Dianugerahi MUI Award 2026, Penyunting Melampaui 100 Judul Kitab Itu Memilih untuk Tidak Hadir

Saya mengenal sosok ini bukan dari sorotan berita yang berlebihan atau panggung penghargaan yang megah, melainkan dari kesederhanaan yang menyelimuti setiap langkah hidupnya. Namanya Supriyanto, atau dikenal dengan nama pena Ibnu Harjo Al-Jawi, namun orang-orang di kampung halamannya di Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, lebih akrab menyapanya sebagai Mbah Riyan.

Di mata warga sekitar, beliau hanyalah seorang warga biasa yang sehari-hari tampak bekerja sebagai kuli bangunan, mengaduk semen dan menyusun batu bata di bawah terik matahari, atau sesekali terlihat duduk tenang memancing di pinggir sungai. Tak banyak yang menyangka, bahwa di balik penampilan yang begitu sederhana itu, tersembunyi seorang ulama yang karyanya dipelajari dan dirujuk oleh para peneliti warisan keilmuan Islam hingga ke benua Afrika dan Timur Tengah.

Perjalanan menuju kebesaran ilmu beliau dimulai dari tekad yang tak pernah diragukan. Menamatkan pendidikan dasar hingga menengah di Kudus, kemudian melanjutkan ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab Jakarta, cabang Universitas Jamiatul Imam Riyadh di Arab Saudi, berkat beasiswa yang diraihnya melalui ujian tulis maupun lisan yang ketat.

Beliau kerap bercerita bahwa berangkat merantau membawa bekal tekad yang kuat adalah modal utama yang dimilikinya. Sejak tahun 2005, beliau mulai mendalami syariat Islam secara mendalam, terutama pada disiplin ilmu Ushul Fiqih, dan setelah lulus dengan predikat terbaik pada tahun 2013, beliau ditempatkan di sebuah pondok pesantren di Sukabumi yang menyimpan belasan ribu jilid kitab kuno.

Di sanalah, dalam keheningan malam setelah selesai mengajar di siang hari, beliau menekuni pekerjaan mulia menyusun, meneliti, dan menyunting naskah-naskah warisan ulama terdahulu. Dalam kurun waktu lima tahun, puluhan karya telah rampung di tangannya, dan hingga kini jumlah kitab yang telah beliau selesaikan penulisan maupun penyuntingannya telah melampaui seratus judul, sebagian besar berukuran tebal dan bahkan ada yang diterbitkan dalam bentuk jilid-jilid besar di luar negeri.

Ketelitian dan kedalaman pemahaman beliau dalam melestarikan warisan keilmuan Islam akhirnya mendapat pengakuan luas. Pada tahun 2026, Majelis Ulama Indonesia menganugerahkan penghargaan MUI Award dalam kategori Karya Tulis Islam kepada beliau, sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi luar biasa yang beliau berikan bagi dunia keilmuan Islam. Namun ketika seluruh mata seakan tertuju untuk melihat beliau naik ke atas panggung menerima penghargaan tersebut, beliau justru memilih untuk tidak hadir.

Beliau tidak hadir bukan karena meremehkan penghargaan itu, melainkan karena keikhlasan yang menjadi dasar setiap langkahnya berkarya. Bagi beliau, meneliti dan menyunting kitab-kitab warisan bukanlah jalan untuk meraih nama atau pujian, melainkan sebuah pengabdian untuk menjaga agar warisan para ulama terdahulu tetap terjaga keasliannya dan dapat bermanfaat bagi siapa saja yang memerlukannya. Beliau tidak ingin keikhlasan itu terganggu oleh sorotan publik, dan lebih memilih kembali bekerja di ladang ilmu yang beliau cintai dengan tenang, jauh dari hiruk-pikuk pengakuan duniawi.

Saat saya mengenal beliau, saya menyadari bahwa kebesaran seseorang tidak terlihat dari seberapa banyak penghargaan yang diterimanya, melainkan dari seberapa rendah hati ia berdiri di tengah kemuliaan ilmu yang dimilikinya. Mbah Riyan mengajarkan kepada kita bahwa ilmu yang lahir dari keikhlasan akan terus hidup dan bermanfaat, meskipun pemiliknya memilih untuk hidup sederhana dan tersembunyi dari pandangan banyak orang. Penghargaan mungkin datang sebagai bentuk pengakuan manusia, namun ketenangan dalam berkarya tanpa mengharap pujian adalah kemuliaan yang jauh lebih tinggi nilainya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *