Ada sebuah ungkapan yang sangat populer dan sering dinisbatkan kepada Albert Einstein: “Insanity is doing the same thing over and over again and expecting different results.” Secara sederhana, ungkapan tersebut dapat diterjemahkan sebagai “kegilaan adalah melakukan hal yang sama berulang-ulang, tetapi mengharapkan hasil yang berbeda.” Saya di sini sengaja mengatakan “sering dinisbatkan” kepada Einstein, bukan memastikan bahwa ungkapan tersebut benar-benar berasal darinya. Secara akademik, atribusi tersebut memang tidak memiliki bukti dokumenter yang cukup kuat. Namun, terlepas dari siapa yang pertama kali mengucapkannya, gagasan yang terkandung di dalamnya sangat menarik untuk direnungkan. Bahkan ketika gagasan tersebut diletakkan dalam perspektif Al-Qur’an, kita menemukan bahwa Al-Qur’an telah berbicara jauh lebih dahulu mengenai persoalan tersebut, bahkan dengan cakupan yang jauh lebih luas. Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang mengulangi tindakan yang sama, tetapi menjelaskan bagaimana manusia seharusnya berpikir, membaca pengalaman, menggunakan akal, mengambil pelajaran, mengubah dirinya, dan kemudian mengubah tindakannya.
Bukan Kegagalan yang Menjadi Masalah
Kalau kita membaca ungkapan “doing the same thing over and over again and expecting different results”, sebenarnya yang dikritik bukanlah kegagalan. Manusia tentu boleh gagal. Bahkan dalam kehidupan manusia, kegagalan merupakan sesuatu yang hampir tidak mungkin dihindari. Seorang mahasiswa dapat gagal dalam penelitian, seorang dosen dapat salah dalam mengambil keputusan, seorang pemimpin dapat keliru menentukan kebijakan, sebuah lembaga dapat gagal mencapai target, bahkan sebuah bangsa dapat melakukan kesalahan dalam menentukan arah pembangunan. Kegagalan bukan persoalan utamanya. Persoalannya adalah ketika kegagalan tidak menghasilkan pembelajaran.
Seseorang mengalami kegagalan, tetapi mengulang cara yang sama. Ia menemukan masalah yang sama, tetapi tetap menggunakan pendekatan yang sama. Ia memperoleh hasil yang sama, tetapi tetap berharap bahwa pada kesempatan berikutnya hasilnya akan berbeda. Pada titik inilah ungkapan tersebut menjadi relevan. Namun, Al-Qur’an membawa persoalan ini lebih jauh. Al-Qur’an tidak hanya bertanya apakah manusia mengulangi tindakan yang sama, tetapi juga mempertanyakan apakah manusia menggunakan akalnya untuk belajar dari apa yang telah dialaminya. Dengan demikian, persoalan yang sesungguhnya bukanlah kegagalan, melainkan ketidakmampuan manusia menjadikan kegagalan sebagai pengetahuan dan pengetahuan sebagai dasar perubahan.
Al-Qur’an dan Perintah untuk Berpikir
Al-Qur’an berulang kali menggunakan pertanyaan yang menggugah manusia agar menggunakan akalnya. Salah satunya adalah أَفَلَا تَعْقِلُونَ, “Tidakkah kamu menggunakan akal?” Ungkapan أَفَلَا تَعْقِلُونَ (afalā ta‘qilūn) menunjukkan bahwa bagi Al-Qur’an manusia tidak cukup hanya melihat, mendengar, mengalami, atau menerima informasi. Manusia harus menggunakan عَقْل (‘aql), yaitu kemampuan intelektual untuk memahami, mempertimbangkan, dan mengambil keputusan.
Al-Qur’an juga berulang kali menggunakan ungkapan أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ, “Tidakkah kamu berpikir?” Kata تَفَكُّر (tafakkur) menunjukkan proses berpikir secara reflektif. Manusia tidak hanya menerima realitas sebagaimana adanya, tetapi memikirkan makna, hubungan, sebab, akibat, dan kemungkinan yang ada di baliknya. Al-Qur’an juga mengatakan أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ, “Tidakkah mereka mentadabburi?” تَدَبُّر (tadabbur) membawa proses berpikir lebih jauh. Ia bukan hanya berpikir tentang sesuatu, tetapi berusaha melihat kedalaman makna dan konsekuensi dari sesuatu. Dengan demikian, sejak awal Al-Qur’an telah membangun manusia sebagai makhluk yang reflektif. Manusia tidak cukup hanya mengalami. Manusia harus berpikir tentang apa yang dialaminya.
