Kak Tuan KH. Syamsuddin bin Abdul Aziz bin Syamsuddin menyampaikan bahwa Mbah Zayyadiy adalah sosok yang sangat cinta pada ilmu pengetahuan. Karena cintanya itu, beliau hampir tidak pernah lepas dari kitab. Dorongan untuk terus membaca dan memperdalam ilmu bahkan sedemikian kuat, sampai-sampai keinginan belajar yang tiada henti itu disebut sempat mengganggu proses capaian keilmuan hakikatnya. Dalam satu fase, Kiai Sirajuddin menyarankan agar beliau berhenti sejenak dari membaca kitab—sebuah nasihat yang dalam tradisi tasawuf bukan berarti anti-ilmu, tetapi isyarat agar perjalanan intelektual diimbangi dengan pendalaman batin.
Keinginan Mbah Zayyadiy untuk mengejar pengetahuan syaiat memang luar biasa. Setiap menemukan persoalan syariat yang belum terjawab, beliau tidak pernah membiarkannya mengendap. Ia harus menemukan jawabannya. Dan jika tidak mampu memecahkan sendiri, maka Mbah KH. Syamsuddin adalah tempat beliau menyelesaikan persoalan yang tidak terpecahkan itu. Ada adab ilmiah yang sangat kuat di sini, ketekunan mencari jawaban sekaligus kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan.
Kak Tuan KH. Syamsuddin juga menjelaskan, sebagaimana diceritakan Man Rihan, bahwa pernah suatu ketika Mbah Zayyadiy menghadapi persoalan yang belum bisa beliau selesaikan dan berniat suwan kepada Mbah KH. Syamsuddin. Namun sebelum beliau berangkat, justru Mbah KH. Syamsuddin terlihat datang ke Lomaer, tempat tinggal Mbah Zayyadiy. Mbah Zayyadiy kemudian berkata kepada istrinya: “Jhek gebei agin kopi delluh Kak Tuan, bik sengkok gik e ajuaginah soal,” meminta agar jangan dibuatkan kopi terlebih dahulu karena beliau hendak mengajukan pertanyaan. Mendengar itu, Mbah KH. Syamsuddin menjawab dengan ringan namun penuh makna: “Ngajuaginah soal apah ken atanyak ah, Lek?” (mau menyoal atau ingin bertanya, Dik?”
Kisah ini bukan sekadar cerita karamah atau kebetulan pertemuan guru dan murid. Ia memperlihatkan kedekatan sanad, kesatuan frekuensi batin antara penanya dan pemberi jawaban. Di satu sisi ada kegigihan intelektual yang tidak pernah puas sebelum menemukan kejelasan hukum, di sisi lain ada hubungan ruhani yang membuat jarak geografis seakan tidak lagi menjadi penghalang. Mbah Zayyadiy potret seorang pencari ilmu sejati, tekun membaca, berani bertanya, rendah hati mengakui keterbatasan, dan tetap tunduk pada bimbingan guru.








