Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Berjuang dalam Diam: Sanad, Dakwah, dan Warisan Spiritual Mbah Zayyadiy

Berjuang dalam Diam: Sanad, Dakwah, dan Warisan Spiritual Mbah Zayyadiy

Zenrif Oleh Zenrif
26 Feb 2026
dalam Berita, Cerita Pendek, Sejarah Tokoh
0
Bagikan ke FacebookBagikan ke Whatsapp

Saya tahu bahwa Mbah Zayyadiy pernah tinggal di Ganjaran dan Banjarejo dari Abah Syamsuddin, alias Pak Toing. Menurut ceritanya, Mbah Zayyadiy adalah santri Syaikhona Kholil yang diutus untuk penyebaran akidah Ahlussunnah wal Jama’ah di wilayah Gondanglegi dan sekitarnya. Cerita itu kemudian saya konfirmasi kepada orang tertua pada masa itu yang banyak mengenal sejarah Ganjaran, Man Tuan Mukhtar, yang tinggal di sebelah timur Pondok Miftahul Ulum. Dari Man Tuan Mukhtar saya diceritakan bahwa Mbah Zayyadiy memang diutus untuk menemani Mbah Zainal Alim dalam berdakwah. Dalam tradisi pesantren, pengutusan seperti ini bukan perkara biasa. Seorang santri tidak akan dilepas kecuali telah dianggap matang secara ilmu dan adab. Artinya, keberangkatan beliau ke Gondanglegi adalah mandat sanad, bukan sekadar pilihan pribadi.

Diceritakan pula bahwa Mbah Zayyadiy sempat memiliki rumah di Ganjaran yang sekarang—kata orang waktu itu—pernah ditempati Hannan “Gendut.” Karena penasaran dengan cerita itu, saya akhirnya mendatangi rumah yang ditunjuk dan bertemu dengan Kak Hannan. Menurut penuturan orang tuanya, rumah dan mushalla yang ditempati itu memang dulu rumah Mbah Zayyadiy. Bahkan beliau juga sempat memiliki rumah di daerah Gondanglegi Kulon ketika menemani Mbah Yai Baidlowi. Rumah itu ternyata adalah rumah tempat saya dulu belajar bahasa Inggris di Institut Pembangunan bersama Pak Nasih. Saya merasa seperti menemukan simpul sejarah yang tak pernah saya sadari sebelumnya. Dalam perspektif sejarah sosial pesantren, rumah dan mushalla adalah titik awal dakwah. Dari ruang sederhana itulah pengajian dirintis, jamaah dibina, dan akidah diteguhkan. Jejak fisik itu menjadi bukti bahwa perjuangan beliau bukan hanya cerita, tetapi pernah hadir dalam ruang yang nyata.

Baca lainnya

Ngantir: Ketika Cahaya Itu Kembali

Ngantir: Ketika Cahaya Itu Kembali

9 Jul 2026
Mengapa Ulama Sejati Tidak Mencari Panggung? Refleksi atas Spiritualitas Mbah Zayyadiy

Cuaca yang Membawaku Pulang

6 Jul 2026

Setelah Mbah Bukhari pindah ke Ganjaran—saya tidak tahu persis apakah sebelum atau sesudah Mbah Zayyadiy tinggal di sana—diceritakan bahwa Mbah Zayyadiy meminta Mbah As’ad, alias Bindereh Arsin, untuk menjaga dan mendampingi Mbah Bukhari. Itulah sebabnya kemudian Mbah As’ad pindah ke Ganjaran setelah firaq dengan istrinya di Urek-Urek. Dalam pembacaan sejarah pesantren, perpindahan seperti ini sering menjadi bagian dari konsolidasi dakwah. Ketika satu wilayah mulai tumbuh sebagai basis pengajian, diperlukan figur-figur yang menjaga kesinambungan perjuangan. Yai Yahya kemudian dinikahkan dengan puteri Mbah Bukhari, Nyai Mamnunah, untuk memperkuat perjuangan di wilayah ini. Abah Ahmad Zayyadiy diminta untuk ngaji dan tinggal bersama Yai Yahya, dan kelak dinikahkan dengan puteri Mbah As’ad, yaitu ibu saya Hanifah binti As’ad. Rangkaian hubungan ini membentuk jaringan perjuangan yang tidak hanya berbasis ilmu, tetapi juga berbasis keluarga. Di sinilah sanad, dakwah, dan nasab bertemu menjadi satu.

Pada akhirnya, saya sampai pada satu perasaan yang sulit saya ungkapkan selain kekaguman. Mbah Zayyadiy mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah mana pun. Tidak ada peringatan resmi atas nama beliau. Tidak ada monumen atau haul besar yang mengingat-ingat jasa beliau. Namun jejak langkah perjuangan beliau hidup dalam cerita para orang tua, dalam rumah-rumah yang pernah beliau tempati, dalam mushalla yang pernah beliau hidupkan, dan dalam jaringan keluarga yang beliau kuatkan. Dari serpihan-serpihan itu saya melihat betapa kuatnya ghirah perjuangan beliau dalam menegakkan akidah dan menghidupkan pengajian. Maaf Mbah, saya catat di sini agar cucu dan cicitmu kelak belajar dari apa yang telah engkau persembahkan untuk agama Allah.

Semoga semua itu menjadi amal shaleh yang diterima di sisi Allah SWT. Catatan manusia bisa saja salah, bisa terlupakan, bahkan bisa hilang. Tetapi catatan Malaikat tidak pernah salah dan tidak pernah lalai. Mbah, saya ingin menjadi seperti jenengan: berjuang dalam diam, bekerja tanpa riuh, meninggalkan jejak bukan untuk dikenang manusia, tetapi untuk dicatat sebagai amal di sisi-Nya.

Zenrif

Zenrif

M. Fauzan Zenrif adalah Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Malang bidang perekonomian (2021 - 2026), founder KPKNU (Komunitas Pengusaha Kecil NU).

Terkait

Ngantir: Ketika Cahaya Itu Kembali

Ngantir: Ketika Cahaya Itu Kembali

Oleh Zenrif
9 Jul 2026
0

Jalan menuju Ngantir, Pacitan, berliku mengikuti lekuk perbukitan karst. Di kiri dan kanan, pepohonan berdiri tenang seolah menyimpan kisah-kisah panjang...

Mengapa Ulama Sejati Tidak Mencari Panggung? Refleksi atas Spiritualitas Mbah Zayyadiy

Cuaca yang Membawaku Pulang

Oleh Zenrif
6 Jul 2026
0

Pagi ini, Senin, 6 Juli 2026. Jarum jam menunjukkan pukul 08.11 WIB. Di hadapan saya terbentang lembar-lembar hasil FGD dan...

Kak Tuan Syamsuddin: “Musuh” yang Kudengar, Saudara yang Kukenal

Kak Tuan Syamsuddin: “Musuh” yang Kudengar, Saudara yang Kukenal

Oleh Zenrif
12 Jun 2026
0

Saya adalah anak turun Bani Isma'il. Secara genealogis, saya berasal dari leluhur dan daerah yang sama dengan Kak Tuan Syamsuddin...

Halal Bihalal Tradisi NU: Dari Ritual Lebaran ke Etika Rekonsiliasi Bangsa

Halal Bihalal Tradisi NU: Dari Ritual Lebaran ke Etika Rekonsiliasi Bangsa

Oleh Zenrif
12 Apr 2026
0

Di tengah dinamika sosial yang kerap diwarnai polarisasi, masyarakat Indonesia memiliki satu mekanisme kultural yang relatif efektif dalam merawat harmoni,...

Postingan Berikut
Otoritas Pinggiran: Etika Ruang dan Modal Simbolik dalam Keteladanan Mbah Zayyadiy

Otoritas Pinggiran: Etika Ruang dan Modal Simbolik dalam Keteladanan Mbah Zayyadiy

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS