Desa Putukrejo merupakan salah satu desa yang memiliki modal pembangunan yang sangat lengkap di Kecamatan Gondanglegi. Selain memiliki sumber daya alam yang melimpah, Putukrejo juga didukung oleh sumber daya manusia yang kreatif, kelembagaan desa yang terus berkembang, serta budaya gotong royong yang masih terpelihara dengan baik. Kondisi tersebut menjadikan Putukrejo memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai kawasan ekonomi terpadu berbasis komunitas yang mampu mengintegrasikan sektor pertanian, perikanan, pariwisata, energi alternatif, dan UMKM dalam satu ekosistem pembangunan yang saling menguatkan.
Konsep pengembangan yang kami bangun berangkat dari keyakinan bahwa desa tidak cukup hanya memiliki potensi, tetapi harus mampu menghubungkan seluruh potensi tersebut menjadi sebuah sistem ekonomi yang terintegrasi. Karena itu, Pemerintah Desa, BUMDes, KDMP, Fatayat, Karang Taruna, kelompok tani, pelaku UMKM, hingga masyarakat harus ditempatkan sebagai bagian dari satu rantai pembangunan yang memiliki tujuan bersama, yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penguatan ekonomi lokal.
Putukrejo selama ini telah menunjukkan berbagai inovasi yang patut diapresiasi. Pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar minyak merupakan salah satu inovasi yang membuktikan bahwa persoalan lingkungan dapat diubah menjadi peluang ekonomi. Di sisi lain, masyarakat juga telah mengembangkan budidaya perikanan yang didukung oleh inovasi pembuatan pakan ikan secara mandiri sehingga mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan keuntungan pembudidaya. Inovasi-inovasi tersebut menjadi modal penting dalam membangun ekonomi sirkular yang tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat bagi kelestarian lingkungan.
Di sektor pariwisata, keberadaan Wisata Sumber Sirah menjadi aset strategis yang harus terus dikembangkan. Ke depan, kawasan wisata ini tidak hanya menjadi destinasi rekreasi, tetapi juga diarahkan sebagai pusat edukasi pengembangan ekonomi desa. Wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar mengenai pengolahan sampah menjadi energi, budidaya perikanan, pengolahan hasil pertanian, hingga aktivitas UMKM masyarakat. Dengan demikian, sektor wisata akan menjadi penggerak tumbuhnya berbagai usaha produktif masyarakat di sekitarnya.
Langkah awal yang harus dilakukan adalah melakukan pemetaan secara menyeluruh terhadap potensi sumber daya manusia, potensi usaha, dan potensi sumber daya alam yang dimiliki desa. Pendataan tersebut bukan sekadar menginventarisasi jumlah pelaku usaha, tetapi juga memetakan kompetensi masyarakat, jaringan pemasaran, kebutuhan teknologi, peluang investasi, hingga potensi kolaborasi antarlembaga. Basis data inilah yang akan menjadi fondasi dalam menyusun arah pembangunan ekonomi desa secara terukur dan berkelanjutan.
Tahap berikutnya diarahkan pada penguatan kapasitas masyarakat. Pelaku UMKM perlu memperoleh pendampingan dalam manajemen usaha, digitalisasi pemasaran, peningkatan kualitas produk, pengemasan, legalitas usaha, serta sertifikasi halal. Demikian pula kelompok tani, pembudidaya ikan, pengelola wisata, dan generasi muda perlu memperoleh pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing sehingga seluruh potensi desa berkembang secara bersamaan. Pendampingan tersebut menjadi ruang kolaborasi antara Pemerintah Desa, perguruan tinggi, dunia usaha, dan organisasi kemasyarakatan.
Setelah kapasitas masyarakat semakin kuat, seluruh potensi desa harus diintegrasikan dalam satu ekosistem ekonomi. Dalam model ini, BUMDes tidak lagi sekadar menjadi pengelola unit usaha, tetapi berkembang menjadi pusat layanan bisnis desa yang menghubungkan produksi, pengolahan, distribusi, pemasaran, hingga kemitraan investasi. KDMP berperan memperkuat kelembagaan ekonomi masyarakat melalui akses pembiayaan, distribusi, dan jejaring pemasaran. Fatayat mengambil peran sebagai pendamping UMKM, khususnya usaha perempuan dan industri rumah tangga, sedangkan Karang Taruna menjadi motor inovasi digital, promosi wisata, dan pengembangan ekonomi kreatif.
Selanjutnya, pengembangan Putukrejo diarahkan pada pembentukan beberapa klaster ekonomi yang saling terhubung. Klaster ekonomi sirkular dikembangkan melalui pengolahan limbah plastik menjadi energi dan penguatan bank sampah. Klaster pertanian dan perikanan difokuskan pada hilirisasi produk, pengembangan pakan mandiri, serta industri olahan yang memiliki nilai tambah. Klaster pariwisata dikembangkan melalui integrasi Wisata Sumber Sirah dengan edukasi pertanian, perikanan, ekonomi sirkular, dan UMKM. Sementara itu, klaster UMKM menjadi ruang tumbuh bagi industri pangan, kerajinan, serta berbagai produk unggulan desa yang dipasarkan melalui jaringan digital maupun pasar konvensional.
Seluruh hasil produksi masyarakat kemudian dipasarkan melalui sistem yang terintegrasi. BUMDes menjadi agregator usaha desa, KDMP memperkuat distribusi dan pembiayaan, sedangkan pemasaran diperluas melalui marketplace digital, jaringan koperasi, pasar modern, pondok pesantren, hingga mendukung kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan model ini, setiap produk masyarakat memiliki kepastian pasar sehingga keberlanjutan usaha dapat lebih terjamin.
Seluruh proses pembangunan tersebut harus terus dievaluasi secara berkala untuk mengukur pertumbuhan usaha, peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, bertambahnya investasi, serta peningkatan Pendapatan Asli Desa. Evaluasi bukan sekadar menjadi alat pengawasan, tetapi menjadi dasar dalam menyempurnakan strategi pembangunan sehingga setiap kebijakan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Melalui model Kawasan Ekonomi Terpadu Berbasis Komunitas, Putukrejo diharapkan berkembang sebagai desa yang mampu mengintegrasikan inovasi teknologi, pengelolaan lingkungan, pertanian, perikanan, pariwisata, dan UMKM dalam satu ekosistem ekonomi yang kuat. Putukrejo tidak hanya menjadi desa yang maju secara ekonomi, tetapi juga menjadi contoh bagaimana pembangunan desa dapat tumbuh dari kekuatan masyarakatnya sendiri melalui kolaborasi, inovasi, dan pengelolaan potensi lokal secara berkelanjutan. Inilah arah pembangunan yang kami yakini akan membawa Putukrejo menjadi salah satu model pengembangan ekonomi desa berbasis komunitas di Kabupaten Malang, bahkan di tingkat nasional.