Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Abah yang Tetap Hadir: Mengenang 21 Tahun Haul KH. Kholili Nawawi

Abah yang Tetap Hadir: Mengenang 21 Tahun Haul KH. Kholili Nawawi

(bagian 1)

Zenrif Oleh Zenrif
2 Feb 2026
dalam Berita, Sejarah Tokoh
0
Bagikan ke FacebookBagikan ke Whatsapp

Tak terasa, sudah memasuki Haul Abah KH. Kholili Nawawi yang ke-21 . Namun bagi saya, Abah serasa masih hadir dalam setiap kehidupan dan langkah yang saya jalani. Kehadirannya tentu tidak dalam wujud fisik, melainkan dalam bentuk nasihat-nasihat yang seolah terus mengiringi, juga dalam suara batin yang sering disurvei jika ada langkah saya yang salah.

Abah KH. Kholili Nawawi sebenarnya bukan Abah kandung saya. Tetapi Beliau sendiri yang terlebih dahulu meminta saya bertanya “Abah”, sebelumnya saya memanggil Beliau “Bek Tuan”. Mungkin karena saya sudah lama ikut dan sering menemani Beliau sejak masa kecil. Kedekatan itu tumbuh secara alami, tanpa jarak, tanpa formalitas, sebagaimana hubungan guru dan murid yang dilandasi kasih sayang dan keteladanan.

Baca lainnya

Halal Bihalal Tradisi NU: Dari Ritual Lebaran ke Etika Rekonsiliasi Bangsa

Halal Bihalal Tradisi NU: Dari Ritual Lebaran ke Etika Rekonsiliasi Bangsa

12 Apr 2026
“Ulama Tidak Pernah Bermusuhan: Khasyah, Bani, dan Konflik yang Diciptakan”

“Ulama Tidak Pernah Bermusuhan: Khasyah, Bani, dan Konflik yang Diciptakan”

4 Apr 2026

Ingatan saya sering kembali pada masa-masa itu, seolah baru kemarin. Abah mengajar membaca al-Qur’an secara rutin di mushalla. Saya selalu diletakkan di bagian paling depan, bukan karena keistimewaan, tetapi agar bisa segera keluar dari mushalla setelah selesai. Hal kecil, namun menunjukkan kepekaan Abah terhadap kondisi dan kebutuhan anak kecil, sebuah bentuk pendidikan yang senyap namun membekas.

Abah adalah sosok yang sangat istiqamah dalam berjama’ah. Untuk shalat dhuhur dan ashar, Beliau selalu shalat berjamaah di masjid yang sekarang dikenal dengan nama Masjid al-Syafi’iyah. Sedangkan untuk maghrib dan isya’, Beliau berjama’ah di mushalla. Saat maghrib, Beliau menjadi makmum karena ada Mbah As’ad yang menjadi imam. Namun ketika isya’, Beliau sendiri yang maju sebagai imam shalat. Ada adab, ada tatanan, dan ada keteladanan yang diwujudkan tanpa perlu banyak kata. Semua itu masih jelas tergambar dalam ingatan saya. Sebenarnya itu sudah tujuh puluh tahun yang lalu… hehehe

Keistiqamahan Abah tidak hanya tampak dalam mengajar, tetapi juga dalam mengaji. Hingga usia beliau telah dipanggil “Kyai” oleh masyarakat, Abah bersama Ummi Aminah tetap istiqamah mengaji kepada Kyai Yahya dan Kyai Qoffal. Terlebih lagi, karena sudah mengaji bertahun-tahun dan telah khatam berkali-kali kitab al-Hikam , Sullam Safinah , dan Faraidl , konon Beliau berdua sampai disuruh berhenti mengaji. Hehehe. Sebuah kisah yang bagi saya justru menegaskan kerendahan hati dan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Sejujurnya, jarang sekali saya melihat kyai, terutama kyai muda, yang masih mau terus mengaji dengan ketekunan seperti Beliau berdua.

saya Sepanjang bersama Abah, saya tidak pernah mendengar Beliau marah, apalagi membentak Ummi Aminah. Relasi keduanya mencerminkan keteduhan, adab, dan akhlak yang hidup, bukan sekadar diajarkan. Dari sanalah saya belajar bahwa kepemimpinan seorang kyai tidak hanya ditampilkan di hadapan santri dan jama’ah, tetapi juga di ruang paling sunyi bernama keluarga.

Pada Haul ke-21 ini, saya semakin menyadari bahwa warisan terbesar Abah KH. Kholili Nawawi bukan hanya Pondok Pesantren Miftahul Ulum Ganjaran yang beliau asuh, melainkan jejak keteladanan: istiqamah dalam ibadah, tawadhu’ dalam ilmu, dan kelembutan dalam akhlak. Warisan itu terus hidup, menuntun, dan bagi saya terus “hadir” hingga hari ini.

Zenrif

Zenrif

M. Fauzan Zenrif adalah Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Malang bidang perekonomian (2021 - 2026), founder KPKNU (Komunitas Pengusaha Kecil NU).

Terkait

Halal Bihalal Tradisi NU: Dari Ritual Lebaran ke Etika Rekonsiliasi Bangsa

Halal Bihalal Tradisi NU: Dari Ritual Lebaran ke Etika Rekonsiliasi Bangsa

Oleh Zenrif
12 Apr 2026
0

Di tengah dinamika sosial yang kerap diwarnai polarisasi, masyarakat Indonesia memiliki satu mekanisme kultural yang relatif efektif dalam merawat harmoni,...

“Ulama Tidak Pernah Bermusuhan: Khasyah, Bani, dan Konflik yang Diciptakan”

“Ulama Tidak Pernah Bermusuhan: Khasyah, Bani, dan Konflik yang Diciptakan”

Oleh Zenrif
4 Apr 2026
0

"Kalau Kyai musuhnya ya Kyai." Bahasa yang sudah umum disampaikan dan didengarkan di hampir setiap pojok pertemuan masyarakat awam itu...

Merawat Bani, Membangun Harmoni: Refleksi Sosial, Psikologis, dan Sufistik dari Man Tuan KH. Mujtaba

Merawat Bani, Membangun Harmoni: Refleksi Sosial, Psikologis, dan Sufistik dari Man Tuan KH. Mujtaba

Oleh Zenrif
3 Apr 2026
0

Antara saya dan Man Tuan KH. Mujtaba bin Bukhari bin Isma'il bukan sekadar relasi genealogis, tetapi juga relasi pedagogis yang...

Dari “Miskin dan Bodoh” Menuju Berdaya: Spirit Halal bi Halal Bani Isma’il dan Kebangkitan Ekonomi Keluarga

Dari “Miskin dan Bodoh” Menuju Berdaya: Spirit Halal bi Halal Bani Isma’il dan Kebangkitan Ekonomi Keluarga

Oleh Zenrif
26 Mar 2026
0

Pertemuan Bani Isma’il dalam rangka halal bi halal keluarga besar yang diselenggarakan pada Kamis, 26 Maret 2026 di Pondok Pesantren...

Postingan Berikut
Tradisi Istiqamah Abah dalam Pendampingan Santri

Tradisi Istiqamah Abah dalam Pendampingan Santri

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS