Namanya Bakri, putera dari H. Isma’il Ombul. Beliau wafat di Lomaer, sebelah timur Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan. Sebagai cucu, saya tidak memperkenalkan beliau dengan baik. Saya hanya mengenal beliau dari beberapa cerita orang lain; bahkan saya sendiri tidak ingat secara langsung bagaimana pribadi beliau. Yang paling saya kenal adalah bahwa beliaulah yang memberi nama saya, Fauzan.
Saat itu, sebagaimana dituturkan oleh Ummi Mahzunah Ganjaran dan terkonfirmasi oleh Abah Syamsuddin, alias Pak Toing Blega, ibu saya, Hanifah, pulang ke Ganjaran ketika hamil sekitar tiga bulan. Ketika itulah Mbah Zayyadiy menitipkan surat kepada Mbah As’ad, Arsin, H. As’ad, putera H. Isma’il Bujeen, orang tua ibu saya. Salah satu isi surat itu memberitahukan bahwa ibu saya akan melahirkan di Ganjaran dan berpesan agar anak dalam kandungannya kelak diberi nama Fauzan. Setelah saya lahir dan benar-benar laki-laki, saya diberi nama Ahmad Fauzan Adhiman.
Selain itu, saya mengenal Mbah Zayyadiy sebagai orang yang tekun mengaji dan melaksanakan ibadah sunnah, terutama dzikir tarekat. Kealimannya diakui dalam keluarga, bahkan di antara saudara laki-lakinya seperti KH. Fathul Bari, KH. Baidlowi, KH. Bukhariy, KH. Ghazali, dan yang lain.
Riwayat pendidikan beliau dimulai di Bangkalan, ketika beliau nyantri kepada keluarga Syaikhona Muhsin Blega, dan beguru pada Syaikhona Kholil di Pesantren Kademangan. Dalam sejarah pesantren Jawa Timur, Syaikhona Kholil bukan sekedar kiai pengajar kitab, melainkan poros sanad yang menghubungkan Madura dengan jaringan ulama Haramain. Beliau dikenal sebagai murid para ulama Makkah, termasuk yang berada dalam lingkar transmisi keilmuan Syaikh Nawawi al-Bantani.
Dari tangan Syaikhona Kholil lahir banyak ulama besar Nusantara, dan secara genealogis-sanadi, siapa pun yang pernah belajar kepada beliau berada dalam jalur legitimasi keilmuan yang kuat. Di Bangkalan inilah fondasi ilmu alat, fikih Syafi’i, tauhid Asy’ariyah, dan dasar-dasar tasawuf ditanamkan kepada para santri, termasuk Mbah Zayyadiy. Fase ini membentuk struktur dasar otoritas epistemiknya.
Setelah dari Bangkalan, beliau melanjutkan rihlah ilmiahnya ke Pesantren Panji di Sidoarjo. Pesantren ini dikenal sebagai salah satu pusat pengajaran turats di kawasan pesisir Jawa Timur, dengan sistem bandongan dan sorogan yang ketat. Tradisi Panji memiliki keterhubungan genealogis dengan jaringan ulama Surabaya dan Madura, sehingga perpindahan beliau ke sana meluas sekaligus memperdalam sanad keilmuannya. Di lingkungan ini, penguasaan kitab-kitab fikih seperti Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, dan karya-karya klasik lainnya semakin dimatangkan. Jika Bangkalan membentuk legitimasi karismatik melalui tokoh sentral, maka Panji memperkuat dimensi metodologis dan pedagogis dalam pembentukan diri beliau sebagai alim.
Perjalanan beliau kemudian berlanjut ke Cangaan, Bangil, Pasuruan, sebuah kawasan yang dalam sejarah dikenal sebagai simpul penting pesantren dan tarekat di Jawa Timur. Lingkungan Bangil memiliki tradisi yang kuat dalam integrasi fikih dan tasawuf, serta keterhubungan dengan jaringan kiai pesisir utara. Di Cangaan inilah disiplin spiritual beliau menemukan bentuk praktik yang lebih intens. Dzikir tarekat, ibadah sunnah, dan adab keseharian menjadi bagian dari kebiasaan yang terinternalisasi.
Ketika saya berkunjung ke sana dan ditunjukkan kamar beliau oleh Kyai Syibro Malis, saya melihat langsung ruang kecil yang menjadi saksi terbentuknya spiritual tersebut. Pohon-pohon mangga di depan kamar yang dahulu beliau rawat menjadi simbol etika pesantren: kebersihan, kelancaran, dan konsistensi. Kisah bahwa daun-daunnya tetap bersih bahkan setelah beliau tidak lagi menetap di sana, dalam tradisi pesantren sering dibaca sebagai pantulan karamah, tetapi juga dapat dipahami sebagai jejak disiplin yang membekas dalam ingatan kolektif.
Jika seluruh perjalanan ini dirangkai secara kronologis, tampak bahwa Mbah Zayyadiy bergerak dalam lintasan sanad yang koheren: dari pusat karisma dan legitimasi di Bangkalan, menuju penguatan metodologi di Sidoarjo, lalu ke pendinginan spiritual di Bangil. Pola ini merupakan pola klasik rihlah ilmiah santri Madura–Jawa pada masanya. Kealiman beliau yang diakui dalam keluarga bukanlah reputasi yang muncul tiba-tiba, melainkan hasil akumulasi sanad, riyadhah, dan disiplin panjang dalam jaringan pesantren.
Dalam konteks itu, tindakannya memberi nama Fauzan kepada cucunya merupakan ekspresi lanjutan dari kesadaran silsilah tersebut. Nama itu adalah doa yang lahir dari perjalanan sanad, ia membawa resonansi Bangkalan, Panji, dan Bangil sekaligus. Dengan demikian, bagi saya sejarah beliau bukan hanya kisah pribadi seorang kakek, melainkan bagian dari arus besar tradisi pesantren Madura–Jawa yang bekerja melalui keguruan, rihlah ilmiah, dan transmisi nilai lintas generasi.








