Ada satu lagi bagian dari perjalanan saya bersama Yai Ahmad Hariri bin Kyai Yahya Syabrowi yang sampai sekarang masih sulit saya pahami sepenuhnya. Bukan karena saya tidak mengerti apa yang beliau lakukan, tetapi karena saya sering bertanya dalam hati, mengapa seseorang yang sebenarnya mempunyai pilihan untuk mempertahankan dirinya justru memilih jalan yang membuat dirinya sendiri berada dalam posisi yang tidak nyaman, bahkan mungkin dinilai negatif oleh orang lain. Semakin saya mengenal beliau, semakin saya memahami bahwa bagi Yai Ahmad Hariri, menjaga harga diri orang lain terkadang jauh lebih penting daripada menjelaskan kepada orang lain bahwa dirinya tidak bersalah.
Pada suatu hari, seperti biasanya kalau beliau mempunyai kepentingan dengan saya, telepon beliau kembali terdengar. Setelah mengucapkan salam dan menanyakan kabar serta kesehatan saya, beliau berkata dengan suara yang khas, “Lek, sampean mon tak sibuk dek compok deggik.” Kalau Sampean tidak sibuk, nanti datang ke rumah. Seperti biasanya pula, saya menjawab, “Enggi, Kai.” Tidak banyak bertanya. Kalau beliau sudah meminta saya datang, biasanya ada sesuatu yang perlu dibicarakan.
Sore itu saya datang ke ndalem beliau. Seperti biasanya pula, beliau menyambut saya dengan senyum khasnya. “Lenggi, Lek,” katanya, mempersilakan saya duduk. Ada kopi yang kemudian menemani pembicaraan kami. Beliau menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu asapnya ditiupkan ke ujung api rokok yang sedang menyala. Saya sudah cukup mengenal kebiasaan itu. Biasanya setelah beberapa saat beliau akan mulai masuk pada pokok persoalan yang hendak dibicarakan.
Kali itu suara beliau terdengar lebih dalam. Raut wajahnya juga lebih serius. Beliau mengatakan bahwa dirinya ingin mengajak saya bermusyawarah tentang sesuatu yang sangat penting, tetapi agak pribadi. Dari cara beliau mengatakannya, saya segera memahami bahwa persoalan yang hendak disampaikan bukan persoalan ringan.
Beliau kemudian bercerita cukup panjang. Saya tidak ingin menceritakan persoalan pribadi itu di sini. Rasanya tidak elok membuka sesuatu yang dahulu disampaikan kepada saya dalam suasana kepercayaan. Ada hal-hal tertentu yang memang cukup menjadi pengetahuan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Menjaga cerita yang dipercayakan kepada kita juga merupakan bagian dari amanah.
Yang justru ingin saya ceritakan adalah sesuatu yang jauh lebih penting daripada persoalannya. Saya melihat seorang kyai yang telah memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kematangan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan masih mau duduk dan meminta pandangan saya. Beliau tidak datang kepada saya untuk menggurui. Beliau tidak sedang meminta saya membenarkan keputusan yang sudah dibuatnya. Beliau ingin mendengarkan. Beliau ingin mengetahui apakah jalan yang hendak ditempuhnya, menurut pandangan saya, sudah merupakan jalan yang baik.
Bagi saya, di sanalah salah satu bentuk kealiman beliau tampak dengan sangat jelas. Orang yang benar-benar memiliki pengetahuan tidak selalu merasa harus menjadi orang yang paling tahu. Ada kerendahan hati dalam diri beliau. Beliau menyadari bahwa dalam persoalan kehidupan, kebenaran tidak selalu selesai hanya dengan pengetahuan yang kita miliki. Karena itu, beliau masih bersedia mendengar pandangan orang lain, bahkan dari orang yang jauh lebih muda seperti saya.
Namun, setelah mendengar seluruh cerita itu, saya justru semakin lama semakin merenung. Jalan yang hendak ditempuh beliau, menurut hemat saya, akan membuat dirinya sendiri berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Orang lain mungkin akan melihat beliau sebagai pihak yang bersalah. Orang lain mungkin tidak mengetahui seluruh persoalan yang sebenarnya. Dan beliau tampaknya menyadari kemungkinan itu.
Saya sempat berharap beliau akan memilih menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Bukankah beliau mempunyai alasan untuk membela diri? Bukankah lebih adil jika orang lain mengetahui seluruh persoalan? Tetapi dari cara beliau menyampaikan pertimbangannya, saya mulai memahami bahwa yang sedang beliau pikirkan bukan hanya keselamatan atau nama baik dirinya sendiri.
Beliau tetap memilih jalan tersebut.
Mengapa?
Saya melihat jawabannya bukan karena beliau tidak mampu melawan. Bukan pula karena beliau tidak mempunyai alasan untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Justru karena beliau memahami bahwa jika dirinya memilih jalan yang lain, ada harga diri orang lain yang mungkin akan terluka. Ada seseorang yang mungkin akan kehilangan kehormatan di hadapan keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Dan beliau memilih menanggung sebagian beban itu pada dirinya sendiri.
Di titik itulah saya mulai memahami bahwa mengalah bagi Yai Ahmad Hariri bukan berarti kalah.
Mengalah adalah pilihan moral.
Beliau seolah-olah berkata melalui tindakannya: kalau memang harus ada seseorang yang menanggung akibat dari persoalan ini, biarlah saya yang menanggungnya, asalkan martabat orang lain tetap terjaga. Bagi sebagian orang, keputusan seperti itu mungkin sulit dipahami. Bahkan mungkin akan dinilai sebagai kelemahan. Tetapi bagi saya, justru di sanalah letak kekuatan batin beliau.
Beberapa waktu kemudian saya melihat sendiri akibat dari keputusan yang pernah beliau ceritakan kepada saya sore itu. Saya sudah tidak melihat beliau menggunakan mobil yang biasanya beliau gunakan. Saat melihatnya, saya langsung teringat pembicaraan kami di ndalem pada sore itu. Saya tidak perlu bertanya. Saya memahami bahwa apa yang beliau ceritakan kepada saya dahulu sedang beliau jalani.
Dan ternyata itu bukan sekali.
Saya melihat pola yang sama terjadi pada beberapa keadaan. Beliau seperti memilih jalan yang membuat dirinya sendiri harus menerima ketidaknyamanan, bahkan mungkin menerima penilaian negatif dari orang lain, demi menjaga harga diri orang yang menurut saya justru semestinya ikut memikul tanggung jawab.
Saya pernah berpikir, bukankah lebih mudah jika beliau menjelaskan semuanya kepada orang lain? Bukankah lebih adil jika beliau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah dengan begitu orang akan memahami bahwa beliau tidak sepenuhnya berada pada posisi yang salah?
Tetapi kemudian saya sadar bahwa pertanyaan-pertanyaan itu adalah cara berpikir saya. Bukan cara berpikir beliau.
Beliau memilih jalan yang berbeda.
Beliau memilih diam ketika penjelasan mungkin akan mempermalukan orang lain. Beliau memilih menerima ketika membela diri mungkin akan membuat orang lain kehilangan muka. Beliau memilih menanggung ketika sebenarnya ada pilihan untuk menyerahkan beban itu kepada pihak lain.
Dan yang paling membuat saya terdiam adalah ketabahan beliau menjalaninya.
Saya tidak melihat beliau kemudian menjadi orang yang penuh keluhan. Saya tidak melihat beliau sibuk mencari simpati. Saya tidak melihat beliau berusaha mengumpulkan orang untuk menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya berada di posisi yang benar. Beliau tetap menjalani kehidupan seperti biasa, tetap tersenyum, tetap berkomunikasi dengan orang lain dengan bahasa yang halus, dan tetap menjaga hubungan baik.
Semua itu membuat saya menyadari bahwa keputusan beliau bukan sekadar sikap pribadi dalam menghadapi sebuah persoalan. Di dalamnya ada cara memimpin, cara menjaga hubungan, dan cara menempatkan martabat manusia di atas kemenangan diri sendiri. Namun, kesadaran itu tidak datang kepada saya sebagai kesimpulan yang tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan dari percakapan pribadi yang beliau percayakan kepada saya, dari keputusan-keputusan yang kemudian saya saksikan, dan dari ketabahan beliau menanggung akibatnya tanpa banyak bicara.
Dari pengalaman itulah saya mulai melihat bahwa kepemimpinan tidak selalu dimulai dari posisi di depan, suara yang paling keras, atau kemampuan memenangkan perdebatan. Kadang-kadang, kepemimpinan justru tampak dalam kesediaan seseorang untuk menahan diri, melindungi orang lain, dan menerima beban yang sebenarnya dapat ia hindari. Pada titik inilah pengalaman saya bersama Yai Ahmad Hariri membawa saya pada pemahaman tentang karakter kepemimpinan profetik beliau.
Kepemimpinan profetik tidak selalu tampil dalam bentuk keberanian untuk berdiri di depan dan memenangkan pertarungan. Ada kalanya kepemimpinan justru tampil dalam bentuk keberanian untuk berdiri paling belakang dan menerima beban agar orang lain tidak jatuh. Nabi Muhammad SAW tidak membangun masyarakat hanya dengan kekuasaan, tetapi dengan rahmah, pengorbanan, kesabaran, dan kemampuan menjaga martabat manusia.
Al-Qur’an menggambarkan orang-orang yang memiliki kualitas demikian dengan ungkapan yang sangat indah:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
“Mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam keadaan membutuhkan.” (QS. al-Hasyr [59]: 9).
Saya tidak sedang mengatakan bahwa setiap tindakan mengalah selalu benar. Mengalah juga harus ditempatkan dalam kerangka kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan. Tetapi dalam diri Yai Ahmad Hariri, saya melihat sesuatu yang lebih dalam: beliau tidak mengalah karena takut kepada manusia, tetapi karena ingin menjaga sesuatu yang menurut beliau lebih berharga daripada kemenangan dirinya sendiri, yaitu hubungan, kehormatan, dan ketenteraman keluarga.
Dalam bahasa kepemimpinan profetik, saya melihat beliau memiliki karakter īthār, yaitu mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya sendiri. Ia berpadu dengan rahmah, karena yang dipikirkan bukan sekadar penyelesaian persoalan, tetapi perasaan dan martabat manusia yang berada di dalam persoalan tersebut. Dan ia berujung pada islāh, yaitu memilih jalan yang dapat memperbaiki hubungan, bukan sekadar menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Barangkali inilah sebabnya mengapa saya sering merasa bahwa Yai Ahmad Hariri adalah orang yang berbeda. Beliau bukan hanya mengajarkan kebaikan melalui kata-kata. Dalam beberapa keadaan, beliau justru mengajarkan kebaikan melalui kesediaannya menanggung sesuatu yang tidak perlu diketahui oleh banyak orang.
Bahkan terakhir kali saya mengetahui keadaan beliau, beliau sudah tidak menggunakan kendaraan pribadinya. Ketika saya melihat kenyataan itu, hati saya kembali teringat pada sore ketika beliau mengajak saya bermusyawarah. Saya tahu, keputusan itu bukan keputusan yang tiba-tiba. Ada cerita panjang di belakangnya. Ada pertimbangan yang sangat pribadi. Dan ada kesediaan untuk menanggung akibat dari keputusan itu.
Saya tidak tahu apakah orang-orang yang melihatnya kemudian memahami alasan sebenarnya. Mungkin tidak. Mungkin sebagian orang mempunyai penilaian sendiri. Mungkin ada yang menganggap beliau keliru. Mungkin ada pula yang tidak pernah mengetahui bahwa di balik apa yang mereka lihat terdapat sebuah pilihan moral yang sangat berat.
Tetapi saya pernah duduk berhadapan dengan beliau. Saya pernah mendengar sendiri bagaimana beliau menjelaskan persoalan itu. Karena itu, saya memilih untuk tidak menilai beliau dari apa yang tampak di luar. Saya memilih mengingat apa yang saya lihat dari dekat: seorang kyai yang berpikir panjang, berhati lembut, dan berusaha menjaga harga diri orang lain, bahkan ketika harga yang harus dibayar adalah ketidaknyamanan dirinya sendiri.
Kini beliau telah pergi.
Dan saya semakin sadar bahwa sebagian manusia baru kita pahami setelah mereka tidak lagi berada di antara kita. Ketika mereka masih hidup, kita melihat tindakannya sebagai sesuatu yang biasa. Setelah mereka tiada, kita mulai membaca maknanya satu demi satu.
Yai Ahmad Hariri mengajarkan kepada saya bahwa tidak semua kebaikan membutuhkan saksi. Tidak semua pengorbanan harus diumumkan. Tidak semua kebenaran harus dipertontonkan kepada manusia. Ada kebaikan yang cukup diketahui oleh Allah dan disimpan oleh hati orang yang menjalaninya.
Mungkin karena itulah saya tidak ingin menuliskan persoalan yang dahulu beliau ceritakan kepada saya. Saya justru ingin menjaga amanah terakhir dari sebuah percakapan pribadi itu. Yang ingin saya abadikan bukan rahasianya, tetapi akhlaknya. Bukan persoalannya, tetapi pilihan moralnya. Bukan siapa yang salah dan siapa yang benar, tetapi bagaimana seorang kyai memilih jalan yang menurutnya dapat menjaga martabat orang lain.
Kini saya hanya bisa berdoa: Ya Allah, jika dalam perjalanan hidupnya ada kebaikan yang tidak sempat diketahui manusia, Engkau mengetahuinya. Jika ada pengorbanan yang tidak pernah mendapatkan penghargaan manusia, Engkau mengetahuinya. Jika ada kesabaran yang hanya Engkau menjadi saksinya, maka terimalah ia sebagai amal saleh.
Atas segala kebaikan Yai Ahmad Hariri bin Kyai Yahya Syabrowi, ampunilah segala kesalahan beliau. Terimalah amal baik beliau. Lapangkan tempat istirahatnya. Muliakan beliau di sisi-Mu. Dan jika benar bahwa selama hidupnya beliau sering memilih jalan yang menjaga hati dan harga diri orang lain, maka balaslah pilihan itu dengan kemuliaan di sisi-Mu.
Selamat jalan, Kai.
Mungkin di dunia ini saya tidak selalu mampu memahami mengapa jenengan memilih mengalah. Tetapi sekarang saya belajar bahwa ada kekalahan yang sebenarnya adalah kemenangan di hadapan Allah, dan ada kemenangan yang justru bisa menjadi kekalahan ketika harus dibayar dengan hancurnya hati dan martabat orang lain.
Semoga Allah mengampuni semua kesalahan jenengan dan menerima semua kebaikan jenengan.
Amin.