Jangan Menjadi Raja yang Lupa Bahwa Dirinya Hamba: Refleksi Kepemimpinan dari Kisah Bahlul dan Harun al-Rasyid

Ada sebuah pertanyaan yang seharusnya selalu menyertai setiap orang yang menerima amanah kepemimpinan, siapakah saya ketika seluruh jabatan, kekuasaan, fasilitas, penghormatan, dan simbol-simbol kebesaran itu dicabut dari diri saya? Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya ini merupakan inti terdalam dari etika kepemimpinan. Sebab, banyak orang mampu menjalankan kekuasaan, tetapi tidak semuanya mampu mengendalikan dirinya ketika memiliki kekuasaan. Jabatan dapat mengubah cara seseorang dipandang oleh orang lain, tetapi yang lebih berbahaya adalah ketika jabatan mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ia mulai merasa lebih tinggi daripada yang lain, lebih benar daripada yang lain, lebih layak didengar daripada yang lain, bahkan secara perlahan dapat melupakan bahwa kekuasaan yang berada di tangannya sesungguhnya bukan miliknya. Jabatannya tidak akan lama, hanya sebentar saja.

Sebuah kisah yang dinisbatkan kepada Bahlul dan Khalifah Harun al-Rasyid memberikan refleksi yang sangat kuat tentang persoalan tersebut. Kisah ini, saya pikir bisa dijadikan sebagai hikayat atau kisah hikmah yang berkembang dalam tradisi Islam, bukan sebagai laporan sejarah yang seluruh detailnya harus diterima sebagai fakta historis yang terverifikasi. Sekalipun demikian, nilai reflektif yang dikandungnya sangat dalam.

Dikisahkan bahwa pada suatu hari Harun al-Rasyid melewati sebuah tempat pemakaman dan melihat Bahlul sedang duduk di antara kuburan. Harun kemudian menegurnya dengan mengatakan, “Wahai Bahlul, wahai orang gila, kapan engkau akan sadar?”

Bahlul tidak menjawab dengan kemarahan. Ia justru berlari dan naik ke atas sebuah pohon. Dari atas pohon ia memanggil Harun dengan suara keras, “Wahai Harun, wahai orang gila, kapan engkau akan sadar?”

Harun kemudian mendekati pohon dengan menunggang kudanya dan berkata, “Siapakah yang sebenarnya gila, aku atau engkau yang duduk di atas kuburan?”

Bahlul menjawab, “Akulah orang yang berakal.” Harun bertanya, “Bagaimana mungkin?” Bahlul kemudian menunjuk istana Harun dan berkata bahwa ia mengetahui istana itu akan lenyap, sementara kuburan adalah tempat yang akan tetap ada. Karena itu, ia memilih mempersiapkan sesuatu yang kekal sebelum sesuatu yang sementara. Bahlul berkata:

لِأَنِّي عَرَفْتُ أَنَّ هَذَا زَائِلٌ وَأَشَارَ إِلَى قَصْرِ هَارُونَ، وَأَنَّ هَذَا بَاقٍ وَأَشَارَ إِلَى الْقَبْرِ فَعَمَرْتُ هَذَا قَبْلَ هَذَا

Saya melihat kalimat tersebut mengandung kritik yang sangat dalam terhadap cara manusia memaknai kehidupan. Bahlul tidak sedang mengatakan bahwa membangun istana itu salah. Yang ia persoalkan adalah ketika manusia membangun sesuatu yang sementara dengan begitu bersungguh-sungguh, tetapi melupakan sesuatu yang pasti dan kekal.

Dalam konteks kepemimpinan, persoalan itu menjadi semakin relevan. Seorang pemimpin dapat begitu sibuk membangun gedung, sistem, program, jaringan, reputasi, bahkan monumen atas keberhasilannya, tetapi lupa membangun manusia yang dipimpinnya. Ia dapat memperbesar institusi, tetapi pada saat yang sama mengecilkan martabat orang-orang di dalamnya. Ia dapat membangun struktur organisasi, tetapi meruntuhkan kepercayaan. Ia dapat menciptakan banyak aturan, tetapi kehilangan keadilan. Ia dapat memperoleh banyak penghormatan, tetapi kehilangan kerendahan hati. Ia dapat membangun gedung-gedung indah yang menakjubkan, tapi lupa pada penghun gedung yang memiliki gaji rendah.

Karena itu, persoalan terbesar dalam kepemimpinan bukan semata-mata bagaimana memperoleh kekuasaan, melainkan bagaimana menjaga kesadaran bahwa kekuasaan bukan milik pribadi. Seorang pemimpin memang memiliki kewenangan, tetapi kewenangan berbeda dengan kepemilikan. Seorang pemimpin dapat memegang jabatan, tetapi jabatan tidak pernah menjadi identitas ontologis manusia. Jabatan hanyalah amanah yang melekat untuk sementara. Ia datang pada waktunya dan akan pergi pada waktunya. Itulah sebabnya tidak sedikit pemimpin yang memaksakan kehendak dan pikirannya untuk bisa terwujud, karena dia lupa bahwa setelah itu ada orang lain yang harus mengurusnya.

Al-Qur’an memberikan perspektif yang sangat mendasar tentang hal ini. Allah berfirman:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Ayat ini seharusnya menjadi kesadaran fundamental setiap pemimpin. Kekuasaan tidak berhenti pada pertanyaan, “Siapa yang memiliki jabatan?” Pertanyaan yang lebih mendasar adalah, “Siapa yang memberikan jabatan itu, untuk apa jabatan itu diberikan, dan kepada siapa kelak amanah itu dipertanggungjawabkan?” Jika seorang pemimpin memahami bahwa Allah dapat memberikan sekaligus mencabut kekuasaan, maka tidak ada alasan baginya untuk bersikap sombong. Jabatan yang hari ini membuat seseorang dihormati, bisa saja besok menjadi sesuatu yang berlalu begitu saja. Kursi yang hari ini diduduki dengan penuh kebanggaan, pasti dapat ditempati oleh orang lain. Nama yang hari ini disebut dalam berbagai forum, dapat secara perlahan dilupakan penerusnya. Tetapi tanggung jawab moral dari keputusan yang pernah dibuat tidak serta-merta hilang.

Di sinilah relevansi perkataan Bahlul kepada Harun menjadi semakin kuat. Ia mengatakan:

وَأَمَّا أَنْتَ فَإِنَّكَ قَدْ عَمَرْتَ هَذَا وَخَرَّبْتَ هَذَا

Kalimat ini dapat dipahami sebagai metafora kepemimpinan yang sangat serius. Seorang pemimpin dapat disebut berhasil karena membangun institusi, tetapi keberhasilan tersebut kehilangan maknanya apabila dalam proses pembangunan itu ia menghancurkan manusia yang ada di dalamnya. Sebuah organisasi tidak hanya terdiri atas gedung, struktur, regulasi, anggaran, dan program. Di dalamnya terdapat manusia dengan harga diri, harapan, gagasan, keterbatasan, dan masa depan. Karena itu, membangun institusi seharusnya berarti juga membangun manusia. Itulah makna dari bangunlah jiwanya kemudian bangunlah raganya.

Pemimpin yang baik bukanlah pemimpin yang membuat semua orang takut kepadanya, apalagi karena ditakut-takuti. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu membuat orang-orang di sekitarnya tumbuh. Ia tidak merasa kehilangan kewibawaan ketika mendengar kritik. Ia tidak menganggap perbedaan pendapat sebagai pembangkangan. Ia tidak melihat bawahan sebagai manusia yang hanya bertugas membenarkan keputusan pimpinan. Sebaliknya, ia memahami bahwa organisasi membutuhkan keberanian untuk menyampaikan kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu tidak menyenangkan bagi pemimpin.

Kisah Bahlul juga mengingatkan bahwa kegilaan kekuasaan dapat muncul dalam bentuk yang sangat halus. Ia tidak selalu berupa tindakan yang kasar atau perilaku yang berlebihan. Kegilaan dapat muncul ketika seorang pemimpin mulai percaya bahwa dirinya selalu benar. Ia muncul ketika pemimpin tidak lagi mau mendengar. Ia muncul ketika kritik dianggap sebagai ancaman. Ia muncul ketika orang-orang di sekelilingnya hanya berani mengatakan apa yang ingin didengarnya. Ia muncul ketika jabatan membuat seseorang merasa bahwa dirinya lebih tinggi daripada orang lain. Dan yang paling berbahaya, ia muncul ketika seseorang mulai menganggap keberhasilan institusi sebagai keberhasilan pribadinya, sementara kegagalan selalu dibebankan kepada orang lain.

