Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
KH. Mujtaba Bukhari: Kiai yang Mengajar Tanpa Sekat dan Menjemput Wafat dengan Kesadaran

KH. Mujtaba Bukhari: Kiai yang Mengajar Tanpa Sekat dan Menjemput Wafat dengan Kesadaran

Zenrif Oleh Zenrif
9 Mar 2026
dalam Cerita Pendek, Sejarah Tokoh
0
Bagikan ke FacebookBagikan ke Whatsapp

Dalam tradisi pesantren, seorang kiai tidak hanya dikenal melalui keluasan ilmunya, tetapi juga melalui cara ia membangun hubungan dengan para santrinya. Sosok seperti inilah yang tercermin pada diri KH. Mujtaba Bukhari. Beliau dikenal sebagai guru yang menjadikan murid-muridnya seperti sahabat sendiri. Di hadapan beliau, santri tidak merasa berjarak. Percakapan berlangsung cair, penuh canda dan gurauan, seolah tidak ada sekat pemisah antara guru dan murid. Namun di balik kehangatan itu, tersimpan kedalaman spiritual yang kuat. Bagi beliau, ilmu tidak sekadar untuk diketahui, tetapi untuk membentuk kesalehan dan mempersiapkan manusia menghadapi kematian dengan indah.

Salah satu kitab yang sering beliau ajarkan adalah Tajrid. Kitab tersebut dibaca baik di ndalem maupun di madrasah, bukan sekadar sebagai teks intelektual, melainkan sebagai sarana membentuk pribadi yang saleh. Dalam pengajarannya, KH. Mujtaba Bukhari sering menekankan bahwa tujuan akhir dari ilmu adalah perbaikan diri dan kesiapan menghadapi akhir kehidupan. Dengan cara pengajaran yang santai namun mendalam, beliau menghidupkan tradisi pesantren yang menempatkan ilmu sebagai jalan menuju kedewasaan spiritual.

Baca lainnya

Ngantir: Ketika Cahaya Itu Kembali

Ngantir: Ketika Cahaya Itu Kembali

9 Jul 2026
Mengapa Ulama Sejati Tidak Mencari Panggung? Refleksi atas Spiritualitas Mbah Zayyadiy

Cuaca yang Membawaku Pulang

6 Jul 2026

Kepribadian beliau yang hangat membuat banyak santri merasa dekat. Humor menjadi bagian dari metode mendidiknya. Gurauan yang dilontarkan tidak sekadar mencairkan suasana, tetapi juga menjadi cara halus untuk menyampaikan pesan moral. Pola hubungan seperti ini menunjukkan bahwa otoritas seorang kiai tidak selalu dibangun melalui jarak formal, melainkan melalui kedekatan batin dan keteladanan.

Akhir kehidupan beliau juga memperlihatkan kedalaman spiritual yang sama. KH. Mujtaba Bukhari wafat pada 16 Desember 2020 pukul 23.10 WIB di RS Panti Nirmala. Kabar wafatnya disampaikan oleh putranya, Gus Hasbullah Huda, yang akrab disapa Gus Has, melalui pesan WhatsApp. Sebelumnya, beliau memang telah beberapa kali menjalani perawatan di rumah sakit yang sama sejak bulan Ramadan 1441 H. Putra bungsu dari KH. Bukhori Ismail itu sudah cukup lama bergulat dengan kondisi kesehatan yang menurun.

Keluarga sebenarnya telah merasakan isyarat bahwa ajal beliau semakin dekat. Hal ini terlihat dari beberapa permintaan yang beliau sampaikan kepada istrinya, Nyai Surohah. Dengan kesadaran yang tenang, beliau meminta agar disiapkan kain kafan, dicuci dengan air zamzam, serta dibuatkan nisan yang telah diukir dengan namanya. Bahkan beliau juga meminta agar keluarga membeli seekor sapi. Permintaan-permintaan itu bukan disampaikan dalam suasana duka, melainkan dengan ketenangan yang menunjukkan kesiapan batin menghadapi takdir.

Yang paling mengharukan, menurut penuturan Nyai Surohah, beliau bahkan berkenan menyaksikan sendiri ketika kain kafan itu dicuci. Sikap ini menggambarkan sebuah kesadaran spiritual yang jarang dimiliki banyak orang: menghadapi kematian bukan dengan ketakutan, tetapi dengan kesiapan. Seakan-akan beliau sedang menata sendiri perjalanan terakhirnya.

Hanya satu keinginan beliau yang belum sempat terpenuhi,  beliau ingin sekali bertandang kepada Nyai Sepuh. Namun karena pertimbangan kesehatan, rencana itu tidak dapat terlaksana.

Kisah hidup dan wafat KH. Mujtaba Bukhari memperlihatkan kesinambungan antara ilmu, akhlak, dan kesadaran spiritual. Cara beliau mengajar yang penuh kehangatan menunjukkan bahwa kedalaman ilmu tidak harus disertai jarak formal yang kaku. Sementara cara beliau menghadapi wafat menunjukkan bahwa ilmu yang dipelajari sepanjang hidup benar-benar telah bertransformasi menjadi kesiapan batin.

Dalam perspektif tradisi pesantren, wafat seperti ini sering disebut sebagai husnul khatimah, akhir kehidupan yang baik. Bukan karena bebas dari sakit atau kesulitan, tetapi karena seseorang menyambut kematian dengan kesadaran, ketenangan, dan kepasrahan kepada Allah. KH. Mujtaba Bukhari meninggalkan teladan bahwa ilmu yang sejati bukan hanya membuat seseorang pandai hidup, tetapi juga siap untuk pulang dengan cara yang indah.

Zenrif

Zenrif

M. Fauzan Zenrif adalah Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Malang bidang perekonomian (2021 - 2026), founder KPKNU (Komunitas Pengusaha Kecil NU).

Terkait

Ngantir: Ketika Cahaya Itu Kembali

Ngantir: Ketika Cahaya Itu Kembali

Oleh Zenrif
9 Jul 2026
0

Jalan menuju Ngantir, Pacitan, berliku mengikuti lekuk perbukitan karst. Di kiri dan kanan, pepohonan berdiri tenang seolah menyimpan kisah-kisah panjang...

Mengapa Ulama Sejati Tidak Mencari Panggung? Refleksi atas Spiritualitas Mbah Zayyadiy

Cuaca yang Membawaku Pulang

Oleh Zenrif
6 Jul 2026
0

Pagi ini, Senin, 6 Juli 2026. Jarum jam menunjukkan pukul 08.11 WIB. Di hadapan saya terbentang lembar-lembar hasil FGD dan...

Kak Tuan Syamsuddin: “Musuh” yang Kudengar, Saudara yang Kukenal

Kak Tuan Syamsuddin: “Musuh” yang Kudengar, Saudara yang Kukenal

Oleh Zenrif
12 Jun 2026
0

Saya adalah anak turun Bani Isma'il. Secara genealogis, saya berasal dari leluhur dan daerah yang sama dengan Kak Tuan Syamsuddin...

Halal Bihalal Tradisi NU: Dari Ritual Lebaran ke Etika Rekonsiliasi Bangsa

Halal Bihalal Tradisi NU: Dari Ritual Lebaran ke Etika Rekonsiliasi Bangsa

Oleh Zenrif
12 Apr 2026
0

Di tengah dinamika sosial yang kerap diwarnai polarisasi, masyarakat Indonesia memiliki satu mekanisme kultural yang relatif efektif dalam merawat harmoni,...

Postingan Berikut
Adzan Dhuhur di Curungrejo

Adzan Dhuhur di Curungrejo

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS