Catatan Perjalanan Penelitian dan Pertemuan dengan H. Sidik
Perjalanan penelitian sering kali membawa saya pada perjumpaan yang tidak selalu dapat direncanakan sejak awal. Demikian pula perjalanan penelitian tentang Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang sedang saya lakukan. Penelitian ini pada awalnya berangkat dari perhatian terhadap bagaimana KDMP dapat menjadi instrumen penguatan ekonomi masyarakat desa. Namun, dalam prosesnya, penelitian justru membuka ruang perjumpaan dengan berbagai pihak dan memperluas cara pandang saya tentang pembangunan ekonomi berbasis masyarakat.
Salah satu perjumpaan yang menarik terjadi pada Senin, 3 Agustus 2026. Dokumentasi perjalanan menunjukkan waktu 15.06 WIB, bertempat di Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas 2, Krajan, Asrikaton, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65154.
Di tempat tersebut saya, dengan difasilitasi Boeng Tomo, Ketua Satgas KDMP dan Manager PT DBMWork, berkesempatan bertemu dengan H. Sidik, tokoh yang memiliki pengalaman luas dalam dunia usaha dan berada dalam lingkungan bisnis J99. Pertemuan berlangsung dalam suasana yang cukup cair. Tidak hanya membicarakan persoalan bisnis, percakapan berkembang pada berbagai kemungkinan kerja sama antara dunia usaha dan perguruan tinggi.
Dari Penelitian KDMP ke Jejaring Dunia Usaha
Dalam perjalanan penelitian KDMP, saya semakin menyadari bahwa persoalan ekonomi desa tidak dapat diselesaikan hanya dengan membangun kelembagaan ekonomi di tingkat desa. KDMP memang penting, tetapi keberhasilannya membutuhkan ekosistem yang lebih luas.
Desa memiliki sumber daya, masyarakat memiliki berbagai keterampilan dan produk, sementara perguruan tinggi memiliki ilmu pengetahuan dan hasil penelitian. Di sisi lain, dunia usaha mempunyai kemampuan produksi, manajemen, teknologi, jaringan pemasaran, dan pengalaman mengembangkan produk menjadi kekuatan ekonomi.
Karena itu, dalam perjalanan penelitian saya berusaha melihat bagaimana berbagai kekuatan tersebut dapat dipertemukan.
Dari sinilah perjumpaan dengan H. Sidik menjadi menarik. Pembicaraan yang semula berkaitan dengan jejaring ekonomi kemudian berkembang pada persoalan yang lebih luas, yaitu bagaimana hasil penelitian perguruan tinggi dapat dihilirkan menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat.
Ketika Berbicara tentang Hasil Penelitian UIN Maliki Malang
Dalam percakapan tersebut saya menyampaikan bahwa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki berbagai hasil penelitian yang sebenarnya memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Salah satunya adalah hasil penelitian di bidang kefarmasian, kesehatan, jamu, herbal, dan produk berbasis bahan alam.
H. Sidik menyambut pembicaraan tersebut dengan sangat positif.
Beliau bahkan menyampaikan kegembiraannya apabila berbagai produk kesehatan yang lahir dari penelitian UIN Maliki Malang dapat dikembangkan dan dikerjasamakan dengan perusahaan yang berada dalam lingkungan bisnis beliau.
Bagi saya, respons tersebut sangat menarik.
Selama ini kita sering berbicara tentang hilirisasi penelitian, tetapi dalam praktiknya hasil penelitian perguruan tinggi sering berhenti pada laporan, artikel jurnal, seminar, atau prototipe. Padahal, apabila hasil penelitian memang memiliki potensi untuk memberikan manfaat kepada masyarakat, maka perlu ada jalan agar pengetahuan tersebut dapat bergerak menjadi produk.
Dalam konteks ini, dunia usaha dapat menjadi salah satu jembatan penting.
Perguruan tinggi memiliki pengetahuan, peneliti, laboratorium, dan hasil riset. Dunia usaha memiliki kemampuan produksi, standardisasi, perizinan, pengemasan, pemasaran, dan distribusi. Jika keduanya dipertemukan dengan model kerja sama yang tepat, maka hasil penelitian dapat memperoleh ruang untuk berkembang.
Peluang Mengembangkan Produk Jamu dan Kesehatan
Pembicaraan mengenai hasil penelitian kefarmasian kemudian menjadi semakin menarik ketika H. Sidik menyampaikan keterbukaannya terhadap kemungkinan kerja sama dalam mengembangkan produk jamu, herbal, dan produk kesehatan lainnya.
Saya melihat peluang ini bukan sekadar sebagai kerja sama bisnis.
Lebih jauh dari itu, ini merupakan kesempatan untuk membangun rantai hilirisasi penelitian.
Penelitian dilakukan oleh dosen dan mahasiswa. Hasil penelitian kemudian dikaji kembali untuk menentukan potensi produknya. Setelah memenuhi persyaratan ilmiah dan regulasi, produk dapat dikembangkan bersama industri. Selanjutnya industri menjalankan produksi dan pemasaran.
Dengan model seperti itu, penelitian tidak berhenti di kampus.
Ia bergerak menuju masyarakat.
Tentu saja, semua itu masih membutuhkan proses. Setiap produk harus melalui penelitian lanjutan, pengujian, standardisasi, aspek keamanan, perizinan, sertifikasi, serta kajian kelayakan bisnis. Karena itu, pertemuan ini saya pandang sebagai awal terbukanya kemungkinan, bukan sebagai kesepakatan final.
Pembicaraan tentang Maliki Water
Dari pembicaraan mengenai produk kesehatan, percakapan kemudian sampai pada Maliki Water.
Saya menyampaikan gagasan mengenai kemungkinan mengembangkan kembali Maliki Water melalui pola kerja sama dengan dunia usaha.
H. Sidik memberikan respons yang sangat positif. Bahkan muncul gagasan agar Maliki Water dapat diproduksi secara maklon oleh perusahaan beliau, sementara UIN Maliki Malang menjadi pemilik pasar dan tetap memiliki kepentingan ekonomi dari produk tersebut.
Model ini bagi saya cukup menarik.
Perusahaan dapat menjalankan fungsi produksi dengan kapasitas dan pengalaman yang dimilikinya. Sementara UIN Maliki Malang dapat memanfaatkan kekuatan yang dimiliki perguruan tinggi, terutama jaringan kelembagaan, sivitas akademika, alumni, dan pasar yang potensial.
Dengan demikian, kerja sama tidak harus dimaknai sebagai hubungan antara produsen dan pembeli semata, tetapi dapat dibangun sebagai kemitraan strategis.
Berapa Persentase untuk UIN Maliki Malang?
Dalam pembicaraan tersebut kemudian muncul persoalan yang sangat penting: berapa persentase yang nantinya dapat diterima UIN Maliki Malang?
H. Sidik tidak langsung menentukan angka.
Beliau menyampaikan bahwa persoalan tersebut perlu dimusyawarahkan.
Menurut saya, justru di situlah letak pentingnya pembicaraan lanjutan. Persentase tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan siapa yang memproduksi dan siapa yang memiliki pasar. Banyak komponen yang harus diperhitungkan, mulai dari biaya produksi, bahan baku, kemasan, sertifikasi, distribusi, pemasaran, investasi, risiko usaha, nilai merek, sampai kontribusi masing-masing pihak.
Karena itu, pembicaraan mengenai persentase pembagian hasil perlu dilakukan secara terbuka dan profesional oleh pihak-pihak yang memiliki kewenangan.
Yang terpenting dari pertemuan ini bukanlah angka yang langsung disepakati, melainkan terbukanya kesediaan untuk membangun model kerja sama.
Dari KDMP Menuju Hilirisasi Penelitian
Saya kemudian melihat adanya hubungan yang menarik antara penelitian KDMP dan pertemuan tersebut.
Penelitian saya tentang KDMP berangkat dari kegelisahan sederhana: bagaimana membangun ekonomi masyarakat agar tidak berhenti pada kelembagaan, tetapi benar-benar menghasilkan nilai ekonomi dan kemanfaatan?
Dalam perjalanan mencari jawabannya, saya justru menemukan bahwa perguruan tinggi sendiri mempunyai persoalan yang serupa.
Kampus memiliki banyak hasil penelitian, tetapi sebagian masih belum sampai kepada masyarakat.
Desa memiliki banyak potensi, tetapi sebagian belum memiliki akses terhadap teknologi, pasar, dan jaringan industri.
Dunia usaha memiliki kapasitas produksi dan pasar, tetapi membutuhkan inovasi, pengetahuan, dan produk baru.
Maka, ketiganya sebenarnya dapat dipertemukan.
Desa memiliki potensi.
Kampus memiliki ilmu.
Industri memiliki kapasitas.
Masyarakat memiliki kebutuhan.
Jika semuanya dipertemukan dalam sebuah ekosistem, maka pembangunan ekonomi tidak lagi berjalan secara terpisah-pisah.
Penelitian sebagai Jalan Membangun Jejaring
Perjalanan penelitian KDMP membuat saya semakin percaya bahwa penelitian bukan hanya kegiatan untuk memperoleh data.
Penelitian juga merupakan perjalanan membangun jejaring pengetahuan dan perubahan.
Ketika turun ke lapangan, saya bertemu kepala desa, pengurus KDMP, pelaku UMKM, tokoh masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan. Dari perjumpaan itu muncul pengetahuan baru. Dari pengetahuan tersebut muncul jejaring. Dari jejaring kemudian terbuka peluang kerja sama yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Pertemuan dengan H. Sidik pada 3 Agustus 2026 menjadi salah satu contoh konkret dari perjalanan tersebut.
Saya datang dalam konteks penelitian KDMP, tetapi pertemuan itu kemudian membawa pembicaraan pada persoalan hilirisasi hasil penelitian UIN Maliki Malang.
Dari KDMP, pembicaraan bergerak menuju ekonomi.
Dari ekonomi bergerak menuju dunia usaha.
Dari dunia usaha bergerak menuju hasil penelitian.
Dan dari hasil penelitian terbuka kemungkinan menuju produk yang dapat dinikmati masyarakat.
Dari Ilmu Menuju Kemanfaatan
Bagi saya, inilah bagian yang menarik dari perjalanan penelitian.
Penelitian tidak seharusnya berhenti ketika laporan selesai ditulis. Publikasi ilmiah memang penting karena menjadi bagian dari pertanggungjawaban akademik. Namun, ketika sebuah penelitian memiliki potensi untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, maka harus dicari jalan agar pengetahuan tersebut dapat dihilangkan dari sekadar pengetahuan menjadi inovasi dan produk yang memberi manfaat.
Pertemuan dengan H. Sidik memberikan semangat baru bagi gagasan tersebut.
Mungkin suatu saat hasil penelitian kefarmasian UIN Maliki Malang dapat berkembang menjadi produk jamu atau herbal yang benar-benar hadir di tengah masyarakat.
Mungkin Maliki Water dapat dikembangkan melalui model kemitraan industri yang lebih profesional.
Dan mungkin pula pengalaman ini dapat menjadi bagian dari model yang lebih besar: bagaimana UIN Maliki Malang membangun ekosistem hilirisasi penelitian dengan dunia usaha dan masyarakat.
Saya menyadari bahwa semua itu masih merupakan sebuah proses. Masih diperlukan pembahasan kelembagaan, kajian bisnis, aspek hukum, perhitungan ekonomi, standardisasi produk, serta kesepakatan yang jelas antara para pihak.
Namun, setiap kerja sama besar selalu dimulai dari sebuah perjumpaan dan percakapan.
Pertemuan pada Senin, 3 Agustus 2026 itu mungkin hanyalah sebuah pertemuan kecil. Tetapi dari pertemuan kecil tersebut, terbuka sebuah kemungkinan besar: mempertemukan penelitian, industri, pasar, dan kemanfaatan masyarakat.
Dan bagi saya, inilah salah satu pelajaran penting dari perjalanan penelitian KDMP:
Penelitian bukan hanya perjalanan mencari jawaban, tetapi juga perjalanan menemukan siapa saja yang dapat bersama-sama mewujudkan jawaban itu menjadi perubahan.
Dari lapangan penelitian menuju jejaring.
Dari jejaring menuju kolaborasi.
Dari kolaborasi menuju hilirisasi.
Dan dari hilirisasi menuju kemanfaatan.