Pengalaman Tidak Otomatis Menjadi Pembelajaran
Menurut saya, salah satu persoalan terbesar manusia adalah anggapan bahwa semakin banyak pengalaman berarti semakin banyak pengetahuan. Menurut saya melihat beberapa fakta tidak selalu demikian. Seseorang dapat mengalami sesuatu selama bertahun-tahun, tetapi belum tentu belajar darinya. Seseorang dapat mengulang kesalahan yang sama selama bertahun-tahun. Seseorang dapat bekerja dalam sebuah lembaga selama puluhan tahun, tetapi belum tentu memahami mengapa persoalan yang sama terus berulang. Karena itu, sayanteringat hasil diskusi bersama Gus Nadhir dan Gus Yahya bahwa pengalaman saja tidak cukup. Pengalaman membutuhkan refleksi. Pengalaman harus dibaca. Pengalaman harus dianalisis. Pengalaman harus menghasilkan kesadaran. Dan kesadaran harus menghasilkan perubahan.
Dalam perspektif Al-Qur’an, salah satu konsep yang sangat penting dalam proses tersebut adalah عِبْرَة (‘ibrah). ‘Ibrah adalah pelajaran yang diperoleh dari suatu peristiwa. Artinya, suatu kejadian tidak berhenti sebagai kejadian. Ia harus ditransformasikan menjadi pelajaran yang dapat digunakan untuk menentukan tindakan berikutnya. Inilah yang membuat konsep ‘ibrah menjadi sangat penting dalam membaca hubungan antara Al-Qur’an dan ungkapan “insanity” tersebut. Manusia tidak hanya dituntut mengalami kehidupan, tetapi dituntut mampu mengambil pelajaran dari kehidupan.
Al-Qur’an Mengajarkan Manusia Membaca Sejarah
Allah berfirman:
قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُكَذِّبِينَ
“Sungguh, telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah). Karena itu, berjalanlah kamu ke seluruh bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan.” (QS. Ali ‘Imran [3]:137).
Saya melihat ada sesuatu yang sangat menarik dalam ayat ini. Manusia diperintahkan فَسِيرُوا۟ (fasīrū), “berjalanlah”, kemudian فَٱنظُرُوا۟ (fanẓurū), “perhatikanlah”. Artinya, manusia diajak memasuki realitas, mengamati apa yang terjadi, dan membaca akibat dari tindakan manusia sebelumnya. Dengan kata lain, sejarah adalah laboratorium pembelajaran manusia. Manusia tidak seharusnya hanya mengetahui bahwa suatu peristiwa pernah terjadi. Manusia harus bertanya, mengapa peristiwa itu terjadi, apa yang menyebabkan keberhasilan, apa yang menyebabkan kehancuran, apa yang dapat dipelajari, apa yang harus dihindari, dan apa yang harus dilakukan secara berbeda. Di sinilah konsep ‘ibrah menjadi sangat penting. Sebuah masyarakat yang tidak mampu mengambil ‘ibrah dari sejarah akan sangat mudah mengulangi kesalahan sejarah. Sebuah lembaga yang tidak mampu mengambil ‘ibrah dari pengalaman organisasinya akan terus mengulangi persoalan yang sama. Dan seseorang yang tidak mampu mengambil ‘ibrah dari pengalaman hidupnya akan terus berjalan dalam lingkaran kesalahan yang sama.
“Insanity” dan Kritik Al-Qur’an terhadap Taklid Buta
Al-Qur’an juga memberikan penjelasan mengenai salah satu penyebab manusia mempertahankan pola yang sama, yaitu kecenderungan mengikuti sesuatu hanya karena telah dilakukan oleh generasi sebelumnya. Allah berfirman:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُوا۟ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُوا۟ بَلْ نَتَّبِعُ مَآ أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَآ ۗ أَوَلَوْ كَانَ ءَابَآؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْـًٔا وَلَا يَهْتَدُونَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami.’ Apakah mereka tetap mengikuti mereka, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. al-Baqarah [2]:170).
Ayat ini tidak berarti bahwa semua tradisi masa lalu harus ditinggalkan. Bukan itu persoalannya. Saya pikir yang dikritik Al-Qur’an adalah mengikuti tanpa berpikir. Tradisi tidak boleh menggantikan akal. Kebiasaan tidak boleh menggantikan evaluasi. Pengalaman masa lalu tidak boleh menjadi alasan untuk menolak perubahan. Sesuatu yang telah lama dilakukan tidak otomatis benar. Sesuatu yang selalu dilakukan tidak otomatis relevan. Dan sesuatu yang diwariskan tidak otomatis harus dipertahankan ketika konteks telah berubah. Dalam konteks inilah kita dapat menemukan titik temu yang menarik dengan konsep insanity tadi. Ketika seseorang mengatakan, “Kita sudah melakukan ini selama bertahun-tahun,” pertanyaan berikutnya seharusnya adalah: Apakah hasilnya sudah sesuai dengan tujuan kita? Jika belum, maka keberanian untuk mengubah cara harus muncul.
Perubahan Dimulai dari Dalam Diri
Namun, Al-Qur’an tidak berhenti pada persoalan cara bertindak. Allah memberikan prinsip perubahan yang sangat fundamental:
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. al-Ra‘d [13]:11).
Menurut saya, ayat inilah yang membuat penjelasan Al-Qur’an jauh lebih mendalam daripada ungkapan “insanity” tersebut. Ungkapan populer itu berbicara tentang melakukan sesuatu dengan cara yang sama dan mengharapkan hasil berbeda. Al-Qur’an berbicara tentang mengubah apa yang ada dalam diri manusia agar perubahan keadaan menjadi mungkin. Kata yang sangat penting dalam ayat tersebut adalah يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ, “mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” Artinya, perubahan tidak semata-mata bersifat teknis. Perubahan bukan sekadar mengganti tindakan. Perubahan harus menyentuh cara berpikir, kesadaran, orientasi, nilai, paradigma, kehendak, dan keputusan manusia. Karena itu, perubahan yang sejati bukan sekadar perubahan perilaku, tetapi transformasi manusia yang melahirkan perilaku baru.
Dari “Doing” Menuju “Being”
Di sinilah saya melihat ada perbedaan penting antara ungkapan Einstein dan perspektif Al-Qur’an. Ungkapan tersebut berbicara tentang doing, yaitu melakukan sesuatu. Al-Qur’an membawa kita kepada being, yaitu menjadi manusia yang berbeda. Kalau hanya mengatakan, “Jangan lakukan cara lama,” kita baru berbicara tentang tindakan. Al-Qur’an bertanya lebih dalam: Siapa diri kita yang menghasilkan tindakan tersebut? Bagaimana cara kita berpikir? Apa paradigma kita? Apa orientasi kita? Apa yang kita yakini? Apa yang menjadi tujuan kita? Apa yang selama ini membuat kita mempertahankan cara yang sama? Dengan demikian, perubahan tindakan harus didahului atau disertai dengan perubahan kesadaran.
Implikasi Dalam Kehidupan Akademik
Perspektif ini sangat relevan dengan kehidupan akademik. Seorang peneliti dapat menggunakan teori yang sama selama bertahun-tahun. Ia dapat menggunakan metode yang sama. Ia dapat membaca objek dengan perspektif yang sama. Tetapi apabila realitas terus menunjukkan anomali yang tidak dapat dijelaskan oleh teori tersebut, maka peneliti harus berani mempertanyakan kerangka berpikirnya. Dalam ilmu pengetahuan, masalah kadang-kadang bukan terletak pada objek penelitian, tetapi pada cara kita melihat objek tersebut. Karena itu, seorang akademisi harus mempunyai keberanian epistemologis untuk mengatakan: “Mungkin bukan realitas yang harus saya paksa masuk ke dalam teori saya. Mungkin teori saya yang harus saya evaluasi.”
