Pada hari Selasa pukul 11.28 WIB, melalui GWA Fakultas Syariah, tersebar kabar duka:
إنا لله وإنا إليه راجعون
Berpulang ke rahmatullah ayahanda dari Ibu Jamilah. Doa-doa mengalir, memohonkan ampunan, rahmat, dan husnul khatimah bagi almarhum. Sore harinya, Habib Segaf mengajak saya untuk bertahlil bagi orang tua Mas Hariri. Belakangan saya mengetahui bahwa Mbak Jamilah dan Hariri adalah saudara kandung, putra-putri dari seorang lelaki sederhana bernama Saelan.
Nama itu terdengar biasa. Tidak diambil dari ayat al-Qur’an, tidak pula dari istilah Arab yang sarat simbol. Namun dalam kesederhanaan nama tersebut, tersembunyi kecintaan yang luar biasa kepada Kalamullah.
Saelan pernah menjadi abdi dalem dari KH. Hasan Baisuny. Pengabdian ini bukan sekadar hubungan sosial, melainkan relasi khidmah—sebuah tradisi pesantren yang menanamkan adab, kesetiaan, dan keberkahan ilmu. Dalam perjalanan hidupnya, beliau kemudian dinikahkan dengan adik ipar dari KH. Jazuli, memperkuat jejaring spiritual dan kekeluargaan di lingkungan para kiai. Namun identitas terkuat Saelan bukanlah pada jejaring itu. Melainkan pada relasinya dengan al-Qur’an.
Saelan dikenal sangat mencintai al-Qur’an. Membaca al-Qur’an bukan sekadar rutinitas, melainkan kebutuhan ruhani. Bahkan ketika sakitnya semakin parah, ketika fisiknya melemah, beliau tetap berupaya membaca al-Qur’an. Hingga pada akhir hayatnya, beliau wafat dalam keadaan al-Qur’an berada dalam pelukannya. Sebuah simbol yang tidak dibuat-buat. Sebuah akhir yang menjadi cermin dari kebiasaan hidupnya.
Selain itu, beliau istiqamah melaksanakan shalat malam setiap pukul 02.00 dini hari. Di saat banyak orang terlelap, beliau berdiri menghadap Rabb-nya. Dalam disiplin spiritual seperti inilah kecintaan kepada al-Qur’an menemukan maknanya: bukan sekadar bacaan, tetapi cahaya yang menghidupkan malam
Saelan mungkin tidak meninggalkan karya tulis, tidak dikenal luas di ruang publik, dan tidak tercatat dalam biografi besar. Namun ia meninggalkan warisan yang lebih dalam: teladan. Ia menunjukkan bahwa menjadi pecinta al-Qur’an tidak harus dengan nama yang indah atau gelar yang panjang. Cukup dengan kesetiaan membaca, menghidupi malam dengan ibadah, dan menjadikan al-Qur’an sebagai sahabat hingga akhir hayat.
Selamat jalan, pecinta al-Qur’an. Semoga Allah menerima seluruh amal ibadahmu, melapangkan kuburmu, dan menjadikan al-Qur’an sebagai syafaat yang menyertaimu di alam keabadian. آمين يا رب العالمين.








