BELAJAR BERPIKIR KRITIS DARI SEJARAH: Membangun Disertasi sebagai Proses Berpikir Ilmiah

Pendahuluan

Ketika membaca buku Michael Edmonds, History and Critical Thinking: A Handbook for Using Historical Documents to Improve Students’ Thinking Skills in the Secondary Grades, saya mendapatkan satu pelajaran penting yang menurut saya sangat relevan untuk pendidikan doktoral: kemampuan berpikir kritis tidak cukup diajarkan melalui definisi tentang apa itu berpikir kritis, tetapi harus dilatih melalui proses berhadapan langsung dengan sumber, pertanyaan, bukti, penafsiran, dan argumentasi. Edmonds memperlihatkan bagaimana dokumen sejarah dapat digunakan bukan hanya untuk mengetahui apa yang terjadi pada masa lalu, tetapi untuk melatih peserta didik mempertanyakan sumber, membaca konteks, membandingkan informasi, menilai argumentasi, dan menyusun kesimpulan berdasarkan bukti. Bagi saya, gagasan ini menjadi menarik ketika dibawa ke dalam konteks pendidikan doktoral. Jika dokumen sejarah dapat menjadi sarana untuk melatih berpikir kritis pada peserta didik sekolah menengah, maka pada tingkat doktoral seluruh proses penelitian sesungguhnya harus menjadi ruang latihan berpikir kritis yang lebih mendalam.

Di sinilah saya melihat bahwa penyusunan disertasi tidak seharusnya dipahami terutama sebagai kegiatan menulis sebuah karya ilmiah yang terdiri atas beberapa bab. Disertasi adalah proses belajar berpikir sebagai seorang ilmuan. Seorang mahasiswa doktor tidak hanya dituntut mengetahui banyak hal, tetapi harus mampu mempertanggungjawabkan bagaimana ia mengetahui sesuatu. Ia harus mampu membedakan antara informasi dan pengetahuan, antara data dan bukti, antara pendapat dan argumentasi, antara deskripsi dan penjelasan, serta antara penggunaan teori dan pembangunan teori. Karena itu, persoalan utama dalam penyusunan disertasi sebenarnya bukan pertama-tama persoalan teknis penulisan, melainkan persoalan cara berpikir.

Belajar dari Edmonds membawa saya pada pertanyaan yang lebih mendasar: jika mahasiswa sekolah menengah dapat dilatih berpikir kritis melalui dokumen sejarah, bagaimana seharusnya mahasiswa doktor dilatih berpikir kritis melalui proses penelitian dan penyusunan disertasinya? Pertanyaan ini menjadi penting karena pendidikan doktoral tidak cukup hanya menghasilkan mahasiswa yang mampu melakukan penelitian. Pendidikan doktoral harus menghasilkan seorang ilmuwan yang mampu mempertanyakan pengetahuan yang sudah ada, menemukan persoalan yang belum terjelaskan, membangun argumentasi berdasarkan bukti, dan pada akhirnya memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Dari Membaca Dokumen ke Membaca Pengetahuan

Salah satu kekuatan pendekatan Edmonds terletak pada perubahan cara memandang dokumen. Dokumen tidak diperlakukan hanya sebagai bahan untuk mengetahui fakta sejarah. Dokumen diperlakukan sebagai sesuatu yang harus dibaca secara kritis. Siapa yang membuat dokumen tersebut? Dalam konteks apa dokumen itu dibuat? Apa tujuan pembuatannya? Perspektif siapa yang muncul? Informasi apa yang diberikan? Apa yang tidak dikatakan? Bagaimana informasi tersebut dapat dibandingkan dengan sumber yang lain? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini mengubah kegiatan membaca menjadi kegiatan berpikir.

Menurut saya, prinsip tersebut sangat penting untuk dibawa ke dalam penyusunan disertasi. Mahasiswa doktor tidak boleh membaca literatur hanya untuk mengetahui apa yang dikatakan oleh penulis. Ia harus membaca untuk memahami bagaimana pengetahuan tersebut dibangun. Ketika membaca sebuah teori, mahasiswa tidak cukup bertanya apa isi teori tersebut. Ia perlu bertanya dari persoalan apa teori itu lahir, asumsi apa yang digunakan, realitas apa yang ingin dijelaskan, konsep apa yang dibangun, bukti apa yang mendukungnya, dan dalam konteks apa teori tersebut bekerja.

Demikian pula ketika membaca hasil penelitian terdahulu. Mahasiswa tidak cukup mengatakan bahwa penelitian A menemukan X, penelitian B menemukan Y, dan penelitian C menemukan Z. Cara membaca seperti itu baru menghasilkan tinjauan pustaka yang bersifat deskriptif. Cara membaca secara kritis mengharuskan mahasiswa melihat hubungan di antara penelitian tersebut. Mengapa penelitian A menghasilkan X sementara penelitian B menghasilkan Y? Apakah perbedaan tersebut disebabkan oleh teori, metode, konteks, objek, atau cara penafsiran? Apakah terdapat kontradiksi? Apakah terdapat sesuatu yang tidak mampu dijelaskan oleh penelitian-penelitian tersebut? Dari sinilah sebuah persoalan penelitian mulai ditemukan.

Dengan demikian, belajar dari Edmonds mengajarkan kepada kita bahwa sumber bukan hanya tempat mengambil informasi, tetapi tempat memulai proses berpikir.

Berpikir Kritis: Dimulai dari Pertanyaan

Saya kira, salah satu persoalan dalam penyusunan disertasi adalah mahasiswa terlalu cepat mencari jawaban sebelum benar-benar menemukan pertanyaan. Ketika menemukan sebuah fenomena, mahasiswa sering langsung berpikir tentang teori apa yang akan digunakan, metode apa yang akan dipakai, atau data apa yang harus dikumpulkan. Padahal, penelitian yang baik justru dimulai dari kemampuan mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap biasa.

Dalam tradisi berpikir kritis, pertanyaan bukan sekadar pembuka penelitian. Pertanyaan merupakan pengarah seluruh proses penalaran. Pertanyaan menentukan informasi apa yang diperlukan, konsep apa yang digunakan, bukti apa yang harus dicari, dan kesimpulan seperti apa yang mungkin dihasilkan. Karena itu, mahasiswa doktor harus belajar membedakan antara pertanyaan yang meminta informasi dengan pertanyaan yang membuka persoalan ilmiah. Pertanyaan “Apa peran pesantren dalam ekonomi masyarakat?” masih dapat menjadi pertanyaan deskriptif. Tetapi ketika pertanyaan tersebut dikembangkan menjadi “Bagaimana institusi pesantren memperoleh legitimasi untuk memainkan peran ekonomi dalam masyarakat, melalui mekanisme sosial apa legitimasi tersebut bekerja, dan bagaimana fenomena tersebut dapat dijelaskan secara teoretis?” maka pertanyaan tersebut sudah bergerak menuju persoalan yang lebih doktoral.

Pertanyaan yang baik bukan hanya mencari informasi. Pertanyaan yang baik membuka ruang bagi argumentasi dan penjelasan.

Dari Research Gap Menuju Problem Pengetahuan

Pada tahap ini kita perlu mengubah kebiasaan memahami research gap. Saya melihat bahwa research gap sering dipahami terlalu sederhana sebagai “belum ada penelitian tentang X”. Padahal, tidak adanya penelitian tentang X belum otomatis menjadi persoalan ilmiah. Yang lebih penting adalah mengapa X menjadi penting untuk diketahui dan apa yang tidak dapat dijelaskan oleh pengetahuan yang sudah tersedia.

Mahasiswa doktor, dengan demikian, perlu bergerak dari research gap menuju problem of knowledge. Ia harus menemukan keterbatasan penjelasan yang ada. Keterbatasan itu dapat berupa teori yang tidak mampu menjelaskan fenomena tertentu, adanya temuan penelitian yang saling bertentangan, munculnya fenomena baru yang belum dapat dijelaskan, atau adanya konsep yang selama ini digunakan tetapi ternyata tidak memadai ketika berhadapan dengan realitas tertentu.

Di sinilah berpikir kritis menjadi sangat penting. Peneliti tidak hanya bertanya, “Apa yang belum diteliti?” tetapi bertanya, “Apa yang belum dapat dijelaskan?” Pertanyaan kedua jauh lebih dekat dengan kepentingan doktoral karena ia membawa penelitian menuju pembangunan pengetahuan.

Data Bukan Sekadar Data

Belajar dari cara Edmonds memperlakukan dokumen sejarah juga mengajarkan bahwa sumber tidak otomatis menjadi bukti. Sesuatu yang kita temukan dalam penelitian baru menjadi evidence ketika telah diuji relevansinya dengan pertanyaan penelitian dan ditempatkan dalam proses penalaran.

Data wawancara, misalnya, adalah informasi mengenai apa yang dikatakan seseorang. Ia belum otomatis menjadi kebenaran mengenai keseluruhan realitas. Demikian pula sebuah dokumen kebijakan tidak otomatis menggambarkan praktik yang terjadi di lapangan. Peneliti harus membandingkan, mengontekstualisasikan, dan menafsirkan informasi tersebut.

