Pagi ini, 3 Syawal 1447 H, saya bersilaturrahim ke Blega, tepatnya di Laok Songai. Perjalanan dimulai dari Coper Kidul, Ponorogo, kemarin pukul 16.12, dan baru tiba di Blega sekitar pukul 00.15. Perjalanan panjang itu memberi jeda yang cukup untuk merenung, sekaligus menguji kesabaran fisik. Alhamdulillah, sesampainya di tujuan saya masih sempat beristirahat sejenak, sembari membenahi posisi duduk mobil yang harus diatur ulang karena ada keponakan yang ikut kembali ke Malang.
Di tengah aktivitas sederhana itu, tiba-tiba datang seorang kawan lama, teman akrab sejak bangku SD di Blega 2. Namanya Abu, atau yang biasa saya panggil Mas Abu. Sosok yang dulu begitu lekat dalam ingatan, cerdas, cepat berpikir, dan lihai mencari jalan keluar, seperti kancil dalam cerita rakyat, cerdik dan tak mudah buntu.
Kini, waktu telah mengubah banyak hal. Secara fisik ia tampak lebih tua dari saya, memang selisih usia kami sekitar dua tahun. Namun yang lebih menarik bukan perubahan fisiknya, melainkan cara pandangnya terhadap hidup. Saya pernah mendengar bahwa ia sempat sukses dalam usaha emas. Tetapi bukan itu yang ingin saya tangkap dari pertemuan ini. Yang lebih penting adalah bagaimana ia membaca ulang perjalanan hidupnya, termasuk fase-fase yang tidak selalu terang.
Mas Abu menyadari bahwa hidupnya tidak berjalan lurus seperti kebanyakan orang. Ada sisi-sisi yang ia anggap “gelap”, fase di mana ia tidak menjadi seperti dirinya yang dahulu. Namun di situlah percakapan kami menemukan maknanya.
Saya mengatakan kepadanya: “Sampean harus bisa menemukan kebaikan dari sisi itu.” Karena bagi saya, tidak ada pengalaman hidup yang sepenuhnya negatif. Selalu ada nilai yang bisa diambil, bahkan dari bagian yang paling pahit sekalipun.
Saya memberi analogi yang sangat dekat dengan kultur Madura: air bekas mandi yang disebut pecarren. Ia adalah sesuatu yang dianggap kotor, dibuang, dan tidak berguna. Tetapi justru dari situ orang belajar membedakan antara yang bersih dan yang tidak. Bahkan sesuatu yang dibuang pun tetap memiliki fungsi epistemik, memberi pengetahuan tentang nilai.
Dalam Islam, cara pandang seperti ini bukan sekadar refleksi filosofis, tetapi bagian dari ajaran. Allah menegaskan pentingnya berdoa dan berharap kepada-Nya:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ (غافر: ٦٠)
“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu.”
Ayat ini menegaskan bahwa harapan adalah bagian dari iman. Tidak ada ruang bagi keputusasaan, karena setiap doa membuka kemungkinan baru. Lebih dari itu, Rasulullah saw mengajarkan agar manusia selalu berbaik sangka kepada Allah:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي (رواه البخاري ومسلم)
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”
Hadits ini memberikan landasan psikologis-spiritual yang sangat kuat: bahwa cara kita memandang Allah dan takdir-Nya akan menentukan bagaimana realitas itu terbuka bagi kita. Berpikir positif bukan sekadar motivasi, tetapi bagian dari tauhid. Saya juga mengingatkan Mas Abu tentang satu kisah yang sangat masyhur dalam tradisi Islam, kisah tiga orang yang terperangkap dalam sebuah gua. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, diceritakan:
انْطَلَقَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، حَتَّى أَوَوْا إِلَى غَارٍ، فَدَخَلُوهُ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الْغَارَ…
Tiga orang dari umat sebelum kalian masuk ke dalam gua, lalu sebuah batu besar menutup pintu gua itu. Mereka tidak bisa keluar. Dalam kondisi terdesak, masing-masing berdoa kepada Allah dengan menyebut amal kebaikan terbaik yang pernah mereka lakukan: Yang pertama berbakti kepada orang tuanya; Yang kedua menjaga diri dari zina meskipun sangat mampu melakukannya; dan Yang ketiga menjaga amanah harta orang lain dengan penuh kejujuran. Setiap kali satu orang berdoa dengan wasilah amal baiknya, batu itu bergeser sedikit. Hingga akhirnya, setelah doa ketiga, batu itu terbuka sepenuhnya dan mereka pun selamat.
Kisah ini bukan sekadar cerita moral. Ia adalah metodologi spiritual, bahwa masa lalu, selama di dalamnya ada kebaikan, dapat menjadi jalan pembuka di masa depan. Bahkan dalam kondisi paling gelap sekalipun. Dari situlah saya meyakinkan Mas Abu bahwa masa lalunya tidak mungkin kosong dari nilai. Selalu ada sisi terang yang bisa dijadikan pijakan. Mengingat kebaikan bukan berarti mengingkari kesalahan, tetapi mengaktifkan energi positif untuk melangkah ke depan. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang tidak pernah jatuh, tetapi siapa yang mampu membaca makna dari setiap kejatuhan. Dan mungkin, di titik itu, kita mulai memahami bahwa takdir Allah tidak pernah benar-benar gelap. Ia hanya menunggu untuk dibaca dengan cara yang lebih jernih.
Dalam perspektif psikologi, mengingat kebaikan yang pernah dilakukan memiliki fungsi yang sangat fundamental. Ia bukan sekadar nostalgia, tetapi mekanisme rekonstruksi identitas diri. Ketika seseorang mengalami kegagalan atau fase “gelap”, yang sering runtuh bukan hanya kondisi ekonomi atau sosialnya, tetapi juga self-concept, cara ia memandang dirinya sendiri.
Dengan mengingat kembali kebaikan yang pernah dilakukan, seseorang sedang membangun ulang narasi dirinya: bahwa ia bukan kegagalan itu sendiri, melainkan individu yang pernah, dan masih mampu, berbuat baik. Ini yang dalam psikologi modern disebut sebagai positive self-reframing. Lebih jauh, praktik ini juga memperkuat apa yang dikenal sebagai self-efficacy, keyakinan bahwa seseorang mampu mengatasi tantangan hidup. Ketika seseorang sadar bahwa ia pernah melakukan kebaikan besar, maka secara kognitif ia memiliki “bukti internal” bahwa dirinya tidak lemah. Dari sini lahir energi untuk bangkit.
Dalam konteks spiritual, mengingat kebaikan juga memperkuat hubungan dengan Allah. Ia menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara amal yang pernah dilakukan dan harapan yang sedang dibangun. Inilah yang tergambar dalam kisah tiga orang dalam gua: mereka tidak keluar karena kekuatan fisik, tetapi karena kesadaran atas kebaikan yang pernah mereka lakukan.
Dengan demikian, mengingat kebaikan bukan sekadar aktivitas mental, tetapi strategi pemulihan yang utuh, menghubungkan aspek psikologis, sosial, dan spiritual sekaligus. Namun, hal ini tidak bertentangan dengan mengingat kesalahan yang pernah dilakukan dalam rangka bertaubat. Justru kesadaran atas kesalahan menjadi syarat penting agar taubat itu tulus dan diterima oleh Allah Swt. Dalam keseimbangan inilah manusia menemukan jalan: mengingat dosa untuk merendahkan hati dan memperbaiki diri, serta mengingat kebaikan untuk menumbuhkan harapan dan keyakinan akan rahmat-Nya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
(التحريم: ٨)
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya (taubatan nasuha).”
Ayat ini menjadi dasar utama konsep taubat nasuha, yaitu taubat yang tulus, serius, dan disertai komitmen untuk tidak kembali kepada dosa. Rasulullah saw bersabda:
النَّدَمُ تَوْبَةٌ
(رواه ابن ماجه)
“Penyesalan adalah (inti dari) taubat.”
Hadits ini menegaskan bahwa elemen paling mendasar dalam taubat adalah kesadaran batin dan penyesalan yang mendalam atas kesalahan yang telah dilakukan. Hadits lain yang menguatkan keluasan rahmat Allah dalam menerima taubat:
إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ
(رواه مسلم)
Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di siang hari, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di malam hari.








