Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
DARI HUBBUL WATHAN KE HUBBUL WADHON

DARI HUBBUL WATHAN KE HUBBUL WADHON

Beda Gaya Kritik Sosial Kalangan Pesantren dan Akademisi Kampus

Zenrif Oleh Zenrif
29 May 2025
dalam Pemikiran
0
Bagikan ke FacebookBagikan ke Whatsapp

Hari ini, 29 Mei 2025, saya mengambil hari libur panjang bersama istri dan anak perempuan saya di rumah mertua, Coper Ponorogo. Baru saja saya duduk di kursi ruang tamu yang luas itu, saya melihat khat indah “حب الوطن من الإيمان.” Melihat karya seni artistik itu saya menjadi teringat pada latihan pidato saat di Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Ganjaran Malang. Dalam pandangan dan paham kami waktu itu, حب الوطن من الإيمان dinyatakan dari Nabi saw. Artinya, kami pada waktu itu memahami bahwa حب الوطن من الإيمان adalah hadits. Pemahaman itu muncul di kalangan masyarakt desa kami, karena dalam beberapa kesempatan, terutama menjelang Bulan Agustus, Ba Durahman, panggilan masyarakat untuk Kepala Desa Ganjaran H. Abdurrahman, berdiri di pintu masjid setelah shalat Jum’at mengingatkan agar masyarakat mengibarkan bendera merah putih, sebagai petanda cinta negara.

“Debeg dereh, pamajheng bederanah, kan حب الوطن من الإيمان?” (Mari para ustadz, dirikan benderanya, bukankah حب الوطن من الإيمان?). kata Beliau waktu itu. Kritik sosial Ba Durahman itu ditindaklanjuti oleh para Pamong Desa, terutama Pak Ilyas, Kamituwo, dan para Ustadz di mushalla dan pesantren. Ntah bagaimana awalnya kok kalimat حب الوطن من الإيمان ini dalam setiap latihan pidato di Pondok Pesantren Miftahul Ulum waktu itu disebut sebagai hadis. Mungkin karena berbahasa Arab… hehehe Pemahaman saya ini tidak berubah sampai kemudian saya bertemu dengan Prof. Dr. Harun Nasution dalam sebuah diskusi kelas Sejarah Pemikiran Modern Dalam Islam (SPMDI), tentang salah satu tokoh muslim modern terkenal, Jamaluddin al-Afghani.

Baca lainnya

Legitimasi Meritokrasi dalam Birokrasi Lokal: Menimbang Relasi Kekerabatan dalam Perspektif Hukum Administrasi dan Sejarah Politik Islam

Legitimasi Meritokrasi dalam Birokrasi Lokal: Menimbang Relasi Kekerabatan dalam Perspektif Hukum Administrasi dan Sejarah Politik Islam

19 Apr 2026
Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

18 Apr 2026

Al-Afghani, pemikir dan aktivis muslim berpengaruh dalam gerakan Pan-islamisme, merupakan tokoh yang selalu diperkenalkan Prof Harun dalam beberapa perkuliahan. Seingat saya, dalam salah satu makalah yang diajukan peserta program pasca sarjana IAIN Alauddin Ujungpandang, sekarang sudah berubah menjadi UIN Alauddin Makassar, menyatakan bahwa حب الوطن من الإيمان bukanlah sebuah hadits, melainkan pandangan al-Afghani. Prof Harun waktu itu tidak memberikan komentar terhadap pandangan ini, tetapi lebih menfokuskan pada pemikiran kritis al-Afghani dalam melawan omperialisme Eropa, terutama Inggris. Terlepas dari diskusi itu, saya menemukan dalam شرح الوصية الكبرى لابن تيمية bahwa حب الوطن من الإيمان bukanlah hadis, melainkan perkataan yang dinisbatkan pada rasulullah saw, padahal itu kata hikmah (pepatah atau kata-kata bijak), seperti kalimat “المعدة بيت الداء والحمية رأس الدواء” (Perut adalah sumber penyakit dan pantangan (menjaga makan) adalah pangkal pengobatan) yang berasal dari tabib (dokter) Arab terkenal, al-Harits bin Kaladah.[1]

Dari hasil pencarian terhadap 1253 kitab hadits dan syarah hadits, melalui aplikasi al-Maktabah al-Syamilah, ditemukan empat pembahasan tentang حب الوطن من الإيمان . dalam kitab مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح dan  شرح رياض الصالحينsekali pembahasan  dan dalam دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين  sekali pembahasan. Dalam kitab terakhir disebutkan ini dijelaskan sebagai berikut:

والوطن الحقيقي هو الدار الآخرة التي لا نهاية لآخرها بإرادة الله تعالى وقدرته كما جاء في الحديث «يا أهل الجنة خلود بلا موت ويا أهل النار خلود بلا موت» . قال بعضهم: هذا هو المراد من حديث «حبّ الوطن من الإيمان» أي: فينبغي لكامل الإيمان أن يعمر وطنه

“Negeri yang sejati adalah kampung akhirat, yang tidak memiliki akhir karena kehendak dan kuasa Allah Ta‘ala, sebagaimana disebutkan dalam hadis: ‘Wahai para penghuni surga, (kalian akan hidup dalam) kekekalan tanpa kematian; dan wahai para penghuni neraka, (kalian akan hidup dalam) kekekalan tanpa kematian.’ Sebagian ulama berkata: Inilah makna yang dimaksud dari hadis حبّ الوطن من الإيمان (‘Cinta tanah air adalah bagian dari iman’), yakni: seorang yang imannya sempurna semestinya membangun dan memakmurkan ‘tanah airnya’.”[2]

 

والإنسان في الدنيا غريب على الحقيقة، لأن الوطن الحقيقي هو الجنة كما حمل عليه كثير «حب الوطن من الإيمان» على الجنة وهي التي أنزل الله بها الأبوين ابتداء وإليها المرجع إن شاء الله تعالى بفضل الله ومنه، والإنسان في الدنيا في دار غربة كالمسافر من وطنه حتى يرجع إليه، والله الموفق لما يوصل إلى الرجوع إليه (أو عابر سبيل) أي داخل البلد على سبيل المرور بها لكونها على طريقك

“Manusia di dunia ini, pada hakikatnya, adalah seorang asing, karena negeri yang sejati adalah surga. Banyak ulama menafsirkan hadis حب الوطن من الإيمان (‘Cinta tanah air adalah bagian dari iman’) sebagai merujuk pada surga, yakni tempat pertama yang Allah turunkan kepada kedua orang tua kita (Adam dan Hawa) dan tempat kita akan kembali kepadanya, insya Allah Ta‘ala, dengan karunia dan anugerah-Nya. Maka kehidupan manusia di dunia ini adalah kehidupan dalam keterasingan, seperti seorang musafir yang meninggalkan kampung halamannya hingga ia kembali ke sana. Dan Allah-lah yang memberi taufik kepada siapa saja yang Dia kehendaki untuk dapat kembali (ke kampung sejatinya). Atau seperti ‘seorang yang hanya sekadar lewat’, yakni seseorang yang masuk ke sebuah negeri hanya sebagai pelintas karena negeri itu berada di jalur perjalanannya.”[3]

 

Saya berasumsi bahwa pemahaman حب الوطن من الإيمان  adalah hadits berangkat dari pandangan di atas, sebab beberapa Ustadz di ganjaran membaca kitab tersebut. Akan tetapi dalam pandangan Syeikh Muhamamd bin Shalih bin Muhammad berpendapat bahwa jika mengatakan bahwa حب الوطن من الإيمان adalah hadits itu kebohongan (وأن ذلك حديث عن رسول الله صلي الله عليه وسلم كذب).[4] Ali bin Sulthan Muhammad حُبِّ الْوَطَنِ مِنَ الْإِيمَانِ merupakan hadis palsu (وَأَمَّا حَدِيثُ «حُبِّ الْوَطَنِ مِنَ الْإِيمَانِ» فَمَوْضُوعٌ).[5] Saya berpandangan bahwa حُبِّ الْوَطَنِ مِنَ الْإِيمَانِ  bukan hadits karena sejauh penelitian terhadap kalimat ini tidak disebutkan dalam kitab matan hadits manapun.

Saya ingin kembali pada pandangan Prof Harun. Sebagaimana kebanyakan para tokoh pergerakan Islam abad ke-20, sebut saja Muhammad Abduh di Mesir dan Syeikh Ahmad Khan di India, Prof Harun memandang al-Afghani sebagai pemikir rasional yang mendorong umat Islam untuk menggunakan nalar rasional (ijtihad).[6] Dalam menghadapi kolonialisme al-Afghani mengajak umat Islam untuk meninggalkan taqlid buta, serta membuka diri terhadap hadirnya pengetahuan modern.[7] Saya melihat bahwa Prof Harun tidak mengutip secara langsung حب الوطن من الإيمان, namun dalam kerangka pemikiran nasionalisme religiusnya, Prof Harun mendukung pemisahan agama dan negara, sebab nasionalisme Indonesia dapat dipahami sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai Islam.[8]

Pandangan Prof Harun ini sama dengan pendapat al-Shaghaniy. Maksud saya Isma’il bin Hammad aṣ-Ṣaghānī (إسماعيل بن حمّاد الصَّغاني), ahli bahasa Arab, ahli hadits, dan ahli leksiografer abad ke-7 Hijriyah. Sekalipun al-Shaghani memandang bahwa حب الوطن من الإيمان adalah hadis palsu, akan tetapi maknanya benar namun ditolak oleh al-Qariy.

ومعناه صحيح، ورد القاري قوله ومعناه صحيح بأنه عجيب، قال: إذ لا تلازم بين حب الوطن وبين الإيمان، قال: ورد أيضا بقوله تعالى: {وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ} الآية2, فإنها دلت على حبهم وطنهم، مع عدم تلبسهم بالإيمان؛ إذ ضمير عليهم للمنافقين، لكن انتصر له بعضهم بأنه ليس في كلامه أنه لا يحب الوطن إلا مؤمن، وإنما فيه أن حب الوطن لا ينافي الإيمان

“Maknanya sebenarnya sahih (benar), namun al-Qari menolak pernyataan bahwa ‘maknanya sahih’ dengan mengatakan bahwa hal itu mengherankan. Ia berkata: Tidak ada hubungan yang logis antara cinta tanah air dan iman. Ia juga menolak hadis tersebut dengan dalil firman Allah Ta‘ala: ‘Dan sekiranya Kami tetapkan atas mereka (perintah)…’ (QS. An-Nisā’: 66), yang menunjukkan bahwa mereka mencintai tanah air mereka, padahal mereka tidak beriman; karena kata ganti ‘mereka’ dalam ayat itu merujuk pada orang-orang munafik. Namun, sebagian ulama membela (makna) hadis tersebut dengan mengatakan bahwa di dalam hadis itu tidak terdapat pernyataan bahwa ‘hanya orang beriman yang mencintai tanah air’, tetapi maksudnya adalah bahwa ‘cinta tanah air tidak bertentangan dengan keimanan’.”[9]

 

Al-Albaniy, sama dengan al-Qariy, menolak pandangan bahwa cinta tanah air ada kaitannya dengan keimanan. Dalam hal ini al-Albaniy menyatakan: ومعناه غير مستقيم إذ إن حب الوطن كحب النفس والمال ونحوه، كل ذلك غريزي في الإنسان لا يمدح بحبه ولا هو من لوازم الإيمان، ألا ترى أن الناس كلهم مشتركون في هذا الحب لا فرق في ذلك بين مؤمنهم وكافرهم؟ (“Maknanya tidaklah lurus (tidak tepat), karena cinta tanah air—seperti halnya cinta terhadap diri sendiri, harta, dan semisalnya—semuanya adalah sesuatu yang bersifat naluriah dalam diri manusia. Oleh karena itu, seseorang tidak dipuji karena mencintainya, dan cinta tersebut bukan pula merupakan bagian dari konsekuensi iman. Tidakkah engkau lihat bahwa semua manusia memiliki cinta semacam itu, tanpa ada perbedaan antara orang yang beriman dan yang kafir?”).[10]

Saya tenggelam membaca perdebatan para pakar dan pemikir Islam sampai lupa bahwa saya sedang duduk bersama mertua, istri dan adik ipar saya. Saya merasa bagaimana para akademisi yang cinta pada pengetahuan itu melakukan kajian dan perbedatan akademik secara terbuka dan tetap menjaga akhlak mereka. Saya tak membaca kitab apapun yang menyinggung atau menganggap pandangan yang lain salah, apalagi mengkafirkan. Saya sekali, saya berhenti menekusuri perdebatan itu lebih jauh karena tiba-tiba teringat apda kritik sosial akademisi kontemporer “hubbul wadhon minal iman.” Pikiran saya tiba-tiba menjadi tumpul dan merasa lelah “Ah… guyonan yang tidak akademis, sekalipun mungkin bisa dianggap sebagai kritik sosial kalangan akademisi kontemporer yang tidak akademis juga…” begitu pikirku dan tiba-tiba menghentikan bacaan dan tulisan ini…

Coper, 29 Mei 2025.

