Tak terasa, sudah memasuki Haul Abah KH. Kholili Nawawi yang ke-21 . Namun bagi saya, Abah serasa masih hadir dalam setiap kehidupan dan langkah yang saya jalani. Kehadirannya tentu tidak dalam wujud fisik, melainkan dalam bentuk nasihat-nasihat yang seolah terus mengiringi, juga dalam suara batin yang sering disurvei jika ada langkah saya yang salah.
Abah KH. Kholili Nawawi sebenarnya bukan Abah kandung saya. Tetapi Beliau sendiri yang terlebih dahulu meminta saya bertanya “Abah”, sebelumnya saya memanggil Beliau “Bek Tuan”. Mungkin karena saya sudah lama ikut dan sering menemani Beliau sejak masa kecil. Kedekatan itu tumbuh secara alami, tanpa jarak, tanpa formalitas, sebagaimana hubungan guru dan murid yang dilandasi kasih sayang dan keteladanan.
Ingatan saya sering kembali pada masa-masa itu, seolah baru kemarin. Abah mengajar membaca al-Qur’an secara rutin di mushalla. Saya selalu diletakkan di bagian paling depan, bukan karena keistimewaan, tetapi agar bisa segera keluar dari mushalla setelah selesai. Hal kecil, namun menunjukkan kepekaan Abah terhadap kondisi dan kebutuhan anak kecil, sebuah bentuk pendidikan yang senyap namun membekas.
Abah adalah sosok yang sangat istiqamah dalam berjama’ah. Untuk shalat dhuhur dan ashar, Beliau selalu shalat berjamaah di masjid yang sekarang dikenal dengan nama Masjid al-Syafi’iyah. Sedangkan untuk maghrib dan isya’, Beliau berjama’ah di mushalla. Saat maghrib, Beliau menjadi makmum karena ada Mbah As’ad yang menjadi imam. Namun ketika isya’, Beliau sendiri yang maju sebagai imam shalat. Ada adab, ada tatanan, dan ada keteladanan yang diwujudkan tanpa perlu banyak kata. Semua itu masih jelas tergambar dalam ingatan saya. Sebenarnya itu sudah tujuh puluh tahun yang lalu… hehehe
Keistiqamahan Abah tidak hanya tampak dalam mengajar, tetapi juga dalam mengaji. Hingga usia beliau telah dipanggil “Kyai” oleh masyarakat, Abah bersama Ummi Aminah tetap istiqamah mengaji kepada Kyai Yahya dan Kyai Qoffal. Terlebih lagi, karena sudah mengaji bertahun-tahun dan telah khatam berkali-kali kitab al-Hikam , Sullam Safinah , dan Faraidl , konon Beliau berdua sampai disuruh berhenti mengaji. Hehehe. Sebuah kisah yang bagi saya justru menegaskan kerendahan hati dan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Sejujurnya, jarang sekali saya melihat kyai, terutama kyai muda, yang masih mau terus mengaji dengan ketekunan seperti Beliau berdua.
saya Sepanjang bersama Abah, saya tidak pernah mendengar Beliau marah, apalagi membentak Ummi Aminah. Relasi keduanya mencerminkan keteduhan, adab, dan akhlak yang hidup, bukan sekadar diajarkan. Dari sanalah saya belajar bahwa kepemimpinan seorang kyai tidak hanya ditampilkan di hadapan santri dan jama’ah, tetapi juga di ruang paling sunyi bernama keluarga.
Pada Haul ke-21 ini, saya semakin menyadari bahwa warisan terbesar Abah KH. Kholili Nawawi bukan hanya Pondok Pesantren Miftahul Ulum Ganjaran yang beliau asuh, melainkan jejak keteladanan: istiqamah dalam ibadah, tawadhu’ dalam ilmu, dan kelembutan dalam akhlak. Warisan itu terus hidup, menuntun, dan bagi saya terus “hadir” hingga hari ini.








