Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Fauzan Zenrif
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
SEKALI LAGI TENTANG KEMUNGKINAN INTEGRASI AGAMA DAN SAINS

SEKALI LAGI TENTANG KEMUNGKINAN INTEGRASI AGAMA DAN SAINS

Memahami Hadits melalui Teori Mekanika Kuantum tentang Realitas pada Level Mikroskopik Bersifat Probabilistik (Bagian 1)

Zenrif Oleh Zenrif
18 Jun 2025
dalam Pemikiran
0
Bagikan ke FacebookBagikan ke Whatsapp

“Fisika kuantum mengajarkan bahwa di level terdalam, kehidupan tidak berjalan secara linier dan pasti. Partikel bisa memilih jalur berbeda, dan realitas berubah tergantung pada bagaimana kita memandangnya. Seperti hidup—tak selalu logis, kadang tak terduga, tapi penuh kemungkinan. Pilihan kecil bisa mengubah arah besar, seperti satu pengamatan yang mengubah hasil eksperimen. Kita bukan sekadar penonton dalam semesta ini, tapi juga bagian dari mekanisme yang membentuknya. Maka, jangan remehkan pikiran, harapan, dan tindakanmu—karena seperti dunia kuantum, hidup pun dibentuk oleh kesadaran dan keberanian untuk memilih.”

Pagi ini, Selasa 17 Juni 2025, saya membaca quote di atas yang dikirimkan oleh PSIS dalam Group WA UIN Forum. Sebentar saya merenungkan makna dari pernyataan tersebut, kemudian saya teringat pada potongan hadits yang berbunyi: “وَإِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ (Dan sungguh, Allah benar-benar menolong agama ini melalui seorang laki-laki yang fajir (durhaka/pendosa).” Bagi saya hadits ini menyimpan banyak sekali tantangan atau tepatnya pertanyaan akademik, maksudnya perlu diteliti dan perlu diberikan penjelasan secara ilmiah. Misalnya pertanyaan, bagaimana bisa agama yang baik kok bisa dikuatkan melalui pendosa? Bagaimana bisa hal baik memperoleh sokongan dari hal negatif? Bagaimana dan mengapa kebaikan bisa berujung dengan keburukan? Bagaimana pejuang kebaikan berakhir dengan cara keburukan?

Baca lainnya

Legitimasi Meritokrasi dalam Birokrasi Lokal: Menimbang Relasi Kekerabatan dalam Perspektif Hukum Administrasi dan Sejarah Politik Islam

Legitimasi Meritokrasi dalam Birokrasi Lokal: Menimbang Relasi Kekerabatan dalam Perspektif Hukum Administrasi dan Sejarah Politik Islam

19 Apr 2026
Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

18 Apr 2026

Secara sederhana dan pandangan teologis normatif saya bisa saja memakani kalimat itu bahwa kehendak Allah swt yang Maha Bijaksana dan Maha Memiliki Kehendak bisa saja menjadikan siapa saja sebagai sarana untuk menegakkan atau memperkuat agama-Nya, bahkan dari orang fajir atau fasik atau pendosa sekalipun. Jadi, dalam pandangan teologis normatif yang demikian, bisa saya pahami bahwa pertolongan Allah tidak terbatas melalui orang-orang baik, orang—orang shaleh saja, tetapi pertolongan itu bisa datang dari arah yang tidak diduga. Nah, pada cara berpikir ini saya menemukan ada kesamaan dengan quote di atas, terutama pada bagian: “Fisika kuantum mengajarkan bahwa di level terdalam, kehidupan tidak berjalan secara linier dan pasti. Partikel bisa memilih jalur berbeda, dan realitas berubah tergantung pada bagaimana kita memandangnya. Seperti hidup—tak selalu logis, kadang tak terduga, tapi penuh kemungkinan.”

PSIS yang dipimpin Mas Dr. Agus Mulyono, MSi., seorang dosen muda yang memiliki keahlian dalam bidang Fisika Quantum, pasti tidak menyampaikan pandangan begitu saja. Tapi, saya bukan orang yang pernah belajar Fisika, apalagi Fisika Quantum. Sebab, saat belajar di Madrasah Aliyah Raudlatul Ulum, Ganjaran Malang, pelajaran Fisika termasuk mata pelajaran yang sering ditinggal tidur oleh banyak siswa Aliyah RU, termasuk atau tepatnya terutama saya, atau keluar kelas dengan alasan mau ke kemar mandi lalu tidak kembali lagi sampai mata pelajaran Fisika usai. Keburukan saya itu membuat saya tidak pernah bisa memahami pelajaran itu dan yang sebangsanya, misal biologi, kimia, dan matematika. Sehingga ketika mendengar bahasa-bahasa Fisika Quantum, dan saya sering mendengar dari teman akrab saya, Dr. Agus Mulyono, Msi., saya juga tak pernah memahami dengan baik.

Sekalipun demikian, saya pernah belajar tentang probabilitas dan deterministik, tentu sebagiannya, saat belajar teologi bersama Prof. Dr. Harun Nasution, dosen senior yang dikenal sangat rasional. Keadah probabilitas dan diterministik tersebut dibahas dalam kajian Jabariyah dan Qadariyyah. Aliran Jabariyah, sebagaimana pandangan al-Khāṭib al‑Šibhī (d. 979 M), dalam Syarḥ al-ʿAqīdah al-Wāsiṭiyyah,[1] meyakini bahwa manusia tidak memiliki pilihan sama sekali, semua tindakannya sepenuhnya ditentukan Allah swt. Manusia adalah makhluk yang dipaksa (al-mujbirūn). Sebaliknya Qadariyah, sebagaimana dijelaskan Hasan al‑Basrī (abad ke‑1 H) dan al‑Maḥḍī bi‑Amrillāh Abī Ḥanīfah (abad 2 H) dalam kitab Kitāb al‑Milal wa al‑Niḥal,[2] menegaskan bahwa manusia bertanggung jawan atas pilihan moral karena memiliki kebebasan penuh (al-istīṭāʿah wa al‑mashīʾah). Paham ini sepenuhnya menolak takdir mutlak.

Dari kedua aliran inilah saya memahami bahwa teologi Jabariyah mengikuti deterministik mutlak, menolak kebebasan manusia, sementara Qadariyah menekankan kebebasan manusia. Dalam pandangan ini, konsepsi determinisme dipahami bahwa anusia tidak punya pilihan, selalu linier semuanya dengan kehendak Allah, sementara probabilitas memahami kebabasan manusia, manusia memilih karena Allah swt telah memberikan kuasa penuh dan tanggung jawab pada manusia melalui sunnatullah. Pada dasarnya paham Qadariyah ini sering dalam beberapa diskusi dikenal sebagai paham probabilitas, tapi saya tidak setuju.

Bagi saya, baik jabariyah maupun qadariyah mengikuti paham determinisme. Hanya saja, jika jabariyah sebagai aliran yang theomorphism  menggantungkan seluruhnya pada ketentuan Allah, manusia tidak memiliki kuasa sepenuhnya, sedangkan qadariyah yang antropomorphism menggantungkan seluruhnya pada kehendak manusia yang bergantung pada sunnatullah. Jadi keduanya sama-sama memiliki ketergantung, keduanya sama-sama deterministik. Bagi saya, teologi modern Ahlus Sunnah wal Jama’ah, baik Asy’ariyah maupun Maturidiyah, yang sepenuhnya mengikuti paham probabilistik itu. Sebab, paham ini yang memiliki pandangan moderat antara jabariyah dan qadariyah. Bagi paham Aswaja, manusia memiliki kemampuan berikhtiar (usaha), tetapi tidak sepenuhnya bergantung pada sunnatullah usahanya tersebut, ada lingkup kehendak dan ilmu Allah swt yang menetapkan takdir hasil usahanya. Di sinilah probablitas itu dapat ditemukan. Pandangan ini yang mirip dengan pola pandang Fisika Quantum yang saya sajikan dibagian depan itu.

[1] Imām al Khāṭib al Šibhī, Syarḥ al ʿAqīdah al Wāsiṭiyyah, Juz 1, 112–115.

[2] al Maḥḍī bin Amrillāh Abī Ḥanīfah, Kitāb al Milal wa al Niḥal, Vol. 1, 110–115.

Tags: Ahlus Sunnan wal Jama'ahDeterministikFisika QuantumHarun NasutionJabariyahProbabilitasQadariyahTakdirTheologi
Zenrif

Zenrif

M. Fauzan Zenrif adalah Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Malang bidang perekonomian (2021 - 2026), founder KPKNU (Komunitas Pengusaha Kecil NU).

Terkait

Legitimasi Meritokrasi dalam Birokrasi Lokal: Menimbang Relasi Kekerabatan dalam Perspektif Hukum Administrasi dan Sejarah Politik Islam

Legitimasi Meritokrasi dalam Birokrasi Lokal: Menimbang Relasi Kekerabatan dalam Perspektif Hukum Administrasi dan Sejarah Politik Islam

Oleh Zenrif
19 Apr 2026
0

Fenomena pelantikan anak kandung oleh Kepala Daerah ke dalam jabatan strategis birokrasi, seringkali dipersepsikan secara simplistik sebagai bentuk nepotisme, tanpa...

Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

Rumaia sebagai Model Hunian Mahasiswa Modern: Integrasi Keamanan Digital, dan Kenyamanan sesuai Maqāṣid al-Sharīʿah

Oleh Zenrif
18 Apr 2026
0

Mencari tempat kos di Malang dan sekitarnya, terutama untuk anak perempuan, yang sesuai dengan kaidah ajaran Islam pada saat ini...

Prioritas Program Pemerintah: Menimbang Koperasi Merah Putih, MBG, Pendidikan, Infrastruktur, Perumahan, dan Alutsista dengan Maqāṣid

Prioritas Program Pemerintah: Menimbang Koperasi Merah Putih, MBG, Pendidikan, Infrastruktur, Perumahan, dan Alutsista dengan Maqāṣid

Oleh Zenrif
18 Apr 2026
0

Dalam menimbang dan menlai skla prioritas program Pemerintah, kaidah ushul fiqh “الواجب لا يُترك لسُنّة، بل يُترك لواجبٍ” bisa memberikan...

Epistemologi Konvergensi dalam Studi Islam: Menyatukan Teks, Akal, dan Metode Ilmiah

Epistemologi Konvergensi dalam Studi Islam: Menyatukan Teks, Akal, dan Metode Ilmiah

Oleh Zenrif
13 Apr 2026
0

Setelah saya diminta memimpin Prodi Studi Islam di Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, saya terus melakukan kajian. Ada beberapa...

Postingan Berikut
SEKALI LAGI TENTANG KEMUNGKINAN INTEGRASI AGAMA DAN SAINS

SEKALI LAGI TENTANG KEMUNGKINAN INTEGRASI AGAMA DAN SAINS

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pemikiran
  • Gerakan Sosial
  • Karya Publikasi
  • Berita
  • Galeri

© 2025 Fauzan Zenrif - Dibuat oleh JSS