Dalam keadaan seperti itu, seorang pemimpin membutuhkan Bahlul dalam kehidupannya. Ia membutuhkan seseorang yang berani mengatakan kebenaran ketika orang lain memilih diam. Ia membutuhkan orang yang tidak takut kehilangan jabatan karena memang tidak memiliki jabatan untuk dipertahankan. Ia membutuhkan kritik yang jujur, bukan pujian yang menyenangkan. Sebab, terkadang orang yang paling mencintai seorang pemimpin bukanlah orang yang selalu memujinya, melainkan orang yang berani mengingatkannya ketika ia mulai menyimpang.

Menariknya, setelah mendengar perkataan Bahlul, hati Harun al-Rasyid dikisahkan bergetar dan ia menangis hingga membasahi janggutnya. Ia mengakui kebenaran perkataan tersebut dan berkata, “Demi Allah, engkau benar.” Di sinilah letak kualitas kepemimpinan yang sering kali dilupakan, kemampuan menerima kebenaran meskipun kebenaran itu menyakitkan. Seorang pemimpin tidak menjadi kecil ketika mengakui kesalahan. Justru sebaliknya, pengakuan terhadap keterbatasan merupakan tanda kebesaran jiwa.

Pemimpin yang matang tidak membutuhkan lingkungan yang selalu mengatakan “Bapak benar” atau “Ibu benar”. Ia membutuhkan lingkungan yang mampu mengatakan, “Keputusan ini perlu dikaji kembali.” Ia membutuhkan orang yang berani berkata, “Ada yang tidak tepat dalam kebijakan ini.” Ia membutuhkan kolega yang dapat menunjukkan risiko yang belum terlihat. Dan ia membutuhkan bawahan yang tidak kehilangan keberanian moral hanya karena berhadapan dengan kekuasaan.

Dalam konteks inilah, kerendahan hati bukanlah kelemahan kepemimpinan. Kerendahan hati justru merupakan mekanisme pengendalian kekuasaan. Pemimpin yang rendah hati menyadari keterbatasan pengetahuannya. Ia memahami bahwa tidak semua persoalan dapat dilihat dari ruang kerjanya. Ia menyadari bahwa keputusan yang menurutnya benar dapat menimbulkan dampak berbeda bagi orang lain. Karena itu, ia membuka ruang dialog, mendengar berbagai perspektif, dan bersedia melakukan koreksi.

Marilah kita lihat bahwa setelah tersentuh oleh nasihat Bahlul, Harun meminta tambahan nasihat. Bahlul menjawab:

يَكْفِيكَ كِتَابُ اللهِ فَالْزَمْهُ

Jawaban ini mengandung pesan bahwa kepemimpinan tidak boleh kehilangan orientasi transendental. Ketika seseorang memiliki kekuasaan, ia membutuhkan sesuatu yang lebih tinggi daripada kepentingan dirinya sendiri sebagai pedoman. Dalam perspektif Islam, kekuasaan harus tunduk kepada nilai-nilai ketuhanan, keadilan, amanah, kemaslahatan, dan pertanggungjawaban akhirat. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

Ayat ini menempatkan dua prinsip utama dalam kepemimpinan, amanah dan keadilan. Jabatan bukan hadiah untuk menikmati keistimewaan, melainkan amanah untuk melaksanakan tanggung jawab. Kekuasaan bukan instrumen untuk memuaskan ego, melainkan sarana untuk menghadirkan keadilan dan kemaslahatan.

Karena itu, seorang pemimpin perlu sesekali bertanya kepada dirinya sendiri, Apakah keputusan yang saya ambil benar-benar untuk kepentingan institusi atau untuk mempertahankan citra diri saya? Apakah saya sedang membela prinsip atau sedang membela ego? Apakah saya sedang menjaga aturan atau sedang menggunakan aturan untuk mempertahankan kekuasaan? Apakah saya sedang membangun manusia atau justru sedang membangun ketakutan? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini penting karena seorang pemimpin sering kali tidak menyadari perubahan dirinya sendiri ketika terlalu lama berada dalam lingkungan kekuasaan.

Dalam kisah tersebut, Harun kemudian menawarkan kepada Bahlul untuk memenuhi kebutuhannya. Bahlul meminta tiga hal. Pertama, ia meminta agar umurnya ditambah. Harun menjawab bahwa ia tidak mampu. Kedua, Bahlul meminta agar dirinya dilindungi dari Malaikat Maut. Harun kembali menjawab bahwa ia tidak mampu. Ketiga, Bahlul meminta agar dirinya dimasukkan ke dalam surga dan dijauhkan dari neraka. Harun kembali menjawab bahwa ia tidak mampu. Bahlul kemudian memberikan kesimpulan yang sangat mengguncang:

فَاعْلَمْ أَنَّكَ مَمْلُوكٌ وَلَسْتَ مَلِكًا

Dalam konteks kisah tersebut, permainan makna antara مَمْلُوكٌ (mamlūk: yang dimiliki/dikuasai) dan مَلِكٌ (malik: raja/penguasa) menjadi sangat penting. Seorang raja mungkin memiliki kekuasaan atas manusia, tetapi ia sendiri tidak memiliki kekuasaan mutlak atas hidupnya. Ia tidak dapat menentukan kapan hidupnya berakhir. Ia tidak dapat memerintah Malaikat Maut untuk menunda kedatangannya. Ia tidak dapat menjamin dirinya masuk surga dengan kekuasaannya. Dengan demikian, di hadapan Allah, seorang raja tetaplah seorang hamba.

Kesadaran inilah yang semestinya menjadi vaksin terhadap kesombongan seorang pemimpin. Jabatan boleh tinggi, tetapi kesadaran sebagai hamba harus lebih tinggi. Kekuasaan boleh besar, tetapi kesadaran akan keterbatasan harus lebih besar. Pengaruh boleh luas, tetapi rasa tanggung jawab harus lebih luas. Penghormatan boleh tinggi, tetapi kerendahan hati harus tetap menjadi fondasi. Al-Qur’an bahkan secara tegas memperingatkan manusia agar tidak berjalan di muka bumi dengan kesombongan:

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

Ayat tersebut memperlihatkan betapa kecilnya manusia di hadapan realitas ciptaan Allah. Bahkan ketika manusia memiliki kekuasaan yang besar, ia tetap tidak mampu menembus bumi dan tidak mampu menyamai ketinggian gunung. Maka, apa alasan manusia untuk menyombongkan jabatan yang hanya diberikan kepadanya untuk sementara?

Kepemimpinan yang sehat adalah kepemimpinan yang mampu mengubah kekuasaan menjadi pelayanan. Seorang pemimpin tidak bertanya, “Apa yang dapat saya peroleh dari jabatan ini?” tetapi, “Apa yang dapat saya berikan melalui jabatan ini?” Ia tidak menghitung berapa banyak orang yang tunduk kepadanya, tetapi berapa banyak manusia yang tumbuh karena kepemimpinannya. Ia tidak mengukur keberhasilan hanya dengan lamanya berada di kursi kekuasaan, tetapi dengan kualitas perubahan yang ditinggalkannya setelah ia tidak lagi berada di sana.

Sebab, setiap pemimpin pada akhirnya akan meninggalkan kursinya. Orang lain akan menggantikannya. Gedung akan tetap berdiri tanpa dirinya. Sistem akan terus berjalan tanpa namanya. Bahkan mungkin foto dan tanda tangannya suatu hari tidak lagi diperhatikan. Yang akan bertahan bukanlah kursinya, melainkan jejak moral dari keputusan-keputusannya, siapa yang pernah ia bantu, siapa yang pernah ia sakiti, siapa yang pernah ia angkat martabatnya, siapa yang pernah ia zalimi, dan seberapa jauh amanah yang dipercayakan kepadanya telah digunakan untuk kemaslahatan.

Karena itu, kisah Bahlul dan Harun al-Rasyid sesungguhnya bukan hanya cerita tentang seorang “orang gila” yang menasihati seorang raja. Kisah ini merupakan cermin bagi setiap orang yang memegang kekuasaan. Bahlul seakan-akan berkata kepada setiap pemimpin di setiap zaman: jangan terlalu bangga dengan istanamu karena engkau akan meninggalkannya; jangan terlalu bangga dengan jabatanmu karena engkau akan melepaskannya; jangan terlalu bangga dengan kekuasaanmu karena engkau tidak memilikinya secara mutlak; dan jangan terlalu takut kehilangan kedudukan karena pada akhirnya semua manusia akan kehilangan segala sesuatu yang dimilikinya.

Yang membedakan seorang pemimpin besar dengan pemimpin yang hanya besar karena jabatannya adalah kesadarannya terhadap keterbatasan diri. Pemimpin yang hanya besar karena jabatan membutuhkan orang lain untuk memuliakan dirinya. Pemimpin yang benar-benar besar justru mampu memuliakan orang lain meskipun dirinya tidak lagi disebut-sebut. Ia tidak takut ketika orang lain menjadi lebih pintar. Ia tidak merasa terancam ketika bawahannya berkembang. Ia tidak takut kritik. Ia tidak alergi terhadap koreksi. Ia tidak menjadikan loyalitas sebagai ketaatan buta. Ia memahami bahwa institusi yang sehat bukanlah institusi yang semua orangnya selalu sepakat dengan pimpinan, melainkan institusi yang memiliki budaya dialog, argumentasi, koreksi, dan tanggung jawab.

Maka, nilai yang paling penting untuk diinternalisasikan dari kisah ini bukanlah sekadar “jangan sombong”. Pesannya jauh lebih dalam: sadari posisi ontologis manusia sebagai hamba, sadari posisi jabatan sebagai amanah, sadari kekuasaan sebagai sesuatu yang sementara, dan sadari bahwa setiap keputusan akan dimintai pertanggungjawaban. Dari kesadaran itu lahir kerendahan hati. Dari kerendahan hati lahir keterbukaan terhadap kritik. Dari keterbukaan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan lahir keadilan. Dan dari keadilan lahir kemaslahatan bagi orang-orang yang dipimpin. Dari kemaslahatan lahir kasih sayang yang akan selalu dikenang.

Barangkali karena itulah Bahlul yang disebut “gila” justru mampu menyadarkan seorang raja. Sebab terkadang manusia yang terlalu sibuk dengan kebesaran dunia lupa melihat kenyataan yang paling sederhana: semua manusia akan mati. Dan di hadapan kematian, tidak ada perbedaan antara raja dan rakyat, antara pemimpin dan bawahan, antara orang yang dipuji dan orang yang tidak dikenal. Yang membedakan bukan lagi jabatan, melainkan amal dan pertanggungjawaban.

Maka kepada siapa pun yang hari ini sedang berada di kursi kepemimpinan, kisah Bahlul layak dijadikan cermin. Jangan menunggu kehilangan jabatan untuk belajar rendah hati. Jangan menunggu dikritik keras untuk belajar mendengar. Jangan menunggu kehilangan kekuasaan untuk menyadari bahwa kekuasaan itu bukan milik kita. Jangan menunggu berada di hadapan kematian untuk menyadari bahwa hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan kesombongan.

Bangunlah institusi, tetapi jangan menghancurkan manusia. Tegakkan aturan, tetapi jangan kehilangan keadilan. Gunakan kewenangan, tetapi jangan menyalahgunakannya. Terimalah penghormatan, tetapi jangan memintanya. Dengarkan pujian, tetapi jangan mempercayainya secara berlebihan. Terimalah kritik, karena mungkin di dalam kritik itulah Allah sedang mengirimkan Bahlul kepada kita.

Dan akhirnya, setiap pemimpin hendaknya menyimpan satu kalimat Bahlul bukan hanya di dinding ruang kerjanya, tetapi di dalam kesadaran batinnya:

فَاعْلَمْ أَنَّكَ مَمْلُوكٌ وَلَسْتَ مَلِكًا

Sebab ketika seseorang benar-benar menyadari bahwa dirinya adalah hamba, ia tidak akan mudah menjadi sombong karena jabatan. Ia akan memahami bahwa kursi yang didudukinya hanyalah sementara, kewenangan yang dimilikinya hanyalah amanah, dan manusia yang dipimpinnya bukanlah miliknya. Pada saat itulah kepemimpinan menemukan makna tertingginya: bukan menjadi orang yang paling berkuasa, tetapi menjadi orang yang paling mampu melaksanakana fungsinya dan mempertanggungjawabkan kekuasaan yang dipercayakan kepadanya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *