Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
IBuku bernama Hanifah

IBuku bernama Hanifah

Zenrif Oleh Zenrif
8 Feb 2026
dalam Berita, Cerita Pendek, Sejarah Tokoh
0
Bagikan ke FacebookBagikan ke Whatsapp

Baca lainnya

Ngantir: Ketika Cahaya Itu Kembali

Ngantir: Ketika Cahaya Itu Kembali

9 Jul 2026
Mengapa Ulama Sejati Tidak Mencari Panggung? Refleksi atas Spiritualitas Mbah Zayyadiy

Cuaca yang Membawaku Pulang

6 Jul 2026

IBuku bernama Hanifah, putri dari Bapak Arsin, H. As’ad, seorang yang oleh banyak orang lain dipanggil Kyai Haji As’ad. Namun ibuku sendiri tak pernah menjadi siapa-siapa selain dirinya, seorang perempuan biasa. Justru di situlah keagungannya bersemayam.
Aku masih mengingat masa itu dengan ingatan yang tak akan pernah sepenuhnya pudar. Saat sebelum Beliau pergi ke tanah suci, lalu menetap di sana bertahun-tahun, sekitar tiga belas tahun lamanya, rumah kami tidak pernah menjadi sepi. Ibukulah yang mengurus sawah karena sawah menuntut diurus, sedangkan kakek tak pernah lagi ke sawah. Padi tetap menunggu ditanam, dirawat, dan dipanen. Dan orang yang paling sering diminta Mbah As’ad untuk turun ke sawah bukanlah para lelaki, karena semua anak laki-lakinya masih di pesantren. Buku. Ya ibuku yang bernama Hanifah itu.
IBuku pergi menemani Mak Nikmah dan para petani lainnya. Ia menunggu petani yang menanam padi. Ia juga merawat tanaman dengan kesabaran yang sama seperti saat ia merawat luka-luka kecil di lutut kami. Dan ketika panen tiba, ibuku pula yang membagi hasilnya, adil, tanpa suara tinggi, tanpa merasa lebih tinggi. Ia menyisihkan zakat dari hasil panen itu dengan ketelitian yang nyaris seperti Beliau sedang tertidur. Seolah-olah dia tahu, keberkahan bukan soal banyaknya padi, tetapi tentang kejujuran pada hak orang lain.
Aku masih bisa membayangkan aku menaiki cikar, kendaraan besar seperti truk, ditarik dua ekor sapi, di atas tumpukan padi dari sawah menuju rumah. Panas. Debut. Peluh. Namun tak pernah kulihat ibuku menunduk karena malu. Wajahnya justru cerah. Ada kebanggaan yang tenang, kebahagiaan yang tidak memerlukan penonton.
iBuku tidak pernah mengatakan bahwa ia kuat. Tapi aku tahu, dia memilih menderita daripada melihat orang lain sengsara, terutama untuk anak-anaknya. Ia menyimpan lapar di balik senyum, menyimpan lelah di balik gerak yang terus bekerja. Jika ada kebahagiaan yang bisa dibagikan, ibuku akan membaginya terlebih dahulu, lalu bertanya apakah masih ada sisa untuk dirinya sendiri.
iBuku tidak pandai menjaga jarak. Ia terlalu percaya pada kebaikan manusia. Karena itulah ia sering ditipu. Sering disakiti. Sering dikecewakan oleh mereka yang justru paling sering ia bantu. Namun tak pernah kudengar ia menyesali perbuatannya. Bahkan di dalam batinku, Ia tidak belajar dari pengkhianatan untuk menjadi keras. Justru Ia belajar darinya untuk tetap lembut. Kadang-kadang aku bertanya dalam diam, dari mana aku memperoleh kekuatan seperti itu? Barangkali dari masa lalu yang mengajarinya. Dari padi yang mengajarinya merunduk. Dari iman yang tidak banyak bicara, tetapi bekerja tanpa henti.
iBuku memang bukan perempuan besar dalam buku sejarah. Namanya tak tercatat di papan kehormatan. Namun jika dunia ini masih bisa berjalan tanpa runtuh, barangkali karena perempuan-perempuan seperti ibu, yang memikul kehidupan tanpa mengeluh, yang memberi tanpa perhitungan, yang disakiti tetapi tetap memilih menjadi baik.
iBuku bernama Hanifah. Bagiku itulah nama lain dari kesalehan yang hidup. Sudah lama senyumnya tak kulihat seindah malam ini bersama kedua cucunya, Fira dan Fika. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah Engkau telah menghadirkan ak dari rahim seorang yang shalihah dan berada dilingkungan pesantren sehingga ku tetap berusaha menjadi santri hingga hari ini dan semoga kelak hingga aku mati. Terima kasih ibu atas senyumanmu malam ini.

Zenrif

Zenrif

M. Fauzan Zenrif adalah Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Malang bidang perekonomian (2021 - 2026), founder KPKNU (Komunitas Pengusaha Kecil NU).

Terkait

Ngantir: Ketika Cahaya Itu Kembali

Ngantir: Ketika Cahaya Itu Kembali

Oleh Zenrif
9 Jul 2026
0

Jalan menuju Ngantir, Pacitan, berliku mengikuti lekuk perbukitan karst. Di kiri dan kanan, pepohonan berdiri tenang seolah menyimpan kisah-kisah panjang...

Mengapa Ulama Sejati Tidak Mencari Panggung? Refleksi atas Spiritualitas Mbah Zayyadiy

Cuaca yang Membawaku Pulang

Oleh Zenrif
6 Jul 2026
0

Pagi ini, Senin, 6 Juli 2026. Jarum jam menunjukkan pukul 08.11 WIB. Di hadapan saya terbentang lembar-lembar hasil FGD dan...

Kak Tuan Syamsuddin: “Musuh” yang Kudengar, Saudara yang Kukenal

Kak Tuan Syamsuddin: “Musuh” yang Kudengar, Saudara yang Kukenal

Oleh Zenrif
12 Jun 2026
0

Saya adalah anak turun Bani Isma'il. Secara genealogis, saya berasal dari leluhur dan daerah yang sama dengan Kak Tuan Syamsuddin...

Halal Bihalal Tradisi NU: Dari Ritual Lebaran ke Etika Rekonsiliasi Bangsa

Halal Bihalal Tradisi NU: Dari Ritual Lebaran ke Etika Rekonsiliasi Bangsa

Oleh Zenrif
12 Apr 2026
0

Di tengah dinamika sosial yang kerap diwarnai polarisasi, masyarakat Indonesia memiliki satu mekanisme kultural yang relatif efektif dalam merawat harmoni,...

Postingan Berikut
Santri Berprestasi Pondok Pesantren Miftahul Ulum Ganjaran Terus Mengukir Prestasi Nasional

Santri Berprestasi Pondok Pesantren Miftahul Ulum Ganjaran Terus Mengukir Prestasi Nasional

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS