Malang fz — Suasana hangat dan penuh kekeluargaan kembali mewarnai kegiatan silaturahim yang digelar Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Direktur Pascasarjana, Prof. Dr. Agus Maimun, M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan semacam ini akan menjadi tradisi yang terus dipertahankan sebagai sarana memperkuat komunikasi harmonis antara pimpinan, dosen, dan mahasiswa.
Dalam sambutannya, Prof. Agus Maimun menyampaikan bahwa tradisi silaturahim telah lama menjadi bagian dari kultur akademik UIN Maliki Malang. “Tradisi seperti ini sebenarnya sudah dilakukan para pendahulu, terutama Prof. Imam Suprajogo dan Prof. Muhaimin. Saya juga melakukannya untuk menyambut tamu-tamu dari luar negeri yang datang ke UIN Maliki Malang,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa kegiatan yang dibiayai secara pribadi ini bukan merupakan bentuk gratifikasi, melainkan upaya membuka ruang komunikasi agar mahasiswa dapat menyelesaikan studi tepat waktu. Lebih jauh, gaya kepemimpinan kekeluargaan ini diharapkan mampu mengurangi kendala proses penulisan disertasi.
Wakil Direktur Pascasarjana, Prof. Like, memberikan apresiasi atas keteladanan yang ditunjukkan oleh Direktur. Menurutnya, Prof. Agus tidak hanya memimpin secara administratif, tetapi juga menghadirkan contoh nyata bagi civitas akademika. “Prof Agus sebagai personal sudah menjadi contoh dan pembelajaran, terutama karena beliau adalah dosen Metodologi Penelitian. Kami belajar banyak dari keteladanan yang beliau ajarkan,” ungkapnya.
Kesempatan berikutnya diberikan kepada Prof. Sutiah yang menyampaikan rasa terima kasih kepada Prof. Agus—yang disebutnya sebagai sahabat perjuangan sejak masa menjadi dosen muda—serta kepada seluruh civitas Pascasarjana. Ia menegaskan bahwa penyelesaian studi doktoral tidak hanya bergantung pada kompetensi akademik, tetapi juga pada kesempatan yang disiapkan oleh penulis disertasi. Menurut hasil studinya, seluruh mahasiswa Pascasarjana sebenarnya sudah memenuhi kualifikasi akademik sebagai calon doktor, namun tantangan utamanya adalah manajemen waktu. “Banyak mahasiswa terlambat menyelesaikan disertasi bukan karena kurang kompeten, tetapi karena kurang pandai mengatur waktu,” ujarnya. Ia menutup pesannya dengan kalimat yang menggugah: “Check in bersama, maka check out harus bersama.”
Sementara itu, Prof. Fahim menguatkan bahwa tradisi silaturahim yang dilakukan Prof. Agus telah berlangsung lama. Ia bahkan mengisahkan pernah mendapatkan bimbingan langsung di lantai dua rumah Prof. Agus. Menurutnya, kegiatan semacam ini tidak hanya mempererat hubungan, tetapi juga menciptakan sejarah bagi setiap peserta. “Menciptakan sejarah yang baik memerlukan kebersamaan. Ini akan memberi makna positif dan meningkatkan nama besar kampus,” ujar Prof. Fahim. Ia juga menegaskan bahwa seorang pemimpin harus mampu melampaui panggilan jiwanya.
Dalam kesempatan lain, Gus Yakin menyampaikan terima kasih atas keteladanan yang diberikan Prof. Agus kepada civitas Pascasarjana serta menyampaikan permohonan maaf dari Dr. Fatah Yasin yang berhalangan hadir. Ia mendorong mahasiswa untuk aktif berkomunikasi dengan pembimbing. Jika terjadi kendala komunikasi, mahasiswa dipersilakan menghubungi Program Studi agar penjadwalan bimbingan dapat segera difasilitasi.
Wadir II Pascasarjana, Dr. Sutaman, menutup rangkaian pesan dengan mengutip nasihat dari Prof. Imam ketika dirinya menulis disertasi: “Menulislah yang terbaik jika engkau bisa. Jika engkau tidak bisa, maka tulislah yang paling jelek.” Nasihat ini, tambahnya, menjadi pengingat bahwa penyelesaian disertasi bergantung pada kemauan untuk terus menulis dan menyelesaikan apa yang sudah sampai di meja Prodi.
Kegiatan silaturahim ini kembali menegaskan bahwa gaya komunikasi kekeluargaan yang dibangun oleh Prof. Agus Maimun bukan hanya mempererat hubungan internal, tetapi juga menjadi strategi kepemimpinan efektif dalam mendorong keberhasilan akademik mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang.
mfz








