“Sampean Bisa, Lek, Dek Kintoh?: Panggilan Terakhir dari Ndalem

Ada bunyi telepon yang ketika masih bisa kita dengar terasa begitu biasa. Bahkan kadang-kadang kita menerimanya sambil lalu, menjawabnya tanpa menyadari bahwa suara di seberang sana sesungguhnya sedang menjadi bagian dari kenangan yang suatu hari akan sangat kita rindukan.

Setiap kali di Malang ada acara, atau ada kematian, biasanya saya selalu menunggu telepon dari Kak Tuan Muhammad Ilyas atau Kak Tuan Syamsuddin. Biasanya suara dari seberang sana sederhana saja, “Sampean bisa dek kintoh?” Tidak ada kata-kata istimewa, tetapi saya tahu maksudnya. Ada acara yang harus saya hadiri, ada keluarga yang sedang berduka, atau ada sesuatu yang harus kami urus bersama.

Kemudian kedua beliau menghadap Allah SWT terlebih dahulu. Sejak saat itu acara tetap ada, kematian tetap datang, telepon tetap berdering, tetapi telepon yang saya tunggu tidak pernah datang lagi. Dan saya mulai memahami bahwa ada orang-orang yang ketika masih hidup tidak pernah kita sadari betapa pentingnya kehadiran mereka dalam kehidupan kita. Baru setelah mereka tiada, kita sadar bahwa sebagian dari ketenteraman hidup kita ternyata lahir dari sapaan, perhatian, dan kehadiran mereka.

Begitu pula setelah Yai Ahmad Hariri berpulang. Saya tahu, sejak hari itu saya tidak akan pernah lagi menerima utusan atau telepon dari beliau dengan kalimat yang sangat saya kenal, “Sampean bisa, Lek, dek kintoh?” Padahal beliau memang lebih tua dari saya. Beliau adalah kakak saya. Tetapi tidak pernah sekalipun saya dipanggil hanya dengan nama. Selalu ada “Lek” di belakangnya.

Bahkan ketika berbicara dengan saya yang jauh lebih muda, beliau hampir selalu menggunakan bahasa halus, bahkan krama inggil. Kesopanan itu bukan sesuatu yang dibuat-buat. Bukan pula karena sedang ada orang lain yang melihat. Begitulah beliau berbicara kepada saya, dan begitulah pula beliau menghargai banyak orang.

Kadang saya sendiri merasa malu, karena kesopanan saya tidak pernah sekonsisten beliau. Kadang saya memanggil beliau “Kai”, kadang “Kak Tuan”. Tetapi beliau tetap saja memanggil saya “Lek” dan berbicara kepada saya dengan bahasa yang halus. Seolah-olah usia, kedudukan, dan perbedaan apa pun tidak pernah menjadi alasan bagi beliau untuk mengurangi penghormatan kepada orang lain.

Saya teringat suatu hari ketika saya menerima pesan dari beliau agar saya sowan kepada Bek Tuan Mamnunah, ibunda beliau. Utusan itu sudah sehari meninggalkan pesan di rumah Ganjaran, tetapi saya belum juga datang. Aktivitas saya di kampus cukup banyak sehingga pesan itu belum segera saya laksanakan.

Sampai akhirnya beliau sendiri menelepon saya. “Sampean sibuk gih, Lek?” tanyanya dengan suara yang sangat hati-hati. Tidak ada nada memerintah. Tidak ada kesan menyalahkan. Bahkan untuk meminta saya datang pun beliau terlebih dahulu memastikan apakah saya sedang sibuk atau tidak.

Saya menjawab, “Bunten, Kai.” Kadang saya memanggil beliau Kai, terkadang Kak Tuan.

“Mon sampean lok sibuk, dulih dek Nyai Mamnunah, gih.” Kalau Sampean tidak sibuk, segera ke Nyai Mamnunah, ya.

Dari bahasa dan terutama dari penekanan intonasinya, saya tahu bahwa ada sesuatu yang sangat penting, bahkan mungkin sangat krusial, yang harus diselesaikan. Meskipun saya sedang memiliki banyak aktivitas di kampus, saya hanya menjawab, “Enggi, Kai.”

Saya pun berangkat ke tempat Nyai Mamnunah. Tetapi sesampainya di sana, saya justru diminta untuk datang ke ndalem Yai Ahmad Hariri. Saya mulai bertanya dalam hati, ada apa sebenarnya?

Hari itu adalah hari Sabtu. Gerimis turun perlahan. Saya langsung menuju ndalem beliau. Begitu sampai, saya melihat beliau seperti sudah menunggu kedatangan saya. Entah beliau telah diberi tahu bahwa saya akan datang, atau memang sejak tadi beliau menunggu.

