Di tengah kegamangan arah pembangunan dan krisis kemandirian komunitas, buku ini hadir laksana tetesan air sejuk di tengah kekeringan—memberi harapan, arah, dan kerangka berpikir yang jernih bagi siapa pun yang peduli pada masa depan masyarakat.
Buku Al-Qur’an Membicarakan Bangunan Komunitas Mandiri menawarkan sebuah pendekatan segar dan integratif dalam membaca al-Qur’an sebagai sumber desain sosial. Tidak berhenti pada wacana normatif, buku ini menghubungkan nilai-nilai Qur’ani dengan paradigma filosofis, sosiologis, dan antropologis, lalu mengaplikasikannya secara konkret dalam bidang sosial-keagamaan, ekonomi, lingkungan, dan pendidikan.
Keunikan buku ini terletak pada keberaniannya meniru logika al-Qur’an dalam merancang peradaban. Sebagaimana al-Qur’an memulai penciptaan manusia dengan dialog, penjelasan tujuan, dan visi kekhalifahan, buku ini mengawali gagasannya dengan blueprint kawasan—sebuah desain yang sadar tujuan, sadar nilai, dan sadar dampak. Dari sini pembaca diajak memahami bahwa pembangunan komunitas bukan kerja spontan, melainkan proses terencana yang berakar pada wahyu dan ilmu pengetahuan.
Konsep utama yang ditawarkan adalah Kawasan Ekonomi Komunitas Mandiri (KEK-Mandiri), sebuah model community development yang mengintegrasikan nilai-nilai al-Qur’an dengan teori dan praktik keilmuan kontemporer. Model ini tidak hanya relevan bagi akademisi dan peneliti, tetapi juga sangat aplikatif bagi praktisi pemberdayaan masyarakat, pengelola pesantren, aktivis sosial, pengambil kebijakan, hingga komunitas akar rumput yang ingin mandiri secara ekonomi tanpa kehilangan ruh spiritual.
Meskipun lahir dari pengalaman pendampingan Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai oleh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, buku ini diterbitkan secara mandiri agar manfaatnya dapat menjangkau khalayak yang lebih luas. Ia bukan sekadar laporan akademik, melainkan panduan berpikir dan bertindak bagi pembangunan komunitas Indonesia yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berakar pada nilai ilahiah.
Buku ini layak dibaca oleh siapa pun yang percaya bahwa al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi juga dirancang untuk dihidupkan dalam realitas sosial. Semoga karya ini menjadi amal jariyah bagi penulis dan seluruh pihak yang terlibat, serta menjadi inspirasi lahirnya komunitas-komunitas mandiri di berbagai penjuru negeri.