 

[1] Baca dalam Abdyl Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman al-Rajihiy, Syar hal-Washiyyah al-Kubra li Ibn Taymiyah dalam http://www.islamweb.net.

[2] Muhammad Aliy bin Muhammad, Dalīlu al-Fāliḥīn li-Ṭuruqi Riyāḍi aṣ-Ṣāliḥīn (Bairut: Dar al-Ma’rifah li al-Thaba’ah wa al-Nasyr wa al-tawzi’), Juz I, 37.

[3] Muhammad Aliy bin Muhammad, Dalīlu al-Fāliḥīn, Juz V, 10.

[4] Muhammad bin Shalih bin Muhammad, Syarh Riyad lak-Shalihin (Royadl: Dar al-Wathan li al-Nasyr, 1426 H.), Juz I, 68.

[5] Aliy bin Sulthan Muhammad, Abu al-Husayn Nuruddin, Mirqāt al-Mafātīḥ Sharḥ Mishkāt al-Maṣābīḥ (Bairut: dar al-Fikr, 2002), Juz III, 1158.

[6] Baca dalam Harun Nasution, Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran, (Bandung: Mizan, 1995), 118–120.

[7] Lihat dalam Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, cetakan ke-3, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), 45–47.

[8] Cek tentang hal ini dalam Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid 2, (Jakarta: UI Press, 1986), 135–137.

[9] Isma’il bin Muhammad bin ‘Abdulhadiy, Kashf al-Khafāʾ wa-Muzīl al-Ilbās (al-Maktabah al-Ashriyah, 2000), Juz I, 399.

[10] Abu ‘Abdirrahman Muhammad Nashruddin, Mawsū‘at al-‘Allāmah al-Imām Mujaddid al-‘Aṣr Muḥammad Nāṣir ad-Dīn al-Albānī (Mawsū‘ah tataḍammanu akthar min 50 ‘amalan wa-dirāsah ḥawla al-‘Allāmah al-Albānī wa-turāthihi al-khālid) (Ṣan‘ā’ – al-Yaman: Markaz an-Nu‘mān li al-Buḥūth wa ad-Dirāsāt al-Islāmiyyah wa Taḥqīq at-Turāth wa at-Tarjamah, 2010), Juz IV, 17.

Tags: AkademisiCinta tanah airImanPerdebatanPesantren
Zenrif

Zenrif

M. Fauzan Zenrif adalah Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Malang bidang perekonomian (2021 - 2026), founder KPKNU (Komunitas Pengusaha Kecil NU).

Terkait

Legitimasi Meritokrasi dalam Birokrasi Lokal: Menimbang Relasi Kekerabatan dalam Perspektif Hukum Administrasi dan Sejarah Politik Islam

Legitimasi Meritokrasi dalam Birokrasi Lokal: Menimbang Relasi Kekerabatan dalam Perspektif Hukum Administrasi dan Sejarah Politik Islam

Oleh Zenrif
19 Apr 2026
0

Fenomena pelantikan anak kandung oleh Kepala Daerah ke dalam jabatan strategis birokrasi, seringkali dipersepsikan secara simplistik sebagai bentuk nepotisme, tanpa...

Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

Oleh Zenrif
18 Apr 2026
0

Mencari tempat kos di Malang dan sekitarnya, terutama untuk anak perempuan, yang sesuai dengan kaidah ajaran Islam pada saat ini...

Prioritas Program Pemerintah: Menimbang Koperasi Merah Putih, MBG, Pendidikan, Infrastruktur, Perumahan, dan Alutsista dengan Maqāṣid

Prioritas Program Pemerintah: Menimbang Koperasi Merah Putih, MBG, Pendidikan, Infrastruktur, Perumahan, dan Alutsista dengan Maqāṣid

Oleh Zenrif
18 Apr 2026
0

Dalam menimbang dan menlai skla prioritas program Pemerintah, kaidah ushul fiqh “الواجب لا يُترك لسُنّة، بل يُترك لواجبٍ” bisa memberikan...

Epistemologi Konvergensi dalam Studi Islam: Menyatukan Teks, Akal, dan Metode Ilmiah

Epistemologi Konvergensi dalam Studi Islam: Menyatukan Teks, Akal, dan Metode Ilmiah

Oleh Zenrif
13 Apr 2026
0

Setelah saya diminta memimpin Prodi Studi Islam di Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, saya terus melakukan kajian. Ada beberapa...

Postingan Berikut
“JANGAN BERKATA ATAS KATA”

“JANGAN BERKATA ATAS KATA”

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS