Menurut Kak Tuan KH. Syamsuddin bin Abdul Aziz bin Syamsuddin, kealiman dan ketinggian spiritual seseorang, termasuk Mbah Zayyadiy, tidak pernah membutuhkan pengakuan atau pujian manusia. Ukuran kemuliaan bukanlah seberapa banyak orang menyebut namanya, melainkan seberapa kuat genggaman takwa dalam dirinya. Dalam diri pribadi seperti itu, orientasi hidup bukan pada reputasi sosial, tetapi pada bagaimana kedekatan dengan Allah SWT benar-benar diraih. Jika melalui jalan penguasaan ilmu syariat belum sepenuhnya menghadirkan kedalaman batin, maka ia akan mencoba “berenang” dalam lautan spiritualitas, menyelami dimensi hakikat yang lebih dalam.
Pada tingkatan seperti ini, yang ada hanyalah Allah SWT. Ruang dan posisi sosial menjadi relatif. Diletakkan di pusat atau di pinggiran, pribadi yang demikian tetap mampu hidup dan menghidupkan orang-orang di sekitarnya. Ia tidak bergantung pada panggung, tidak menunggu legitimasi. Keberadaannya justru menjadi sumber kehidupan moral bagi lingkungan. Inilah yang menjelaskan mengapa Mbah Zayyadiy tidak pernah mempertimbangkan apakah tempat tinggalnya berada di pusat atau di tepi. Bagi beliau, yang utama adalah Allah SWT dan penghormatan terhadap orang-orang yang memang lebih tinggi keilmuan dan spiritualitasnya.
Secara teoretis, ini menunjukkan integrasi antara epistemologi zahir dan kesadaran batin. Ilmu tidak berhenti sebagai akumulasi teks, tetapi bermuara pada transformasi diri. Dalam tradisi tasawuf, kondisi ini disebut sebagai pergeseran dari ‘ilm al-yaqin menuju ‘ayn al-yaqin, dari mengetahui menjadi menyaksikan. Ketika orientasi telah sepenuhnya transenden, maka pertimbangan duniawi seperti posisi, pengaruh, dan pengakuan menjadi tidak relevan. Yang tersisa hanyalah adab kepada Allah dan adab kepada sesama.
Itulah sebabnya, menurut Kak Tuan KH. Syamsuddin, Mbah Zayyadiy tetap selalu dihormati sekaligus menghormati orang lain. Penghormatan yang beliau terima bukan hasil klaim, tetapi konsekuensi dari kedalaman pribadi. Kepribadian, keluasan ilmu, dan ketinggian spiritualitas seperti inilah yang semestinya menjadi teladan bagi generasi setelahnya. Jangan sampai orientasi perjuangan justru bergeser pada hal-hal yang bersifat duniawi, simbolik, atau sekadar tampilan luar. Sebab pada akhirnya, yang menentukan bukan posisi kita di mata manusia, tetapi posisi kita di sisi Allah SWT.
Kepribadian spiritual Mbah Zayyadiy, sebagaimana digambarkan oleh Kak Tuan KH. Syamsuddin bin Abdul Aziz bin Syamsuddin, sangat relevan dibaca melalui kerangka pemikiran Imam al-Ghazali. Dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, al-Ghazali menjelaskan bahwa ilmu syariat (ʿilm al-muʿāmalah) adalah jalan, sedangkan tujuan akhirnya adalah maʿrifatullah. Ilmu yang berhenti pada akumulasi teks tanpa transformasi batin berpotensi melahirkan ujub, riya’, dan orientasi simbolik lainnya. Karena itu, ketika seseorang telah sampai pada fase di mana ilmu zahir belum menghadirkan ketenteraman batin, ia perlu melakukan tazkiyat al-nafs, proses penyucian diri, agar pengetahuan berubah menjadi cahaya (nūr) dalam hati. Dalam kerangka ini, nasihat agar berhenti sejenak dari membaca kitab bukanlah anti-intelektualisme, melainkan pengalihan dari epistemologi kognitif menuju epistemologi eksistensial.
Al-Ghazali juga membedakan antara ʿilm al-yaqīn (pengetahuan konseptual), ʿayn al-yaqīn (penyaksian), dan ḥaqq al-yaqīn (penghayatan total). Dorongan Mbah Zayyadiy untuk terus mencari jawaban persoalan syariat menunjukkan kedalaman ʿilm al-yaqīn. Namun ketika orientasi hidupnya beralih sepenuhnya pada “bagaimana genggaman takwa diperoleh”, itu menandakan pergeseran menuju ʿayn al-yaqīn. Pada tahap ini, pengakuan sosial tidak lagi menjadi motivasi, karena pusat kesadaran telah berpindah dari evaluasi manusia menuju muraqabah ilahiyah, kesadaran diawasi oleh Allah semata.
Jika dibaca melalui perspektif psikologi sosial modern, fenomena ini dapat dipahami melalui teori self-determination dari Edward Deci dan Richard Ryan. Mereka membedakan antara motivasi ekstrinsik (dorongan karena pengakuan, status, penghargaan sosial) dan motivasi intrinsik (dorongan karena makna dan nilai internal). Kepribadian seperti Mbah Zayyadiy menunjukkan dominasi motivasi intrinsik-transenden. Tindakan beliau, baik dalam memilih ruang pinggiran maupun dalam menuntut ilmu, tidak digerakkan oleh kebutuhan validasi sosial, tetapi oleh orientasi nilai yang telah terinternalisasi secara mendalam.
Dalam dimensi yang lebih eksistensial, pendekatan Viktor Frankl tentang logotherapy juga relevan. Frankl menegaskan bahwa manusia terdorong oleh will to meaning, kehendak untuk menemukan makna terdalam hidupnya. Pada pribadi yang matang secara spiritual, makna tidak lagi terletak pada posisi sosial, tetapi pada relasi dengan Yang Transenden. Maka ditempatkan di pusat atau di pinggiran tidak lagi menjadi variabel identitas. Identitas telah berakar pada makna yang melampaui ruang sosial.
Secara sosiologis, ini juga selaras dengan gagasan tentang symbolic humility: kemampuan menahan diri dari akumulasi modal simbolik demi menjaga kohesi moral komunitas. Dalam tradisi tasawuf, sikap ini disebut ikhlas, pemurnian niat dari kepentingan selain Allah. Dalam psikologi sosial, ia berkaitan dengan low self-monitoring identity yang stabil, identitas yang tidak berubah karena tekanan dari luar.
Dengan demikian, saya memandang bahwa keistimewaan spiritual Mbah Zayyadiy bukan sekadar kesalehan individual, tetapi integrasi antara epistemologi zahir dan transformasi batin. Dalam bahasa al-Ghazali, ilmu beliau tidak berhenti sebagai informasi, tetapi menjadi hal (keadaan spiritual). Dan dalam bahasa psikologi modern, motivasi beliau telah melampaui kebutuhan akan pengakuan eksternal. Pada titik itu, pusat orientasi hanyalah Allah SWT, dan dari orientasi itulah lahir pribadi yang mampu hidup di mana pun, tanpa kehilangan makna, tanpa kehilangan adab, dan tanpa kehilangan penghormatan dari orang lain. Ya Allah berikan sedikit saja dari apa yang telah Engkau berikan pada Mbah Zayyadiy pada anak dan cucu keturunannya, serta orang-orang yang mencitainya dan dicintainya karena Engkau. Amin…