Yang jelas, dari raut wajahnya saya dapat melihat bahwa beliau sedang berpikir keras dan sedang menanggung beban yang sangat berat. Namun ketika melihat saya, beliau tetap menyambut dengan senyum khasnya.

“Kadi panapah, Lek?” katanya.

Saya menjawab, “Abdinah e pakon dek panjenengan.” Saya diminta menghadap jenengan oleh beliau. Saya bahkan tidak berani terlalu lama memandang raut wajah beliau.

Beliau kemudian berkata, “E… enggi, toreh lenggi.” Silakan duduk.

Kesopanan itu begitu alami. Tidak dibuat-buat. Cara beliau menerima saya sejak dulu selalu seperti itu. Dan setiap kali mengingatnya sekarang, saya semakin menyadari betapa sulitnya meniru akhlak semacam itu.

Beliau kemudian menghisap rokoknya dalam-dalam. Diam beberapa saat. Setelah itu barulah beliau bercerita panjang lebar tentang persoalan yang sedang dihadapi. Saya segera memahami mengapa beliau begitu berhati-hati meminta saya datang. Persoalan itu memang sangat berat. Bahkan setelah mendengarnya, saya pun merasakan beban yang sama.

Hari itu kemudian membawa saya ke banyak tempat dan mempertemukan saya dengan banyak orang. Saya harus bolak-balik dari Yai Ahmad Hariri, kepada Kak Yai Hamim, kemudian kepada Man Tuan Yai Mujtaba, kepada Nyai Mamnunah, kembali lagi kepada Yai Ahmad Hariri, kemudian kepada Yai Abdul Hakim, lalu kepada Kak Tuan Abdul Hakim di Bulupitu.

Setelah itu saya ke Man Tuan Hariri di Ganjaran, kemudian kepada Kak Tuan Abdur Rasyid dan Kak Tuan Musta’in. Sebenarnya Yai Musta’in dari silsilah keluarga keponakan saya, tetapi karena beliau lebih tua, saya tetap memanggilnya Kak Tuan.

Begitulah hubungan kami dibangun. Tidak semata-mata berdasarkan silsilah, tetapi juga berdasarkan penghormatan. Ada rasa hormat yang hidup di antara kami, meskipun usia dan hubungan keluarga kadang berada dalam posisi yang tidak sederhana.

Orang-orang saleh yang hari itu saya temui satu demi satu kini telah menghadap Allah SWT. Hanya Yai Hamim yang masih hidup dan menjadi saksi dari hari yang dalam ingatan saya selalu disebut sebagai Yawmul Hazan Raudlatul Ulum, hari kesedihan Raudlatul Ulum.

Saya tidak ingin lagi mengingat secara rinci bagaimana air mata Bek Tuan Mamnunah dan Yai Ahmad Hariri bercucuran deras karena persoalan itu. Saya juga tidak ingin membuka kembali beratnya masalah yang kami hadapi hari itu.

Berkat kejernihan dan kejeniusan Yai Hamim, persoalan yang begitu berat akhirnya dapat diselesaikan dalam waktu dua hari. Cukuplah kisah itu menjadi bagian dari sejarah kami. Yang ingin saya simpan justru bukan masalahnya, tetapi manusia-manusia yang berada di dalamnya. Sebab dalam persoalan yang berat, seseorang sering kali menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.

Dan dari hari itulah saya semakin mengenal Yai Ahmad Hariri sebagai seorang yang berhati lembut, berpikir jernih, dan selalu berusaha mendahulukan kata hati yang bersih dalam menyelesaikan persoalan keluarga.

Beliau tidak mudah meledak. Beliau tidak tergesa-gesa menjatuhkan penilaian. Bahkan ketika berada dalam keadaan yang sangat berat, beliau masih mampu menjaga bahasa, menjaga sikap, dan menjaga penghormatan kepada orang lain.

Sulit bagi saya menemukan tokoh yang senyaman beliau dalam berkomunikasi. Beliau mampu membuat orang yang jauh lebih muda dan mungkin jauh lebih rendah kedudukannya seperti saya ini merasa dihargai.

Bagi saya, itulah salah satu bentuk kealiman yang paling nyata. Ilmu seseorang mungkin dapat dilihat dari apa yang ia katakan, tetapi akhlaknya terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak memiliki kepentingan apa pun untuk menguntungkan dirinya.