Tegasnya, dalam penelitian doktoral, mahasiswa perlu membedakan dengan tegas antara apa yang dikatakan sumber, apa yang ditemukan peneliti, apa yang ditafsirkan peneliti, dan apa yang dapat disimpulkan dari tafsiran tersebut. Di sinilah prinsip berpikir kritis bekerja. Peneliti harus terus bertanya: apa buktinya, seberapa kuat bukti itu, apakah ada bukti yang berlawanan, apakah terdapat penjelasan alternatif, dan sejauh mana kesimpulan dapat ditarik dari bukti tersebut.

Prinsip yang menurut saya sangat penting untuk dipegang dalam penulisan disertasi adalah sederhana: kesimpulan tidak boleh lebih besar daripada bukti.

Membaca Teori Secara Kritis

Hal yang sama berlaku ketika mahasiswa menggunakan teori. Teori jangan hanya ditempatkan sebagai sesuatu yang harus dikutip dalam Bab II, misalnya. Teori harus dibaca sebagaimana Edmonds mengajarkan kita membaca sumber: dari mana teori itu lahir, persoalan apa yang ingin dijawab, asumsi apa yang dibangun, konsep apa yang digunakan, dan dalam konteks apa teori tersebut dapat menjelaskan realitas.

Dengan cara ini, mahasiswa tidak lagi hanya bertanya, “Teori apa yang akan saya gunakan?” Pertanyaannya berubah menjadi, “Apa yang dapat dijelaskan oleh teori ini dan apa yang tidak dapat dijelaskannya?”

Pertanyaan tersebut membuka kemungkinan yang sangat penting dalam penelitian doktoral. Bisa jadi teori yang digunakan memang memadai. Bisa jadi teori tersebut harus dimodifikasi. Bisa jadi beberapa teori harus dipertemukan. Bisa juga penelitian menghasilkan konsep atau hubungan baru yang belum terdapat dalam teori terdahulu.

Pada titik inilah penelitian mulai bergerak dari theory testing menuju theory building.

Berpikir Kritis terhadap Diri Sendiri

Berpikir kritis tidak hanya diarahkan kepada sumber, teori, penelitian terdahulu, atau pendapat orang lain. Hal yang lebih sulit adalah mengarahkan berpikir kritis kepada diri sendiri. Seorang peneliti harus mampu bertanya: mengapa saya memilih persoalan ini? Mengapa saya menggunakan konsep ini? Mengapa saya mempercayai sumber ini? Apakah saya hanya mencari data yang mendukung pendapat saya? Apakah ada kemungkinan bahwa interpretasi saya dipengaruhi oleh asumsi yang tidak saya sadari? Apakah terdapat penjelasan lain yang lebih kuat?

Di sini berpikir kritis bertemu dengan sikap reflektif. Seorang peneliti doktor harus memiliki keberanian intelektual untuk menemukan kemungkinan bahwa dirinya sendiri keliru. Penelitian bukan proses membuktikan bahwa apa yang sejak awal diyakini peneliti adalah benar. Penelitian adalah proses membuka kemungkinan bahwa keyakinan awal tersebut harus diperbaiki setelah berhadapan dengan bukti.

Artinya, counter-argument bukan ancaman terhadap disertasi. Justru keberadaan counter-argument menunjukkan kedewasaan intelektual peneliti. Peneliti yang mampu menunjukkan kelemahan argumentasinya sendiri sekaligus menjelaskan mengapa argumentasi akhirnya tetap dapat dipertahankan akan menghasilkan disertasi yang jauh lebih kuat.

Dari Critical Thinking Menuju Theory Building

Jika seluruh proses tersebut dirangkaikan, maka berpikir kritis sebenarnya merupakan jalan menuju pembangunan teori. Penelitian dimulai dari sesuatu yang diamati, kemudian dipertanyakan. Pertanyaan tersebut membawa peneliti pada problematisasi. Problematisasi mengarahkan pencarian bukti. Bukti dianalisis secara kritis. Analisis menghasilkan interpretasi. Interpretasi dibangun menjadi argumentasi. Argumentasi kemudian diabstraksikan menjadi konsep dan hubungan antarkonsep. Dari proses inilah kemungkinan pembangunan teori muncul.

Dengan demikian, mahasiswa doktor perlu mengubah pertanyaan “Apa temuan penelitian saya?” menjadi “Apa makna teoretis dari temuan tersebut?” Pertanyaan berikutnya adalah “Konsep apa yang dapat saya bangun dari temuan tersebut?” Setelah itu pertanyaan yang lebih penting adalah “Hubungan antarkonsep apa yang dapat menjelaskan fenomena tersebut?” Dan pada akhirnya, “Apa kontribusi penjelasan ini terhadap perkembangan ilmu?”

Di sinilah saya melihat hubungan yang sangat erat antara critical thinking dan theory building. Tanpa berpikir kritis, mahasiswa mungkin menghasilkan banyak data tetapi tidak mampu menjelaskan maknanya. Tanpa kemampuan membangun argumentasi, mahasiswa mungkin memiliki banyak temuan tetapi tidak mampu menunjukkan kontribusinya. Dan tanpa konseptualisasi, penelitian mungkin berhenti pada deskripsi fenomena tanpa menghasilkan pengetahuan baru.

Disertasi sebagai Latihan Berpikir

Saya memandang disertasi bukan terutama sebagai produk akhir pendidikan doktoral, tetapi sebagai proses latihan berpikir. Disertasi menjadi ruang tempat mahasiswa belajar membaca sumber secara kritis, merumuskan pertanyaan, menguji asumsi, menilai bukti, membandingkan perspektif, membangun argumentasi, menerima kritik, mengoreksi pemikiran sendiri, dan menghasilkan penjelasan baru.

Dalam pengertian ini, kita dapat belajar dari Edmonds meskipun konteks bukunya adalah pembelajaran sejarah pada jenjang sekolah menengah. Yang kita ambil bukan sekadar teknik menggunakan dokumen sejarah di kelas, tetapi logika pedagogis di baliknya. Edmonds menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis dibangun melalui hubungan antara sumber, pertanyaan, bukti, analisis, dan argumentasi. Logika tersebut dapat kita naikkan ke tingkat doktoral. Jika pada pembelajaran sejarah siswa belajar berpikir kritis melalui dokumen, maka mahasiswa doktor belajar berpikir kritis melalui seluruh proses penelitian.

Dengan demikian, mahasiswa doktor harus memperlakukan setiap artikel yang dibaca sebagai sumber yang perlu diuji, setiap teori sebagai penjelasan yang perlu diperiksa, setiap data sebagai informasi yang perlu ditafsirkan, setiap argumentasi sebagai klaim yang harus dipertanggungjawabkan, dan setiap kesimpulan sebagai proposisi yang harus memiliki dasar bukti.

Penutup

Pada akhirnya, yang ingin kita bangun melalui pendidikan doktoral bukan hanya kemampuan mahasiswa menyelesaikan disertasi. Yang lebih penting adalah membangun cara berpikir seorang ilmuwan. Michael Edmonds melalui History and Critical Thinking memberikan pelajaran bahwa berpikir kritis dapat ditumbuhkan melalui interaksi yang serius dengan sumber dan proses inquiry. Dari sana kita dapat belajar bahwa sumber tidak cukup dibaca, tetapi harus dipertanyakan; informasi tidak cukup dikumpulkan, tetapi harus diuji; kesimpulan tidak cukup dinyatakan, tetapi harus dibuktikan; dan pengetahuan tidak cukup diterima, tetapi harus dipertanggungjawabkan.

Bagi mahasiswa doktor, prinsip tersebut harus diperluas. Ia tidak hanya belajar membaca sumber, tetapi belajar membaca struktur pengetahuan. Ia tidak hanya belajar menemukan data, tetapi belajar menentukan apa yang dapat disebut sebagai evidence. Ia tidak hanya belajar menggunakan teori, tetapi belajar menguji kemampuan teori dalam menjelaskan realitas. Ia tidak hanya belajar menemukan research gap, tetapi belajar menemukan persoalan pengetahuan. Dan ia tidak hanya belajar menghasilkan temuan, tetapi belajar membangun penjelasan yang dapat memberikan kontribusi teoretis.

Bagi saya, berpikir kritis dalam disertasi dapat dirumuskan sebagai sebuah perjalanan akademik: membaca secara kritis, bertanya secara kritis, menguji secara kritis, menafsirkan secara kritis, berargumentasi secara kritis, dan akhirnya membangun teori secara reflektif.

Disertasi yang baik bukan disertasi yang paling banyak mengutip teori, paling banyak memiliki data, atau paling panjang pembahasannya. Disertasi yang baik adalah disertasi yang memperlihatkan bahwa penelitinya mampu berpikir secara mandiri, kritis, reflektif, dan bertanggung jawab dalam menghasilkan pengetahuan baru. Pada akhirnya, inilah makna pendidikan doktoral: bukan sekadar belajar tentang ilmu, tetapi belajar bagaimana ilmu dibangun.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *