Dalam beberapa kesempatan, ceramah dan posting di Group WA Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim, Prof. Dr. H. Imam Suprayogo sering mengingatkan agar para praktisi Pendidikan dan ilmuan untuk tidak berkata atas kata. “Jangan berkata atas kata” yang saya jadikan judul dalam tulisan sederhana ini merupakan potongan dari pernyataan Prof Imam, “Jangan berkata atas kata, tapi berkatalah atas benda.” Potongan kedua insya Allah akan saya diskusikan pada tulisan berikutnya. Saya menganggap penting untuk memahami dan mendiskusikan pernyataan Prof Imam “Jangan berkata atas kata, tapi berkatalah atas benda” karena Prof Imam adalah tokoh penting Indonesia dan cukup berpengaruh pemikirannya, saya kira sekelas dengan Prof Harun pada masanya. Kedua, alasan substantif yang membuat saya merasa resah karena pernyataan Prof Imam telah menjadi bahan diskusi beberapa kalangan dosen dan sebagiannya dianggap memasuki ranah teologis, terutama yang berkaitan dengan pembahasan mengenai ruh dan Tuhan.
Agar saya dapat memahami makna yang tersembunyi, dinamika sosial, dan relevansi dengan kekinian pernyataan Prof Imam “jangan berkata atas kata” saya bisa memilih beberapa pendekatan, misalnya hermeneutika, analisis wacana historis (historical discourse analysis), semiotika kontekstual (contextual semiotics analysis). Pada kesempatan ini, saya ingin memahami dan mendiskusikan pernyataan Prof Imam “jangan berkata atas kata” dengan menggunakan pendekatan yang saya sebut dengan Historical Discourse Analysis (HDA), sebuah kajian terhadap pernyataan atau teks dalam konteks kesejaharannya, termasuk situasi sosial-politik, kekuasaan, dan ideologi yang mempengaruhi Prof Imam.
Pendekatan ini pertama diformalisasi Michel Foucault dengan pendekatan geneologi dan arkeologi wacana, dimana Foucault memandang bahwa wacana tidak netral. Wacana, menurut Foucault, dibentuk oleh kekuasaan, institusi, dan kondisi kesejarahannya untuk membentuk pengetahuan, kekuasaan dan identitas sosial pembentuknya.[1] Ruth Wodak, saya kira pelopor Discourse Historical Approach (DHA) dari Contextual Discourse Analysis (CDA), menekankan pentingnya konteks kesejarahan dan kesosialan dalam analisis wacana.[2] Karena saya dalam HDA lebih menfokuskan pada bagaimana Bahasa membentuk hubungan sosial dan institusi dalam kaitannya waktu kesejarahannya, saya secara teknis juga menggunakan Critical Discourse Abalysis (CDA)-nya Norman Fairlough.[3]
Cara kerja HDA yang saya gunakan dalam memandang memahami dan mendiskusikan pernyataan Prof Imam “jangan berkata atas kata” sebagai praktik sosial yang berhubungan dengan struktur sosial, ideologi, dan relasi kuasa, karena sebagai alat komunikasi pernyataan Prof Imam saya pandang tidak bisa bersifat netral. Oleh sebab itu, saya berusaha untuk mengungkap bagaimana pernyataan Prof Imam sebagai cerminan pemikiran yang mereproduksi dominasi, control, atau resistensi dalam institusi UIN Maliki Malang, sebagai produsen akademisi, dan institusi Pendidikan agama lain, seperti pesantren dan peguruan tinggi agama dimana Prof Imam menjadi bagian terpenting dalam perkembangannya. Analisis yang saya lakukan sebenarnya tidak bole berhenti hanya pada makna struktur teks, melainkan juga pada konteks sosial-historisnya, sipa Prof Imam, posisi dimana bicara, kepada siapa berbicara, dalam situasi apa, dan untuk tujuan apa.
Dalam melakukan analisis teks “jangan berkata atas kata”, saya akan memperhatikan wacana yang terkesan sederhana dan alami ini sebagai sebuah pernyataan yang luar biasa karena mengandung konstruksi ideologis yang mempengaruhi Prof Imam berpikir dan kemudian bertindak. Oleh karena itu, saya akan coba menjelaskan pilihan kata, metafora, struktur kalimat, hingga narasi dominan, agar kemudian saya dapat menghubungkan dengan kekuatan sosial yang lebih besar. Jelasnya, saya mencoba untuk menjelaskan bagaimana memahami “jangan berkata atas kata” sebagai medan perjuangan sosial Prof Imam dalam menentang kuasa narasi akademik yang sudah berlangsung dalam konteks kesejarahan tafsir yang sudah berjalan puluhan bahkan ratusan tahun lamanya.
Mengawali ini saya akan berangkat dari identifikasi Prof Imam sebagai actor historis, kemudian menjelaskan apa yang sedang terjadi saat Prof Imam menyatakan “jangan berkata atas kata”, dan diakhiri dengan untuk siapa dalam dalam rangka apa pernyataan “jengan berkata atas kata” tersebut disampaikan. Baiklah saya akan memulai dari pengetahuan saya tentang Prof Imam, karena saya tidak melakukan penelitian mendalam tentu pengetahuan ini lebih banyak berdasarkan atas apa yang saya tahu dan mudah saya temukan dengan menggunakan bantuan AI. Jadi, jika kemudian ditemukan kekurangan atau kesalahan atau sifat subjektif saya pada tokoh Indonesia yang mempengaruhi gaya kepemimpinan saya dalam memimpin beberapa organisasi yang pernah saya lakoni ini, anda telah menemukan kebenarannya.
Lahir di Trenggalek pada tanggal 2 Januari 1951, Prof Imam dikenal sebagai tokoh besar dalam dunia Pendidikan Islam, dikenal luas karena kontribusinya dalam pengembangan perguruan tinggi Islam di Indonesia. Prof Imam meniti karir melintasi di jalan berbagai institusi dan organisasi keagamaan. Dalam diri Prof Imam ada keMuhammadiyahan dan sekaligus keNUan.[4] Sebagai pintu masuk perjuangan, Prof Imam tidak menjadikan Muhammadiyah dan NU sebagai organisasi sosial keagamaan semata, lebih dari itu Muhammadiyah dan NU adalah kereta cepat perjuangan untuk menacapai idelaisme yang diboyongnya sendiri. Itulah sebabnya, Prof Imam pernah mengatakan bahwa Beliau dilahirkan dan dibesarkan dalam pangkuan ayahnya yang Muhammadiyah kultural, tetapi saat yang lain Prof Imam menyatakan dari kalangan NU yang modernis pada masanya.
Cara pandang yang demikian, bisa saya pahami dari karir awal akademik Prof Imam yang dimulai di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Prof Imam menjabat beberapa jabatan penting di UMM, tetapi puncak karirnya saat menjabat sebagai Pembantu Rektor I, Bidang Akademik, dari tahun 1983 hingga menjadi Wakil Direktur Pascasarjana UMM tahun 1996. Selama pengabdiannya di UMM, Prof Imam menjadi salah satu tokoh penting membangun reputasi UMM hingga memperoleh kepercayaan banyak pengasuh pesantren NU mengijinkan generasi pelanjutnya kuliah di UMM. Saya cuplikkan sepotong sejarah perjuangan heroik Prof Imam di UMM berikut:
Salah satu hasil kerja keras yang monumental adalah ikut mengantarkan Universitas Muhammadiyah Malang sebagai kampus yang tidak hanya membanggakan di tanah air tetapi juga bereputasi internasional. Karya besar ini memang tidak seperti Roro Jonggrang menyulap Candi Sewu dalam satu malam, tetapi membutuhkan waktu bertahun-tahun yang penuh pengorbanan. Bersama tokoh-tokoh yang lebih senior seperti Prof. Malik Fajar yang diamanati sebagai rektor, Imam Suprayogo dengan penuh setia dan kesungguhan mengawal ide-ide besar untuk mewujudkan Universitas Muhammadiyah Malang sebagai universitas unggulan yang membanggakan.
Konon, seluruh pengurus rektorat dan yayasan bersedia mengagunkan sertifikat tanah masing-masing untuk meminjam uang di bank guna menambah modal keuangan untuk pengembangan kampus. Banyak cerita heroik yang menjadikan UMM bisa hebat dan besar seperti yang kita saksikan hari ini. Intinya untuk mewujudkan impian besar, tidak cukup hanya kerja keras semata, tetapi juga butuh pengorbanan. Apalagi, hanya dengan khayalan dan angan-angan, pasti semuanya tidak akan menjadi kenyataan.[5]
Apakah Prof Imam memang Muhammadiyah atau HMI? Saya belum pernah mendengar ada yang berhasil menjawab ini dengan baik. Bahkan, pada waktu saya studi di UIN Alauddin Makassar, saya pernah diperlihatkan foto oleh seniornya, Prof Mappanganro. Saat itu saya melihat foto Pak Imam membawa bendera PMII. “Ini saat Imam ikut acara MAPABA, dia itu PMII” kata Prof Mappanganro saat itu dengan menggunakan logat khas Makassarnya, sambil meyakinkan pada saya bahwa jika saya Kembali ke Malang harus membantu dan membela dia. Tapi tahun 1996 itu saya baru masuk di Pascasarjana UIN Alauddin, sedangkan Pak Imam tahun 1996 masih menjadi Wakil Direktur di Pascasarjana UMM. Tentu saja saya hanya diam saja karena tidak tahu bagaimana caranya saya harus membantu dan membela Dr. Imam, belum Profesor, yang saat itu belum ada di IAIN Malang. Saya baru menyadari bahwa tahun 1997, Pak Imam pindah ke IAIN Malang kemudian menjadi Ketua STAIN Malang pada tahun 1998, dan mengajak saya masuk ke STAIN Malang pada tahun 1999 setelah saya baru saja selesai dari IAIN Alauddin Makassar.
Dengan menggunakan logika Prof Harun tentang Sejarah Pemikiran Islam (SPI), saya mengenal dengan baik Pemikiran dan Gerakan Pak Imam sejak tahun 1999. Sebab, sejak saat itu saya diajak Pak Imam untuk ikut dalam Gerakan Perubahan STAIN Malang menjadi UIN Malang. Pak Imam tidak membutuhkan waktu yang panjang untuk dapat mewujudkan cita-citanya itu. Pak Imam sepertinya tahu persis bagaimana memanfaatkan kekuatan NU untuk mewujudkan idealismenya untuk melakukan perlawanan terhadap kebijakan UMM yang sudah tidak memanfaatkan kelebihannya itu.
Pak Imam seperti tahu persis bahwa untuk me-landing-kan idealisme dan sekaligus melakukan gerakan perlawanannya bisa memanfaatkan institusi yang lainnya. NU dan Nahdliyyin kemudian menjadi pilihan satu-satunya bagi Pak Imam untuk dapat melanjutkan cita-cita besarnya tentang Perguruan Tinggi Islam seharusnya. Tentu, pilihan ini disadari memliki banyak resiko, tapi bukan Imam namanya kalua tidak bisa menyiapkan payung sebelum hujan badai datang… hehehehe
Sebelum menciptakan sejarah baru di Indonesia, Pak Imam sudah menyiapkan berbagai piranti agar dapat membuat jalan tol pergerakannya sesuai arah dan cita-citanya dengan mudah. Bersama orang-orang kepercayaannya yang masih tersisa dan diajak Kembali ke “pangkuan” STAIN Malang, Pak Imam membangun jalan besar peradaban baru di lingkungan STAIN Malang dan kelak berpengaruh secara nasional. Jalan besar itu Bernama Program Khusus Pengembangan Bahasa Arab (PKPBA) pada tahun 1998,[6] dan Ma’had Sunan Ampel al-‘Aliy pada 4 April 1999 yang beroperasi penuh pada 26 Agustus 2000.[7] Dalam usahanya itu, Pak Imam memanfaatkan kepercayaannya bahwa fakta jauh lebih berpengaruh daripada kata-kata, tetapi kata-kata juga yang akan mampu mengubah dan menggerakkan orang agar terprovokasi pada kebaikan. Saya cuplikkan salah satu cara Pak Imam memprovokasi orang lain untuk bergerak dan bertindak berikut:
“Bila banyak kalangan yang pesimis terhadap masa depan ulama, saya justru merasa optimis,” ucapnnya. Menurut Imam, lebih satu dekade lalu, ketika masih bernama Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malang, kampus yang dikelolanya bisa disebut mirip SD inpres. Kini berubah seratus delapan puluh derajat. Di samping memiliki infrastruktur yang baik, tradisi keilmuan mendapat apresiasi banyak pihak karena menerapkan pola pendidikan pesantren.
“Mahasiswa harus menguasai bahasa Arab dan Inggris, membiasakan salat berjemaah dan tahajud, dan menghafal Al-Quran. Sehingga, sebanyak 2.000 atau lebih sepuluh persen dari total mahasiswa (7.500) adalah penghafal Al-Quran,” ujarnya. Imam memaparkan, kini mahasiswa dari 27 negara, seperti Amerika Serikat, Rusia, Madagaskar, Bulgaria, Malaysia, Papua Nugini, Mesir, belajar di UIN Malang.
“Kami mengembangkan konsep pendidikan yang merupakan sintesis antara tradisi universitas dan pesantren atau mahad. Saya pikir ini bisa menjawab krisis ulama yang dianggap kian memprihatinkan,” katanya. Mahad itulah, menurut Imam, salah satu program unggulan UIN Malang. Melalui wadah ini terbukti mampu meningkatkan kualitas mahasiswanya. Pada tahun pertama, seluruh mahasiswa diwajibkan tinggal di mahad untuk memperdalam bahasa Arab dan Inggris. Melalui bahasa Arab, mahasiswa mampu mengkaji Islam melalui sumber aslinya yaitu al-Al-Quran dan hadis. Sedang melalui bahasa Inggris, mereka mampu mengkaji ilmu-ilmu umum dan modern, selain sebagai piranti komunikasi global, ujar Imam yang menjabat rektor selama 14 tahun di kampus megah tersebut.[8]
Seperti begitulah kata-kata “hipnotis” yang sering saya dengar berkali-kali disampaikan dalam berbagai kegiatan untuk menginternalisasikan pemikiran Pak Imam. Bahkan, setelah dirasakan banyak orang mengeluhkan karena terlalu sering mendengar apa yang disampaikan, Pak Imam merespon dengan pikiran sederhana: “sekalipun sudah mendengarkan ini berkali-kali, tidak boleh bosan karena fatihah saja dibaca berulang-ulang kali setiap raka’at dalam setiap shalat.” Logika dan narasi dalam kata-kata agamis yang cukup menggelitik dan mengundang tawa banyak orang yang mendengarnya, seakan mereka mengiyakan atau menyetujui narasi itu.
Di samping Pak Imam berkata-kata dalam setiap pertemuan, Pak Imam juga banyak berkata-kata dalam banyak tulisan dan karya.[9] Bahkan, Pak Imam berkat berkata-kata dalam bentuk tulisan mendapat penghargaan MURI tahun 2009 kategori Rektor yang menulis artikel di website terlama, selama tiga tahun tanpa jeda.[10] Dengan keahlian berkata-katanya, meskipun sudah lama memangku jabatan penting di UMM, Prof Imam juga pernah menjabat sebagai Wakil Rois Syuriah NU Jawa Timur dan anggota Dewan Pembina Yayasan Universitas Islam Malang (UINSMA), sebuah institusi berafiliasi dengan NU.[11] Dengan keahliannya meyakinkan orang lain dengan berkata-kata, Prof Imam dekat dengan semua tokoh Muhammadiyah dan NU. Lalu mengapa Prof Imam mengatakan: “jangan berkata-kata atas kata?”
[1] Baca karya kuncinya dalam The Archaeology of Knowledge (1969), Discipline and Punish (1975), The History of Sexuality (1976).
[2] Pelajari karya dalam Disorders of Discourse (1996), The Discursive Construction of National Identity (1999), Methods of Critical Discourse Analysis (2001), The Politics of Fear: What Right-Wing Populist Discourses Mean (2015). Karya Methods of Critical Discourse Analysis yang ditulis Bersama Michael Meyer ini merupakan buku metodologis penting dalam pendekatan-pendekatan CDA termasuk DHA secara sistematis.
[3] Karya kuncinya baca dalam Language and Power (1989), Discourse and Social Change (1992).
[4] Sebagian kabar tentang ini lihat di gontornews.com
[5]https://m.kemenag.go.id/nasional/mengenal-prof-imam-suprayogo-inspirator-pengembangan-ptki-3-mcqm4u?utm_source=chatgpt.com
[6] https://uin-malang.ac.id/r/150601/keberhasilan-apapun-membutuhkan-kesungguhan.html
[7] https://msaa.uin-malang.ac.id/sample-page/?utm_source=chatgpt.com
[8]https://surabaya.kemenag.go.id/nasional/uin-malang-model-ideal-pengaderan-ulama-t9so02?utm_source=chatgpt.com
[9]Beberapa karya Imam Suprayogo, Pendidikan Berparadigma Al-Quran (Malang: Aditya Media.Jurnal STAIN Madina, 2004) Paradigma Pengembangan Keilmuan Perspektif UIN Malang (Malang: UIN Malang Press, 2006); Perubahan Pendidikan Tinggi Islam: Refleksi Perubahan IAIN/STAIN Menjadi UIN (Malang: UIN Press.2008); Universitas Islam Unggul (Malang: UIN- Malang Press, 2009); Paradigma Pengembangan Keilmuan Perguruan Tinggi (Malang: UIN Press, 2017).
[10] https://goresanilmu.com/2024/04/17/prof-imam-suprayogo-bersemai-bersama-karya/?utm_source=chatgpt.com
[11] https://tebuireng.online/prof-imam-suprayogo-gus-sholah-tahu-saya-muhammadiyah-juga-nu/?utm_source=chatgpt.com








