: KH Abdul Ghaffar Rozin, Ketua PWNU Jawa Tengah, dan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, Ketua PWNU Jawa Timur. Keduanya hadir dalam bayangan saya bukan sebagai dua orang yang sedang berada dalam kontestasi politik organisasi, tetapi sebagai dua sosok yang sedang memangku amanah di lingkungan NU.

Saya tentu tidak berani mengatakan bahwa pengalaman tersebut merupakan petunjuk pasti tentang masa depan. Perkara gaib adalah wilayah Allah. Karena itu, pengalaman setelah tahajjud dan shalat hajat tersebut saya tempatkan sebagai sebuah renungan pribadi yang kemudian mendorong saya untuk melakukan tabayyun: siapa sebenarnya kedua tokoh tersebut, bagaimana perjalanan keilmuannya, bagaimana sejarah khidmahnya, bagaimana mereka mengelola pesantren dan organisasi, serta nilai-nilai kepemimpinan apa yang dapat dipelajari dari keduanya.

Saya sendiri adalah bagian dari struktur NU di tingkat PCNU Kabupaten Malang. Namun, sejak awal dinamika menjelang Muktamar, saya tidak memiliki keinginan untuk ikut terseret ke dalam “kekisruhan,” apalagi menjadi bagian dari kubu-kubuan. Bagi saya, Muktamar NU seharusnya bukan arena untuk saling menjatuhkan, melainkan ruang musyawarah untuk mencari siapa yang paling mampu menerima amanah membawa NU menghadapi masa depan.

Justru karena itulah, saya merasa perlu melihat persoalan ini dari sudut yang lebih luas. Pertanyaannya bukan semata-mata siapa yang akan menjadi Ketua Umum PBNU atau siapa yang akan menjadi Rais ‘Am. Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah: NU seperti apa yang hendak kita wariskan kepada generasi berikutnya?

NU Tidak Boleh Kehilangan Arah karena Kontestasi

Muktamar adalah bagian penting dari tradisi organisasi NU. Kontestasi dalam batas tertentu adalah sesuatu yang wajar. Perbedaan pandangan, pilihan, strategi, dan bahkan kandidat merupakan bagian dari dinamika organisasi. Yang tidak boleh terjadi adalah ketika kontestasi membuat warga NU kehilangan orientasi terhadap tujuan yang lebih besar.

NU terlalu besar untuk dipersempit menjadi pertarungan antar-kelompok, apalagi antar-kepentingan.

NU memiliki jutaan warga, ribuan pesantren, lembaga pendidikan, perguruan tinggi, rumah sakit, lembaga ekonomi, badan otonom, organisasi profesi, jaringan ulama, santri, akademisi, pengusaha, petani, pekerja, dan masyarakat akar rumput. Semua itu jauh lebih besar daripada kepentingan satu kelompok atau satu periode kepemimpinan.

Karena itu, siapa pun yang nantinya menerima amanah kepemimpinan NU harus mampu memandang NU sebagai rumah bersama, bukan sebagai kendaraan bagi kelompok tertentu.

Di sinilah pentingnya seluruh pengurus NU mengambil posisi sebagai arus besar kebaikan.

Menjadi arus besar kebaikan berarti tidak membiarkan diri kita menjadi bagian dari polarisasi yang tidak produktif. Kita boleh memiliki pilihan, tetapi pilihan tersebut harus didasarkan pada kapasitas, integritas, rekam jejak, visi, dan maslahat bagi NU. Kita boleh berbeda pandangan, tetapi perbedaan tersebut tidak boleh menghilangkan persaudaraan.

Gus Rozin dan Tradisi Manajemen Khidmah

KH Abdul Ghaffar Rozin tumbuh dalam tradisi Pesantren Maslakul Huda Kajen dan lingkungan intelektual KH MA Sahal Mahfudh. Tradisi tersebut mempertemukan keilmuan pesantren dengan kemampuan membaca perubahan sosial dan kelembagaan.

Perjalanan Gus Rozin di lingkungan NU juga menunjukkan pengalaman panjang dalam pengelolaan organisasi dan pesantren. Ia pernah berada di RMI PWNU Jawa Tengah, kemudian dipercaya memimpin RMI PBNU, menjadi Katib Syuriyah PBNU, dan selanjutnya dipercaya sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah.

Pengalaman tersebut menjadi semakin penting karena bidang yang disentuhnya bukan hanya organisasi dalam pengertian administratif. Ia bersentuhan dengan pesantren, pendidikan, kebijakan publik, pengembangan sumber daya manusia, ekonomi, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.

Karena itu, ketika melihat Gus Rozin, yang menarik bukan semata-mata kemungkinan pencalonannya dalam Muktamar. Yang lebih penting adalah kapasitas manajerial dan pengalaman kelembagaannya.

NU ke depan membutuhkan kemampuan mengelola organisasi yang semakin kompleks. NU tidak cukup hanya memiliki banyak jamaah. NU harus mampu mengubah kekuatan jamaah menjadi kekuatan pendidikan, kesehatan, ekonomi, teknologi, filantropi, riset, dan pelayanan sosial.

Di sinilah pengalaman Gus Rozin dapat menjadi salah satu referensi tentang model kepemimpinan NU yang menggabungkan tradisi pesantren dengan kemampuan manajemen modern.

Gus Kikin dan Tradisi Keteladanan Tebuireng

Sementara itu, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin memiliki mata rantai yang sangat kuat dengan tradisi Tebuireng dan KH Hasyim Asy’ari. Ia merupakan cicit Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari melalui jalur Nyai Khoiriyah Hasyim dan Nyai Abidah Ma’shum.

Namun, kekuatan Gus Kikin tidak berhenti pada nasab. Ia menerima amanah sebagai Pengasuh Pesantren Tebuireng setelah sebelumnya mendapatkan pengalaman panjang dalam dunia manajemen dan usaha. Dalam mengelola Tebuireng, ia menghadapi tantangan besar: bagaimana mempertahankan tradisi pesantren sekaligus menjawab kebutuhan zaman.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan pesantren membutuhkan kemampuan menjaga keseimbangan antara tradisi dan perubahan.

Tebuireng bukan hanya harus menjaga warisan KH Hasyim Asy’ari, tetapi juga harus tetap relevan bagi generasi santri yang hidup dalam dunia yang berubah cepat. Karena itu, penguatan pendidikan diniyah, kajian pemikiran KH Hasyim Asy’ari, pengembangan kelembagaan, jaringan alumni, dan kemandirian ekonomi menjadi bagian dari proses menjaga kesinambungan pesantren.

Ketika Gus Kikin dipercaya memimpin PWNU Jawa Timur dalam masa transisi, pengalaman tersebut juga memberikan pelajaran penting tentang bagaimana seorang pemimpin menghadapi situasi yang membutuhkan konsolidasi. Ketika organisasi berada dalam suasana yang sensitif, keteduhan seorang pemimpin justru menjadi modal yang sangat berharga.

NU membutuhkan pemimpin yang mampu mengatakan bahwa perbedaan tidak harus berubah menjadi permusuhan.

Sistem dan Keteduhan

Jika kita membaca dua sosok tersebut secara objektif, ada sesuatu yang menarik. Gus Rozin memperlihatkan kekuatan pada pengembangan sistem, kelembagaan, pendidikan, organisasi, dan manajemen. sementara, Gus Kikin memperlihatkan kekuatan pada keteduhan, kesinambungan tradisi, pengelolaan pesantren, konsolidasi, dan kemampuan menjaga harmoni.

Tentu manusia tidak dapat disederhanakan hanya berdasarkan beberapa karakter tersebut. Namun, secara konseptual, dua karakter itu menggambarkan kebutuhan besar NU hari ini.

NU membutuhkan sistem yang kuat, tetapi sistem tanpa keteduhan dapat menjadi kaku.

NU membutuhkan keteduhan, tetapi keteduhan tanpa sistem dapat kehilangan daya transformasi.

NU membutuhkan tradisi, tetapi tradisi tanpa inovasi dapat kehilangan relevansi.

NU membutuhkan inovasi, tetapi inovasi tanpa sanad dan akar tradisi dapat kehilangan identitas.

Karena itu, masa depan NU sesungguhnya membutuhkan kepemimpinan yang mampu mempertemukan berbagai kekuatan tersebut.

Menjadi Arus Besar, Bukan Bagian dari Arus Kekisruhan

Pada titik inilah saya ingin mengajak seluruh pengurus NU, dari tingkat PBNU, PWNU, PCNU, MWCNU, hingga ranting, untuk mengambil posisi yang lebih penting daripada sekadar memilih siapa yang akan didukung.

Marilah kita menjadi arus besar kebaikan.

Arus besar kebaikan tidak berarti semua orang harus memiliki pilihan yang sama. Arus besar kebaikan berarti semua pilihan diarahkan kepada tujuan yang sama: menjaga NU, memperkuat NU, dan memastikan NU tetap menjadi organisasi yang membawa maslahat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Kita tidak perlu memperbesar isu yang dapat memecah persaudaraan. Kita tidak perlu menjadikan perbedaan pilihan sebagai alasan untuk saling mencurigai. Kita tidak perlu membangun narasi bahwa hanya kelompok kita yang paling NU. Justru semakin besar NU, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk menjaga keluasan hati.

Muktamar akan selesai. Ketua Umum akan terpilih. Rais ‘Am akan menerima amanah. Kepengurusan baru akan terbentuk. Tetapi NU akan tetap hidup jauh setelah semua kontestasi tersebut selesai. Karena itu, jangan sampai demi memenangkan satu kontestasi, kita kehilangan persaudaraan yang dibangun selama puluhan tahun.

Muktamar Harus Menghasilkan Rekonsiliasi, Bukan Sekadar Pemenang

Muktamar yang baik bukan hanya menghasilkan pemenang. Muktamar yang baik menghasilkan rekonsiliasi. Seorang pemimpin yang benar-benar besar bukanlah orang yang mampu mengalahkan kelompok lain, melainkan orang yang setelah menerima amanah mampu membuat kelompok-kelompok yang berbeda merasa bahwa NU tetap merupakan rumah mereka. Karena itu, siapa pun yang nantinya terpilih, ia harus mampu merangkul mereka yang mendukungnya maupun mereka yang tidak mendukungnya.

Begitu pula mereka yang tidak mendapatkan amanah harus memiliki kelapangan hati untuk menerima keputusan organisasi dan kembali bersama-sama mengurus NU. Inilah kedewasaan organisasi. Dalam tradisi NU, kepemimpinan bukan semata-mata tentang kekuasaan. Kepemimpinan adalah khidmah. Jabatan bukan kehormatan yang harus diperebutkan, tetapi beban amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Doa untuk Masa Depan NU

Saya tidak tahu siapa yang akan menerima amanah pada Muktamar nanti. Saya juga tidak ingin mendahului keputusan para ulama, peserta Muktamar, dan mekanisme organisasi. Tetapi saya memiliki satu doa sederhana.

“Semoga Allah memberikan kepada NU pemimpin yang paling mampu menjaga persaudaraan, memperkuat organisasi, menghormati ulama, menjaga sanad keilmuan, memajukan pesantren, mengembangkan pendidikan, memperkuat ekonomi umat, meningkatkan pelayanan kesehatan, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta membawa NU semakin bermanfaat bagi bangsa dan kemanusiaan.”

Jika Gus Kikin atau Gus  Rozin adalah bagian dari takdir terbaik bagi NU, semoga Allah memberikan jalan dan kekuatan kepada keduanya untuk menerima amanah tersebut dengan penuh keikhlasan. Jika bukan mereka, semoga Allah menghadirkan sosok lain yang lebih baik menurut kehendak-Nya.

Sebab yang harus kita perjuangkan bukan nama.

Yang harus kita perjuangkan adalah kebaikan NU.

Yang harus kita jaga bukan kemenangan kelompok.

Yang harus kita jaga adalah persaudaraan Nahdliyin.

Yang harus kita cari bukan sekadar pemimpin yang menang dalam Muktamar.

Yang harus kita cari adalah pemimpin yang setelah Muktamar mampu membuat NU menang dalam pengabdian kepada umat dan bangsa.

Dari Kita untuk NU

Mungkin inilah saatnya setiap pengurus NU bertanya kepada dirinya sendiri:

Apakah kehadiran saya dalam NU menambah kebaikan atau menambah kegaduhan?

Apakah pilihan politik organisasi saya memperkuat persaudaraan atau justru memperlebar jarak?

Apakah saya sedang membela NU, atau sedang membela kelompok saya dengan menggunakan nama NU?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena masa depan NU tidak hanya ditentukan oleh Ketua Umum dan Rais ‘Am.

Masa depan NU ditentukan oleh jutaan manusia yang setiap hari menghidupkan NU melalui pesantren, madrasah, masjid, kampus, rumah sakit, lembaga sosial, badan usaha, majelis taklim, dan kehidupan masyarakat.

Karena itu, jangan hanya menunggu siapa yang menjadi pemimpin.

Mari kita sendiri menjadi pemimpin dalam kebaikan.

Mari menjadi pengurus yang menenangkan, bukan menggelisahkan.

Mari menjadi pengurus yang menyatukan, bukan memecah.

Mari menjadi pengurus yang membangun sistem, bukan sekadar membangun pengaruh.

Mari menjadi pengurus yang bekerja, bukan hanya berbicara.

Mari menjadi pengurus yang menjaga tradisi sekaligus membuka jalan bagi masa depan.

Dan mari menjadikan Muktamar bukan sebagai akhir dari persaudaraan, tetapi sebagai awal dari arus besar kebaikan NU. Sebab pada akhirnya, NU tidak membutuhkan terlalu banyak orang yang sibuk mengatakan, “Saya paling NU.”

NU membutuhkan lebih banyak orang yang diam-diam bekerja sehingga orang lain dapat merasakan: “Alhamdulillah, NU masih menjadi rumah kebaikan.”

1 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *