Upaya penguatan kerja sama akademik antara UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri terus dimatangkan melalui rapat persiapan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang digelar pada Senin siang. Rapat berlangsung mulai pukul 13.05 WIB hingga 14.20 WIB dalam suasana dialogis dan konstruktif, menandai komitmen kedua institusi dalam pengembangan Tri Dharma Perguruan Tinggi berbasis pesantren dan akademik modern.
Acara dibuka oleh Prof. (Assoc.) Dr. Sutaman, M.A., Wakil Direktur Pascasarjana UIN Maliki Malang, yang menegaskan bahwa kerja sama dengan UIT Lirboyo memiliki karakter khusus karena dilandasi oleh tradisi keilmuan pesantren yang kuat serta sejarah panjang pendidikan Islam. Ia menyampaikan bahwa PKS ini diarahkan untuk memperkuat layanan akademik Pascasarjana secara lebih adaptif dan berkelanjutan.
Sambutan institusional dari pihak UIT Lirboyo awalnya disampaikan oleh Dr. H. Badrus, M.Pd., Wakil Rektor I Bidang Akademik. Namun di tengah sesi, Rektor Universitas Islam Tribakti Lirboyo, Dr. KH. Reza Ahmad Zahid, Lc., M.A., hadir dan memberikan penegasan langsung atas komitmen pimpinan universitas terhadap rencana kerja sama tersebut. Wakil Rektor Akademik kemudian melanjutkan paparannya dengan menyoroti kondisi SDM UIT Lirboyo, di mana sekitar 20 persen dosen baru saja menyelesaikan studi doktoral. Menurutnya, kebutuhan penambahan doktor di setiap program studi menjadi krusial untuk mendorong capaian akreditasi Unggul, disertai penguatan manajemen mutu melalui kolaborasi dengan Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), serta sinergi penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam sambutannya, Rektor UIT Lirboyo menjelaskan tantangan dan kekhasan pengelolaan perguruan tinggi pesantren, termasuk keterbatasan waktu dan regulasi internal pesantren yang membatasi penggunaan perangkat digital. Ia menegaskan bahwa hal tersebut berkaitan erat dengan disiplin dan manajemen waktu dalam tradisi pesantren, seraya mengutip ungkapan, “الأوقات من علامة التيقن”—waktu adalah salah satu tanda keyakinan.
Sesi berikutnya diisi oleh Prof. Dr. M. Fauzan Zenrif, M.Ag., Ketua Program Studi S3 Studi Islam UIN Maliki Malang, yang menekankan bahwa kerja sama dengan Lirboyo tidak dapat disamakan dengan perguruan tinggi lain. Menurutnya, kapasitas keilmuan dosen dan mahasiswa UIT Lirboyo—yang mayoritas berlatar pesantren—sudah sangat kuat, sehingga yang dibutuhkan adalah model layanan akademik, sistem manajemen, dan skema perkuliahan yang lebih fleksibel dan kontekstual.
Penjelasan teknis kemudian disampaikan oleh Wakil Direktur Pascasarjana UIN Maliki Malang terkait berbagai skema akademik yang dapat dikerjasamakan, meliputi perkuliahan reguler S2 dan S3, perkuliahan kerja sama, Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) untuk jenjang S2, serta skema By Research untuk program doktoral.
Rapat ditutup dengan kesepahaman awal bahwa PKS ini akan diarahkan pada penguatan SDM dosen, penataan manajemen akademik, serta kolaborasi riset dan pengabdian masyarakat yang selaras dengan karakter pesantren Lirboyo. Kedua belah pihak sepakat bahwa kerja sama ini bukan sekadar administratif, tetapi merupakan ikhtiar strategis untuk merawat tradisi keilmuan Islam dan menjawab tantangan mutu pendidikan tinggi di masa depan.
Dari “Miskin dan Bodoh” Menuju Berdaya: Spirit Halal bi Halal Bani Isma’il dan Kebangkitan Ekonomi Keluarga
Pertemuan Bani Isma’il dalam rangka halal bi halal keluarga besar yang diselenggarakan pada Kamis, 26 Maret 2026 di Pondok Pesantren...








