Ketika Konsep Integrasi Belum Menjadi Barang

Dulu, ketika pertama kali saya diajak Prof. Imam menjadi “tukang ketik” beberapa proposal UIN dan ikut menuliskan konsep-konsep keilmuannya, saya tidak pernah membayangkan bahwa kampus ini kelak akan menjadi ruang yang memberikan kesempatan kepada begitu banyak orang untuk menjadi bagian dari sebuah gerakan besar. Pada waktu itu, saya hanya merasa sedang membantu mengetik dan merapikan gagasan. Tetapi semakin lama saya berada di dalamnya, saya mulai menyadari bahwa yang sedang dibangun bukan sekadar sebuah perguruan tinggi Islam, melainkan sebuah ikhtiar untuk melahirkan identitas keilmuan yang berbeda: sebuah kampus yang mencoba mempertemukan tradisi keilmuan Islam dengan tradisi keilmuan Barat dan Timur, lalu mengolahnya menjadi sesuatu yang seharusnya menjadi identitasnya sendiri.

Ketika kemudian saya mengetahui bahwa di antara orang-orang yang bergabung di kampus ini terdapat alumni dari berbagai perguruan tinggi luar negeri, termasuk kampus-kampus hebat yang dahulu bahkan sempat saya bayangkan sebagai tempat untuk belajar, harapan itu menjadi semakin besar. Dalam pikiran saya sederhana saja. Kalau orang-orang hebat itu berkumpul dalam satu kampus, kalau mereka datang dari tradisi akademik yang berbeda-beda, kalau mereka memiliki pengalaman belajar di berbagai pusat keilmuan dunia, mestinya kampus ini memiliki peluang yang luar biasa untuk melahirkan identitas keilmuan yang khas. Apalagi hampir setiap unit pendidikan di dalamnya memiliki orang-orang dengan latar belakang dan kepakaran yang tidak sederhana.

Saya kemudian sering membayangkan, seandainya satu orang hebat saja melahirkan satu konsep yang benar-benar menjadi kontribusinya bagi unit pendidikan tempat ia bekerja, maka kampus ini seharusnya sudah memiliki ratusan konsep. Bukan sekadar istilah, bukan sekadar jargon dalam proposal atau dokumen kelembagaan, tetapi konsep yang benar-benar menjadi “barang”: bisa dilihat, digunakan, diajarkan, diterapkan, dikembangkan, bahkan diwariskan. Dari situlah seharusnya identitas keilmuan kampus terbentuk.

Tetapi justru di sinilah kegelisahan saya muncul. Mengapa sesuatu yang secara logika seharusnya mungkin itu terasa begitu sulit dilakukan? Mengapa banyak orang hebat yang ada dan bekerja di dalam kampus ini belum secara kolektif menghasilkan wajah keilmuan yang mudah dikenali? Atau jangan-jangan saya yang salah dalam memandang identitas kampus ini? Mungkin sebenarnya identitas itu sudah ada, tetapi saya tidak mampu melihatnya. Mungkin konvergensi pengetahuan itu sudah berjalan, tetapi belum berada dalam bentuk yang dapat saya kenali. Atau mungkin justru persoalannya bukan tidak ada gagasan, tetapi gagasan-gagasan itu belum berhasil menjadi sistem pengetahuan yang bekerja dalam kehidupan kampus.

Saya terus terang sering bertanya kepada diri sendiri: mengapa saya tidak merasakan kontribusi hebat dari orang-orang hebat itu? Pertanyaan ini tentu bukan berarti saya menganggap mereka tidak berkontribusi. Saya tahu banyak orang bekerja keras, menghasilkan penelitian, menulis buku, membangun program, mengembangkan lembaga, dan melakukan berbagai macam aktivitas akademik. Tetapi yang saya cari sebenarnya bukan sekadar aktivitas individual. Yang saya cari adalah jejak kolektif dari kepakaran itu dalam membentuk identitas pengetahuan kampus. Saya ingin bisa melihat bahwa orang-orang yang hebat itu tidak hanya menjadi profesor, doktor, dosen, atau pejabat dalam struktur kelembagaan, tetapi juga menjadi produsen gagasan yang kemudian membentuk wajah kampus.

Sebab, kalau kita mengatakan kampus ini memiliki konsep integrasi, konvergensi, atau bahkan manunggaling agama dan pengetahuan, maka saya selalu terganggu oleh satu pertanyaan yang sangat sederhana: barangnya mana? Sebagaimana yangs ering disampaikan Prof Imam belakangan ini?

Pertanyaan ini sebenarnya sudah berkali-kali saya dengar dan saya baca dari gagasan Prof Imam, dan berkali-kali pula saya “lawan” bahwa tak perlu harus dalam wujud barang. Tapi dalam hal kampus ini, saya sepertinya harus menerima gagasan harus berwujud dari Prof Imam itu. Sebenarnya jujur bukan karena saya tidak setuju dengan gagasan Prof Imam itu, tetapi karena saya selalu bertanya: jangan-jangan kita terlalu nyaman berbicara tentang konsep yang tidak pernah benar-benar turun menjadi sesuatu yang dapat disentuh? Kita mengatakan integrasi. Kita mengatakan konvergensi. Kita mengatakan manunggaling agama dan pengetahuan. Tetapi ketika saya bertanya, “barang konkretnya apa?”, sering kali jawabannya kembali menjadi konsep, istilah, definisi, atau narasi. Padahal menurut saya, sebuah konsep besar baru akan memiliki kekuatan ketika ia berhasil melahirkan sesuatu yang dapat dilihat dalam praktik.

Kalau integrasi itu benar-benar menjadi identitas kampus, mestinya ia dapat ditemukan dalam kurikulum. Bukan hanya dalam dokumen visi dan misi, tetapi dalam struktur mata kuliah, capaian pembelajaran, metode pembelajaran, bahan ajar, desain tugas, penelitian mahasiswa, bahkan dalam cara dosen mengajar. Mestinya ada hard curriculum yang memperlihatkan bagaimana integrasi pengetahuan itu bekerja, dan ada soft curriculum yang membentuk budaya akademik yang membuat integrasi itu menjadi kebiasaan berpikir.

Kalau integrasi itu benar-benar menjadi identitas kampus, mestinya ia juga terlihat dalam penelitian. Kita bisa melihat teori apa yang lahir dari kampus ini, metodologi apa yang dikembangkan, problem apa yang khas kita jawab, dan konsep apa yang kemudian digunakan oleh orang lain. Integrasi tidak berhenti pada penelitian yang menempelkan ayat al-Qur’an atau hadis pada teori tertentu. Integrasi seharusnya melahirkan cara baru dalam melihat persoalan, cara baru dalam merumuskan masalah, cara baru dalam membangun teori, dan kalau mungkin, cara baru dalam menghasilkan pengetahuan.

Kalau integrasi itu benar-benar menjadi identitas kampus, mestinya ia juga terlihat dalam manajemen institusional. Bagaimana SDM direkrut dan dikembangkan? Bagaimana dosen dikelompokkan berdasarkan kepakaran? Bagaimana pusat studi dibangun? Bagaimana anggaran diarahkan? Bagaimana penelitian didanai? Bagaimana ruang-ruang akademik didesain? Bahkan bagaimana gedung, perpustakaan, laboratorium, pusat riset, dan ruang perjumpaan akademik dibangun? Bukankah tata ruang pun bisa menjadi representasi dari sebuah cara pandang terhadap ilmu?

Bahkan lebih jauh lagi, kalau benar-benar ingin menjadikan integrasi sebagai identitas, mestinya ia dapat masuk ke dalam sistem kelembagaan secara keseluruhan. Mulai dari perencanaan, penganggaran, pengembangan SDM, sistem penghargaan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kerja sama, sampai pada bagaimana keputusan akademik dibuat. Dengan kata lain, integrasi tidak hanya menjadi persoalan epistemologi, tetapi menjadi persoalan organisasi.

Di titik inilah saya mulai memahami bahwa mungkin persoalan kita bukan kekurangan orang hebat. Bukan pula kekurangan gagasan. Bisa jadi persoalannya justru karena orang-orang hebat itu berjalan sendiri-sendiri, sementara gagasan besar belum menemukan mekanisme kelembagaan yang membuat berbagai kepakaran itu bertemu, berdialog, lalu menghasilkan sesuatu yang baru.

Orang hebat yang hanya bekerja dalam ruang kepakarannya sendiri memang akan menghasilkan karya yang hebat. Tetapi kumpulan orang hebat belum tentu menghasilkan institusi yang hebat secara keilmuan. Untuk menghasilkan identitas keilmuan kolektif, dibutuhkan ruang perjumpaan, mekanisme kolaborasi, agenda bersama, sistem penghargaan, dan keberanian untuk menjadikan gagasan sebagai sesuatu yang lebih konkret daripada sekadar jargon.

Mungkin inilah yang selama ini saya cari. Saya tidak sedang mencari tambahan istilah baru untuk integrasi. Saya juga tidak sedang mencari slogan baru tentang Ulul Albab. Saya sedang mencari barang. Saya ingin melihat integrasi itu dalam kurikulum. Saya ingin melihatnya dalam penelitian. Saya ingin melihatnya dalam buku-buku yang dihasilkan. Saya ingin melihatnya dalam teori yang dibangun. Saya ingin melihatnya dalam model pembelajaran. Saya ingin melihatnya dalam desain kelembagaan. Saya ingin melihatnya dalam tata kelola SDM. Saya ingin melihatnya dalam ruang-ruang akademik. Saya ingin melihatnya dalam cara kampus menggunakan anggaran. Bahkan saya ingin melihatnya dalam cara kita berbicara tentang ilmu pengetahuan.

Sebab bagi saya, identitas sebuah perguruan tinggi tidak cukup dibangun dengan mengatakan bahwa ia memiliki identitas. Identitas itu harus diproduksi, dipraktikkan, diulang, diwariskan, dan akhirnya dikenali oleh orang lain. Orang luar tidak seharusnya mengenal kampus ini hanya karena namanya, gedungnya, atau jumlah doktornya. Mereka mestinya mengenalnya karena ada sesuatu yang ketika melihatnya orang berkata, “Ini cara berpikir khas kampus itu.” Dan ketika mereka menemukan sebuah teori, model, kurikulum, pendekatan penelitian, atau praktik kelembagaan tertentu, mereka dapat mengatakan, “Ini pasti lahir dari tradisi keilmuan kampus tersebut.”

Mungkin saya memang terlalu banyak berharap. Bisa jadi apa yang saya pikirkan ini dianggap tidak penting oleh sebagian orang. Bisa jadi orang lain merasa bahwa yang penting kampus berjalan, pendidikan berlangsung, lulusan dihasilkan, penelitian dilakukan, dan administrasi selesai. Tetapi saya tetap merasa ada sesuatu yang belum selesai. Karena bagi saya, kampus yang sejak awal dibangun dengan gagasan besar seharusnya tidak berhenti pada keberhasilan menjalankan fungsi-fungsi perguruan tinggi. Ia harus berani menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: apa pengetahuan baru yang kita hasilkan? Apa cara berpikir baru yang kita tawarkan? Apa yang membuat kita berbeda dari perguruan tinggi lain?

Saya masih menyimpan pertanyaan itu sampai hari ini. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi justru karena saya merasa pernah menjadi bagian kecil dari perjalanan gagasan itu sejak awal. Dulu saya hanya “tukang ketik” proposal dan konsep. Sekarang saya justru ingin melihat apakah konsep-konsep yang dahulu kita ketik itu benar-benar telah menjadi kenyataan.

Jangan-jangan pekerjaan kita selama ini baru sampai pada menulis konsep integrasi, belum sampai pada mengintegrasikan konsep ke dalam kehidupan kampus. Jangan-jangan kita sudah terlalu lama berbicara tentang manunggaling agama dan pengetahuan, tetapi belum cukup serius memikirkan bagaimana manunggaling itu menjadi kurikulum, menjadi penelitian, menjadi tata kelola, menjadi budaya akademik, menjadi sistem kelembagaan, bahkan menjadi barang yang bisa ditunjukkan kepada siapa pun.

Dan mungkin, pertanyaan saya yang paling sederhana sekaligus paling mengganggu adalah ini: setelah sekian lama kita berbicara tentang integrasi, konvergensi, dan Ulul Albab, kalau hari ini seseorang bertanya kepada kita, “Mana barangnya?”, apakah kita sudah bisa menunjukkannya?

Entahlah. Mungkin saya memang keterlaluan sudah berharap. Tetapi mungkin juga, justru karena terlalu lama berada di dalam kampus ini, saya merasa berhak untuk terus bertanya. Sebab saya tidak ingin gagasan besar itu hanya menjadi sejarah yang pernah ditulis. Saya ingin melihatnya menjadi sesuatu yang hidup, bekerja, dan meninggalkan jejak.

Karena pada akhirnya, sebuah gagasan besar tidak cukup hanya untuk dipercayai. Ia harus diwujudkan. Dan ketika ia benar-benar telah menjadi identitas sebuah institusi, seharusnya kita tidak perlu lagi menjelaskannya panjang lebar. Cukup dengan menunjukkan barangnya. SELAMAT ULANG TAHUN KAMPUS KU.. SEMOGA KELAK KAMU AKAN BERWAJAH SEPERTI YANG KITA BAYANGKAN… AMIN..

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *