Malang – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menggelar kegiatan Turba (Turun ke Bawah) ke Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Malang Raya, bertempat di Pendopo Kabupaten Malang, Jalan Merdeka, Senin (12/3). Acara berlangsung hangat dan penuh keakraban, dihadiri jajaran pengurus wilayah, pengurus cabang, serta para tokoh NU di Malang Raya.
Dalam arahannya, Ketua PWNU Jawa Timur, Gus Kikin, menegaskan bahwa kegiatan Turba ini merupakan forum nonformal yang menjadi sarana utama memperkuat silaturahmi antar-struktur NU. Ia menekankan bahwa silaturahmi adalah amalan yang paling utama, dan karena itu menjadi ruh dari setiap gerakan Turba.
Melalui agenda Turba, Gus Kikin berharap PWNU dapat memperoleh informasi langsung dari PCNU mengenai berbagai persoalan yang dihadapi di wilayah masing-masing. Informasi tersebut, menurutnya, menjadi dasar penting untuk melakukan musyawarah guna merumuskan jalan keluar yang terbaik, sesuai dengan tradisi organisasi.
Dalam pidatonya, Gus Kikin menyoroti karakteristik unik kegiatan-kegiatan NU. Menurutnya, banyak output kegiatan NU yang tampak tidak terukur secara formal karena lebih menekankan aspek afektif daripada kognitif. Justru nilai inilah yang menjadi kekuatan NU selama ini, yaitu menggerakkan masyarakat dengan pendekatan hati dan keberkahan para ulama.
PWNU Jawa Timur, lanjutnya, kini tengah melakukan upaya rekonstruksi pemahaman sejarah NU. Sejak kelahirannya, NU senantiasa memberikan kontribusi besar sesuai kebutuhan masyarakat. Dalam seluruh rekam sejarahnya, kata Gus Kikin, tidak ada satu pun bukti yang menunjukkan bahwa tujuan NU selain mengharap ridha Allah. “Sejarah membuktikan bahwa tujuan NU selalu Allah,” tegasnya.
Namun demikian, Gus Kikin menyampaikan keprihatinan atas pergeseran arah kekuatan NU pada masa kini. Ia mengajak seluruh warga NU untuk kembali bertanya: apa sesungguhnya persoalan yang kita hadapi saat ini, dan bagaimana fungsi NU dalam menyelesaikan persoalan bangsa dan masyarakat? Ia menegaskan, NU harus kembali kepada hakikat gerakannya, kembali pada ruh perjuangan para muassis.
Gus Kikin juga mengingatkan bahwa hubungan NU dengan berbagai pihak saat ini memang terlihat harmonis, tetapi justru sering membuat NU lengah. “Kita menjadi mesra, dan kita lupa bahwa dulu NU pernah ditekan. Semakin ditekan, NU semakin kuat,” ujarnya. Namun ketika harmoni membuat NU nyaman, ia melihat kekuatan itu justru mulai melemah.
Ia menegaskan bahwa berbagai urusan yang bukan berkaitan langsung dengan kepentingan umat sebaiknya diserahkan kepada ahlinya, sehingga NU tidak tersibukkan oleh hal-hal di luar fokus utama. “Karena kedekatan dengan kekuasaan, kita lupa bahwa tugas utama NU adalah mendekatkan diri kepada Allah, bukan mendekatkan diri kepada penguasa,” lanjutnya.
PWNU berharap agar NU kembali pada jejak kesejarahannya, menjadi golongan yang dimuliakan Allah, bukan dimuliakan oleh kedudukan duniawi. Oleh karena itu, dalam kegiatan Turba ini, Gus Kikin kembali menekankan pentingnya membangun komunikasi yang tidak hanya bersifat materialistik, melainkan komunikasi silaturahmi yang mampu menghadirkan solusi atas persoalan masyarakat.
Di akhir pengarahan, Gus Kikin mengingatkan bahwa saat ini NU menghadapi tantangan berupa semakin sedikitnya tokoh-tokoh teladan yang dapat dijadikan panutan. Ia berharap seluruh kader dan pengurus NU mampu mengambil peran untuk melanjutkan perjuangan organisasi besar ini dengan tetap menjaga nilai-nilai yang diwariskan para ulama.
“Semoga kita bisa melanjutkan perjuangan NU,” tutupnya.








