Mbah Aluk merupakan sosok sepuh yang dikenang kuat dalam ingatan masyarakat Ngrayut, terutama oleh anak-anak dan keluarga yang tumbuh di sekitarnya. Nama asli beliau adalah Mujiratun, namun dalam keseharian lebih dikenal dengan sebutan Mbah Aluk. Penamaan ini bukanlah nama resmi, melainkan hasil reduksi dari sebutan “Mbah Ngrayut” yang, karena faktor cadel anak-anak pada masa itu, sering terucap menjadi “Aluk”. Dari situlah nama Mbah Aluk melekat dan menjadi identitas kultural yang akrab, sederhana, sekaligus penuh kehangatan.
Secara fisik, Mbah Aluk berperawakan kecil dan mungil. Tubuhnya tidak tinggi, dengan wajah yang ayu dan teduh, memancarkan kelembutan khas perempuan Jawa sepuh. Kepribadiannya dikenal pendiam, namun justru di situlah letak kebijaksanaannya. Beliau adalah pendengar yang sangat baik. Setiap kali ada orang berbicara—bahkan jika yang berbicara hanyalah anak kecil—beliau akan mendengarkan dengan penuh perhatian, tanpa memotong atau meremehkan. Sikap ini membuat banyak orang merasa dihargai dan nyaman berada di dekatnya. Mbah Aluk juga dikenal mudah tertawa; kata-kata sederhana yang terdengar lucu baginya sering mengundang senyum dan tawa tulus, meskipun bagi orang lain hal itu tampak biasa saja.
Dalam kehidupan sehari-hari, Mbah Aluk dikenal sebagai pribadi yang sabar dan sangat menerima kesederhanaan hidupnya. Beliau menjalani kehidupan yang secara material dapat disebut miskin, namun tidak pernah tampak mengeluh atau merasa kekurangan. Sebaliknya, kesederhanaan itu dijalani dengan penuh rasa syukur dan ketenangan batin. Salah satu kebiasaan khas beliau adalah nginang, yakni mengunyah daun sirih yang diberi sedikit kapur dan secuil kecil gambir. Kebiasaan ini menimbulkan aroma khas daun sirih yang melekat di kamar dan pakaian beliau, menjadi penanda kehadiran Mbah Aluk yang sulit dilupakan oleh siapa pun yang pernah dekat dengannya.
Aspek paling menonjol dari kehidupan Mbah Aluk adalah ketaatan dan konsistensinya dalam beribadah. Hari-hari beliau diisi dengan puasa, shalat, dan mengaji. Setiap sore, menjelang malam, Mbah Aluk berjalan kaki dari rumah Ngrayut—rumah yang kini ditempati Kang Gupron sekeluarga—menuju Masjid Al-Ishaq. Dalam perjalanan itu, beliau selalu membawa sebuah “ting”, lampu tenteng kecil berbahan bakar minyak tanah, berbentuk kotak dengan bingkai kaca yang sudah tampak sangat usang. Cahaya lampu itu memang tidak terang, namun selama berpuluh-puluh tahun menjadi satu-satunya penerang yang setia menemani setiap langkah beliau, baik saat berangkat maupun pulang dari masjid.
Di masjid, Mbah Aluk bukan sekadar jamaah biasa. Beliau aktif mengikuti kegiatan jamaah thariqah dan dikenal istiqamah dalam mengamalkan setiap wirid dan amalan yang diberikan oleh sang Kyai. Kedisiplinan spiritual ini menunjukkan bahwa kehidupan Mbah Aluk tidak hanya sederhana secara lahiriah, tetapi juga kaya secara batiniah. Kesalehan beliau tidak ditampilkan dalam bentuk ceramah atau nasihat panjang, melainkan melalui keteladanan hidup: sabar, istiqamah, rendah hati, dan sepenuhnya bersandar kepada Allah.
Dengan demikian, Mbah Aluk bukan hanya tokoh sepuh dalam arti usia, tetapi juga figur moral dan spiritual dalam sejarah kecil masyarakat Ngrayut. Kehidupan beliau menjadi contoh nyata bahwa kebesaran seseorang tidak diukur dari harta, jabatan, atau sorotan publik, melainkan dari ketulusan hati, konsistensi ibadah, dan kemampuan menghadirkan kedamaian bagi orang-orang di sekitarnya.
(Bersambung, Insya Allah)