Sekarang saya baru menyadari bahwa persaudaraan sering kali dibangun dari hal-hal yang kelihatannya sangat kecil. Dari sebuah telepon. Dari sebuah panggilan “Lek”. Dari bahasa yang halus. Dari kesediaan datang ketika saudara sedang membutuhkan. Dari kesediaan meninggalkan kesibukan sendiri untuk menyelesaikan persoalan bersama.

Kita sering berpikir bahwa persaudaraan membutuhkan sesuatu yang besar. Padahal terkadang persaudaraan hanya membutuhkan satu hal: hadir.

Hadir ketika ada acara, hadir ketika ada kematian, hadir ketika saudara sedang memiliki masalah, dan hadir ketika seseorang hanya membutuhkan teman untuk duduk dan berbicara. Sayangnya, kita sering baru memahami arti kehadiran setelah orang yang kita tunggu tidak lagi bisa hadir.

Karena itu, kematian Kak Tuan Muhammad Ilyas, Kak Tuan Syamsuddin, dan kemudian Yai Ahmad Hariri memberi saya pelajaran yang sangat dalam. Selama mereka masih hidup, telepon mereka mungkin terasa biasa. Utusan mereka mungkin terasa sebagai hal yang sederhana. Ajakan mereka untuk datang mungkin kita anggap sebagai bagian dari rutinitas.

Tetapi setelah mereka pergi, kita akan merindukan semuanya. Kita akan merindukan telepon yang dahulu kadang kita jawab dengan tergesa-gesa. Kita akan merindukan suara yang dahulu mungkin tidak selalu kita sadari nilainya. Kita akan merindukan orang yang dahulu bisa kita datangi kapan saja.

Dan pada saat itulah kita menyadari bahwa kata “nanti” ternyata tidak selalu memiliki kesempatan untuk diwujudkan. Nanti bisa sowan, nanti bisa bertemu, nanti bisa menelepon, nanti bisa meminta maaf, nanti bisa mengucapkan terima kasih. Padahal mungkin hari ini adalah kesempatan terakhir yang Allah berikan kepada kita.

Maka selagi saudara kita masih hidup, datanglah. Selagi kakak kita masih ada, hormatilah. Selagi sahabat masih bisa ditelepon, teleponlah. Selagi orang tua masih bisa dikunjungi, kunjungilah.

Jangan menunggu kematian mengajarkan kepada kita arti persaudaraan. Sebab persaudaraan bukan hanya tentang hubungan darah. Persaudaraan adalah kesediaan untuk hadir ketika saudara membutuhkan. Persaudaraan adalah menjaga perasaan ketika berbicara. Persaudaraan adalah menghormati meskipun kita lebih tua, lebih tinggi kedudukan, atau merasa lebih berilmu.

Dan persaudaraan yang paling indah adalah ketika kita tetap memilih kebaikan meskipun dalam keadaan sulit.

Selamat jalan, Kai. Kini saya tahu bahwa telepon dari jenengan tidak akan pernah datang lagi. Tidak akan ada lagi utusan yang membawa pesan agar saya datang. Tidak akan ada lagi suara yang bertanya dengan lembut, “Sampean sibuk gih, Lek?” Tidak akan ada lagi senyum yang menyambut saya di ndalem.

Tetapi semua itu telah menjadi bagian dari hidup saya, bagian yang tidak mungkin saya hapus dan tidak ingin saya lupakan. Saya mungkin tidak mampu meniru kesopanan jenengan, kelembutan hati jenengan, kejernihan pikiran jenengan, dan cara jenengan menghargai setiap orang.

Tetapi semoga kesaksian kecil ini menjadi bukti bahwa akhlak yang baik tidak pernah benar-benar mati. Ia tinggal dalam ingatan orang-orang yang pernah merasakannya, lalu mengajarkan kepada mereka untuk berbuat baik kepada orang lain.

Dan suatu hari nanti, ketika giliran saya tiba dan Allah mengizinkan saya menyusul jenengan, semoga jenengan berkenan memanggil saya lagi. Mungkin bukan lagi dengan panggilan “Lek” di dunia ini, tetapi dengan sapaan persaudaraan di tempat yang tidak mengenal perpisahan.

Semoga saat itu saya tidak terlambat datang. Semoga kita dipertemukan kembali di hadapan Dzat Yang Maha Agung, Allah SWT, bersama orang-orang saleh yang dahulu pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita.

Selamat jalan, Kai. Pergilah menuju Dzat yang selama ini jenengan rindukan. Semoga Allah menerima seluruh amal jenengan, mengampuni segala kekhilafan jenengan, memuliakan tempat jenengan, dan menjadikan kerinduan jenengan kepada-Nya sebagai jalan menuju perjumpaan yang paling indah.

Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa‘fu ‘anhu. Amin.

2 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *