Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Etika Silaturrahim dan Tata Bahasa Simbolik: The Living Qur’an dalam Budaya Sosial Ponorogo Berkelanjutan

Etika Silaturrahim dan Tata Bahasa Simbolik: The Living Qur’an dalam Budaya Sosial Ponorogo Berkelanjutan

Zenrif Oleh Zenrif
21 Mar 2026
dalam Karya, Pemikiran, Quranic Comminty Development
0
Bagikan ke FacebookBagikan ke Whatsapp

Praktik silaturrahim di Ponorogo,  di Coper Kidul disebut dengan Mbarak, memperlihatkan bahwa komunikasi bukan sekadar pertukaran kata, tetapi sebuah sistem simbolik yang terstruktur dan diwariskan. Hal ini tampak jelas dalam pola komunikasi yang berlangsung di rumah Bu Suratin (Lek Tete), yang memiliki urutan, diksi, dan etika yang relatif baku.

Tamu datang dengan salam, kemudian tuan rumah menyambut dengan bahasa Jawa halus: “Pripun kabare? Sedaya ingkang rawuh mugi pinaringan sehat?” Para tamu secara kolektif menjawab: “Alhamdulillah, pangestu wilujeng sak wangsulipun.” Selanjutnya, tamu menyampaikan: “Niki nggih ngaturaken salamipun ahli salam,” yang dijawab oleh tuan rumah: “Alaika wa ‘alaihim salam, pripun nak nggih, sami wilujeng?” dan dijawab kembali: “Alhamdulillah, wilujeng.”

Baca lainnya

Legitimasi Meritokrasi dalam Birokrasi Lokal: Menimbang Relasi Kekerabatan dalam Perspektif Hukum Administrasi dan Sejarah Politik Islam

Legitimasi Meritokrasi dalam Birokrasi Lokal: Menimbang Relasi Kekerabatan dalam Perspektif Hukum Administrasi dan Sejarah Politik Islam

19 Apr 2026
Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

18 Apr 2026

Setelah itu, percakapan bergerak secara sistematis, pertanyaan tentang tempat tinggal, jumlah putra, dan pendidikan anak. Menariknya, tidak pernah muncul pertanyaan tentang pekerjaan atau kepemilikan materi. Percakapan ditutup dengan pernyataan pamit yang diwakili oleh yang paling tua: “Ingsakrehne sampun sak untawis angsalipun silaturrahim, kulo sak rencang badhe nuwun pamit badhe ngelajengaken lampah.”

Tuan rumah merespons dengan penuh penghormatan: “Kok kesesa kémawon…” lalu dilanjutkan doa: “Mugi tansah pinaringan sehat wal afiyat, panjang yuswa, kathah rezeki, lan saged pinanggih malih kaliyan Ramadhan ingkang badhe rawuh.”

Jika ditautkan dengan ajaran Islam, struktur komunikasi ini selaras dengan prinsip Al-Qur’an: وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا (QS. An-Nisa: 86), serta etika komunikasi: وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا (QS. Al-Baqarah: 83).
Dan diperkuat oleh hadits Nabi saw: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ (HR. Bukhari dan Muslim).

Berangkat dari data komunikasi tersebut, terlihat bahwa silaturrahim di Coper Kidul bukan sekadar interaksi spontan, tetapi merupakan sistem komunikasi yang terstruktur. Dalam perspektif struktur sosial, sistem ini merefleksikan adanya pola relasi yang hierarkis namun harmonis. Para sepuh menempati posisi sebagai pusat simbolik dalam struktur sosial. Mereka tidak aktif bergerak, tetapi menjadi titik tujuan kunjungan. Ini menunjukkan bahwa struktur sosial masyarakat tidak dibangun atas mobilitas kekuasaan, melainkan atas stabilitas posisi kultural. Rumah para sepuh berfungsi sebagai anchor point dalam jaringan sosial, tempat nilai-nilai kolektif dikonsolidasikan.

Sebaliknya, generasi muda berperan sebagai agen penghubung (linking agents) yang menggerakkan jaringan sosial. Mereka datang secara berkelompok, membawa salam kolektif, dan sekaligus merepresentasikan keberlanjutan relasi antar-keluarga. Dalam kerangka ini, silaturrahim menjadi mekanisme yang memastikan bahwa hubungan sosial tidak terputus, tetapi terus diperbarui dalam siklus yang teratur.

Struktur ini menunjukkan adanya stratifikasi sosial berbasis usia dan kekerabatan, bukan berbasis ekonomi. Hal ini diperkuat oleh absennya pertanyaan tentang pekerjaan dan kepemilikan, yang secara implisit menegaskan bahwa status sosial tidak ditentukan oleh kapital, melainkan oleh posisi dalam struktur genealogis dan moral.

Lebih jauh, pola komunikasi yang berurutan—dari salam, doa, pertanyaan keluarga, hingga pamit—mencerminkan adanya script sosial (social script) yang dipatuhi bersama. Script ini berfungsi sebagai mekanisme stabilisasi interaksi, sehingga setiap individu memahami perannya dalam komunikasi tanpa perlu negosiasi ulang. Dengan demikian, potensi konflik dapat diminimalisasi, karena semua interaksi berjalan dalam kerangka yang telah disepakati secara kultural.

Dalam perspektif structural functionalism, relasi antara sepuh dan generasi muda ini memiliki fungsi menjaga keseimbangan sistem sosial. Para sepuh bertindak sebagai penjaga nilai (value holders), sementara generasi muda menjadi pelaku transmisi nilai (value carriers). Tradisi silaturrahim menjadi medium yang menghubungkan keduanya secara berkelanjutan.

Lebih dari itu, struktur ini bersifat siklikal dan regeneratif. Generasi muda yang saat ini berkunjung, pada waktunya akan menempati posisi sebagai sepuh yang dikunjungi, atau berstatus sebagai asisten yang menemani para pinisepuh. Dengan demikian, sistem ini tidak hanya menjaga stabilitas, tetapi juga menjamin keberlanjutan sosial tanpa memerlukan institusi formal.

Dalam perspektif The Living Qur’an, praktik ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Qur’ani tidak hanya diinternalisasi secara individual, tetapi juga diinstitusionalisasi dalam struktur sosial. Silaturrahim tidak lagi sekadar ajaran normatif, melainkan telah menjadi arsitektur sosial yang mengatur relasi, komunikasi, dan keberlanjutan masyarakat. Dengan demikian, kekuatan tradisi silaturrahim di Ponorogo, sebagaimana yang saya lihat di Coper Kidul, tidak hanya terletak pada keindahan bahasanya, tetapi pada kemampuannya membangun struktur sosial yang stabil, berlapis, dan berkelanjutan. Ia menghadirkan sebuah model masyarakat di mana komunikasi, nilai, dan struktur sosial berpadu menjadi satu kesatuan yang hidup.

Zenrif

Zenrif

M. Fauzan Zenrif adalah Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Malang bidang perekonomian (2021 - 2026), founder KPKNU (Komunitas Pengusaha Kecil NU).

Terkait

Legitimasi Meritokrasi dalam Birokrasi Lokal: Menimbang Relasi Kekerabatan dalam Perspektif Hukum Administrasi dan Sejarah Politik Islam

Legitimasi Meritokrasi dalam Birokrasi Lokal: Menimbang Relasi Kekerabatan dalam Perspektif Hukum Administrasi dan Sejarah Politik Islam

Oleh Zenrif
19 Apr 2026
0

Fenomena pelantikan anak kandung oleh Kepala Daerah ke dalam jabatan strategis birokrasi, seringkali dipersepsikan secara simplistik sebagai bentuk nepotisme, tanpa...

Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

Oleh Zenrif
18 Apr 2026
0

Mencari tempat kos di Malang dan sekitarnya, terutama untuk anak perempuan, yang sesuai dengan kaidah ajaran Islam pada saat ini...

Prioritas Program Pemerintah: Menimbang Koperasi Merah Putih, MBG, Pendidikan, Infrastruktur, Perumahan, dan Alutsista dengan Maqāṣid

Prioritas Program Pemerintah: Menimbang Koperasi Merah Putih, MBG, Pendidikan, Infrastruktur, Perumahan, dan Alutsista dengan Maqāṣid

Oleh Zenrif
18 Apr 2026
0

Dalam menimbang dan menlai skla prioritas program Pemerintah, kaidah ushul fiqh “الواجب لا يُترك لسُنّة، بل يُترك لواجبٍ” bisa memberikan...

Epistemologi Konvergensi dalam Studi Islam: Menyatukan Teks, Akal, dan Metode Ilmiah

Epistemologi Konvergensi dalam Studi Islam: Menyatukan Teks, Akal, dan Metode Ilmiah

Oleh Zenrif
13 Apr 2026
0

Setelah saya diminta memimpin Prodi Studi Islam di Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, saya terus melakukan kajian. Ada beberapa...

Postingan Berikut
Nilai Agama dan Koperasi Desa Merah Putih: Mengembalikan Ekonomi ke Akar Moral dan Kelembagaan Rakyat

Nilai Agama dan Koperasi Desa Merah Putih: Mengembalikan Ekonomi ke Akar Moral dan Kelembagaan Rakyat

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS