Siang itu di rumah di Ketawang, Gondanglegi, udara terasa tenang seperti hari-hari Ramadhan yang biasa. Jarum jam di ponsel menunjukkan 12.11 ketika sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor yang lama sekali tidak muncul. Nama yang muncul membuat ingatan seperti ditarik jauh ke belakang, Juhri “Irama” begitu kami dulu mengenal namanya.
Kami pernah hidup dalam satu dunia yang sama, dunia sarung, kitab kuning, dan suara ngaji malam, di pesantren Miftahul Ulum Ganjaran, Malang. Dunia yang sekarang terasa jauh, tetapi anehnya selalu mudah kembali hanya dengan satu sapaan. Pesannya langsung seperti orang yang sedang membuka diskusi lama.
“Pak profesor, selama ini orang hanya bicara hikmah dan pahala puasa. Aku cuma mau tanya, bagaimana dengan para pekerja berat seperti buruh pelabuhan, operator excavator, pekerja panen sawit, tentara yang lagi berperang, tukang bangunan, pencari emas di bawah tanah? Bukankah puasa jadi masalah?”
Aku tersenyum membaca pesan itu. Bukan karena pertanyaannya. Tapi karena gaya bertanyanya sangat Juhri sekali. Dulu di pesantren, setelah pengajian kitab, dia sering melempar pertanyaan-pertanyaan yang terdengar serius tetapi sebenarnya lebih seperti cara membuka obrolan panjang.
Sekarang ia berada jauh di Pontianak, di pulau yang lain. Sementara aku sedang duduk santai di rumah di Ketawang. Tetapi anehnya, jarak itu terasa hilang hanya karena satu percakapan.
Aku menjawab panjang tentang fikih puasa. Tentang bagaimana dalam sejarah Islam, bahkan dalam peperangan pun Nabi pernah memberi rukhsah kepada para sahabat untuk berbuka agar kuat menghadapi musuh. Aku juga menulis ayat Al-Qur’an tentang orang sakit dan musafir yang boleh mengganti puasa di hari lain.
Tak lama kemudian balasan datang.
“Super quality.”
Aku tertawa kecil. Kata itu mungkin hanya Juhri yang bisa mengucapkannya dengan serius.
Beberapa menit kemudian ia bertanya lagi.
“Profesor, Pontianak itu dilalui khat al-istiwa. Panasnya luar biasa. Apa bisa dirukhsah? Puasa diganti di musim yang lebih stabil?”
Pertanyaan itu membuatku tersenyum lagi. Aku tahu benar, ini bukan sekadar soal cuaca atau fikih. Ini cara lama kami berdiskusi seperti di pesantren dulu: bertanya dengan gaya setengah serius, setengah bercanda.
Aku menjelaskan lagi bahwa panas daerah tidak otomatis menjadi alasan menunda puasa. Tapi jika seseorang benar-benar mengalami bahaya fisik, ia boleh berbuka dan menggantinya di hari lain.
Percakapan kemudian berbelok tiba-tiba.
Juhri menulis: “Ngomong-ngomong profesor, kalau ada sarung super bisa diekspor ke Pontianak. Apalagi kalau bekas punya guru.”
Aku tertawa.
Dari fikih puasa langsung pindah ke sarung. Tapi di pesantren dulu, itu hal yang biasa. Obrolan bisa dimulai dari kitab Fathul Qarib, lalu berakhir pada cerita dapur pondok atau sarung yang dipinjam teman.
Aku menjawab bahwa di rumah ada beberapa sarung dan beberapa baju batik. Sebagian sarung bahkan masih dipakai anakku.
Juhri membalas: “Subhanallah. Sarung di pasar itu banyak sekali. Tapi sarung sang profesor susah didapat.”
Aku tahu itu candaan. Tapi candaan yang hangat, seperti dulu ketika kami duduk di tangga asrama setelah pengajian malam.
Lalu tiba-tiba ia menulis sesuatu yang membuatku berhenti sejenak membaca layar.
“Semoga anak dan keturunanku bisa mengikuti jejak jenengan, profesor.”
Aku mengetik pelan.
“Menjadi profesor itu tidak bisa dijadikan kebanggaan. Di dunia akademik sekarang, profesor sudah seperti barang rongsokan yang tak laku dijual.”
Aku menambahkan tawa kecil di akhir kalimat. Percakapan lalu menyebut satu nama lama, Kak Masyhur.
Nama itu seperti membuka kembali pintu kenangan pesantren. Sosok yang gayanya keras, wajahnya kadang terlihat menyeramkan, tetapi hatinya mudah luluh ketika membaca doa. Aku menulis kepada Juhri:
“Sampean jangan jauh-jauh dari Kak Masyhur. Itu pesan Abah Kyai Kholili dulu.”
Beberapa saat kemudian Juhri menjawab: “Di balik gayanya yang serem melebihi Kang Limbad, sebenarnya hatinya bening sekali.”
Aku menatap layar ponsel agak lama. Seolah-olah halaman Pesantren Miftahul Ulum Ganjaran muncul kembali dalam ingatan, suara ngaji malam, lampu kuning di serambi masjid, dan langkah para santri yang berjalan dengan sarung terlipat setengah.
Puluhan tahun telah berlalu….
Sebagian dari kami kini tinggal di kota yang berbeda-beda. Juhri di Pontianak. Aku di Ketawang. Yang lain tersebar entah di mana.
Tetapi cara kami berbicara rupanya masih sama seperti dulu. Dimulai dari pertanyaan fikih, lalu berakhir pada sarung, sahabat lama, dan kenangan pesantren. Sebelum percakapan berhenti, aku menulis satu pesan lagi.
“Sarung cuma ada dua. Satu untuk sampean, satu untuk Kak Masyhur.”
Balasan dari Pontianak datang cepat. “Sarung itu hanya untuk kami berdua. Jangan di-spill ke yang lain, profesor.”
Aku tertawa sendirian di ruang tamu rumah. Kadang persahabatan lama memang seperti sarung pesantren, sederhana, mungkin sudah lama, tetapi hangatnya selalu cukup untuk mengingatkan kita dari mana kita pernah berjalan bersama.








