Terik matahari siang itu menimpa jalan-jalan desa di Curungrejo dengan keras. Udara terasa kering dan panas seperti menekan bahu siapa pun yang berjalan di bawahnya. Saya baru saja berhenti sejenak ketika suara adzan Dzuhur mulai terdengar. Tidak terlalu keras, tetapi jelas. Nada suaranya seperti memanggil dari jarak yang tidak jauh.
Mas Ardiansa yang bersama saya segera memberi tahu, “Di sini ada beberapa masjid dan mushalla, Pak.”
Saya mengangguk. Suara adzan itu terasa dekat. Tanpa banyak berpikir saya berjalan menuju arah selatan, mengikuti arah datangnya suara. Semakin saya melangkah, suara itu semakin jelas. Seolah-olah bukan hanya telinga yang mendengar, tetapi hati juga ikut ditarik oleh panggilan itu.
“Pak, saya ambilkan motor saja?” tawar Mas Ardiansa melihat panas yang cukup menyengat.
Saya tersenyum dan menggeleng pelan.
“Tidak usah. Sekalian saya ingin berjalan. Ingin melihat lingkungan sosial di sini.”
Sesungguhnya ada sedikit rasa ingin tahu di hati saya. Wilayah ini masih berada di Kabupaten Malang, tetapi jujur saja, saya belum pernah memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Padahal sebagai Wakil Ketua PCNU, saya sering berbicara tentang masyarakat, tentang umat, tentang kehidupan sosial keagamaan. Tetapi berjalan kaki di tengah kampung seperti ini memberi rasa yang berbeda—lebih dekat, lebih nyata.
Beberapa menit berjalan, saya mulai melihat bangunan masjid kecil di depan. Dari luar tampak bersih dan tertata rapi. Cat temboknya terang, halaman depannya tertata.
Namun langkah saya sempat terhenti sejenak ketika membaca tulisan di bagian depan bangunan itu.
Masjid Muhammadiyah.
Saya tersenyum kecil.
Bukan karena saya tidak biasa shalat berjamaah dengan sahabat-sahabat Muhammadiyah. Itu sudah sering saya lakukan. Persaudaraan dalam Islam tentu lebih luas daripada sekadar identitas organisasi.
Yang membuat saya agak terkejut adalah hal lain: di wilayah yang selama ini dikenal sebagai basis warga NU, ternyata berdiri sebuah masjid kecil milik Muhammadiyah. Dan seperti banyak, bahkan hampir semua, masjid Muhammadiyah yang pernah saya datangi, tempat ini sangat rapi. Bersih. Tertata. Bahkan ketika saya masuk, terasa sejuk karena pendingin ruangan yang menyala lembut.
Kontras sekali dengan panas terik yang baru saja saya rasakan di luar. Di bulan Ramadhan seperti ini, kesejukan itu terasa bukan hanya di kulit, tetapi juga di hati.
Seperti biasa, sebelum shalat saya menuju tempat wudhu. Di sana saya bertemu dua orang jamaah. Salah satunya ternyata muadzin yang tadi melantunkan adzan, sementara yang lain kelak akan menjadi imam shalat Dzuhur. Begitu bertemu, mereka langsung mengulurkan tangan.
“Silakan, Pak.”
Kami bersalaman.
Sederhana, tetapi hangat. Gaya yang sangat humanis dan ramah. Tidak ada pertanyaan siapa saya, dari mana saya datang, atau organisasi apa yang saya wakili. Yang ada hanya satu: sesama muslim yang bertemu di rumah Allah. Saya merasakan kebahagiaan kecil yang sulit dijelaskan…
Setelah wudhu, saya masuk ke ruang shalat dan melaksanakan shalat sunnah. Beberapa menit kemudian dua orang lagi datang. Lalu satu orang lagi. Jamaah Dzuhur siang itu akhirnya berjumlah lima atau enam orang saja. Tetapi suasananya terasa sangat khusyuk.
Ketika shalat dimulai, saya memperhatikan sesuatu yang menarik. Cara shalat mereka seperti memadukan dua kebiasaan yang sering dianggap berbeda.
Pada saat tahiyat dan doa setelah shalat, gerakannya terasa akrab dengan tradisi NU. Tetapi dzikir setelah shalat lebih pendek dan langsung, seperti gaya yang biasa dilakukan di lingkungan Muhammadiyah. Saya tersenyum dalam hati.
Di luar sana orang sering memperdebatkan perbedaan-perbedaan kecil. Kadang bahkan memperbesarnya. Tetapi di sebuah masjid kecil di Curungrejo ini, beberapa orang menjalankan shalat dengan cara yang terasa seperti jembatan antara dua tradisi.
Tidak ada yang merasa harus menang. Tidak ada yang merasa harus mengalah.
Yang ada hanyalah shalat.
Ketika kami selesai dzikir, suasana masjid terasa sangat tenang. Pendingin ruangan masih berhembus pelan. Cahaya siang masuk dari jendela-jendela kecil di sisi bangunan.
Saya duduk sebentar.
Tiba-tiba saya merasa bahwa perjalanan singkat di bawah terik matahari tadi bukan sekadar berjalan menuju masjid. Seolah ada pelajaran kecil yang sedang diperlihatkan kepada saya.
Bahwa persaudaraan umat tidak selalu lahir dari pidato panjang di forum besar.
Kadang.. dari hal-hal yang sederhana
sebuah panggilan adzan yang tulus,
langkah kaki yang mengikuti suara itu,
sebuah masjid kecil yang bersih,
dan tangan-tangan yang saling bersalaman tanpa curiga.
Siang itu di Curungrejo, saya merasakan sebuah pengalaman religius yang sederhana, tetapi mengesankan. Adzan memanggil kami dengan satu kalimat yang sama. Dan di hadapan Allah, semua perbedaan itu terasa menjadi sangat kecil.