Pada titik inilah penelitian menjadi lebih dari sekadar pengumpulan data. Penelitian menjadi proses tafakkur, tadabbur, dan transformasi epistemologis. Seorang doktor seharusnya tidak hanya mampu menjawab pertanyaan, tetapi juga mampu mempertanyakan kembali cara pertanyaan itu dibangun. Ia tidak hanya bertanya, “Apa yang terjadi?”, tetapi juga, “Mengapa saya memahami apa yang terjadi dengan cara seperti ini?” Dan lebih jauh, “Apakah kerangka berpikir yang saya gunakan masih memadai untuk menjelaskan realitas?” Pertanyaan terakhir inilah yang membuka jalan bagi pengembangan teori.
Implikasi Dalam Kehidupan Kelembagaan
Hal yang sama terjadi dalam organisasi dan lembaga. Kita sering melakukan evaluasi. Rapat evaluasi dilaksanakan. Laporan dibuat. Rekomendasi disusun. Tetapi pada tahun berikutnya persoalan yang sama kembali muncul. Mengapa? Karena evaluasi tidak selalu menghasilkan pembelajaran. Evaluasi berhenti sebagai dokumen. Rekomendasi berhenti sebagai tulisan. Dan keputusan tidak mengubah perilaku organisasi.
Akhirnya kita melakukan hal yang sama dan berharap memperoleh hasil berbeda. Padahal evaluasi yang sesungguhnya seharusnya menghasilkan pertanyaan: Apa yang harus kita lakukan secara berbeda setelah mengetahui hasil evaluasi ini? Jika tidak ada jawaban terhadap pertanyaan tersebut, maka evaluasi hanya menjadi ritual administratif. Dalam bahasa yang lebih sederhana: kita sudah tahu masalahnya, tetapi kita tidak mengubah cara mengatasinya.
Belajar dari Formula Qur’ani
Jika seluruh pembahasan ini kita sederhanakan, saya melihat ada sebuah formula yang sangat menarik:
التَّجْرِبَةُ → التَّفَكُّرُ → التَّدَبُّرُ → العِبْرَةُ → التَّغْيِيرُ → العَمَلُ الجَدِيدُ → النَّتَائِجُ الجَدِيدَةُ
Pengalaman → Tafakkur → Tadabbur → ‘Ibrah → Perubahan → Tindakan Baru → Hasil Baru.
Inilah menurut saya logika transformasi Qur’ani. Manusia mengalami sesuatu. Kemudian ia berpikir. Ia melakukan refleksi lebih mendalam. Ia mengambil ‘ibrah. Ia mengubah dirinya. Ia melakukan tindakan yang berbeda. Dan dari tindakan yang berbeda terbuka kemungkinan memperoleh hasil yang berbeda.
Sebaliknya, siklus yang dikritik oleh ungkapan insanity dapat digambarkan sebagai: pengalaman → pengulangan → kegagalan → pengulangan → kegagalan → mengharapkan hasil berbeda. Yang hilang dari siklus kedua adalah tafakkur, tadabbur, dan ‘ibrah. Dengan kata lain, problem utamanya bukan sekadar pengulangan tindakan. Problem utamanya adalah ketiadaan pembelajaran dari pengalaman.
Al-Qur’an Tidak Mengajarkan Takut terhadap Kegagalan
Karena itu, kita tidak perlu memahami pembahasan ini sebagai larangan melakukan kesalahan. Manusia justru harus bergerak, mencari, berpikir, melakukan penelitian, mengambil keputusan, dan menghadapi kemungkinan berhasil maupun gagal. Yang dituntut adalah kemampuan belajar. Kegagalan pertama dapat menjadi pengetahuan. Kegagalan kedua dapat menjadi evaluasi. Kegagalan berikutnya seharusnya menghasilkan perubahan strategi. Tetapi jika setiap kegagalan hanya menghasilkan pengulangan tanpa perubahan, maka manusia sedang kehilangan fungsi pengalaman sebagai sumber pengetahuan.
Karena itu, saya lebih suka mengatakan bahwa masalah manusia bukan karena pernah salah, tetapi karena tidak belajar dari kesalahannya. Dalam perspektif Al-Qur’an, kesalahan dapat menjadi jalan menuju kematangan apabila manusia mampu melakukan refleksi dan mengambil ‘ibrah. Sebaliknya, kesalahan yang terus diulang tanpa pembelajaran akan menjadi siklus yang menghambat perubahan.
Dari Pengalaman Menjadi ‘Ibrah
Pada akhirnya, hubungan antara ungkapan insanity dan Al-Qur’an dapat kita letakkan dalam satu titik yang sangat penting: kemampuan manusia mengubah pengalaman menjadi pembelajaran. Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk menggunakan عَقْل (‘aql), melakukan تَفَكُّر (tafakkur), melakukan تَدَبُّر (tadabbur), dan mengambil عِبْرَة (‘ibrah). Semua itu bermuara pada تَغْيِير (taghyīr)—perubahan.
Maka, pengalaman tidak boleh berhenti menjadi pengalaman. Ia harus menjadi ‘ibrah. ‘Ibrah tidak boleh berhenti menjadi pengetahuan. Ia harus menjadi perubahan. Dan perubahan tidak boleh berhenti sebagai niat. Ia harus menjadi tindakan.
Dengan demikian, siklus kehidupan manusia seharusnya bukan: mengalami → mengulangi → gagal → mengulangi. Tetapi: mengalami → berpikir → memahami → mengambil pelajaran → berubah → bertindak kembali.
Al-Qur’an Jauh Lebih Dahulu
Pada akhirnya, ungkapan yang sering dinisbatkan kepada Albert Einstein tersebut memang sangat menarik. Tetapi ketika saya membacanya melalui Al-Qur’an, saya menemukan bahwa gagasan tentang belajar dari pengalaman, menggunakan akal, meninggalkan pola yang keliru, membaca sejarah, mengambil pelajaran, dan melakukan perubahan diri bukanlah gagasan baru. Al-Qur’an telah membicarakannya jauh lebih dahulu.
Bahkan Al-Qur’an menjelaskannya secara lebih lengkap. Bukan hanya: “Jangan melakukan hal yang sama dan berharap hasil yang berbeda.” Al-Qur’an mengajarkan: gunakan akal, berpikirlah, renungkan pengalaman, bacalah sejarah, ambillah ‘ibrah, evaluasilah apa yang ada dalam diri, ubahlah diri, kemudian lakukan tindakan yang berbeda.
Dengan demikian, persoalan yang sesungguhnya bukan sekadar apakah kita melakukan sesuatu berulang-ulang. Pertanyaan yang lebih penting adalah: Apakah kita belajar dari apa yang kita lakukan?
Sebab orang yang belajar dari pengalaman akan mengubah dirinya. Orang yang mengubah dirinya akan mengubah tindakannya. Dan perubahan tindakan membuka kemungkinan lahirnya hasil yang berbeda. Di sinilah QS. al-Ra‘d [13]:11 menjadi sangat relevan:
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
Maka, kalau ungkapan populer tersebut bertanya, “Mengapa kita melakukan hal yang sama dan mengharapkan hasil yang berbeda?”, Al-Qur’an membawa kita kepada pertanyaan yang jauh lebih mendalam: “Apa yang harus kita ubah dalam diri kita agar tindakan kita berubah dan keadaan kita juga berubah?”
Bagi saya, pertanyaan kedua inilah yang jauh lebih penting. Sebab perubahan yang sesungguhnya bukan dimulai ketika kita sekadar mengubah apa yang kita lakukan, tetapi ketika kita berani mengubah cara kita memahami diri, membaca realitas, mengambil pelajaran dari pengalaman, dan menentukan arah kehidupan.
Dan pada titik inilah kita dapat mengatakan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar memberikan jawaban terhadap persoalan yang kemudian dirumuskan dalam bahasa modern sebagai “insanity”. Al-Qur’an telah memberikan kerangka berpikir yang jauh lebih mendalam tentang bagaimana manusia seharusnya belajar, berubah, dan membangun kehidupan yang lebih baik. Pemasalahannya adalah mengapa kampus yang berlabel Islam saja tidak berani menggunakan al-Qur’an sebagai perspektif? Kalau terus melakukan hal yang sama lalu berharap yang berbeda, apa ndak gila tuh? Hehehe…